Penyakit Kencing Manis (Diabetes Mellitus)

Penyakit kencing manis (Diabetes Mellitus) adalah penyakit endokrin yang berkaitan dengan gangguan metabolisme, dan memiliki angka kesakitan yang cukup tinggi. Metabolisme adalah semua reaksi biokimia dalam setiap sel yang dibutuhkan bagi kelestarian hidup.

            Dokter Mesir, Hesy-Ra, dalam tahun 1552 B.C. (Before Christ – sebelum ada penanggalan modern) mencatat hubungan gejala-gejala penyakit ini dengan kerumunan semut pada air seni pasien. Pada tahun 150 AD (AD = Anno Domini – era penanggalan modern), dokter Junani Arateus menamakan penyakit ini ‘diabetes’ yang artinya ‘pengaliran.’ Arateus melihat kaitan mengurusnya badan dan seringnya kencing sebagai ‘pencairan otot-otot dan tulang yang dialirkan ke ginjal’ Istilah ‘Mellitus’ yang artinya ‘manis atau madu’ kemudian ditambahkan dalam tahun 1675, dengan ditemukannya rasa manis pada air seni pasien.

Melihat tingginya angka kesakitan dan sejarah pengenalan penyakit ini, masyarakat kitapun telah banyak yang mengenalnya. Menggelontor serinci mungkin pembahasan penyakit kencing manis, sama dengan menulis sebuah buku. Selain tidak praktis, pembahasan rincinya akan memusingkan pembaca, karena sarat dengan pengetahuan gizi serta rangkaian reaksi biokimia yang sangat rumit. Penulis yakin tak seorang dokterpun dapat mengingat semuanya, kecuali mereka yang khusus menggeluti ilmu biokimia.

            Tugas makalah kesehatan populer adalah menginformasikan dasar ilmiah dan pendekatan mutakhir dunia kedokteran dalam menangani sesuatu penyakit. Sejalan dengan tujuan tersebut, reaksi biokimia dan mekanisme gejala-gejala penyakit kencing manis akan diuraikan secara sepintas.

Peran gula dalam kehidupan                     

            Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap mahluk membutuhkan unsur utama makanan (karbohidrat, lemak dan protein), air, dan unsur pelengkap (vitamin dan mineral). Sebelum dapat digunakan oleh sel-sel tubuh, setiap unsur utama makanan harus dipecah menjadi molekul-molekul terkecilnya. Molekul terkecil dari: karbohidrat adalah gula / glucose; lemak: glycerol dan asam lemak; sedangkan protein: asam-asam amino. Sesuai judulnya. makalah ini akan merujuk pada unsur utama makanan, terutama karbohidrat (gula / glucose).

Setiap proses dalam tubuh kita membutuhkan energi. Bila energi dilepas, timbullah panas. Satuan atau unit pengukur panas adalah ‘kalori’. Karbohidrat dan protein masing-masing menyumbang empat kalori setiap gramnya, sedangkan penyumbang kalori terbesar adalah lemak yaitu sembilan kalori per gramnya.

Di dalam tubuh, energi di simpan dalam molekul organik berenergi tinggi yang disebut ATP (Adenosine Triphosphate). Unsur organik ini disebut sebagai ‘mata uang berbentuk molekul’ karena dibutuhkan dalam proses transfer antar sel. Sedangkan fungsinya untuk mengkatalisasi reaksi-reaksi biokimia membuatnya mendapat julukan ‘bahan bakar metabolisme’. ATP dibentuk dalam mitochondria yaitu struktur mini atau organel dalam setiap sel. Sebagai pabrik ATP, mitochondria disebut ‘pembangkit energi’. Dalam proses pembentukan ATP, mitochondria banyak menggunakan oksigen. Oleh karenanya organel ini juga dijuluki ‘paru-paru sel.’

