Categories
Tokoh Islam

Wong Fei Hung, Ulama Jagoan dari Guandong

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film “Once Upon A Time in China”. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang ulama, ahli pengobatan, dan ahli beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong).

Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan jurus “Tendangan Tanpa Bayangan” yang legendaris.

Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju.

Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan jurus “Cakar Macan” dan jurus “Sembilan Pukulan Khusus”.

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek.

Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid.

Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.

Categories
Kisah Islam

Perampok Yang Fakih

Diriwayatkan, pada suatu malam, Hakim wilayah Anthaqia keluar rumah, dan pergi ke kebun miliknya. Setelah ia sampai di luar desa, ia dihadang perampok.

Si perampok menghardik, “Tinggalkanlah semua yang kamu pakai, kalau tidak aku akan memaksa dengan kekerasan.”

Sang hakim menjawab, “Semoga Allah meneguhkan imanmu. Sungguh orang yang berilmu mempunyai kedudukan terhormat. Dan aku adalah Hakim di negeri ini, maka hormatilah aku.”

Si perampok menyahut, “Segala puji bagi Allah yang mempertemukan diriku denganmu. Karena aku yakin kamu memiliki pakaian dan hewan dan kendaraan yang berlimpah. Sedangkan orang lain mungkin dia orang lemah (keadaannya) dan fakir (miskin harta) tidak mempunyai apa-apa.”

Sang Hakim berkata, “Aku lihat kamu orang yang memiliki ilmu (cerdik).”

Si perampok berkata, “Benar, dan atas orang yang berilmu selalu ada yang melebihi ilmunya.”

Sang Hakim berkata, “Tidakkah engkau mengetahui hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, Agama hanya milik Allah, para hamba adalah hamba Allah dan sunnah adalah sunnahku. Barangsiapa melakukan bid’ah maka laknat Allah baginya’. Membegal dan merampok adalah perbuatan bid’ah dan aku memperingatkanmu supaya tidak masuk ke dalam laknat.”

Si perampok berkata, “Wahai Tuan Hakim, hadits ini adalah hadits mursal, tidak diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibn Umar. Seandainya aku terima bahwa perawi hadits ini adil ataupun aku terima bahwa hadits ini qath’i, maka apa pedulimu dengan perampok yang memata-mataimu, perampok yang tidak mempunyai makanan dan tidak pula sesuatu yang mencukupinya. Apa yang telah engkau pakai adalah halal bagiku. Sungguh Imam Malik telah meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibn Umar ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,Seandainya dunia ini menjadi banjir darah niscaya makanan kaum muslimin menjadi halal’. Dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa seseorang wajib menghidupi dirinya dan keluarganya dengan harta orang lain bila dia khawatir akan binasa. Dan saya —demi Allah— termasuk orang yang khawatir akan kebinasaanku. Jadi, apa yang engkau pakai adalah sumber kehidupanku dan keluargaku. Maka serahkanlah kepadaku niscaya engkau bisa pergi dengan aman.”

Sang Hakim berkata, “Jika demikian keadaanmu, maka ijinkanlah aku pergi ke kebunku, aku akan menemui buruh pekerjaku dan aku akan mengambil pakaian dari mereka untuk menutupi tubuhku, kemudian akan aku serahkan pakaian yang kupakai ini padamu.”

Si perampok menjawab, “Tidak mungkin, orang sepertimu ibarat burung dalam sangkar. Bila ia keluar ia akan terlepas dari tangan tidak akan kembali. Aku khawatir jika aku melepaskanmu engkau tidak akan menyerahkan pakaianmu sama sekali.”

Sang hakim menyela, “Aku bersumpah kepadamu bahwa aku akan menyerahkan pakaianku.”

Si perampok berkata, “Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibn Umar bahwsanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Sumpah orang yang dipaksa tidak sah’. Allah SWT berfirman, ‘Kecuali orang yang dipaksa kafir pahala hatinya tetap tenang dalam beriman’. (QS. an-Nahl [16] : 106). Aku khawatir kalau-kalau engkau mentakwilkan ayat ini atas diriku (menganggap paksaan sebagai alasan untuk bersumpah palsu). Sekarang serahkanlah pakaianmu!”

Sang hakim pun terpaksa menyerahkan kendaraan dan pakaiannya, kecuali celana.

Si perampok berseru, “Kau harus menyerahkan celanamu juga!”

Sang hakim berkata, “Sudah tiba waktu shalat dan Rasulullah SAW bersabda, ‘Terlaknatlah orang yang melihat aurat saudaranya’. Sungguh telah tiba waktu shalat dan tidak sah shalat orang yang telanjang. Allah SWT juga berfirman, ‘Pakailah perhiasanmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.’ (QS. al-A’raf [7] : 31). Dalam kitab tafsir dikatakan bahwa perhiasan adalah pakaian yang kamu pakai pada saat shalat.”

