<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>&#124;Elitha-Eri Weblog&#124; &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://www.elitha-eri.net/category/entertainment/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.elitha-eri.net</link>
	<description>Blog of Elitha and Eri</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 11:58:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pasien Terakhir</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/02/04/pasien-terakhir/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/02/04/pasien-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 06:43:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[syiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4288</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke Dokter Hanung, seorang Dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelunmya. Sudah beberapa pekan dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari saluran kencingnya (vaginal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke Dokter Hanung, seorang Dokter spesialis kulit dan kelamin di kota Bandung. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelunmya. Sudah beberapa pekan dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari saluran kencingnya (<em>vaginal discharge</em>).<span id="more-4288"></span></p>
<p>Ketika wanita itu datang, dia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu per satu pasien yang berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucap salam dia memasuki kamar periksa Dokter Hanung.</p>
<p>Sejenak Dokter Hanung menatap pasiennya. Tidak seperti biasa, pasiennya ini adalah seorang wanita berjilbab rapat. Tidak ada yang kelihatan kecuali sepasang mata yang menyinarkan wajah duka. Setelah wawancara sebentar (anamnese), Dokter Hanung membuka amplop hasil laboratorium yang dibawa pasiennya. Dokter Hanung terkejut melihat hasil laboratorium. Rasanya adalah hal yang mustahil. Ada rasa tidak percaya terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang berjilbab yang tentu saja menjaga kehormatannya terkena penyakit itu, penyakit yang hanya mengenai orang yang sering berganti-ganti pasangan seksual?</p>
<p>Dengan wajah tenang, Dokter Hanung melakukan anamnese lagi secara cermat.</p>
<p>+ &#8220;Saudari masih kuliah?</p>
<p>&#8220;* &#8220;Masih, Dok.&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Semester berapa?&#8221;</p>
<p>* &#8220;Semester tujuh, Dok!&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Fakultasnya?&#8221;</p>
<p>* &#8220;Sospol!&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Jurusan komunikasi massa ya?&#8221;</p>
<p>Kali ini ganti pasien terakhir itu yang kaget. Dia mengangkat muka dan menatap Dokter Hanung dari balik cadarnya.</p>
<p>* &#8220;Kok Dokter tahu?&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Aah&#8230;&#8230;.. tidak, hanya barangkali saja!&#8221;</p>
<p>Pembicaraan antara Dokter Hanung dengan pasien terakhirnya itu akhirnya seakan-akan beralih dari masalah penyakit dan melebar kepada persoalan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah penyakitnya itu.</p>
<p>* &#8220;Saudari memang penduduk Bandung ini atau dari luar kota?&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu tampaknya mulai merasa tidak enak dengan pertanyaan dokter yang mulai menyimpang dari masalah-masalah medis itu. Dengan jengkel dia menjawab.</p>
<p>* &#8220;Ada apa sih, Dok&#8230;., kok tanya macam-macam?&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Aah, enggak&#8230;, barangkali saja ada hubungannya dengan penyakit yang</p>
<p>Saudari derita.&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu tampaknya semakin jengkel dengan pertanyaan dokter yang kesana-kemari itu. Dengan agak kesal dia menjawab.</p>
<p>* &#8220;Saya dari Pekalongan.&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Kost-nya?&#8221;</p>
<p>* &#8220;Wisma Fathimah, jalan Alex Kawilarang 63.&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Di kampus sering mengikuti kajian Islam?&#8221;</p>
<p>* &#8220;Ya, &#8230; kadang-kadang, Dok!&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Sering mengikuti kajian Bang Jalal?&#8221;</p>
<p>Sekali lagi pasien terakhir itu menatap Dokter Hanung.</p>
<p>* &#8220;Bang Jalal siapa?&#8221; Tanyanya dengan nada yang agak tinggi.</p>
<p>+ &#8220;Tentu saja Jalaluddin Rahmat! Di Bandung, siapa lagi Bang Jalal</p>
<p>+ selain</p>
<p>dia? Kalau di Yogya ada Bang Jalal Muksin.&#8221;</p>
<p>* &#8220;Ya, kadang-kadang saja saya ikut.&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Di Pekalongan&#8230;, (sambil seperti mengingat-ingat) kenal juga dengan</p>
<p>Ahmad Baraqba?&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu tampak amat terkejut dengan pertanyaan yang terakhir itu, tetapi dia segera menjawab.</p>
<p>* &#8220;Tidak! Siapa yang Dokter maksudkan dengan nama itu dan apa hubungannya dengan penyakit saya?&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu tampak semakin jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan dokter yang semakin tidak mengarah itu. Tetapi justru Dokter Hanung manggut-manggut dengan keterkejutan pasien terakhirnya. Dia menduga bahwa penelitian penyakit pasiennya itu hampir selesai.</p>
