<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>&#124;Elitha-Eri Weblog&#124; &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://www.elitha-eri.net/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.elitha-eri.net</link>
	<description>Blog of Elitha and Eri</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 11:58:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/08/28/menyingkap-1001-hikmah-shalat-subuh/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/08/28/menyingkap-1001-hikmah-shalat-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 04:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6434</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu? “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2010/08/masjid-agung-annur-pekanbaru.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-6435" title="masjid-agung-annur-pekanbaru" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/08/masjid-agung-annur-pekanbaru-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]</p></blockquote>
<p>Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)</p>
<p>Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.</p>
<p>“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.</p>
<p>“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]</p>
<p>Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.</p>
<p>“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka &#8211; padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka &#8211; ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]</p>
<p>Sedangkan bagi wanita &#8211; walau shalat di masjid diperbolehkan &#8211; shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.</p>
<p>“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]</p>
<p>Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)</p>
<p>Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.</p>
<p>“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)</p>
<p>“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)</p>
<p><strong>TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :</strong></p>
<p>1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya<br />
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari<br />
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali<br />
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh<br />
5. Carilah kawan yang baik (shalih)<br />
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa)<br />
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari<br />
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding<br />
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu)<br />
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga</p>
<p>Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.</p>
<p><em><strong>Disarikan dari :</strong></em><br />
Buku “MISTERI SHALAT SUBUH”<br />
Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat<br />
Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani<br />
Penerbit : Aqwam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/08/28/menyingkap-1001-hikmah-shalat-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibnu Sina atau Avicenna</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/06/13/ibnu-sina-atau-avicenna/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/06/13/ibnu-sina-atau-avicenna/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 13:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6267</guid>
		<description><![CDATA[Nama aslinya adalah Abu Ali al-husain bin Abdullah bin hasan bin Ali bin Sina, di barat dikenal dengan nama Avicenna. Beliau dikenal sebagai ahli filosofi dan pengobatan, namun sebagian besar muslim hanya mengenalnya sebagai seorang ahli pengobatan. Pemahamannya dalam bidang pengobatan sangat luas pengaruhnya hingga ke abad 17 di Eropa. Bahkan kaum barat mensejajarkan kemampuannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2010/06/ibnu-sina.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-6268" title="ibnu sina" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/06/ibnu-sina-223x300.jpg" alt="" width="223" height="300" /></a>Nama aslinya adalah Abu Ali al-husain bin Abdullah bin hasan bin Ali bin Sina, di barat dikenal dengan nama Avicenna. Beliau dikenal sebagai ahli filosofi dan pengobatan, namun sebagian besar muslim hanya mengenalnya sebagai seorang  ahli pengobatan.</p>
<p>Pemahamannya dalam bidang pengobatan sangat luas pengaruhnya hingga ke abad 17 di Eropa. Bahkan kaum barat mensejajarkan kemampuannya dengan Aritoteles dan memberinya gelar &#8216;Prince of Physician&#8221; atau Pangerannya para Dokter.. Sedangkan pengetahuannya di bidang filosofi lebih banyak dirasakan pengaruhnya di Iran hingga saat ini.</p>
<p>Ibnu sina dilahirkan tahun 980 di sebuah desa kecil bernama Afshanah dekat Bukhara. Bukhara adalah juga kota kelahiran perawi hadits Imam Bukhari (tahun 810). Kota ini sekarang dikenal dengan nama Uzbekistan. Bukhara, pada saat itu adalah salah satu pusat pengajaran Islam. Kota ini berada di bawah kekuasaan Dinasty Samaniyah Persia (Iran). Ibnu Sina pindah ke kota ini pada saat ia masih remaja belia. Ayahnya adalah seorang penganut mazhab Ismaili (mazhab terbesar kedua dalam Syi&#8217;ah).</p>
<p>Kecerdasan Ibnu sina sudah nampak saat ia masih kecil. pada umur 10 tahun ia sudah hafal al-qur&#8217;an, pada umur 14 tahun ia memiliki ilmu lebih luas daripada gurunya, dan pada umur 18 tahun ia sudah memahami bidang-bidang science termasuk bidang pengobatan yang membuatnya terkenal.</p>
<p>Kemampuannya dibidang pengobatan tidak diragukan, bahkan seorang pangeran Samaniyah pernah pula menjadi pasiennya. atas jasanya ini, pihak kekaisaran memberikan izin bagi ibnu sina untuk masuk perpustakaan kerajaan. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. seperti memiliki otak komputer, ibnu sina mampu menelan semua pustaka dalam perpustakaan tersebut hanya dalam waktu 18 bulan.</p>
<p>Salah satu buku yang paling berkesan bagi beliau adalah karya Aristoteles; Metaphysics. Ibnu sina sangat penasaran dengan buku ini. ia bahkan membacanya hingga 40 kali tapi ia belum bisa memahaminya hingga ia mendapatkan pencerahan dari al-farabi.</p>
<p>Pada tahun 999, dinasty samaniyah ditaklukkan oleh dinasti Ghaznawids dari turki. dinasti baru ini kurang memberikan porsi pada keilmuan sehingga ibnu sina harus berpindah-pindah tempat tinggal. Dalam kehidupan seperti ini ia menjalani hidup dari hasil kemampuannya mengobati orang lain dan saat malam ia menuliskan karya-karyanya. Kota terakhir sebagai persinggahan beliau selama 14 tahun adalah Hamadan sebuah kota di bagian barat Iran. Beliau meninggal tahun 1037 pada umur 57 tahun.</p>
<p>Selama hidupnya Ibnu sina menghasil 270 buku, dimana 200 dari buku-buku ini masih ada sampai sekarang.  3 karya beliau yang sangat termashur adalah 2 dibidang filosofi yaitu al-shifa (healing/pengobatan) dan al-isharat wal tanbihat (directives and remarks), dan 1 dibidang pengobatan yaitu Qanun (canon). terjemahan buku al-shifa saat ini masih ada dipasaran dengan judul <strong><em>The propositional logic </em></strong>(1973) dengan harga 145 pounds atau sekitar 2.1 juta per buku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/06/13/ibnu-sina-atau-avicenna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapakah Abdurrahman bin Auf?</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/06/02/siapakah-abdurrahman-bin-auf/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/06/02/siapakah-abdurrahman-bin-auf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 14:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Abdurrahman bin Auf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6250</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, Apakah yang telah terjadi di kota Madinah? Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya, seseorang menjawab. Ummul Mukminin berkata lagi, Kafilah yang telah menyebabkan semua ini? Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan. Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-6251" title="Abdurrahman bin Auf" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/06/Abdurrahman-bin-Auf.jpg" alt="" width="150" height="123" />Ketika mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?<br />
Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya, seseorang menjawab.<br />
Ummul Mukminin berkata lagi, Kafilah yang telah menyebabkan semua ini?<br />
Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan.<br />
Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat dan didengarnya.<br />
Kemudian ia berkata, Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.<br />
Sebagian sahabat mendengar itu. Mereka pun menyampaikannya kepada Abdurrahman bin Auf. Alangkah terkejutnya saudagar kaya itu. Sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskan, ia segera me-langkahkan kakinya ke rumah Aisyah.<br />
Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa. Abdurrahman bin Auf berkata lagi, Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.<br />
Dan dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya. Sebuah infak yang mahabesar.<br />
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya. Bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta kemudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal.<br />
Kemudian, harta itu tidak ia nikmati sendirian. Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut juga menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf.<br />
Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah berkata, Seluruh penduduk Madinah bersatu dengan Abdurrahman bin Auf. Sepertiga hartanya dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka.<br />
Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia pergunakan untuk membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia memikirkan harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.<br />
Pada suatu hari, dihidangkan kepada Abdurahman bin Auf makanan untuk berbuka puasa. Memang, ketika itu ia tengah berpuasa. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia malah menangis dan berkata, Mushab bin Umair telah gugur sebagai seorang syahid. Ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya. Dan jika ditutupkan kedua kakinya, terbuka kepalanya.<br />
Abdurrahman bin Auf berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan dengan suara yang juga masih terisak dan berat, Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir telah didahulukan pahala kebaikan kami.<br />
Begitulah Abdurrahman bin Auf. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ketakutan itu sering sekali, akhirnya menumpahkan air matanya. Padahal, ia tidak pernah mengambil harta yang haram sedikitpun.<br />
Pada hari lain, sebagian sahabat berkumpul bersama Abdurrahman bin Auf menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama setalah makanan diletakkan di hadapan mereka, tiba-tiba ia kembali menangis.<br />
Sontak para sahabat terkejut. Mereka pun bertanya, Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman bin Auf?<br />
Abdurrahman bin Auf sejenak tidak menjawab. Ia menangis tersedu-sedu. Sahabat benar-benar melihat bahwa betapa halusnya hati seorang Abdurrahman bin Auf. Ia mudah tersentuh dan begitu penuh kekhawatiran akan segala apa yang diperbuatnya di dunia ini.<br />
Kemudian terdengar Abdurrahman bin Auf menjawab, Rasulullah saw. wafat dan belum pernah beliau berikut keluarganya makan roti gandum sampai kenyang. Apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan?<br />
Jika sudah begini, bukan hanya Abdurrahman bin Auf yang menangis, para sahabat pun akan ikut menangis. Mereka adalah orang-orang yang hatinya mudah tersentuh, dekat dengan Allah dan tak pernah berhenti mengharap ridha Allah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/06/02/siapakah-abdurrahman-bin-auf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Bakar dan Tukang Ramal</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/05/30/abu-bakar-dan-tukang-ramal/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/05/30/abu-bakar-dan-tukang-ramal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 15:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6238</guid>
		<description><![CDATA[Abu Bakar mempunyai seorang hamba yang menyerahkan sebagian dari pendapatan hariannya. Pada suatu hari hambanya itu telah membawa makanan lalu dimakan sedikit oleh Abu Bakar. Hamba itu berkata: Kamu selalu bertanya tentang sumber makanan yang aku bawa tetapi hari ini kamu tidak berbuat demikian. Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkan kepada ku dimana kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-6239" title="ramal" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/05/ramal.jpg" alt="" width="124" height="82" />Abu Bakar mempunyai seorang hamba yang menyerahkan sebagian dari pendapatan hariannya. Pada suatu hari hambanya itu telah membawa makanan lalu dimakan sedikit oleh Abu Bakar. Hamba itu berkata: Kamu selalu bertanya tentang sumber makanan yang aku bawa tetapi hari ini kamu tidak berbuat demikian.<br />
Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkan kepada ku dimana kamu mendapat makanan ini.<br />
Hamba: Sebelum aku memeluk Islam aku menjadi tukang ramal. Orang-orang yang aku ramal nasibnya kadang-kadang tidak dapat bayar uang kepadaku. Mereka berjanji akan membayarnya apabila sudah memperoleh uang. Aku telah berjumpa dengan mereka hari ini. Merekalah yang memberikan aku makanan ini.<br />
Mendengar kata-kata hambanya Abu Bakar memekik : Ah! Hampir saja kau bunuh aku.</p>
<p>Kemudian dia coba mengeluarkan makanan yang telah ditelannya. Ada orang yang menyarankan supaya dia mengisi perutnya dengan air dan kemudian memuntahkan makanan yang ditelannya tadi. Saran ini diterima dan dilaksanakannya sehingga makanan itu dimuntah keluar.<br />
Kata orang yang mengamati : Semoga Allah memberikan rahmat atas mu. Kamu telah bersusah payah karena makanan yang sedikit.</p>
<p>Kepada orang itu Abu Bakar menjawab: Aku sudah pasti memaksanya keluar walaupun dengan berbuat demikian aku mungkin kehilangan nyawaku sendiri. Aku mendengar Nabi berkata : Badan yang tumbuh subur dengan makanan haram akan merasakan api neraka. Oleh karena itulah maka aku memaksa makanan itu keluar takut kalau-kalau ia menyuburkan badanku.</p>
<p>Abu Bakar sangat teliti tentang haram halalnya makanan yang dimakannya.<br />
Jangan mendapatkan harta melalui jalan yang haram, Jangan gunakan harta yang haram bagi diri sendiri apalagi untuk orang lain.<br />
Kelak diyaumil akhir akan ditanya &#8221;<br />
Dari mana kamu peroleh hartamu dan kemana kau belanjakan &#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/05/30/abu-bakar-dan-tukang-ramal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalahuddin Al-Ayyubi: Macan Perang Salib</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/05/29/shalahuddin-al-ayyubi-macan-perang-salib/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/05/29/shalahuddin-al-ayyubi-macan-perang-salib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 23:47:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6232</guid>
		<description><![CDATA[Shalahuddin Al-Ayyubi sebenarnya hanya nama julukan dari Yusuf bin Najmuddin. Shalahuddin merupakan nama gelarnya, sedangkan al-Ayyubi nisbah keluarganya. Beliau sendiri dilahirkan pada tahun 532 H/ 1138 M di Tikrit, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq. Sejak kecil Shalahuddin sudah mengenal kerasnya kehidupan. Pada usia 14 tahun, Shalahuddin ikut kaum kerabatnya ke Damaskus, menjadi tentara Sultan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6233" class="wp-caption alignright" style="width: 330px"><img class="size-full wp-image-6233" title="baitul maqdis" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/05/baitul-maqdis.jpg" alt="" width="320" height="240" /><p class="wp-caption-text">Baitul Maqdis</p></div>
<p><strong>Shalahuddin Al-Ayyubi</strong> sebenarnya hanya nama julukan dari <strong>Yusuf bin Najmuddin</strong>. Shalahuddin merupakan nama gelarnya, sedangkan al-Ayyubi nisbah keluarganya. Beliau sendiri dilahirkan pada tahun 532 H/ 1138 M di Tikrit, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq.</p>