Perampok itu menolak pendapatnya, “Shalatmu tetap sah. Imam Malik meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibn Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang-orang yang telanjang shalat dengan berdiri dan imam mereka mengimami mereka di tengah-tengah mereka’. Imam Malik berkata, ‘(Orang-orang yang telanjang) tidak boleh shalat dengan berdiri, tetapi mereka shalat dengan cara terpisah-pisah dan saling menjauh, supaya masing-masing tidak saling melihat aurat temannya’. Abu Hanifah juga berkata, ‘(Orang-orang yang telanjang) shalat dengan duduk’. Sedangkan hadits yang baru saja disebutkan adalah hadits mursal. Seandainya hadits itu tidak mursal sekalipun, maka makna larangan tersebut harus ditakwilkan menjadi larangan melihat aurat bila disertai nafsu syahwat. Kondisimu sekarang adalah kondisi terpaksa, bukan kondisi yang boleh memilih. Tidakkah engkau ketahui bahwa seorang wanita ketika ia harus membersihkan kemaluannya dari najis ia tidak bisa tidak harus melihat farjinya itu. Demikian pula orang laki-laki yang mengkhitan orang lain. Jika begitu pendapat anda tidak berlaku.”

Sang hakim berseru, “Engkaulah yang pantas menjadi hakim dan aku orang yang engkau adili. Engkaulah yang ahli fiqih dan aku orang yang meminta fatwa. Engkaulah orang yang pantas menjadi mufti, ambillah apa yang engkau inginkan. Tiada daya dan upaya melainkan Allah!”

Lalu perampok itu mengambil celana dan baju dan kemudian ia pergi, sang hakim hanya bisa berdiri termangu hingga kemudian seorang yang mengenalnya datang. Sang hakim berkata, “Perampok itu termasuk ahli fiqih yang agung, ia ditelantarkan oleh orang-orang sehingga ia terpaksa melakukan apa yang baru dilakukan.” Orang yang datang itu kemudian membawakan pakaian untuk sang hakim yang tidak berbusana itu.

Sumber: Al-Jundi, Muhammad Amin. 101 Kisah Teladan, terjemah oleh Safrudin Edi Wibowo

Categories
Kisah Islam

Hanya Karena Sebutir Kurma

Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa.

Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan.
Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa. 4 bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa.
Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra.
Ia shalat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT,”

kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi..

Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama
4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim” Ibrahim beristighfar.

Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma.
Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua.

kemana ia sekarang ?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”.
Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

“Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita,

“Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku

makan tanpa izinnya?”.

“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang.

Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”
“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui.
Biar berjauhan, akhirnya selesai juga.
Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

4 bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada dibawah kubah Sakhra.

Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap.
“Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”
“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu..
Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain.

Sekarang ia sudah bebas.”

Pada hadits yang lain beliau bersabda; Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.
(Riwayat Muslim).

Categories
Kisah Islam

Antara Burung Sehat & Burung Cacat

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.

Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya,

“Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”

Syaqiiq menjawab,

“Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya.

Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat.

Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya.

Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.”

Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah.

Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata,

“Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu?

Bukankah itu lebih utama?

Bukankah Nabi bersabda,

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”

Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?

Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrahim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrahim).”

(Tarikh Dimasyqi, Ibnu Asakir)

Sumber : Ar-Risalah No. 112 / Vol. X / 04 Syawal – Dzhulqa’dah 1431 H / Oktober 2010

Categories
Fiqih

Fatwa tentang Bekerja di Bank

Berikut inilah adalah mafhum bebas dari fatwa Dr. Yusof al-Qardhawi di dalam kitabnya Fatawa Mu’ashirah:

Salah seorang hamba Allah bertanya kepada beliau mengenai hukum bekerja di bank yang mengamalkan sistem riba. Masalahnya, ketika beliau mencari pekerjaan tidak ada yang menerimanya kecuali bank berkenaan.

Dr Yusof al-Qardhawi menjawab bahawa sistem ekonomi Islam berdiri atas dasar anti riba. Ia dianggap sebagai satu dosa besar yang boleh menghabisi keberkatan individu dan masyarakat. Malahan mampu memanggil bencana di dunia dan akhirat.

Al-Quran dan al-Sunnah, juga umat ini telah bersepakat melaknat riba. Allah Taala berfirman:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah, 276)

FirmanNya:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa-sisa riba (yg belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahawa Allah dan RasulNya memerangimu….” (al-Baqarah, 278-279)

Nabi s.a.w. bersabda:
“Apabila zina dan riba telah bermaharajalela di suatu negeri, bererti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah.” (Riwayat Hakim)

Hadis, Jabir r.a. meriwayatkan:
“Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya. Dan beliau bersabda: mereka itu sama.” (Riwayat Muslim)

Hadis riwayat Ibnu Mas’ud:
“Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya dan penulisnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Tarmizi)

Hadisnya lagi:
“Orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dan dua orang saksinya – jika mereka mengetahui perkara ini – maka mereka itu dilaknat melalui lidah Nabi Muhamad s.a.w. hingga hari kiamat.” (Riwayat al-Nasa’i)

Sabda Nabi s.a.w seterusnya:
“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba, barangsiapa yang tidak memakannya, maka dia akan terkena debunya.” (Riwayat Abu Daud & Ibnu Majah)

Hadis-hadis di atas begitu amat menyiksakan hati orang -orang Islam yang bekerja di bank-bank atau institusi yang terbabit dengan aktiviti riba. Begitu menyiat-nyiat hati dan perasaan mereka. Sesungguhnya ancaman dari Allah dan RasulNya begitu tegas, keras dan menggerunkan. Sehingga Allah mengisytiharkan perang terhadap pemakan riba!