<p>Akhirnya dengan suara yang penuh dengan tekanan Dokter Hanung berkata,</p>
<p>+ &#8220;Begini Saudari, saya minta maaf atas pertanyaan-pertanyaan saya yang</p>
<p>ngelantur tadi, sekarang tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur demi untuk terapi penyakit yang Saudari derita&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekarang ganti pasien terakhir itu yang mengangkat muka mendengar perkataan Dokter Hanung. Dia seakan terbengong dengan pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh dokter yang memeriksanya kali ini.</p>
<p>+ &#8220;Sebenarnya saya amat terkejut dengan penyakit yang Saudari derita,</p>
<p>rasanya tidak mungkin seorang ukhti mengidap penyakit seperti ini.&#8221;</p>
<p>* &#8220;Sakit apa dok?&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu memotong kalimat Dokter Hanung yang belum selesai dengan amat penasaran.</p>
<p>+ &#8220;Melihat keluhan yang Anda rasakan serta hasil laboratorium semuanya</p>
<p>menyokong diagnosis Gonore, penyakit yang disebabkan karena hubungan seksual.&#8221;</p>
<p>Seperti disambar gledek, perempuan berjilbab biru dan bercadar itu berteriak,</p>
<p>* &#8220;Tidak mungkin!!!&#8221;</p>
<p>Dia lantas terduduk di kursi, lemah seakan tak berdaya, mendengar keterangan Dokter Hanung. Pandang matanya kosong seakan kehilangan harapan dan bahkan seperti tidak punya semangat hidup lagi.</p>
<p>Sementara itu pembantu Dokter Hanung yang biasa mendaftar pasien yang akan berobat tampak mondar-mandir seperti ingin tahu apa yang terjadi. Tidak seperti biasanya Dokter Hanung memeriksa pasien begitu lama seperti sore ini. Barangkali karena dia pasien terakhir sehingga merasa tidak terlalu tergesa-gesa, jadinya pemeriksaannya berjalan agak lama. Tetapi kemudian dia terkejut mendengar jerit pasien terakhir itu sehingga ia merasa ingin tahu apa yang terjadi.</p>
<p>Dokter Hanung dengan pengalamannya selama praktik, tidak terlalu kaget dengan reaksi pasien terakhirnya sore itu. Hanya, yang dia tidak habis pikir, kenapa perempuan berjilbab rapat itu mengidap penyakit yang biasa menjangkiti perempuan-perempuan rusak? Sudah dua pasien dia temukan akhir-akhir ini yang mengidap penyakit yang sama.</p>
<p>Dan uniknya, sama-sama mengenakan busana Muslimah. Hanya yang pertama dulu tidak mengenakan cadar seperti pasien yang terakhirnya sore itu. Dulu pasien yang pernah mengidap penyakit yang seperti itu juga menggunakan pakaian Muslimah. Ketika didesak, akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya biasa kawin mut&#8217;ah. Pasiennya yang dulu itu telah terlibat jauh dengan pola pikir dan gerakan Syi&#8217;ah yang ada di Bandung ini.</p>
<p>Dari pengalaman itu timbul pikirannya menanyakan macam-macam hal mengenai tokoh-tokoh Syi&#8217;ah yang pernah dia kenal di kota Kembang ini dan juga kebetulan mempunyai seorang teman dari Pekalongan yang menceritakan perkembangan gerakan Syi&#8217;ah di Pekalongan. Beliau bermaksud untuk menyingkap tabir yang menyelimuti rahasia perempuan yang ada di depannya sore itu.</p>
<p>+ &#8220;Bagaimana Saudari? Penyakit yang Anda derita ini tidak mengenai</p>
<p>+ kecuali</p>
<p>orang-orang yang biasa berganti-ganti pasangan seks. Rasanya itu tidak mungkin terjadi pada seorang Muslimah seperti diri Anda. Kalau itu masa lalu Saudari, baiklah, saya memahaminya dan semoga dapat sembuh. Bertaubatlah kepada Allah. Atau mungkin ada kemungkinan lain&#8230;.?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan Dokter Hanung itu telah membuat pasien terakhirnya mengangkat muka sejenak, lalu menunduk lagi seperti tidak memiliki cukup kekuatan lagi untuk berkata-kata. Dokter Hanung dengan sabar menanti jawaban. Beliau beranjak dari kursi memanggil pembantunya agar mengemasi peralatan untuk segera tutup setelah selesai menangani pasien terakhirnya itu.</p>
<p>* &#8220;Saya tidak percaya dengan perkataan Dokter tentang penyakit saya!&#8221;</p>
<p>Katanya terbata-bata.</p>
<p>+ &#8220;Terserah Saudari&#8230;, tetapi toh Anda tidak dapat memungkiri kenyataan</p>
<p>yang Anda sandang kan?&#8221;</p>
<p>* &#8220;Tetapi bagaimana mungkin mengidap penyakit laknat tersebut, sedangkan saya selalu berada di dalam suasana hidup yang taat kepada hukum Allah?&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Saya pun berprasangka baik demikian terhadap diri Anda, tetapi</p>
<p>+ kenyataan</p>
<p>yang Anda hadapi itu tidak dapat dipungkiri!&#8221;</p>
<p>Sejenak dokter dan pasien itu terdiam. Ruang periksa itu sepi. Kemudian terdengar suara dari pintu yang dibuka pembantu dokter yang mengemasi barang-barang peralatan administrasi pendaftaran pasien. Pembantu dokter itu lantas keluar lagi dengan wajah penuh dengan tanda tanya mengetahui Dokter Hanung yang menunggui pasien terakhirnya itu.</p>
<p>+ &#8220;Cobalah instrospeksi diri lagi, barangkali ada yang salah. Sebab,</p>
<p>+ secara</p>
<p>medis tidak mungkin seseorang mengidap penyakit ini kecuali dari sebab tersebut.&#8221;</p>
<p>* &#8220;Tidak Dokter, selama ini saya benar-benar hidup secara baik menurut tuntunan syariat Islam. Saya tetap tidak percaya dengan analisa Dokter.&#8221;</p>
