MENDENGKUR / NGOROK

Resiko terbesar menikah dengan orang Barat adalah ketidak langgengan pernikahan akibat ‘kultur’ kawin-cerainya. Berbagai alasan dapat saja direkayasa untuk menceraikan pasangan hidup. Mulai dari alasan terberat yaitu berselingkuh hingga hal yang kita anggap sepele seperti mendengkur / ngorok yang meng- ganggu tidur. Tujuan makalah ini bukanlah untuk tidak menyepelekan ‘ngorok’ agar tidak dicerai, tetapi mengingatkan kita agar tidak menyepelekan ‘ngorok’ demi kelanggengan hidup.

Penyebab ‘ngorok’

            Pada waktu tidur, otot-otot pada dasar tenggorokan dan lidah berada dalam keadaan mengendur (relax). Hal ini mempersempit jalan pernapasan. Udara yang dihirup menggetarkan struktur-struktur dalam tenggorokan yang pada gilirannya mengiramakan dengkuran. Kegemukan menyebabkan lemak tertimbun di leher dan makin mempersempit jalan napas, dengan akibat dengkuran makin menjadi-jadi. Pembesaran kelenjar-kelenjar seputar leher serta obat-obatan penenang dan minuman beralkohol mendorong ‘dengkuran’ / ‘ngorok’ menjadi alasan utama untuk menceraikan pasangan hidup, meskipun sebenarnya di balik layar sudah menunggu ‘orang ketiga.’

Komplikasi ‘ngorok’

            Komplikasi utama dari ‘ngorok’ adalah blokade total jalan napas yang menyebabkan pendengkur sama sekali tidak dapat bernapas. Biasanya hal ini berlaku sesaat yaitu sekitar 10 detik. Dalam dunia kedokteran keadaan ini disebut:

Obstructive Sleep Apnea (OSA – terhentinya pernapasan akibat pembutuan jalan napas sewaktu tidur). Hal ini akibat lidah jatuh ke belakang yang disertai kolaps- nya dinding belakang tenggorokan. Terhentinya pernapasan, menyebabkan kadar oksigen (O2) darah menurun dan kadar karbon dioksida (CO2) meningkat. Penurunan kadar O2 memacu denyutan jantung, sedangkan peningkatan kadar CO2 memacu pusat pernapasan. Kombinasi kedua reaksi fisiologis tubuh ini membangunkan si pendengkur. Kembali di sini kita melihat kebesaran Tuhan, sebab tanpa mekanisme di atas pasangan hidup tak perlu lagi mencerai si pendengkur yang sudah menghadap Penciptanya.

            Setelah terbangun, si pendengkur dapat lagi meneruskan mimpinya hingga OSA berikutnya terulang lagi. Siklus ini dapat terulang 20 hingga 60 kali dalam satu jam. Secara statistik, di Amerika tiga dari empat orang mengorok sehingga dalam tahun 2002 tercatat 20 juta orang mengalami OSA. Maka tak heran kalau pengadilan disibukkan dengan kawin-cerai yang menjamur.

 Menengarai OSA

          OSA ditengarai atau diperkirakan akan terjadi bila segera setelah kepala nempel pada bantal, musik ‘ngorok’ mulai terdengar. Nada dengkuran bersifat crescendo (makin lama makin keras), lalu tiba-tiba pernapasan terhenti dan yang bersangkutan seperti tercekik. Pendengkur yang pada umumnya kegemukan dan mudah tidur siang hari, seperti diuraikan di atas, akan segera tertidur lagi dan sesaat kemudian OSA terulang kembali.

Bahaya OSA

OSA membuat pengidapnya terbangun-bangun. Akibatnya setiap bangun tidur, tubuh tak terasa segar dan selalu mengeluh ‘kurang tidur’ walaupun sudah tidur berjam-jam. Ngantuk pada siang hari, mudah marah, sukar berkonsentrasi, dan nafsu seksual (libido) menurun. Pada anak-anak dapat menyebabkan nilai raportnya banyak yang merah. Kesemuanya itu menjadikan pendengkur mengalami gangguan secara mental dan fisik yang cukup berat,

Di samping itu, OSA dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah jantung (coroner), tekanan darah tinggi dan stroke (kematian sel-sel otak). Pada mereka yang telah mengidap penyempitan pembuluh koroner jantung, OSA dapat menimbulkan kematian mendadak.

Pengobatan dan Pencegahan

            Obat-obatan dan alat-alat di pasaran, sejauh ini hanya sedikit menolong. Kita perlu mewaspadai alat-alat yang diiklankan, karena seringkali membuat pendengkur sering terbangun ketimbang mengurangi dengkurannya. Hanya alat-alat yang dianjurkan oleh para dokter ahli gangguan tidur saja yang boleh kita percayai. Salah satu alat canggih yang menolong pendengkur dan mencegah OSA adalah: CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). CPAP adalah alat pernapasan untuk meningkatkan tekanan udara yang kita hirup. Tekanan udara tinggi ini mampu mencegah penyempitan jalan napas dan kelumpuhan otot-otot dinding belakang tenggorokan. Namun pengadaptasian gaya hidup sangat diperlukan untuk mengatasi bahkan mencegah OSA. Jauhi minum minuman keras (beralkohol), obat-obatan penenang dan hindari kegemukan. Upayakan selalu tidur miring, sebab posisi telentang membuat lidah mudah jatuh ke belakang. Peranan dokter ahli Tenggorokan-Hidung-Telinga (THT) sangat mutlak untuk menentukan ada-tidaknya pembesaran kelenjar seputar leher atau tumor bertangkai (polip). Kesimpulannya: tidak perlulah kawin-cerai dengan alasan ‘pasangan hidup mendengkur / ngorok’, sebab oleh anugerah Ilahi, ngorok dengan OSA-nya melalui kedokteran telah dapat ditanggulangi dan dicegah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://www.elitha-eri.net/mendengkur-ngorok
Twitter