Bahan utama ATP adalah gula (glucose). ATP diproduksi dengan mengelola glucose melalui empat reaksi biokimia berantai yang berkesinambungan. Mengkonsumsi gula sering diasosiasikan dengan ‘gaya hidup tidak sehat’. Hal ini  tidaklah sepenuhnya benar . Gula / karbohidrat yang dikonsumsi tidak berlebihan, sangat dibutuhkan untuk melestarikan kehidupan (susunan makanan yang sehat mengandung 45-65 % karbohidrat). Penyisipan unsur ini dalam setiap tumbuh-tumbuhan / sayur-mayur, serta buah-buahan menggambarkan betapa besar keinginan Illahi agar manusia hidup sehat. ATP melepas energinya dengan mendepak unsur organik fosfatnya (organic phosphate). Panas yang dihasilkan kemudian digunakan sel untuk menggulirkan berbagai reaksi kimia dan lain-lain proses biologis.

Insulin dan Glucagon

          Kadar gula dalam darah diatur oleh dua jenis hormon yang bekerja secara berlawanan: Insulin vs Glucagon. Keduanya dihasilkan oleh kelenjar ludah perut atau pancreas. Kehadiran glucose dalam darah memberi alarm kepada pancreas untuk memproduksi Insulin.

Sebagai juru kunci, Insulin membuka pintu mitrochondria dan mempersila- kan glucose masuk untuk dikelola menjadi ATP. Bila kadar gula darah melebihi kebutuhan tubuh, Insulin mengunci kembali mitochondria dan membuka pintu gudang dari hati (liver). Dalam hati, glucose diubah dan disimpan sebagai  glucogen.

Diet terlalu ketat dan berpuasa lebih dari 48 jam, dapat menyebabkan kadar darah menurun di bawah kebutuhan tubuh (hypoglycemic). Hypoglycemic, memberi alarm ke pancreas untuk memproduksi hormon Glucagon. Hormon ini membuka gudang dari hati dan mempersilakan sel-sel hati mengeluarkan glucogen. Sel-sel hati kemudian mengubah kembali glucogen menjadi glucose dan  melemparkannya ke peredaran darah. Melalui mekanisme ini, kadar glucose darah yang rendah terkereklah sudah untuk memenuhi kebutuhan sel-sel.

Patofisiologi Diabetes II                                             

            Gejala-gejala klinis Diabetes menjamah semua sistim dan organ bahkan kulit dari pengidapnya. Hal ini disebabkan Diabetes menggoncang dasar kelestarian hidup, yaitu metabolisme. Guna lebih mudah memahaminya, uraian berikut akan membahas mekanisme pengaturan kadar gula darah dalam tubuh pasien.

            Berdasar penyebabnya, ada tiga kelompok besar Diabetes yaitu: tipe I, tipe II, dan pada waktu hamil. Tipe I, dulu disebut Insulin Dependent Diabetes  atau  Diabetes yang pengobatannya sangat tergantung pada Insulin. Tipe ini terjadi akibat kerusakan sel-sel pembentuk Insulin dalam kelenjar pancreas. Penyebabnya belum diketahui. Diperkirakan sistim kekebalan tubuh salah pilih sasaran, Bukan kuman atau virus yang diganyang, tetapi sel-sel pancreaslah yang menjadi sasaran. Yang jelas, faktor keturunan berperan, dan diperkirakan infeksi virus serta keadaan lingkungan turut berbicara. Tipe  ini banyak diidap oleh remaja dan usia muda (juvenile diabetes).

            Tipe II timbul akibat menurunnya kepekaan mitochondria terhadap Insulin dan atau produksi Insulin yang menurun. Nama lama tipe II adalah non dependent Insulin Diabetes atau Diabetes yang pengobatannya tak bergantung pada Insulin. Penurunan fungsi pancreas maupun menurunnya kepekaan terhadap Insulin, sangat erat hubungannya dengan proses ketuaan. Oleh karenanya tipe ini lebih banyak menyerang kaula tua.

            Diabetes yang terjadi selama kehamilan disebabkan oleh tembuni (placenta) memproduksi suatu hormon yang memacu kenaikan kadar gula darah. Pada umumnya, ulah hormon placenta ini dapat dikendalikan oleh pancreas.