<p>Dokter Hanung mengerutkan keningnya mendengar jawaban pasien terakhirnya itu. Dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan pasiennya yang berulang kali mengatakan tidak percaya dengan analisanya. Untuk apa marah kepada orang sakit, paling juga hanya menambah parah penyakitnya saja. Dan lagi, analisanya toh tidak menjadi salah hanya karena disalahkan oleh pasiennya.</p>
<p>Dengan penuh kearifan Dokter itu bertanya lagi,</p>
<p>+ &#8220;Barangkali Anda biasa kawin mut&#8217;ah?&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu mengangkat muka.</p>
<p>* &#8220;Iya, Dokter! Apa maksud Dokter?&#8221; + &#8220;Itu kan berarti Anda sering kali ganti pasangan seks secara bebas?&#8221; * &#8220;Lho&#8230;., tapi itu kan benar menurut syariat Islam, Dok!&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir itu membela diri.</p>
<p>+ &#8220;Ooo&#8230;., jadi begitu&#8230;., kalau dari tadi Anda mengatakan begitu,</p>
<p>+ saya</p>
<p>tidak perlu bersusah payah mengungkapkan penyakit Anda. Tegasnya, Anda ini pengikut ajaran <a href="http://www.elitha-eri.net/2009/02/01/apakah-syiah-itu/">Syi&#8217;ah</a> yang bebas berganti-ganti pasangan mut&#8217;ah semau Anda.</p>
<p>Ya, itulah petualangan seks yang Anda lakukan. Hentikan itu kalau Anda ingin selamat.&#8221;</p>
<p>* &#8220;Bagaimana Dokter ini, saya kan hidup secara benar menurut syariat Islam sesuai dengan keyakinan saya, Dokter malah melarang saya dengan dalih-dalih medis!&#8221;</p>
<p>Sampai di sini Dokter Hanung terdiam. Sepasang giginya terkatup rapat dan dari wajahnya terpancar kemarahan yang sangat terhadap perkataan pasien terakhirnya yang tidak punya aturan itu. Kemudian keluarlah perkataan yang berat penuh tekanan.</p>
<p>+ &#8220;Terserah apa kata Saudari membela diri&#8230;, Anda lanjutkan petualangan</p>
<p>seks Anda, dengan resiko Anda akan berkubang dengan penyakit kelamin yang sangat mengerikan itu, dan sangat boleh jadi pada suatu tingkat nanti Anda akan mengidap penyakit AIDS yang sangat mengerikan itu&#8230;, atau Anda hentikan dan bertaubat kepada Allah dari mengikuti ajaran bejat itu kalau Anda menghendaki kesembuhan.&#8221;</p>
<p>* &#8220;Ma&#8230;maaf Dok, saya telah membuat Dokter tersinggung!&#8221;</p>
<p>Dokter Hanung hanya mengangguk menjawab perkataan pasien terakhirnya yang terbata-bata itu.</p>
<p>+ &#8220;Begini Saudari&#8230;, tidak ada gunanya resep saya berikan kepada Anda</p>
<p>+ kalau</p>
<p>toh tidak berhenti dari praktik kehidupan yang selama ini Anda jalani. Dan semua dokter yang Anda datangi pasti akan bersikap sama&#8230;., sebab itu terserah kepada Saudari. Saya tidak bersedia memberikan resep kalau toh Anda tidak mau berhenti.&#8221;</p>
<p>* &#8220;Ba&#8230;.bbaik, Dok! Insya Allah akan saya hentikan.&#8221;</p>
<p>Dokter Hanung segera menuliskan resep untuk pasien terakhirnya itu, kemudian menyodorkan kepadanya.</p>
<p>* &#8220;Berapa, Dok?&#8221;</p>
<p>+ &#8220;Tak usahlah&#8230;., saya sudah amat bersyukur kalau Anda mau</p>
<p>+ menghentikan</p>
<p>cara hidup binatang itu dan kembali kepada cara hidup yang benar menurut tuntunan yang benar dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi Wasallam. Saya relakan itu untuk membeli resep.&#8221;</p>
<p>Pasien terakhir Dokter Hanung itu tersipu-sipu mendengar jawaban Dokter Hanung.</p>
<p>* &#8220;Terimakasih, Dok! Permisi!&#8221;</p>
<p><em>Sumber:  Buku &#8220;Mengapa Kita Menolak Syi&#8217;ah&#8221; hal. 254-257, Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syi&#8217;ah, LPPI, Jakarta, Juli 1998. -Al Fikrah-</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/02/04/pasien-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan yang dicintai suamiku</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/01/28/perempuan-yang-dicintai-suamiku/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/01/28/perempuan-yang-dicintai-suamiku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 03:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4244</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang  pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan  lebih menuruti apa mauku.</p>
<p>Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau  marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang  kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,  makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.<span id="more-4244"></span>Dia menciumku  maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun  kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku  pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai  ungkapan sayang.</p>
<p>Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi  nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami  makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan  obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok  garpu.</p>
<p>Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau  main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat  pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.</p>
<p>Aku  mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai  suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah  sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan  dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi  perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang  menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu  kuliah.</p>