<p>Sejak kecil Shalahuddin sudah mengenal kerasnya kehidupan. Pada usia 14 tahun, Shalahuddin ikut kaum kerabatnya ke Damaskus, menjadi tentara Sultan Nuruddin, penguasa Suriah waktu itu. Karenan memang pemberani, pangkatnya naik setelah tentara Zangi yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Shirkuh, berhasil memukul mundur pasukan Salib (crusaders) dari perbatasan Mesir dalam serangkaian pertempuran.</p>
<p>Pada tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi panglima dan gubernur (wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan pemulihan dan penataan kembali sistem perekonomian dan pertahanan Mesir, Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari cengkeraman tentara Salib.</p>
<p>Shalahuddin terkenal sebagai penguasayang menunaikan kebenaran bahkan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Tepat pada bulan September 1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk dan patuh pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Belom cukup sampai di situ, tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia. Satu persatu wilayah penting berhasil dikuasinya: Damaskus (pada tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138) dan Mosul (1186).</p>
<p>Sebagaimana diketahui, berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damaskus, dan Yerusalem pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah dan Palestina. Mereka bebas dan aman menjalankan ajaran agama masing-masing di kota suci tersebut.</p>
<p><strong>Perang Salib </strong></p>
<p>Namun kerukunan yang telah berlangsung selama lebih 460 tahun itu kemudian porak-poranda akibat berbagai hasutan dan fitnah yang digembar-gemborkan oleh seorang patriarch bernama Ermite. Provokator ini berhasil mengobarkan semangat Paus Urbanus yang lantas mengirim ratusan ribu orang ke Yerusalem untuk Perang Salib Pertama. Kota suci ini berhasil mereka rebut pada tahun 1099. Ratusan ribu orang Islam dibunuh dengan kejam dan biadab, sebagaimana mereka akui sendiri: <em>In Solomons Porch and in his temple, our men rode in the blood of the Saracens up to the knees of their horses.</em></p>
<p>Menyadari betapa pentingnya kedudukan Baitul Maqdis bagi ummat Islam dan mendengar kezaliman orang-orang Kristen di sana, maka pada tahun 1187 Shalahuddin memimpin serangan ke Yerusalem. Orang Kristen mencatatnya sebagai Perang Salib ke-2. Pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan tentara Kristen dalam sebuah pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 July 1187. Dua bulan kemudian (Oktober tahun yang sama), Baitul Maqdis berhasil direbut kembali.</p>
<p>Berita jatuhnya Yerusalem menggegerkan seluruh dunia Kristen dan Eropa khususnya. Pada tahun 1189 tentara Kristen melancarkan serangan balik (Perang Salib ke-3), dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarossa, Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard the Lion Heart.</p>
<p>Perang berlangsung cukup lama. Baitul Maqdis berhasil dipertahankan, dan gencatan senjata akhirnya disepakati oleh kedua-belah pihak. Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua: daerah pesisir Laut Tengah bagi orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang Islam; namun demikian kedua-belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain dengan aman.</p>
<p>Setahun kemudian, tepatnya pada 4 Maret 1193, Shalahuddin menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ketika meninggal dunia di Damaskus, Shalahuddin tidak memiliki harta benda yang berarti. Padahal beliau adalah seorang pemimpin. Tapi hal baik yang ditinggalkan oleh orang baik selalu akan menjadi bagian kehidupan selamanya. Kontribusinya buat Islam sungguh tidak pernah bisa diukur dengan apapun di dunia ini.</p>
<p><strong>Parcel untuk Musuh </strong></p>
<p>Banyak kisah-kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin al-Ayyubi yang layak dijadikan teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya. Di tengah suasana perang, ia berkali-kali mengirimkan es dan buah-buahan untuk Raja Richard yang saat itu jatuh sakit.</p>
<p>Ketika menaklukkan Kairo, ia tidak serta-merta mengusir keluarga Dinasti Fatimiyyah dari istana-istana mereka. Ia menunggu sampai raja mereka wafat, baru kemudian anggota keluarganya diantar ke tempat pengasingan mereka. Gerbang kota tempat benteng istana dibuka untuk umum. Rakyat dibolehkan tinggal di kawasan yang dahulunya khusus untuk para bangsawan Bani Fatimiyyah. Di Kairo, ia bukan hanya membangun masjid dan benteng, tapi juga sekolah, rumah-sakit dan bahkan gereja.</p>
<p>Shalahuddin juga dikenal sebagai orang yang saleh dan wara. Ia tidak pernah meninggalkan salat fardu dan gemar salat berjamaah. Bahkan ketika sakit keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasihatinya supaya berbuka. Aku tidak tahu bila ajal akan menemuiku, katanya.</p>
<p>Shalahuddin amat dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia menetapkan hari Senin dan Selasa sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja yang memerlukan bantuannya. Ia tidka nepotis atau pilih kasih. Pernah seorang lelaki mengadukan perihal keponakannya, Taqiyyuddin. Shalahuddin langsung memanggil anak saudaranya itu untuk dimintai keterangan.</p>
<p>Pernah juga suatu kali ada yang membuat tuduhan kepadanya. Walaupun tuduhan tersebut terbukti tidak berdasar sama sekali, Shalahuddin tidak marah. Ia bahkan menghadiahkan orang yang menuduhnya itu sehelai jubah dan beberapa pemberian lain. Ia memang gemar menyedekahkan apa saja yang dimilikinya dan memberikan hadiah kepada orang lain, khususnya tamu-tamunya.</p>
<p>Ia juga dikenal sangat lembut hati, bahkan kepada pelayannya sekalipun. Pernah ketika ia sangat kehausan dan minta dibawakan segelas air, pembantunya menyuguhkan air yang agak panas. Tanpa menunjukkan kemarahan ia terus meminumnya. Kezuhudan Shalahuddin tertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang: Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja. (sa/ind/berbagaisumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/05/29/shalahuddin-al-ayyubi-macan-perang-salib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Milikmu bukan Milikku</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/05/21/milikmu-bukan-milikku/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/05/21/milikmu-bukan-milikku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 14:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6188</guid>
		<description><![CDATA[Pernah di Syibam, ada seorang shalih memegang jabatan hakim. Selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang mengadukan masalahnya. Suatu hari ia mengeluh kepada penduduk kota, “Mengapa di antara kalian tak ada yang berkelahi ? Mengapa tak ada yang bersengketa ?” Penduduk Syibam menjawab, “Penghuni kota ini antara yang satu dan yang lain telah didamaikan Al-Quran. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2010/05/harta-karun.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-6189" title="harta karun" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/05/harta-karun-260x300.jpg" alt="" width="260" height="300" /></a>Pernah di Syibam, ada seorang shalih memegang jabatan hakim. Selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang mengadukan masalahnya.</p>
<p>Suatu hari ia mengeluh kepada penduduk kota, “Mengapa di antara kalian tak ada yang berkelahi ? Mengapa tak ada yang bersengketa ?”</p>
<p>Penduduk Syibam menjawab, “Penghuni kota ini antara yang satu dan yang lain telah didamaikan Al-Quran. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah (Q.S. Asy-Syura (42) ayat 40). Mereka tidak butuh engkau. Apa yang hendak engkau hakimi jika mereka telah bersatu ?”</p>
<p>Akhirnya, sang hakim setiap hari masuk kantor, namun hanya jadi penganggur.<br />
Tidak ada seorang pun yang mengunjunginya untuk meminta keputusan sengketa.</p>
<p>Setelah 14 tahun, datang dua orang menemuinya.</p>
<p>“Ada apa ?” tanya hakim.</p>