            Apapun juga tipe Diabetes, gejala-gejala klinisnya praktis sama. Tipe II sangat rapat hubungannya dengan gaya hidup. Gaya hidup di era pasca modernisasi ini condong untuk mendorong terjadinya tipe ini. Oleh karena Diabetes tipe II dapat dicegah dan disembuhkan, maka bahasan selanjutnya akan merujuk pada tipe ini.

Patofisiologi tipe II Diabetes, adalah sebagai berikut:

            Proses terjadinya Diabetes diawali  degan menurunnya kepekaan mitochondria dan sel-sel hati terhadap Insulin atau menurunnya produksi Insulin. Keduanya menyebabkan glucose tertahan dalam aliran darah, di mana pada gilirannya pula akan menaikkan kadar gula darah.  Simpanan glucose dalam hati: glucogen hanya bertahan selama dua hari.  Sesudah itu, mitochondria harus mencari sumber lain sebagai bahan utama pembuatan ATP. Dalam hal ini sasarannya adalah lemak. Namun jalan keluar ini bukan tanpa resiko. Penggunaan lemak menghasilkan asam keton yang bila terus terkumpul dapat menimbulkan kematian. Di samping itu kadar gula darah yang tinggi, membuat lemak dengan kepadatan protein rendah (LDL – Low Density Lipid – lemak ‘jahat’) meningkat sedangkan kadar lemak ‘baik’ yaitu memilik kandungan protein yang tinggi (HDL – High Density Lipid) menurun.

            Sumber bahan ATP lainnya adalah protein. Namun, protein didesain bukan untuk membentuk ATP. Protein adalah bahan pokok pembuatan semua bagian tubuh, dari enzyme, otot-otot hingga DNA. Hanya sisa protein yang tak terpakai dapat digunakan untuk membentuk glucose (neoglucogenesis). Beranjak dari gambaran sekilas patofisiologi Diabetes II di atas, kita akan memasuki bahasan berikut.

Gejala-gejala klinis

            Gejala-gejala klinis penyakit ini diorkestrai oleh penyempitan pembuluh darah akibat timbunan lemak pada dinding-dindingnya. Berdasar besar kecilnya pembuluh darah, sumber gejala dapat dibagi dua yaitu komplikasi pada microvascular dan macrovascular . Komplikasi microvascular antaranya memberi: penyumbatan dan perdarahan pembuluh darah mata dan ginjal. Sedangkan komplikasi macrovascular antaranya menyebabkan penyempitan hingga pembutuan pembuluh darah koroner jantung dan otak, tekanan darah tinggi, kerusakan sel-sel saraf dan sebagainya,

            Gejala Diabetes yang kasat mata adalah: banyak makan, banyak minum, dan banyak kencing, tetapi berat badan terus menurun dan ketajaman penglihatan menurun (buram.) Walaupun banyak makan, namun penggunaan lemak dan protein sebagai bahan ATP, menyebabkan berat badan menurun. Gejala-gejala serius meliputi:

  • Gangguan pada sistim peredaran darah:  Gangguan pada sistem macrovascular menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit koroner jantung dengan segala komplikasinya: seperti serangan jantung (heart infract / heart attack). Bila pembutuan terjadi pada pembuluh darah otak, pasien akan terserang stroke. Pembutuan pembuluh darah tungkai bawah, menyebabkan luka infeksi sukar sembuh dan jaringan setempat membusuk. Keadaan ini disebut gangraena yang memaksa dokter memotong kaki / tungkai bersangkutan (amputation). Diabetes yang terjadi pada kehamilan memerlukan pemantauan ketat tekanan darah pasien untuk mencegah terjadinya kejang-kejang sewaktu bersalin (eclamsia). Gangguan sistim microvascular padalayar bola mata (retina) menyebabkan terkelupasnya retina dan pembengkakan macula (macula adalah bagian retina yang sangat tajam untuk membedakan warna). Semua kelainan mata karena diabetes disebut  diabetic retinopathy dan sering menyebabkan kebutaan. Gangguan microvascular dapat pula menyerang ginjal (diabetic nephropathy) yang berakhir dengan kegagalan ginjal dan membutuhkan cuci darah (hemodialysis)
  • Gangguan pada sistim susunan saraf menimbulkan sesemutan, menurunnya kepekaan rasa dari kulit , kulit menjadi kering dan mengeras (callous). Turunnya kepekaan rasa pada kulit, menyebabkan pasien tak sadar bila terjadi luka. Pada lipatan-lipatan kulit sering terjadi infeksi jamur. Gejala saraf yang lebih serius adalah terjadinya erectile dysfunction (alat kelamin pria tidak mampu lagi berfungsi normal.)
  • Gangguan pada sistim urogenitalia (sistim per-kemih-an):  dapat menyebabkan gagal ginjal, sebagaimana telah dibahas di atas.
  • Bila terjadi ketosis hebat: kulit kering, napas berbau manis, nafsu makan menurun, penurunan berat badan makin drastis, lemah, yang berakhir dengan koma