<p>Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku  tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya  bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2  waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh  pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat,  akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.</p>
<p>Meisha tidak pernah  kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario  sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka  bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha  yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat  iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.</p>
<p>Aku mulai mengingat2 5  bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja,  dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia  membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain,  dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau  aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.</p>
<p>Suatu saat  Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang  memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak  juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara  riangnya,</p>
<p>&#8221; Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini  ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, &#8221; lalu dia terus  mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu  sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang  terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang  aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !</p>
<p>Hatiku terasa sakit,  lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku  memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah  operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit,  ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih  sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan  kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu  komputernya dibanding aku.</p>
<p>Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap  melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan  donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang  mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang  lucu2.</p>
<p>Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan  berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang  bergejolak dihatinya.</p>
<p>Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta,  aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis  kemudian.</p>
<p>Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7  tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil  membuka password email Papa nya, dan memanggilku, &#8221; Mama, mau lihat surat papa  buat tante Meisha ?&#8221;</p>
<p>Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat  elektronik itu,</p>
<p><em><br />
Dear Meisha,</em></p>
<p><em><br />
Kehadiranmu bagai  beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah  merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena  kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari  anak2ku.</em></p>
<p><em><br />
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah  aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku  memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak  menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2  terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup  mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi  kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku  menikahinya.</em></p>
<p><em><br />
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan  cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2  beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.  Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun  tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.</em></p>
<p><em><br />
Aku  tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan  aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku  terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan  tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia  boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku,  yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku  hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my  heart.</em></p>
<p><em><br />
yours,</em></p>
<p><em><br />
Mario</em></p>
<p>Mataku  terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7  tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan  menyayangiku.</p>
<p>Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah  bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.</p>
<p>Aku mengumpulkan  kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat  itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku  berikan untuknya.</p>
<p>Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan  padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu  aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran,  karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas  dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena  aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata  dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.</p>