<p>“Kami ada masalah”, jawab salah seorang tamunya.</p>
<p>“Alhamdu lillah, selamat datang, selamat datang. Selama bertahun-tahun aku merindukan kejadian seperti ini. Kemari dan duduklah. Aku akan bertindak adil kepada kalian”.</p>
<p>Sang hakim pun bersiap-siap dengan penuh semangat untuk menggunakan ilmunya memutuskan dengan adil. Ini kasus pertama dalam 14 tahun.</p>
<p>“Nah, ceritakanlah persoalanmu “</p>
<p>“Aku membeli sebidang tanah dari dia ini. Dalam tanah itu ternyata ada harta karun emas. Pada harta itu terdapat tanda-tanda sebagai peninggalan jaman dahulu (masa sebelum Islam). Berarti harta itu adalah rikaz”</p>
<p>&#8220;Benar” sang hakim mengomentari.</p>
<p>“Bila itu rikaz, maka sudah seharusnya menjadi hak pemilik tanah pertama.<br />
Aku mendatanginya dengan membawa harta itu. Namun, ia tidak mau menerimanya.<br />
Katanya ia telah menjual tanah itu padaku” lanjut orang itu.</p>
<p>“Aneh………??! Inilkah pengaduanmu ? Sekarang, jawalah”, kata sang hakim pada laki-laki yang seorang lagi.</p>
<p>“Pak hakim yang mulia, tanah itu berikut isinya telah saya jual. Saya tidak berhak lagi atas harta itu. Waktu menjual saya tidak berkata, “Saya jual tanah ini tanpa harta karunnya”. Harta itu ada di tanah yang telah saya jual, maka sudah seharusnya harta itu menjadi milik si pembeli”, jawab laki-laki yang kedua.</p>
<p>“Sungguh aneh. Inikah jawabanmu ?”</p>
<p>“Ya”</p>
<p>“Bagaimana pendapat kalian ?” tanya sang hakim selanjutnya.</p>
<p>“Pak hakim yang mulia, anda memahami syari’at Allah, ambillah harta ini dan gunakanlah”, kata keduanya.</p>
<p>“Kalian berdua ingin menyelamatkan diri dan membinasakan hakimmu ya?! Tidak bisa begitu !” tukas sang hakim.</p>
<p>“Bila begitu adililah kami” pinta keduanya.</p>
<p>“Sabarlah. Kalian punya anak ?”</p>
<p>“Ya, aku punya anak perempuan”</p>
<p>“Kamu ?”</p>
<p>“Aku punya anak laki-laki”</p>
<p>“Baiklah. Keluarkan 1/5 harta itu untuk zakat, karena itu rikaz. Sisanya yang 4/5 gunakanlah untuk pernikahan putra dan putri kalian. Sekarang pergilah kalian dari tempatku”, putus sang hakim.</p>
<p><a href="http://hikayatindah.blogspot.com/2009/10/milik-anda-bukan-milikku.html">http://hikayatindah.blogspot.com/2009/10/milik-anda-bukan-milikku.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/05/21/milikmu-bukan-milikku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lima Jenis Sabar</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/10/13/lima-jenis-sabar/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/10/13/lima-jenis-sabar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 23:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5601</guid>
		<description><![CDATA[Kata &#8220;sabar&#8221; seringkali kita gunakan untuk menasehati atau menghibur seseorang. Namun seringkali pula kita menggunakan sabar yang tidak pada tempatnya. Untuk itu penting bagi kita mengetahui kapan kita harus bersabar dan kapan kita harus meninggalkan sabar. Ada 5 Jenis sabar, yaitu: 1. Sabar yang wajib, yaitu a. Sabar dari meninggalkan larangan Allah b. Sabar dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5602" title="anak kecil berdoa" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/10/anak-kecil-berdoa.jpg" alt="anak kecil berdoa" width="318" height="320" />Kata &#8220;sabar&#8221; seringkali kita gunakan untuk menasehati atau menghibur seseorang. Namun seringkali pula kita menggunakan sabar yang tidak pada tempatnya. Untuk itu penting bagi kita mengetahui kapan kita harus bersabar dan kapan kita harus meninggalkan sabar.</p>
<p><strong>Ada 5 Jenis sabar, yaitu:</strong></p>
<p><strong>1. Sabar yang wajib, yaitu</strong><br />
a. Sabar dari meninggalkan larangan Allah<br />
b. Sabar dalam melaksanakan kewajiban<br />
c. Sabar dalam menghadapi kesulitan, misalnya kesulitan ekonomi, sakit dll</p>
<p><strong>2. Sabar yang dianjurkan, yaitu</strong><br />
a. Sabar dari meninggalkan hal yang makruh<br />
b. Sabar dalam mengerjakan ibadah yang dianjurkan<br />
b. Sabar dari menahan/meninggalkan dendam</p>
<p><strong>3. Sabar yang dilarang, yaitu</strong><br />
a. Bersabar tidak makan dan minum hingga ia meninggal<br />
b. Sabar tidak makan makanan haram saat tidak ada pilihan lain hingga akhirnya ia mati kelaparan<span id="more-5601"></span></p>
<blockquote><p>&#8220;Barangsiapa yang tidak punya pilihan lain selain daging haram, bangkai, dan darah, tetapi menolak memakannya sedang ia tidak punya pilihan lain hingga menyebabkan ia meninggal, maka ia akan masuk neraka&#8221; (HR Ahmad bin Hanbal)</p></blockquote>
<p>c. Sabar menahan diri dari mengemis.<br />
Imam Syafi&#8217;i membolehkan mengemis jika tidak ada pilihan lain dan dengan mengemis ini bisa menyelamatkan nyawanya atau menyelamatkannya dari berbuat yang dilarang.<br />
d. Sabar menahan diri menghadapi hal yang bisa membunuhnya, misalnya tidak berusaha lari atau menghindar dari api, ular dan predator lainnya.<br />
e. Sabar pada saat terjadi fitnah dimana umat islam saling membunuh (ikut bertempur).<br />
Bersabar dengan tidak ikut terlibat dalam pertempuran sesama muslim adalah Mustahab (dianjurkan). Namun saat Muslim berhadapan dengan kaum kafir, wajib hukumnya membela diri (Jihad)</p>
<p><strong>4. Sabar yang dimakruhkan</strong><br />
a. Sabar dengan meninggalkan keinginan jasmani (makanan, minuman, sex) hingga mengganggu kesehatannya.<br />
b. Sabar dengan tetap mengerjakan hal yang hukumnya makruh</p>
<p><strong>5. Sabar yang diperbolehkan (mubah)</strong><br />
a. bersabar dengan meninggalkan hal yang hukumnya mubah</p>
<p>ditulis ulang oleh Islamsejuk untuk IUA<br />
Penulis asli:  Bin Qayyim al Jawziyyah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/10/13/lima-jenis-sabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khalifah Umar Ibnu Kaththab</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/08/13/khalifah-umar-ibnu-kaththab/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/08/13/khalifah-umar-ibnu-kaththab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 01:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[umar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5363</guid>
		<description><![CDATA[Ia adalah Amirul Mu&#8217;minin Umar ibnul Khaththab. Dijuluki oleh ¬Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan al-Faruq karena ia membedakan antara yang hak dan yang batil. Ia dibaiat menjadi khalifah ¬pada hari kematian Abu Bakar ash-Shidiq. Selama masa khalifahnya, ia ¬melakukan tugasnya dengan baik seperti halnya sirah, jihad, dan -kesabaran Abu Bakar Radhiyallahu &#8216;anhu. Dengan Umar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/08/umar-bin-khattab.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-5364" title="umar bin khattab" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/08/umar-bin-khattab-300x225.jpg" alt="umar bin khattab" width="300" height="225" /></a>Ia adalah Amirul Mu&#8217;minin Umar ibnul Khaththab. Dijuluki oleh ¬Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam dengan al-Faruq karena ia membedakan antara yang hak dan yang batil. Ia dibaiat menjadi khalifah ¬pada hari kematian Abu Bakar ash-Shidiq. Selama masa khalifahnya, ia ¬melakukan tugasnya dengan baik seperti halnya sirah, jihad, dan -kesabaran Abu Bakar Radhiyallahu &#8216;anhu. Dengan Umar ibnul Khaththab, Allah memuliakan Islam.</p>
<p>Hal pertama yang dilakukannya setelah menjabat sebagai khalifah ialah mencopot Khalid bin Walid dari jabatan sebagai komandan pasukan dan menggantinya dengan Abu Ubaidah.</p>
<p>Ia ikut menyaksikan penaklukan Baitul Maqdis dan tinggal di sana selama sepuluh hari. Ia kemudian kembali ke Madinah dengan ¬membawa serta Khalid bin Walid. Tatkala Khalid bin Walid menanyakan ¬perlakuan Umar terhadap dirinya, Umar Radhiyallahu &#8216;anhu menjawab, &#8220;Demi Allah! Wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.&#8221;<span id="more-5363"></span></p>
<p>Umar kemudian menulis surat ke berbagai negeri dan wilayah ¬menyatakan kepada mereka,<br />