Gejala-gejala mengerikan di atas, dapat terjadi hanya bila pasien lalai menjaga diet, tidak disiplin dalam meminum obat anti Diabetes / penyuntikan Insulin sesuai petunjuk dokter, dan tidak secara berkala memeriksakan diri.

Pengobatan dan Pencegahan

            Pengobatan untuk segala tipe Diabetes, diarahkan pada pencegahan komplikasi sistim peredaran darah (baik macrovascular, maupun microvascular) serta pengendalian kadar gula dan lemak darah. Tidak setiap Diabetes tipe II membutuhkan obat, lebih-lebih Insulin. Obat-obatan anti Diabetes melalui mulut bertujuan untuk: menekan penyerapan glucose dalam saluran pencernaan, memacu produksi Insulin, serta meningkatkan kepekaan mitochodria dan sel-sel hati terhadap kinerja Insulin. Kerapkali dokter mengkombinasikan dua-tiga jenis obat.

            Semua pasien Diabetes, membutuhkan pendidikan tentang ‘hidup dengan diabetes’. Kriteria ‘hidup sehat’ yang didengungkan setiap hari melalui media, di sini tidak akan dikupas lagi. Kita maklumi bahwa pendidikan kesehatan masyarakat / pasien sangat sulit. Slogan ‘hidup sehat’ lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Namun, ada baiknya untuk mengetahui teknik terakhir dari pendidikan pasien Diabetes yang digunakan oleh organisasi-organisasi Diabetes Amerika dan Eropa.

Teknik terbaru ini meninggalkan pola pendidikan berkelompok dengan ceramah-ceramah. Pendidikan dilakukan perorangan dan pasien bukan lagi menjadi obyek, tetapi pusat pendidikan. Kepada pasien diberi kebebasan untuk mengutarakan semua kendalanya dalam mencapai target yaitu ‘hidup sehat.’ Tugas pendidik adalah: memberi informasi (bukan initimidasi) tentang komplikasi Diabetes dan pencegahannya, mendiskusikan bagaimana mengatasi kendala pasien, dan bersama-sama menyusun program bertahap sesuai kondisi dan kemampuan pasien. Pelaksanaannya memerlukan beberapa kali pertemuan, dan pada setiap pertemuan dilakukan evaluasi bersama tentang kemajuan yang dicapai pasien.

            Akhirnya perlu diwaspadai pemakaian zat pemanis pengganti gula yang dalam rumus kimianya adalah D-Ribose. Molekul organik ini sebenarnya dibentuk secara alamiah oleh tubuh. Bila seseorang mengganti glucose dengan D-Ribose (pemanis), kadar gula darahnya menurun. Justru karena efek inilah, maka penggunaan D-Ribose bagi mereka yang mendapat pengobatan anti-Diabetes (tablet atau Insulin) sangat tidak dianjurkan.  Kombinasi D-Ribose dan obat anti Diabetes membuat kadar darah terjun bebas dan sangat membahayakan jiwa pasien. Pada dasarnya, kadar gula darah yang rendah (hypoglycaemia) lebih berbahaya daripada hyperglycemia seperti pada Diabetes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://www.elitha-eri.net/penyakit-kencing-manis-diabetes-mellitus
Twitter