<p>Betapa  tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang  berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan  saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku  hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku.  Betapa malangnya nasibku.</p>
<p>Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap  merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam  hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai  perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan  selalu mencintainya.</p>
<p>**********</p>
<p>Setahun  kemudian…</p>
<p>Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang.  Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.</p>
<p>&#8221;  <em>Mario, suamiku….</em></p>
<p><em><br />
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita  saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku.  Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku  ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif  ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan  tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan  menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak  pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau  melakukan apa saja untukku…..</em></p>
<p><em><br />
Ternyata aku keliru…. aku  menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah  jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai  Mario.</em></p>
<p><em><br />
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, &#8221;  kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah  memilihmu menjadi istriku ?&#8221;</em></p>
<p><em><br />
Aku tidak perduli,dan berlalu  dari hadapanmu dengan sombongnya.</em></p>
<p><em><br />
Sekarang aku menyesal,  memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal  terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau  inginkan.</em></p>
<p><em><br />
Istrimu,</em></p>
<p><em><br />
Rima&#8221;</em></p>
<p><em><br />
D</em>i  surat yang lain,</p>
<p><em><br />
&#8220;………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah,  engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku  tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat  cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang  Meisha……&#8221;</em></p>
<p>Disurat yang kesekian,</p>
<p><em><br />
&#8220;…….Aku bersumpah,  akan membuatmu jatuh cinta padaku.</em></p>
<p><em><br />
Aku telah berubah, Mario.  Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2  barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan  yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi  suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah.  Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang  ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku  suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit  saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu  bermasalah…….</em></p>
<p><em><br />
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari  matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..&#8221;</em></p>
<p>Meisha  menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya  Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.</p>
<p>Disurat terakhir, pagi  ini…</p>
<p><em><br />
&#8220;…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang  ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu  pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia.  Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah  kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai  motor.</em></p>
<p><em><br />
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar  kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya  tidak sakit.</em></p>
<p><em><br />
Tahukah engkau suamiku,</em></p>
<p><em><br />
Selama  hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita  menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah  tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………&#8221;</em></p>
<p>Jelita menatap Meisha,  dan bercerita,</p>
<p>&#8221; Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari  jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya  kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti  siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku  selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama  menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi……  aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih  memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……&#8221; Jelita memeluk Meisha dan  terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di  hatinya, tapi dia sangat dewasa.</p>
<p>Meisha mengeluarkan selembar kertas  yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan  tadinya aku ingin Rima membacanya.</p>
<p><em><br />
Dear  Meisha,</em></p>
<p><em><br />
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda,  dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia  pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan  memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia.  Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya  ?</em></p>
<p><em><br />