&#8220;Sesungguhnya, aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan, tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-¬serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya.&#8221;</p>
<p>Khalid bin Walid merupakan seorang putra dari bibinya Umar. Ia meninggal pada masa Khalifah Umar di Hamat.</p>
<p>Damakus berhasil ditaklukkan dengan dua cara, damai dan kekerasan. Adapun Hamsh dan Ba&#8217;albak ditaklukkan secara damai. Bashrah dan Aballah ditaklukkan dengan cara kekerasan. Semua penaklukkan ini terjadi pada tahun 14 Hijriah.</p>
<p>Di tahun ini pula Umar menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamah.</p>
<p>Pada tahun 15 Hijriah, Yordania secara keseluruhan berhasil ditaklukkan melalui kekerasan kecuali Thabriah yang ditundukkan dengan damai. Pada tahun ini terjadi pula perangYarmuk dan Qadisiah. Berkata Ibnu Jurair di dalam Tarikh-nya, &#8220;Pada tahun ini, Sa&#8217;ad mem¬bangun Kufah, Umar menentukan sejumlah kewajiban, membentuk diwan-diwan, dan memberi pemberian berdasarkan senioritas dalam memasuki Islam.</p>
<p>Pada tahun 16 Hijriah, al-Ahwaz dan Mada&#8217;in ditaklukkan. Di kota ini, Sa&#8217;ad menyelenggarakan shalat Jum&#8217;at, bertempat di Istana Kisra. Ini merupakan shalat Jum&#8217;at berjamah yang pertama diadakan di Irak.</p>
<p>Umar meminta pendapat para sahabat termasuk Ali Radhiyallahu &#8216;anhu untuk keluar memerangi Persia dan Romawi, lalu Ali Radhiyallahu &#8216;anhu mengemukakan pendapatnya, &#8220;Sesungguhnya, masalah ini (peluang) menang dan kalahnya tidak banyak dan juga tidak sedikit. Ia adalah agama Allah yang dimenangkan-Nya dan tentara-Nya yang dipersiapkan-Nya dan disebarkan-Nya hingga ke tempat yang telah dicapainya &#8230;. &#8221;</p>
<p>Di tahun yang sama (16 H), terjadi pula Perang Jalaula&#8217;. Yazdasir putra Kisra berhasil dikalahkan. Takrit berhasil ditaklukkan. Umar berangkat berperang kemudian menaklukkan Baitul Maqdis dan menyampaikan khotbahnya yang sangat terkenal di al-Jabiah. Pada tahun ini juga, Qanasrin ditaklukkan dengan kekerasan. Haleb, Anthokiah, dan Manbaj ditundukkan bukan secara damai. Pada bulan Rabi&#8217;ul Awwal tahun ini, Umar menulis kalender Hijriah dengan meminta pertimbangan Ali Radhiyallahu &#8216;anhu.</p>
<p>Tahun 17 Hijriah, Khalifah Umar memperluas Masjid Nabawi. Kemarau panjang terjadi sehingga beliau mengajak penduduk untuk shalat minta hujan. Dengan perantaraan do&#8217;a Abbas, hujan pun turun. Ibnu Sa&#8217;ad meriwayatkan bahwa Umar keluar untuk shalat meminta hujan; ia mengenakan selendang Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. Pada tahun ini pula, al-Ahwaz ditaklukkan secara damai.</p>
<p><strong>WABAH THA&#8217;UN</strong><br />
Pasukan kaum Muslimin yang tengah berada di Syam mendapat musibah wabah tha&#8217;un pada tahun 12 Hijriah. Setelah mendengar berita ini, Umar yang tengah menuju Madinah berkeinginan untuk kembali lagi ke Syam. Beliau lalu meminta pendapat para sahabatnya. Menang¬gapi masalah ini, pada mulanya para sahabat berselisih pendapat, tetapi kemudian Abdurrahman bin Auf datang seraya memberitakan bahwa Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda,</p>
<p>&#8220;Apabila kalian mendengar terjadinya suatu wabah di suatu negeri, janganlah kalian datang ke negeri tersebut. Dan apabila terjadi wabah di suatu negeri, sedangkan kalian tengah berada di negeri tersebut, janganlah kalian keluar melarikan diri dari sana. &#8221;</p>
<p><strong>Karena itu, Umar kembali lagi ke Madinah.</strong><br />
Pada tahun 19 Hijriah, Qisariah ditaklukkan dengan kekerasan. Tahun berikutnya, 12 Hijriah, Mesir ditundukkan dengan kekerasan. Dikatakan bahwa Mesir secara keseluruhan ditaklukkan secara damai kecuali Iskandariah. Di tahun ini pula, Maroko ditaklukkan dengan kekerasan. Kaisar Agung Romawi binasa pada tahun yang sama. Khalifah Umar mengusir Yahudi dari Khaibar dan Najran.</p>
<p>Tahun 21 Hijriah, Iskandariah dan Nahawand ditaklukkan melalui kekerasan sehingga orang-orang &#8216;ajam tidak memiliki kekuatan terorganisir lagi. Tahun 22 Hijriah, Adzerbaijan ditaklukkan dengan kekuatan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa negeri ini ditaklukkan dengan cara damai. Pada tahun ini pula, Dainur, Hamdan, Tripoli Barat, dan Rayyi ditaklukkan melalui kekuatan. Pada tahun ke¬ 23 Hijriah, sisa-sisa negeri Persia ditaklukkan: Kroman, Sajistan, Ashbahan, dan berbagai pelosoknya. Pada akhir tahun ini, Khalifah Umar menunaikan ibadah haji. Sa&#8217;id bin Musayyab berkata, &#8220;Setelah nafar (berangkat) dari Mina, Umar singgah di Abthakh kemudian duduk bersila dan mengucapkan do&#8217;a seraya mengangkat kedua tangannya,</p>
<p>&#8220;Ya Allah, usiaku telah lanjut, kekuatanku telah mulai lemah, rakyatku telah tersebar luas. Karenanya, panggillah aku kepada¬Mu tanpa ada kewajiban yang aku sia-siakan atau amalan yang melewati batas.”</p>
<p>Pada penghujung bulan Dzulhijjah tahun ini, Umar ibnul Khaththab syahid terbunuh.</p>
<p>Bukhari meriwayatkan dari Aslam bahwa Khalifah Umar pernah berdo&#8217;a,<br />
&#8220;Ya Allah, karuniailah aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikan¬lah kematianku di negeri Rasul-Mu.”<br />
<em>Sumber: Tarikhul Khulafa&#8217; dan Al-Bidayah wan-Nihayah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/08/13/khalifah-umar-ibnu-kaththab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terbunuhnya Khalifah Umar bin Khattab</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/08/13/terbunuhnya-khalifah-umar-bin-khattab/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/08/13/terbunuhnya-khalifah-umar-bin-khattab/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 01:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5360</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ya Allah, karuniailah aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikan¬lah kematianku di negeri Rasul-Mu.” TERBUNUHNYA KHALIFAH UMAR Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu&#8217;lu&#8217;ah. Disebutkan bahwa ia membunuh Umar karena ia pernah datang mengadu kepada Khalifah Umar tentang berat dan banyaknya kharaj (pajak) yang harus dia keluarkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Ya Allah, karuniailah aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikan¬lah kematianku di negeri Rasul-Mu.”</p></blockquote>
<p><strong>TERBUNUHNYA KHALIFAH UMAR</strong></p>
<div id="attachment_5361" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/08/makam-umar-bin-khattab.jpg"><img class="size-medium wp-image-5361" title="Makam Umar bin Khattab" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/08/makam-umar-bin-khattab-300x225.jpg" alt="makam umar bin khattab" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Makam Umar bin Khattab</p></div>
<p>Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu&#8217;lu&#8217;ah. Disebutkan bahwa ia membunuh Umar karena ia pernah datang mengadu kepada Khalifah Umar tentang berat dan banyaknya kharaj (pajak) yang harus dia keluarkan, tetapi Khalifah Umar menjawab, &#8220;Kharajmu tidak terlalu banyak.&#8221; Dia kemudian pergi sambil menggerutu, &#8220;Keadilannya men¬jangkau semua orang kecuali aku.&#8221; Ia lalu berjanji akan membunuhnya. Dipersiapkanlah sebuah pisau belati yang telah diasah dan diolesi dengan racun -orang ini adalah ahli berbagai kerajinan- lalu disimpan di salah satu sudut masjid. Tatkala Khalifah Umar berangkat ke masjid seperti biasanya menunaikan shalat subuh, langsung saja ia menyerang. Dia menikamnya dengan tiga tikaman dan berhasil merobohkannya. Kemudian setiap orang yang berusaha mengepung dirinya diserangnya pula. Sampai ada salah seorang yang berhasil menjaringkan kain kepadanya. Setelah melihat bahwa dirinya terikat dan tidak bisa ber¬kutik, dia membunuh dirinya dengan pisau belati yang dibawanya.<span id="more-5360"></span><br />