Perlu di ingatkan bahawa masalah riba yang berlaku sekarang ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank, kerani dan sebagainya tetapi ia telah menyelinap masuk terus ke dalam sistem ekonomi kita dan segala kegiatan yang berkaitan dengan kewangan. Sehinggakan ia telah menjadi satu bala dan bencana yang tersebar di mana-mana. Bencana umum yang Nabi s.a.w. mengatakan “ketika itu semua orang akan memakan riba, jika tidak memakannya maka dia akan terkena debunya.”

Bencana ekonomi berteraskan riba yang melanda kita sekarang ini, apakah boleh diubah dan diperbaikki dengan hanya melarang seseorang bekerja di bank atau perniagaan yang terbabit dengannya? Mengapa bencana ini berlaku? Ini kerana sepak terajang dari golongan kapitalis.

Bagaimana cara mengatasinya? Ialah dengan mengubah sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam. Perubahan ini mestilah dilakukan secara bertahap dan secara perlahan-lahan, agar tidak akan menimbulkan kegoncangan ekonomi yang boleh mengakibatkan bencana kepada negara dan bangsa. Cara ini pernah ditempoh oleh Islam ketika mula mengharamkan riba, khamar dll. Yang paling penting ialah tekad dan kemahuan bersama. Apabila tekad telah bulat, maka jalan keluar akan terbuka luas.

Setiap orang Islam yang mempunyai rasa tanggungjawab terhadap perkara ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lidahnya, dan segenap kemampuan yang ada melalui pelbagai wasilah yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam.

Di satu sudut lain, apabila kita melarang semua kaum muslim dari bekerja di bank, maka dunia perbankan dan yang sejenis dengannya akan dikuasai oleh orang-orang non muslim seperti yahudi dan sebagainya. Yang akhirnya nanti, negara-negara Islam akan dikuasai oleh mereka.

Sudut yang lain pula, perlu diketahui bahawa tidak semua pekerjaan yang berhubung dengan dunia perbankan tergolong riba. Ada di antaranya halal dan baik, seperti pertukaran wang asing (kalau di M’sia terdapat kaunter2 muamalat Islam) dsb. Bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram.

===> Oleh kerana itu tidak mengapalah seorang muslim menerima pekerjaan tersebut – sekalipun hatinya tidak rela – dengan harapan sistem perekonomian akan mengalami perubahan menuju kepada suasana yang diridhai agama dan hatinya. Cuma, dalam hal ini hendaklah dia melaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajipan terhadap dirinya dan Rabbnya serta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya. Sabda Nabi s.a.w.:
“Sesungguhnya setiap orang akan mendapat apa yang dia niatkan.” (Riwayat Bukhari)

Disamping itu, janganlah melupakan keperluan hidup yang oleh ulamak fikah diistilahkan telah mencapai peringkat darurat. Situasi dan persyaratan inilah yang membolehkan saudara yang bertanya untuk menerima pekerjaan tersebut sebagai wasilah mencari penghidupan dan rezeki. FirmanNya:
“..tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah, 173)

***** Intaha (selesai) fatwa al-Qardhawi******

Poin-poin hukum boleh bekerja di bank:
1. Tidak semua perniagaan yang dijalan di bank haram. Ada yang halal. Oleh itu gaji yg diperolehi bertaraf syubhat (kerana hasil pendapatan bank yg bercampur sumber halal + haram)
2. Bekerja dengan baik serta dgn hati yg tidak rela & insaf. Perasaan yg merindui datangnya satu sistem yg diridhai Allah.
3. Berganding bahu bersama umat Islam lain ke arah mewujudkan sistem tersebut.
4. Bahaya akan datang jika dilarang semua umat Islam bekerja di bank. Org kafir akan ambil alih ekonomi negara dan umat.
4. Boleh bekerja atas dasar darurat. Memenuhi keperluan asas kehidupan.

Wallahu a’lam.

FATWA 2
Penjelasan hukum bekerja di bank berikut ini adalah berdasarkan fatwa al-Marhum Syeikh Jadul Ali Jadul Haq (bekas syeikh al-Azhar).

Tentang faedah/bunga bank yang tergolong di dalam riba telah diketahui umum. Begitu juga tentang keharaman dan ancaman orang yang terlibat dengan riba.

(1)
Syeikh (Jadul Haq) mengatakan bahawa riba adalah haram secara syarak berdasarkan nas2 al-Quran, sunnah dan ijmak kaum muslimin. Manakala bekerja secara langsung dengan mana-mana pihak yang terbabit dengan riba samada menulis atau sbgnya dianggap sebagai membantu atas perbuatan yang haram. Berbuat demikian sudah tentu hukumnya haram menurut syarak. Ini ada dijelaskan oleh hadis riwayat Bukhari yg mencela pemakan riba, memberi makan dengan hasil riba, penulis dan dua saksinya.
(2)
Hukum dan pencelaan hadis di atas adalah terhadap bank-bank yg segala urusannya di sekitar perniagaan/perkhidmatan yg haram sahaja. Tidak ada satupun yang halal seperti tidak ada pertukaran wang asing, kaunter muamalah Islam dsb yang dihalalkan. Jika begini, berhenti bekerja di bank tersebut adalah lebih baik. Jika di sana ada peluang pekerjaan lain yang halal, bekerjalah di tempat baru yang halal itu. Jika tidak ada peluang pekerjaan lain melainkan di bank berkenaan sahaja, teruskanlah bekerja di situ. Ia diiktibarkan sebagai dalam keadaaan darurat. Keadaan darurat dapat mengharuskan perkara yg haram (ad-dharuraat tubihul mahzuraat). Bekerjalah sehingga datang peluang pekerjaan lain yang sunyi dari perkara yg haram.
(3)
Ada juga bank yang tidak hanya menjalankan urusan perniagaan/perkhidmatan yg haram sahaja, tetapi ada juga yang dihalalkan sebagaimana yang berlaku di malaysia:

Bank tersebut menjalankan perniagaan:
Perkhidmatan haram –> Skim pinjaman yang dikenakan bunga, akaun yg pelbagai yang juga dengan faedah tertentu.
Perkhidmatan halal –> pengurup wang asing, bank draf, pembayaran bil-bil, kaunter muamalah Islam dsb.

Ini bermakna, sumber pendapatan bank adalah hasil dari yang halal dan yang haram. Bercampur baur. Ulamak fikah berkata, jika bercampur aduk yang halal dengan yang haram, hendaklah diasingkan, dipisah-pisahkan yang halal satu tempat dan yang haram di satu tempat lain. Kita diharamkan membelanjakan harta/wang yang bercampur aduk antara yang halal dengan yang haram. Setelah dipisahkan/dapat dibezakan antara yg halal & yg haram barulah boleh digunakan untuk berbelanja.

Itu kalau dapat dibezakan. Jika dapat dipisah-pisahkan… Bagaimana jika tidak boleh dipisah-pisahkan?

Seperti saudara-saudara muslim kita yang bekerja di bank yg pendapatannya bercampur aduk antara yg halal & yg haram. Gaji mereka bagaimana. Apa hukum mengambilnya, memakan, bahkan memberi makan kepada anak isteri dgnnya?

Kalau boleh dipisah-pisahkan tak mengapa. Contohnya, haa.. yg ini adalah hasil dari sumber halal. Yg ini pula dari sumber yg haram. Bolehlah saudara-saudara kita ini, mengambil gajinya dari sumber yg halal sahaja. Yg haram beri pada pekerja non muslim.

Bolehkah lakukan begitu? Sudah tentu mustahil. Dalam keadaan mustahil memisah-misahkan antara sumber yg halal & yg haram, para ulamak silam dari pelbagai mazhab ada menyatakan pendapat masing-masing, antara mereka ialah para ulamak dari mazhab Hanafi, pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal sendiri, al-Zarkasyi al-Syafi’i, Ibnu Sholah dan al-Nawawi. Dari pendapat mereka ini dapat disimpulkan bahawa tidak mengapa membelanjakan harta/wang yang bercampur halal + haram yang mustahil dapat dipisah-pisahkan. Jadi, bekerja di bank berkenaan dalam keadaan begini secara umumnya adalah harus.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali berkata di dalam Ihya’ Ulumuddin:
“Apabila di dalam negara telah bercampur dengan yang haram tanpa batasnya lagi, tidak haram membeli darinya, bahkan mengambil darinya. Melainkan, jika ada kedapatan tanda-tanda ia adalah dari yang haram. Jika tidak kedapatan tanda-tanda berkenaan, maka tidak diharamkan (dibolehkan). Tetapi, meninggalkannya adalah perbuatan warak yang disukai (syarak).”

(4)
Kesimpulan…

Pertama–> a) Bekerja di bank adakalanya harus sebab darurat. b) Adakalanya harus disebabkan gaji pekerja adalah dari penghasilan bank yang pelbagai (secara umumnya)- halal + haram. Sedangkan ia tidak dapat dipisah-pisahkan dan dibezakan antara yg halal dan yg haram.

Kedua –> Jika telah jelas bekerja dengan bank adalah halal menurut syarak berdasarkan faktor a & b di atas, maka seseorang muslim tidak boleh menghalang orang lain termasuk saudara-saudaranya untuk bekerja di bank. Begitu juga tidak boleh menghalang seseorang muslim dari memakan, memberi makan, menerima hadiah dsb hasil dari gaji bekerja di bank.

Ketiga–> Pekerja bank seperti di atas, tidak termasuk di dalam laknat dan celaan Rasulullah s.a.w. di dalam hadisnya:
“Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya dan penulisnya.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Tarmizi)

Ini berdasarkan penjelasan di atas.

******Intaha jadul Haq*********
(5)
Para pekerja bank, tidaklah boleh bersenang hati dengan hukum ini. Sebaliknya mereka hendaklah lebih kuat bekerja untuk memberi kesedaran kepada umat ini. Lakukan dengan segala apa yang ada pada diri kalian. Tariklah mereka semua agar dapat bersama-sama ke dalam golongan umat Islam yang mahukan ekonomi kuffar ini terlerai dari belenggu mereka.
(6)
Umat Islam yang lain janganlah hendaknya memandang serong terhadap saudara-saudara muslim kita yang berkhidmat di bank-bank berkenaan. Mereka tidak boleh mendabik dada bahawa mereka terlepas dari apa yang dialami oleh saudara-saudara kita pekerja bank.

Cuba renungkan pertanyaan ini:

“Ustaz, saya ni bekerja dengan kerajaan (bukan dgn bank).. Macamana dengan gaji saya? Halal Atau tidak? Sumber yang diperolehi oleh kerajaan, ada yang dtg dari cukai judi, arak, rumah pelacuran, kelab malam, hiburan, pelaburan yg diharamkan….bla–bla…bla….bla–bla…bla….bla–bla…bla….”