Itulah berita yang disebutkan para perawi tentang pembunuhan Umar Radhiyallahu &#8216;anhu. Barangkali di balik peristiwa pembunuhan ini terdapat konspirasi yang dirancang oleh banyak pihak di antaranya orang-orang Yahudi, Majusi, dan Zindiq. Sangat tidak mungkin per¬buatan kriminal ini dilakukan semata-mata karena kekecewaan pribadi karena banyaknya kharoj yang harus dikeluarkannya. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Ketika diberitahukan bahwa pembunuhnya adalah Abu Lu’lu’ah, Khalifah Umar berkata, &#8220;Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku Muslim.&#8221; Umar kemudian berwasiat kepada putranya, &#8220;Wahai Abdullah, periksalah utang-¬utangku!&#8221;</p>
<p>Setelah dihitung, ternyata Umar mempunyai utang sejumlah 86.000 dirham. Khalifah Umar lalu berkata, &#8220;Jika harta keluarga Umar sudah mencukupi, bayarlah dari harta mereka. Jika tidak mencukupi, pintalah kepada bani Addi. Jika harta mereka juga belum mencukupi, mintalah kepada Quraisy.&#8221; Selanjutnya Umar berkata kepada anaknya, &#8220;Pergilah menemui Ummul Mu&#8217;minin Aisyah! Katakan bahwa Umar meminta izin untuk dikubur berdampingan dengan kedua sahabatnya (maksudnya Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu &#8216;anhu).&#8221; Mendengar permintaan ini, Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha menjawab, &#8220;Sebetulnya tempat itu kuinginkan untuk diriku sendiri, tetapi biarlah sekarang kuberikan kepadanya.&#8221; Setelah hal ini disampaikan kepadanya, Umar langsung memuji Allah.</p>
<p><strong>Umar Menunjuk Salah Seorang Dari Ahli Syura</strong><br />
Sebagian sahabat berkata kepada Umar, &#8220;Tunjuklah orang yang engkau pandang berhak menggantikanmu.&#8221; Umar kemudian menjadi¬kan urusan ini sepeninggalnya sebagai hal yang disyurakan antara enam orang, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa&#8217;ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu &#8216;anhum. Umar berkeberatan menunjuk salah seorang di antara mereka secara tegas. Selanjutnya Umar berkata, &#8220;Saya tidak menanggung urusan mereka semasa hidup ataupun sesudah mati. Jika Allah menghendaki kebaikan buat kalian, Allah akan menghimpun urusan kalian pada orang yang terbaik di antara mereka sebagaimana Allah telah menghimpun kalian pada orang yang terbaik di antara kalian sesudah Nabi kalian.&#8221;</p>
<p>Dengan demikian, Umar merupakan orang pertama yang membentuk &#8220;tim&#8221; dari para sahabat dan dinamakan dengan Ahli Syura kemudian menyerahkan urusan khalifah sepeninggalnya kepadanya. Dengan demikian, mereka ini merupakan &#8220;Lembaga Politik&#8221; tertinggi dalam pemerintahan.</p>
<p><strong>Bagaimana berlangsungnya pemilihan Utsman?</strong></p>
<p>Ahli Syura yang telah ditunjuk oleh Umar tersebut mengadakan pertemuan di salah satu rumah guna membahas masalah ini. Sementara itu,Thalhah berdiri di pintu rumah guna menjaga dan melarang orang-¬orang untuk memasuki pertemuan tersebut. Dalam syura diperoleh kesepakatan bahwa tiga orang di antara mereka telah menyerahkan masalah khalifah kepada tiga orang lainnnya. Zubair menyerahkannya kepada Ali, Sa&#8217;ad menyerahkannya kepada Abdurrahman bin Auf, sedangkan Thalhah memberikan haknya kepada Utsman bin Affan.</p>
<p>Abdurrahman bin Auf berkata kepada Utsman dan Ali, &#8220;Siapa¬kah di antara kalian berdua yang melepaskan diri dari perkara ini maka kepadanya akan kami serahkan!&#8221; Keduanya diam tidak mem¬berikan jawaban. Abdurrahman lalu berkata, &#8220;Sesungguhnya, aku meninggalkan hakku terhadap perkara ini dan merupakan kewajibanku kepada Allah dan Islam untuk berusaha guna mengangkat orang yang paling berhak di antara kalian berdua.&#8221; Keduanya menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Abdurrahman bin Auf kemudian berbicara kepada masing-masing dari keduanya sambil menyebutkan keutamaan yang ada pada keduanya. Ia lalu mengambil janji dan sumpah, &#8220;Bagi siapa yang diangkat, ia harus berlaku adil dan siapa yang dipimpin harus mendengar dan taat.&#8221; Keduanya menjawab, &#8220;Ya.&#8221; Mereka kemudian berpisah.</p>
<p>Setelah itu, Abdurrahman bin Auf meminta pendapat dari khalayak ramai tentang kedua orang (calon khalifah) ini, sebagaimana ia juga meminta pandangan dari para tokoh dan pimpinan mereka, baik secara bersamaan maupun terpisah, dua-dua, sendiri-sendiri, atau berkelompok, secara sembunyi ataupun terang-terangan. Bahkan kepada para wanita yang bercadar, anak-anak di berbagai perkantoran, orang-orang Arab Badui, dan para pendatang yang datang ke Madinah. Proses (hearing) ini dilakukannya selama tiga hari tiga malam sampai akhirnya didapat kebulatan suara yang menghendaki agar Utsman bin Affan didahulukan kecuali dua orang, yaitu Ammar bin Yassir dan Miqdad, yang menghendaki agar Ali didahulukan, tetapi kemudian kedua orang ini bergabung kepada pendapat mayoritas.</p>
<p>Pada hari keempat, Abdurahman bin Auf mengadakan perte¬muan dengan Ali dan Utsman di rumah anak saudara perempuannya, Musawwir bin Makhramah. Dalam pertemuan ini, Abdurahman bin Auf menjelaskan, &#8220;Setelah kutanyakan pada orang-orang tentang Anda berdua, kudapati tidak seorang pun di antara mereka yang menolak Anda berdua.&#8221; Abdurahman bin Auf kemudian keluar bersama keduanya menuju masjid dan mengundang orang-orang Anshar dan Muhajirin sampai mereka berdesakan di masjid. Abdurahman bin Auf naik ke mimbar Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu menyam¬paikan pidato dan berdo&#8217;a panjang sekali. Dalam pidatonya itu, ia mengatakan,</p>
<p>&#8220;Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menanyakan kepada kalian secara tersembunyi dan terang-terangan tentang orang yang paling kalian percaya dapat mengemban amanat (khalifah), lalu aku tidak melihat kalian menghendaki selain dari kedua orang ini, Ali atau Utsman. Karenanya, berdirilah dan kema¬rilah, wahai Ali.&#8221;</p>
<p>Setelah Ali berdiri dan mendekatinya, Abdurrahman bin Auf menjabat tangan Ali seraya berkata, &#8220;Apakah kamu berbaiat kepadaku (untuk memimpin) atas dasar Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar?&#8221; Ali menjawab, &#8220;Tidak, tetapi sesuai usaha dan kemampuanku untuk itu.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman kemudian melepas tangannya lalu berkata, &#8220;Berdirilah dan kemarilah, wahai Utsman. Ia kemudian menjabat tangan Utsman seraya berkata, &#8220;Apakah kamu berbaiat kepadaku (untuk memimpin) atas dasar Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar?&#8221; Utsman menjawab, &#8220;Ya.&#8221;</p>
<p>Abdurrahman kemudian mengangkat kepalanya ke arah atap masjid dan meletakkan tangannya di tangan Utsman seraya berkata, &#8220;Ya Allah, sesungguhnya aku telah melepaskan amanat yang terpikulkan di atas tengkukku dan telah kuserahkan ke atas tengkuk Utsman.&#8221; Orang-orang pun kemudian berdesakan membaiat Utsman di bawah mimbar. Ali Radhiyallahu &#8216;anhu adalah orang yang pertama membaiatnya. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ali merupakan orang yang terakhir membaiatnya.</p>
<p><strong>Beberapa Ibrah</strong><br />
Pertama, telah kita ketahui bahwa tindakan pertama yang dila¬kukan oleh Umar Radhiyallahu &#8216;anhu adalah memecat Khalid bin Walid. Kebanyakan penulis kontemporer telah melakukan kesalahan dalam menanggapi masalah pemecatan ini. Mereka menjadikannya bahan untuk menggugat kedudukan Khalid, padahal penafsiran dari pemecatan ini dapat dilihat dengan jelas dalam tindakan Umar sendiri dalam ucapan yang diucapkan tentang Khalid dan dalam pujian yang disampaikannya kepada Khalid. Seperti telah kami sebutkan, Umar berkata kepada Khalid,</p>
<p>&#8220;Demi Allah, wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat ku¬muliakan dan sangat kucintai.&#8221; Umar kemudian menulis surat ke berbagai wilayah, menjelaskan sebab pemecatan Khalid bin Walid, &#8220;Sesungguhnya, aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tiduk pula karena pengkhianatan, tetapi aku memecat¬nya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan se¬rangan-serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya. &#8221;</p>