Pertanyaan kami pula: “Apakah tidak sama masalahnya dengan mereka yg bekerja dibank?”

Wallahu a’lam.
—————————

Rujukan
a. Fatawa mu’asirah – vol 1, Dr Yusof al-Qardhawi , terbitan: Darul
Makrifah, Beirut, cetakan: 4, Th. 1988.
Terjemahannya: Fatwa-fatwa kontemporer, jilid 1, terbitan: Gema Insani
Press (indonesia), cetakan 1, th 1995, hal. 766

b. Buhus Wa Fatawa Islamiah Fi Qadhaya Mu’ashirah – vol 2, Syeikh Jadul Haq
Ali Jadul haq, terbitan: Al-Azhar al-Syarif, cetakan 1, hal. 769

Categories
Tokoh Islam

Al Imam Ibnu Katsir dan Kitab Al Bidayah Wa Nihayah

Beliau adalah seorang yang dijuluki sebagai Al-Hafizh, Al-Hujjah, Al-Muarrikh, Ats-Tsiqah Imaduddin Abul Fida Ismai Ibnu Umar Ibnu Katsir Al-Qurasyi Al-Bashrawi Ad-Mimasyg Asy-Syafii.

Lahir disebuah desa bernama Mijdal daerah bagian Bushra pada tahun 700H. Ayahnya meninggal ketika beliau berusia tiga tahun dan beliau terkenal sebagai khatib di kota itu. Adapun Ismail Ibnu Katsir merupakan anak yang paling bungsu. Beliau dinamai Ismail sesuai dengan nama kakaknya yang paling besar yang wafat ketika menimba ilmu di kota Damaskus sebelum beliau lahir.

Pada tahun 707H, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus, dan di sanalah beliau mulai menuntut ilmu dari saudara kandungnya Abdul Wahhab, ketika itu beliau telah hafal Al-Quran dan sangat menggandrungi pelajaran hadits, fikih maupun tarikh. Beliau juga turut menimba ilmu dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H). Begitu besar cintanya kepada gurunya ini sehingga beliau terus-menerus bermulazamah (mengiringi), dan begitu terpengaruh dengannya hingga mendapat berbagai macam cobaan dan hal-hal yang menyakitinya demi membela dan mempertahannkan gurunya ini.

Pergaulan dengan gurunya ini membuahkan bermacam faedah yang turut membentuk keilmuannya, akhlaknya dan tarbiyah kemandirian dirinya yang begitu mendalam. Karena itulah beliau menjadi seorang yang benar-benar mandiri dalam berpendapat. Beliau akan selalu berjalan sesuai dengan dalil, tidak pernah taassub (fanatic) dengan mazhbnya, palagi mazhab orang lain, dan karya-karya besarnya menjadi saksi atas sikapnya ini. Beliau selalu berjalan diatas sunnah, konsekuen mengamalkannya, serta selalu memerangi berbagai bentuk bidah dan fanatic mazhab.

Di antara uru beliau yang terkemuka selain Ibnu Taimiyah adalah Alamuddin Al-Qashim bin Muhammad Al-Barzali (wafat tahun 739H) dan Abul Hajjaj Yusuf Bin Az-zaki Al-Mizzi (wafat tahun 748H).

Para ulama di zamannya maupun yang dating sesudahnya banyak memberikan kata pujian terhadap dirinya, diantaranya Al-Imam Adz Dzahabi yang berkata mengenai dirinya Beliau adalah Al-Imam Al-Faqih Al-Muhaddits yang ternama, seorang faqih yang handal, ahli hadits yang tersohor, serta seorang ahli tafsir yang banyak menukil.

Muridnya yang bernama Ibnu Hijji berkata, Beliau adalah orang yang pernah kami temui dan paling kuat hafalannya terhadap matan hadits, paling paham dengan takhrij dan para perawinya, dapat membedakan hadits yang shahih dengan yang lemah, banyak menghafal diluar kepala berbagai kitab tafsir dan tarikh, jarang sekali lupa, dan memiliki pemahaman yang baik serta dien yang benar.

Al-Allamah Al-Aini berkata, Beliau adalah rujukan ilmu tarikh, hadits dan tafsir.

Ibnu Habib berkata, Beliau Masyhur dengan kekuatan hafalan dan redaksi yang bagus, dan menjadi rujukan ilmu tarikh, hadits maupun tafsir.

Diantara karya besarnya adalah Tafsir Al-Quranul Azhim, Jami Al-Masanid Wa As-Sunan, At-Takmil Fi Marifatits Tsiqat Wa Adh-Dhuafa Wa Al-Majahil dalam kitab ini beliau menggabungkan apa yang terdapat dalam kitab Tahdzibul Kamal karya besar Al-Mizzi dan Mizanul Itidal karya Adz-Dzahabi dengan sedikit penambahan dlam ilmu jarh wa at-tadil dan kitab lainnya yaitu Al-Bidayah Wan Nihayah.

Kitab terakhir ini merupakan ensiklopedi ilmu sejarah. Beliau memulai kitab ini dengan menyebutkan kejadian makhluk-makhluk besar seperti Arsy, kursi, langit, bumi, apa-apa yang terdapat didalamnya dan apa-apa yang terdapat di antara langit dan bumi berupa para malaikat, jin maupun setan-setan kemudian beliau berbicara tentang proses penciptaan Adam AS, kisah para nabi dan rasul hingga zaman Isa bin Maryam AS, kisah umat-umat yang semasa dengan mereka, sikap para umat terhadap para rasulyang diutus ketengah mereka, dan bagaimana akhir dari perjalanan dan nasib umat-umat tersebut, dengan inilah beliau mengakhiri bagian pertama dari kitabnya.

Adapun bagian kedua kitab ini memuat berita uamat-umat terdahulu dari bani Israel dan umat lainnya, hingga akhir zaman al-fatrah (masa kekosongan nabi, pent.) kecuali zaman Arab pra Islam dan masa jahiliyah.

Bagian ketiga kitab ini memuat berita tentang sejarah Arab dan diakhiri dengan pernikahan antara Abdullah Bin Abdul Muthalib dengan Aminah Binti Wahab, Ibu Rasulullah SAW.
Bagian keempat kitab ini memuat sirah (sejarah) Rasulullah SAW. Penulis mulai menerangkan tema sirah Nabi dengan pembahasan ang panjang, beliau membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu:
Pertama, mulai masa kelahiran Rasul hingga beliau diutus sebagai Rasul, Kedia, mulai masa beliau diutus sebagai Rasul hingga hijrah, dan Ketiga, peperangan-peperangan, pasukan-pasukan kecil yang dikirim (datasemen/saariayah), pengiriman para utusan, haji wada, sakit beliau hingga wafatnya. Ibnu Katsir mengulasnya sesuai dengan kronologis waktu. Dimulai dari tahun pertama hijriyah, kemuadian beliau menulis biografi Nabi, istri-istri beliau, surat-surat yang belau kirim, para penjaganya, kuda-kudanya, pakaian-pakaiannya dan seterusnya, kemudian menutup pembicaraan tentang sirah nabi dengan tema-tema yang berkaiatan dengan sirah diantaranya: ktab Syamail, kemudian kitab Dalail An-Nubuwah (tanda-tanda kenabian), kemudian beliau berbicara mengenai fadhail (keutamaan-keutamaan nabi) dan kekhususan beliau.

Bagian kelima kitab ini memuat sejarah Islam pertama, catatan kejadian-kejadian penting pada masa itu, serta catatan wafatnya tokoh-totkoh penting.
Beliau menyusun keadian-kejadian itu sesuai dengan urutan tahun. Dimulai dari tahun ke-11 Hijriyah, metode beliau dalam bagian kelima ini, yaitu menyebutkan kejadian-kejadian penting setiap tahun, kemudian barulah beliau menyebutkan wafatnya tokoh-tokoh penting pada tahun itu. Beliau banyak menyebutkan biografi dari tokoh-tokoh tersebut, walaupun terkadang beliau hanya menyebutkan tahun wafat mereka saja, dan begitilah seterusnya metode penulis hingga akhir buku ini. Kitab tarikh yang beliau tulis ini berhenti hingga tahun 768H, yaitu tujuh tahun sebelum beliau wafat.

Bagian keenam kitab ini memuat tentang fitnah dan bencana yang akan terjadi di akhir zaman, tanda-tanda hari kiamat, kemudian mengenai hari berbangkit, berkumpulnya manusia dipadang maksyar, karakter neraka maupun surga. Namun saying bagian ini tidak dicetak bersamaan dalam kitab ini, tetapi dicetak secara terpisah dengan judul An-Nihayah Fi Al-Fitan Wa Al-Malahim walaupun sebenarnya beliau telah menyebutkan bagian ini dalam mukaddimah, dan beliau kembali menyebutkan perihal ini diakhir pembahasan tentang sirah nabi, dan itulah yang beliau maksud dari kata Wan Nihayah dalam judul kitab.

Categories
Islam

Tokoh Non Muslim tentang Muhammad SAW

Berikut ini adalah kumpulan cuplikan pendek dari berbagai tokoh terkemuka non-Muslim dari kalangan sarjana, penulis, filosof, penyair, politisi, dan aktifis di dunia Timur dan Barat. Perlu diketahui bahwa, tak seorang pun di antara mereka yang kemudian menjadi Muslim. Karena itu, kalimat-kalimat yang dicuplik di bawah ini merefleksikan pandangan pribadi mereka atas berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad S.A.W.

Michael H. Hart (1932- )
Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains
“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama (ukhrawi) dan sekular (duniawi).”
[The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, New York, 1978, h. 33]

William Montgomery Watt (1909- )
Profesor (Emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam di University of Edinburgh
“Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinannya, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayainya dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya —semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna. Tetapi kenyataannya, tak seorang tokoh besar pun dalam sejarah yang sangat kurang dihargai di dunia Barat seperti Muhammad. Menganggap Muhammad sebagai seorang penipu akan menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang memecahkannya.”
[Mohammad At Mecca, Oxford, 1953, h. 52]

Alphonse de Lamartine (1790-1869)
Penyair dan negarawan Prancis
“Filosof, orator, utusan Tuhan, pembuat undang-undang, pejuang, penakluk pikiran, pembaru dogma-dogma rasional dan penyembahan kepada Tuhan yang tak terperikan; pendiri dua puluh kerajaan bumi dan satu kerajaan langit, dialah Muhammad. Berkaitan dengan semua norma yang menjadi tolak ukur kemuliaan manusia, kita boleh bertanya, adakah manusia yang lebih besar daripada dia?”
[Histoire De La Turquie, Paris, 1854, vol. II, h. 276-277]