<p>Ketika diberi tahu tentang sakitnya Khalid, Khalifah Umar yang waktu itu berada di suatu tempat langsung pergi ke tempat Khalid di Madinah dengan menempuh perjalanan selama semalam, padahal biasanya ditempuh selama tiga hari. Ketika Umar tiba di tempat tersebut, Khalid sudah wafat, lalu Umar mengucapkan, &#8220;Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un,&#8221; dengan penuh kesedihan. Umar kemudian duduk di pintu rumah Khalid sampai selesai pengurusan jenazahnya. Ketika kematiannya ditangisi oleh sejumlah wanita lalu dikatakan kepada Umar, &#8220;Tidakkah engkau mendengarnya? Mengapa engkau tidak melarang mereka?&#8221; Umar menjawab, &#8220;Tidaklah apa-apa wanita-wanita Quraisy menangisi Abu Sulaiman selama tidak meratapi dan bukan karena kecemasan.&#8221;</p>
<p>Ketika mengantar jenazahnya, Umar melihat seorang wanita Muslimah menangisinya. Umar lalu bertanya, &#8220;Siapa orang ini?&#8221; Dika¬takan kepadanya, &#8220;Ibunya.&#8221; Umar berkata penuh keheranan, &#8220;Ibunya? Itu sungguh mengagumkan (tiga kali)!&#8221; Umar kemudian berkata, &#8220;Apakah ada wanita lain yang melahirkan orang seperti Khalid?&#8221;</p>
<p>Kedua, teks yang kami sebutkan di atas menegaskan bahwa Khalid meninggal dan dikebumikan di Madinah. Ini merupakan pen¬dapat sebagian ahli sejarah. Akan tetapi, jumhur memandang bahwa sebenarnya Khalid meninggal dan dikuburkan di Hamsh (Suriah). Pendapat yang terakhir inilah yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wan-Nihayah. Sebab, menurut riwayat yang kuat, setelah dipecat oleh Umar, Khalid melakukan ibadah umrah kemudian kembali ke Syam dan menetap di Syam sampai meninggal pada tahun 21 Hijriah.</p>
<p>Demikianlah sikap Umar yang selalu memuji Khalid, baik di waktu masih hidup maupun sesudah kematiannya. Ibnu Katsir meriwa¬yatkan dari al-Wakidi bahwa Umar pernah melihat rombongan haji datang dari Hamsh lalu ia bertanya, &#8220;Adakah berita yang harus kami ketahui?&#8221; Mereka menjawab,&#8221;Ya, Khalid telah wafat.&#8221; Umar kemudian mengucapkan, &#8220;Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un,’ lalu berkata, &#8220;Demi Allah, ia sangat mahir dan tepat menebas tengkuk-tengkuk musuh. Ia adalah seorang tokoh yang tepercaya.&#8221;<br />
Pujian Umar kepada Khalid tersebut tidak bertentangan dengan sebagian sikap yang bersifat ijtihadiah yang memungkinkan terjadinya perbedaan antara keduanya kemudian masing-masing dari keduanya bertindak sesuai pandangan yang diyakininya.<br />
Sebaiknya mereka yang menggugat kedudukan Khalid karena sikap Umar terhadapnya atau orang-orang yang menggugat kedudukan Umar karena sikap tersebut, mereka memahami permasalahan dari segala seginya dan membedakan antara sikap ijtihadiah yang dijamin mendapat pahala betapapun hasilnya dan penyimpangan pemikiran atau perilaku yang tidak mungkin dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
Ketiga, di antara hal paling menonjol yang dapat dicatat oleh setiap orang yang memperhatikan Khalifah Umar ialah kerja sama yang bersih dan istimewa antara Umar dan Ali Radhiyallahu &#8216;anhum. Dalam khilafah Umar, Ali menjadi mustasyar awwal (penasihat pertama) bagi Umar dalam semua persoalan dan problematika. Setiap kali Ali mengusulkan suatu pendapat, Umar selalu melaksanakannya dengan penuh kerelaan sehingga Umar pernah berkata, &#8220;Seandainya tidak ada Ali, niscaya Umar celaka.&#8221;<br />
Ali bin Abu Thalib dengan penuh keikhlasan dan kecintaan memberikan nasihat kepadanya dalam segala urusan dan persoalan. Seperti Anda ketahui bahwa Umar pernah meminta pendapatnya tentang keinginannya untuk berangkat sendiri memimpin pasukan guna memerangi orang-orang Persia, kemudian Ali menasihatinya dengan suatu nasihat yang mencerminkan kecintaannya kepada Umar. Ali menasihatinya supaya tidak berangkat, tetapi cukup dengan meng¬gerakkan roda peperangan dengan orang-orang Arab yang ada di bawah kekuasaannya. Diperingatkannya, jika ia berangkat, hal itu niscaya akan menimbulkan berbagai peluang yang lebih berbahaya daripada musuh yang akan dihadang-Nya itu sendiri.<br />
Seandainya Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menge¬mukakan bahwa khilafah sesudahnya harus diserahkan kepada Ali Radhiyallahu &#8216;anhu, apakah mungkin Ali Radhiyallahu &#8216;anhu akan berpaling dari perintah Rasulullah tersebut dan mendukung orang-orang yang merampas haknya atau merampok kewajibannya dalam memegang khilafah dengan dukungan kerja sama yang demikian ikhlas dan konstruktif? Mungkinkah seluruh sahabat Nabi Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam mengabaikan perintah Rasulullah tersebut? Mungkinkah semua sahabat itu telah bersepakat -terutama Ali- untuk tidak melak¬sanakan perintah Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam tersebut?<br />
Keempat, sebagaimana khilafah Abu Bakar Radhiyallahu &#8216;anhu datang pada saat yang tepat, di mana tidak layak pada saat itu kecuali Abu Bakar, demikian pula khilafah Umar. Beliau menjadi orang yang paling tepat untuk memegang khilafah pada saat itu. Di antara hal yang paling mulia yang pernah dilakukan Abu Bakar ialah mengokohkan kembali Islam sebagai bangunan dan negara serta keyakinan di dalam jiwa, setelah terjadinya keguncangan menyusul kematian Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. Hal paling agung yang pernah dilakukan Umar ialah memperluas futuhat Islamiyah ke ujung negeri-negeri Per¬sia, Syam, dan Maghrib (Maroko). Membangun negeri-negeri Islam, membentuk berbagai diwan, dan mengokohkan pilar-pilar negara Islam sebagai negara peradaban yang paling kuat di permukaan bumi.<br />
Ini menunjukkan sejauh mana hikmah Allah dalam memelihara para hamba-Nya dan mewujudkan sarana kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka dalam kehidupan pribadi dan sosial.<br />
Kelima, kami mengatakan tentang cara pemilihan Khalifah Utsman sebagaimana yang telah kami katakan tentang Khalifah Umar. Menunjuk seorang pengganti dalam kekhalifahan (al-&#8217;ahdu bil-khalifah) merupakan proses yang ditempuh untuk Khalifah Umar dan Utsman. Perbedaan antara keduanya bahwa Abu Bakar menunjuk Umar secara langsung, sedangkan Umar menunjuk seorang penggantinya di antara enam orang yang menjadi anggota Majelis Syura kemudian menyerah¬kan pemilihannya kepada kaum Muslimin.<br />
Seperti telah Anda ketahui, pemilihan Utsman di antara enam orang yang diajukan tersebut berlangsung dengan musyawarah dari keenam orang itu sendiri, kemudian dengan musyawarah dan baiat kaum Muslimin atau Ahlul Halli wal-&#8217;Aqdi. Ali Radhiyallahu &#8216;anhu adalah salah seorang di antara enam orang yang ditunjuk dan merupakan orang yang pertama membaiat Utsman Radhiyallahu &#8216;anhu.<br />
Dengan demikian, kita mengetahui secara gamblang bahwa kaum Muslimin sampai periode ini masih merupakan satu jamaah. Tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang mempermasalahkan urusan khilafah atau mempertanyakan siapakah orang yang paling berhak memegangnya? Yang ada hanyalah proses musyawarah dan pembahasan dalam setiap tuntutan untuk memilih khalifah secara syar&#8217;i dan sehat.<br />
Apa pun usaha yang Anda kerahkan, sesungguhnya Anda tidak akan dapat menemukan, pada seluruh periode ini (khilafah Abu Bakar, Umar dan Utsman), adanya perdebatan atau diskusi tentang al-Qur&#8217;an atau Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wa sallam telah menunjuk ataukah tidak. Anda pun tidak akan menemukan kritik atau tindakan menya¬lahkan cara yang ditempuh dalam proses pengangkatan ketiga khalifah tersebut.<br />
Lalu, kapan dan atas dorongan apa terjadinya perpecahan yang telah memecah belah jamaah Muslimin menjadi dua kubu yang ber¬tentangan karena masalah khilafah, padahal selama tiga periode khilafah, mereka hidup bersatu dan bekerjasama secara rapi?<br />
Masalah ini akan kami sebutkan tatkala membahas Khalifah Ali Radhiyallahu &#8216;anhu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa beliau.</p>