Reverend Bosworth Smith (1794-1884)
Mantan pengawas Trinity College, Oxford
“… Dia Caesar sekaligus Paus; tetapi dia adalah Paus tanpa pangkat Paus dan Caesar tanpa pasukan Caesar. Tanpa tentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pendapatan tetap, jika pernah ada manusia yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa dia diperintah oleh Tuhan Yang Maha Benar, dialah Muhammad; karena dia memiliki semua kekuasaan tanpa peralatan dan pendukung untuk itu.”
[Mohammed and Mohammedanism, London, 1874, p. 235]

Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948)
Pemikir, negarawan, dan pemimpin nasionalis India
“…. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam untuk hidup pada zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan-diri, kesetiaannya yang luar biasa kepada janjinya, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.”
[Young India (majalah), 1928, Volume X]

Edward Gibbon (1737-1794)
Dianggap sejarawan Inggris terbesar di zamannya
“Kesuksesan kehidupan Muhammad yang luar biasa disebabkan semata-mata oleh kekuatan akhlak tanpa pukulan pedang.”
[History Of The Saracen Empire, London, 1870]

John William Draper (1811-1882)
Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika
“Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), pada 569 Masehi, di kota Makkah, di jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia… Muhammad.”
[A History of the Intellectual Development of Europe, London, 1875, vol.1, h. 329-330]

David George Hogarth (1862-1927)
Ahli arkeologi Inggris, penulis, dan pengurus Museum Ashmolean, Oxford
“Tindak-tanduk kesehariannya, yang serius ataupun yang sepele, menjadi hukum yang ditaati dan ditiru secara sadar oleh jutaan orang masa kini. Tak seorang pun diperhatikan oleh golongan umat manusia mana pun seperti Manusia Sempurna ini yang diteladani secara saksama. Tingkah laku pendiri agama Kristen tidak begitu mempengaruhi kehidupan para pengikut-Nya. Selain itu, tak ada Pendiri suatu agama yang dikucilkan tetapi memperoleh kedudukan mulia seperti Rasul Islam.
[Arabia, Oxford, 1922, h. 52]

Washington Irving (1783-1859)
Terkenal sebagai “sastrawan Amerika pertama”
“Dia makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula ia menuruti pikiran yang sempit; kesederhaannya dalam berpakaian dilatarbelakangi oleh sikapnya yang tidak mempedulikan perbedaan dalam hal-hal yang sepele…. Dalam urusan pribadinya dia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai oleh rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka…. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-kali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semuanya itu bukan untuk kepentingan pribadinya. Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka jika, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya.”
[Life of Mahomet, London, 1889, h. 192-3, 199]

Annie Besant (1847-1933)
Teosof Inggris dan pemimpin nasionalis India, Presiden Kongres Nasional India pada 1917
“Siapa pun yang mempelajari kehidupan dan sifat Nabi besar dari jazirah Arabia ini, siapa pun yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan bagaimana ia hidup, pasti memberikan rasa hormat kepada Nabi agung itu, salah seorang utusan Tuhan yang luar biasa. Dan meskipun dalam uraian saya kepada Anda akan tersebut banyak hal yang barangkali sudah biasa bagi kebanyakan orang, akan tetapi setiap kali saya membaca-ulang tentang dia, saya sendiri merasakan lagi kekaguman yang baru, menimbulkan lagi rasa hormat yang baru kepada guru bangsa Arab yang agung itu.”
[The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932, h. 4]

Edward Gibbon (1737-1794)
Dianggap sejarawan besar Inggris di zamannya
“Memorinya (yakni, Muhammad) sangat besar dan kuat, sikapnya sederhana dan ramah, imajinasinya agung, keputusannya jelas, cepat, dan tegas. Dia memiliki keberanian berpikir maupun bertindak.”
[History of the Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1838, vol.5, h.335]

Categories
Sholat

Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka – padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka – ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita – walau shalat di masjid diperbolehkan – shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :

1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh
5. Carilah kawan yang baik (shalih)
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.

Disarikan dari :
Buku “MISTERI SHALAT SUBUH”
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat
Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani
Penerbit : Aqwam

Categories
Tokoh Islam

Ibnu Sina atau Avicenna

Nama aslinya adalah Abu Ali al-husain bin Abdullah bin hasan bin Ali bin Sina, di barat dikenal dengan nama Avicenna. Beliau dikenal sebagai ahli filosofi dan pengobatan, namun sebagian besar muslim hanya mengenalnya sebagai seorang ahli pengobatan.

Pemahamannya dalam bidang pengobatan sangat luas pengaruhnya hingga ke abad 17 di Eropa. Bahkan kaum barat mensejajarkan kemampuannya dengan Aritoteles dan memberinya gelar ‘Prince of Physician” atau Pangerannya para Dokter.. Sedangkan pengetahuannya di bidang filosofi lebih banyak dirasakan pengaruhnya di Iran hingga saat ini.