<p><em>Sumber: Tarikhul Khulafa&#8217; dan Al-Bidayah wan-Nihayah</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/08/13/terbunuhnya-khalifah-umar-bin-khattab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Yahudi Masuk Islam Berkat &#8216;Teroris&#8217;</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/08/05/gadis-yahudi-masuk-islam-berkat-teroris/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/08/05/gadis-yahudi-masuk-islam-berkat-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 13:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5325</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihat wajahnya berseri-seri di dalam sebuah masjid yang terletak di pusat kota kecil di Amerika, sedang membaca al-Quran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku ucapkan salam kepadanya dan ia membalasnya dengan iringan senyum. Kami pun membuka obrolan dan dalam waktu singkat kami menjadi dua orang sahabat yang sangat akrab. Pada suatu malam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/08/al-quran.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-5326" title="al quran" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/08/al-quran.jpg" alt="al quran" width="150" height="113" /></a>Aku melihat wajahnya berseri-seri di dalam sebuah masjid yang terletak di pusat kota kecil di Amerika, sedang membaca al-Quran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku ucapkan salam kepadanya dan ia membalasnya dengan iringan senyum. Kami pun membuka obrolan dan dalam waktu singkat kami menjadi dua orang sahabat yang sangat akrab.</p>
<p>Pada suatu malam, kami bertemu di tepi sebuah danau nan indah. Di sanalah ia menceritakan kisah masa lalunya. Mari kita simak kisah tersebut.<span id="more-5325"></span></p>
<p>Ia berkata, &#8220;Aku hidup dalam rumah tangga Amerika penganut agama Yahudi yang berantakan. Setelah ayah dan ibuku bercerai, ayahku menikah dengan wanita lain. Ibu tiriku ini sering menyiksaku. Pada usia 17 tahun aku lari dari rumah dan pergi dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Di sana aku bertemu dengan seorang pemudi Arab mereka (sebagaimana yang ia ceritakan) adalah teman tempat pelarianku yang sangat baik. Mereka semua tersenyum padaku kemudian kami menyantap hidangan makan malam. Akupun ikut melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Setelah menyantap hidangan, aku lang-sung kabur, karena aku tidak suka persahabatan seperti ini. Ditambah lagi aku tidak menyukai bangsa Arab.</p>
<p>Hidupku yang sengsara tak pernah merasa tenang, selalu dirundung kegelisahan. Aku mulai mendalami agama dengan tujuan ingin mendapatkan ketenangan rohani dan kekuatan moril dalam menjalani kehidupan. Namun semua itu tidak aku dapati dalam agama Yahudi. Ternyata agama ini hanya menghormati kaum wanita namun tidak menghormati hak asasi manusia dan sangat egois. Setiap mengajukan suatu pertanyaan aku tidak mendapatkan jawaban. Lalu aku berpindah ke agama Nasrani. Ternyata dalam agama ini banyak pertentangan yang sulit diterima akal dan hanya menuntut kita agar menerimanya. Berkali-kali aku tanyakan bagaimana mungkin Tuhan membunuh anakNya? Bagaimana cara ia melahirkan? Bagaimana mungkin kita mempunyai tiga Tuhan sementara satu pun tidak ada yang dapat kita lihat? Lalu aku bertekad untuk meninggalkan semua itu. Namun aku yakin bahwa alam ini pasti ada yang menciptakan. Setiap malam aku selalu berpikir dan berpikir hingga pagi menjelang.</p>
<p>Pada suatu malam tepatnya ketika menjelang pagi, terbersit keinginan untuk bunuh diri untuk meng-akhiri kegalauan ini. Aku berada di dalam ruangan yang tak bermakna. Hujan yang deras, gulungan awan yang tebal seakan memenjarakanku. Apa yang ada di sekitarku seolah ingin membunuhku. Pepohonan me-mandangku dengan pandangan sinis, siraman air hujan mengalunkan irama kebencian. Kupandang dari balik jendela, di dalam sebuah rumah terpencil. Aku merasa diriku rendah di hadapan Tuhan.</p>
<p>Ya Tuhanku! Aku tahu Kau ada di sana. Aku tahu Kau menyayangi-ku. Aku seorang terpenjara, hambaMu yang lemah, Tunjukilah jalan yang harus kutempuh, Ya Tuhanku! berilah aku petunjuk! Atau cabut saja nyawaku. Aku menangis tersedu-sedu hingga tertidur.</p>
<p>Pada pagi hari aku bangun dengan ketenangan hati yang belum pernah aku rasakan. Seperti biasa aku keluar mencari rizki dengan harapan semoga ada yang mau memberiku sarapan, atau mengambil upah dengan mencuci piringnya. Di sanalah aku bertemu dengan se-orang pemuda Arab kemudian aku berbincang-bincang dengannya cukup lama. Setelah sarapan, ia memintaku untuk datang ke rumahnya dan tinggal bersamanya, lalu aku pun ikut dengannya. Ketika kami sedang menyantap makan pagi, minum dan bercanda, tiba-tiba muncul seorang pemuda berjenggot yang bernama Sa&#8217;ad. Nama tersebut aku ketahui dari temanku yang sambil terkejut menyebut nama pemuda itu. Pemuda itu menarik tangan temanku dan menyuruhnya keluar. Tinggallah aku sendirian duduk gemetar. Apakah aku sedang berhadapan dengan seorang teroris? Tetapi ia tidak melakukan sesuatu yang menakutkan, bahkan ia memintaku dengan lemah lembut agar aku kembali ke rumahku. Lalu aku katakan kepadanya bahwa aku tidak punya rumah. Ia meman-dangku dengan perasaan terharu.</p>
<p>Kesan ini dapat aku tangkap dari mimik wajahnya. Kemudian ia berkata, &#8220;Baiklah, kalau begitu tinggallah di sini malam ini, karena di luar cuaca teramat dingin dan pergilah besok. Kemudian ambil uang ini semoga bermanfaat sebelum kamu mendapat peker-jaan.&#8221;</p>
<p>Ketika ia hendak pergi aku menghadangnya lalu aku ucapkan terima kasih. Aku katakan, &#8220;Tetaplah di sini dan aku yang akan keluar, namun aku harap engkau menceritakan apa yang mendorongmu melakukan ini terhadap aku dan temanmu.&#8221; Ia lalu duduk dan mulai bercerita kepadaku sementara matanya menunduk ke bawah. Katanya, &#8220;Sebenarnya yang mendorongku berbuat seperti itu karena agama Islam melarang melakukan segala yang haram, seperti berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram dan meminum khamar. Islam juga mendorong untuk berbuat baik terhadap sesama manusia dan menganjurkan untuk berakhlak mulia.&#8221; Aku merasa heran, apakah mereka ini yang disebut teroris? Tadinya aku mengira mereka selalu membawa pistol dan membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Demikian yang aku dapatkan dari media massa Amerika.</p>
<p>Aku katakan, &#8220;Aku ingin mengenal Islam lebih dalam, dapatkah engkau memberitahukannya kepadaku?&#8221; Ia berkata, &#8220;Aku akan bawa kamu ke sebuah keluarga muslim yang taat dan kamu dapat tinggal di sana. Aku tahu mereka akan mengajarkan sebaik-baik pengajaran kepadamu.&#8221; Kemudian pemuda itu membawaku pergi. Pada jam 10 aku sudah berada di rumah tersebut dan mendapat sambutan hangat. Lalu aku mengajukan beberapa pertanyaan sedang Dr. Sulaiman sebagai kepala rumah tangga menjawab pertanyaan tersebut sampai aku merasa puas. Aku merasa puas karena aku telah mendapatkan jawaban pertanyaan yang selama ini aku cari. Yaitu agama yang terang dan jelas yang sesuai dengan fitrah manusia. Aku tidak mengalami kesulitan dalam memahami setiap apa yang aku dengar. Semuanya merupakan kebenaran. Ketika mengumumkan keislamanku, aku merasa adanya sebuah kebangkitan yang tiada tara.</p>
<p>Pada hari kebangkitanku itu atas kesadaranku sendiri aku langsung memakai hijab. Tepat jam 1 siang Sayyidah (Nyonya Sulaiman) membawaku ke sebuah kamar yang terbaik di rumah itu. Ia berkata, &#8220;Ini kamarmu, tinggallah di sini sesuka hatimu.&#8221; Ia melihatku tengah memandang ke luar jendela. Aku tersenyum sementara air mata berlinang membasahi pipiku. Ia bertanya mengapa aku menangis. Aku jawab, &#8220;Kemarin pada waktu yang sama aku berdiri di balik jendela merendahkan diri kepada Tuhan.&#8221;</p>
<p>Aku berdo&#8217;a, &#8220;Ya Tuhanku! Tunjukilah aku jalan kebenaran, atau cabut saja nyawaku.&#8221; Sungguh Allah telah menunjukiku dan memuliakanku. Sekarang aku adalah seorang muslimah dan terhormat. Inilah jalan yang aku cari, inilah jalan yang aku cari.&#8221;</p>
<p>Sayyidah memelukku dan ikut menangis bersamaku.</p>
<p><em>(SUMBER: SERIAL KISAH-KISAH TELADAN. Penerbit DARUL HAQ)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/08/05/gadis-yahudi-masuk-islam-berkat-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