Ibnu sina dilahirkan tahun 980 di sebuah desa kecil bernama Afshanah dekat Bukhara. Bukhara adalah juga kota kelahiran perawi hadits Imam Bukhari (tahun 810). Kota ini sekarang dikenal dengan nama Uzbekistan. Bukhara, pada saat itu adalah salah satu pusat pengajaran Islam. Kota ini berada di bawah kekuasaan Dinasty Samaniyah Persia (Iran). Ibnu Sina pindah ke kota ini pada saat ia masih remaja belia. Ayahnya adalah seorang penganut mazhab Ismaili (mazhab terbesar kedua dalam Syi’ah).

Kecerdasan Ibnu sina sudah nampak saat ia masih kecil. pada umur 10 tahun ia sudah hafal al-qur’an, pada umur 14 tahun ia memiliki ilmu lebih luas daripada gurunya, dan pada umur 18 tahun ia sudah memahami bidang-bidang science termasuk bidang pengobatan yang membuatnya terkenal.

Kemampuannya dibidang pengobatan tidak diragukan, bahkan seorang pangeran Samaniyah pernah pula menjadi pasiennya. atas jasanya ini, pihak kekaisaran memberikan izin bagi ibnu sina untuk masuk perpustakaan kerajaan. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. seperti memiliki otak komputer, ibnu sina mampu menelan semua pustaka dalam perpustakaan tersebut hanya dalam waktu 18 bulan.

Salah satu buku yang paling berkesan bagi beliau adalah karya Aristoteles; Metaphysics. Ibnu sina sangat penasaran dengan buku ini. ia bahkan membacanya hingga 40 kali tapi ia belum bisa memahaminya hingga ia mendapatkan pencerahan dari al-farabi.

Pada tahun 999, dinasty samaniyah ditaklukkan oleh dinasti Ghaznawids dari turki. dinasti baru ini kurang memberikan porsi pada keilmuan sehingga ibnu sina harus berpindah-pindah tempat tinggal. Dalam kehidupan seperti ini ia menjalani hidup dari hasil kemampuannya mengobati orang lain dan saat malam ia menuliskan karya-karyanya. Kota terakhir sebagai persinggahan beliau selama 14 tahun adalah Hamadan sebuah kota di bagian barat Iran. Beliau meninggal tahun 1037 pada umur 57 tahun.

Selama hidupnya Ibnu sina menghasil 270 buku, dimana 200 dari buku-buku ini masih ada sampai sekarang. 3 karya beliau yang sangat termashur adalah 2 dibidang filosofi yaitu al-shifa (healing/pengobatan) dan al-isharat wal tanbihat (directives and remarks), dan 1 dibidang pengobatan yaitu Qanun (canon). terjemahan buku al-shifa saat ini masih ada dipasaran dengan judul The propositional logic (1973) dengan harga 145 pounds atau sekitar 2.1 juta per buku.

Categories
Tokoh Islam

Siapakah Abdurrahman bin Auf?

Ketika mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?
Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya, seseorang menjawab.
Ummul Mukminin berkata lagi, Kafilah yang telah menyebabkan semua ini?
Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan.
Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat dan didengarnya.
Kemudian ia berkata, Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.
Sebagian sahabat mendengar itu. Mereka pun menyampaikannya kepada Abdurrahman bin Auf. Alangkah terkejutnya saudagar kaya itu. Sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskan, ia segera me-langkahkan kakinya ke rumah Aisyah.
Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa. Abdurrahman bin Auf berkata lagi, Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.
Dan dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya. Sebuah infak yang mahabesar.
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya. Bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta kemudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal.
Kemudian, harta itu tidak ia nikmati sendirian. Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut juga menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf.
Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah berkata, Seluruh penduduk Madinah bersatu dengan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga hartanya dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka.
Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia pergunakan untuk membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia memikirkan harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.
Pada suatu hari, dihidangkan kepada Abdurahman bin Auf makanan untuk berbuka puasa. Memang, ketika itu ia tengah berpuasa. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia malah menangis dan berkata, Mushab bin Umair telah gugur sebagai seorang syahid. Ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya. Dan jika ditutupkan kedua kakinya, terbuka kepalanya.
Abdurrahman bin Auf berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan dengan suara yang juga masih terisak dan berat, Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir telah didahulukan pahala kebaikan kami.
Begitulah Abdurrahman bin Auf. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ketakutan itu sering sekali, akhirnya menumpahkan air matanya. Padahal, ia tidak pernah mengambil harta yang haram sedikitpun.
Pada hari lain, sebagian sahabat berkumpul bersama Abdurrahman bin Auf menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama setalah makanan diletakkan di hadapan mereka, tiba-tiba ia kembali menangis.
Sontak para sahabat terkejut. Mereka pun bertanya, Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman bin Auf?
Abdurrahman bin Auf sejenak tidak menjawab. Ia menangis tersedu-sedu. Sahabat benar-benar melihat bahwa betapa halusnya hati seorang Abdurrahman bin Auf. Ia mudah tersentuh dan begitu penuh kekhawatiran akan segala apa yang diperbuatnya di dunia ini.
Kemudian terdengar Abdurrahman bin Auf menjawab, Rasulullah saw. wafat dan belum pernah beliau berikut keluarganya makan roti gandum sampai kenyang. Apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan?
Jika sudah begini, bukan hanya Abdurrahman bin Auf yang menangis, para sahabat pun akan ikut menangis. Mereka adalah orang-orang yang hatinya mudah tersentuh, dekat dengan Allah dan tak pernah berhenti mengharap ridha Allah.