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau  sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan  membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.  Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan  jiwaku….</em></p>
<p>Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang  masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya  telah terjadi, Mario. <strong><em>Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,  ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.</em></strong></p>
<p>Jakarta,  7 Januari 2009<span style="font-size: 10pt;"> (dedicated to my friend&#8230;.may you  rest in peace&#8230;) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/01/28/perempuan-yang-dicintai-suamiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpin Belanja Sayur</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2008/04/15/sang-pemimpin-belanja-sayur/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2008/04/15/sang-pemimpin-belanja-sayur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 04:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=2432</guid>
		<description><![CDATA[Pagi-pagi ba’da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun. Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi-pagi ba’da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun. Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai Keadilan. Di<span id="more-2432"></span> Belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk. Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro’ Pondok Gede yang sudah terkuak. Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab disitulah aku belajar tahsin pada istri beliau. Aku terus berjalan melalui beberapa rumah para aktivis da’wah hingga akhirnya sampailah ke tempat belanjaan.</p>
<p>Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di lingkungan kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya tentu sangat tidak diduga. Kami para ibupun mempersilakan beliau untuk mendapat pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku memperhatikannya. Subhanallah, tak ada kecanggungan.</p>
<p>Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan penuh kekaguman.</p>
<p>“Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara suami istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku, “komentar suamiku yang berinteraksi cukup intensif.</p>
<p>Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan aku berpapasan dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.</p>
<p>“Belanja ustadz?” Aku sengaja menyapa.</p>
<p>“Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (Pembantu) pulang, Jawab beliau sambil tersenyum.</p>
<p>Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir ketika menjabat sebagai gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan mengikat serta memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu di jadikan teladan.</p>
<p>Laki-laki yang saya jumpai itu yang belanja di tukang sayur itu adalah ustadz Ahmad Heriawan, Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang bagi keluarga muda atau keluarga jaman sekarang hal yang biasa dan sangat tidak tabu. Tetapi ini harus berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya beliau dipersilahkan untuk dilayani lebih dahulu.</p>
<p>Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada suami saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan banyak menimba ilmu kepada beliau, suami saya berkata,</p>
<p>“Ustadz Heriawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya merasakan kedekatan. Ketika sholat jama’ah di masjid misalnya, beliau kadang-kadang secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai jadwal ronda dengan beliau.”</p>
<p>Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama ustadz Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah pembicaraan-pembicaraan yang bermutu.</p>
<p>Ah… saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan wanita dan kaum papa, betapa indahnya dunia. Saya jadi teringat cerita sederhana dari istri beliau.</p>
<p>“Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata, “Sudah Bu, Sekali ini saja. Kalau tahu bahwa prosesnya begini lama, ayah tak akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain.”</p>
<p>Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa, tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya istri.</p>
<p>Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan tariff dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah pernah menolak ceramah dengan bayaran cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara. Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan “amplop” dengan mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di dalam amplop itu akan beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk kantong beliau sendiri.</p>
<p>Ah, itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Allah dalam surat Al-Maidah : 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan semoga memang sidah ada di sekitar kita.</p>
<p>M. Muttaqwiati<br />
Dari buku “Bukan di Negeri Dongeng”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2008/04/15/sang-pemimpin-belanja-sayur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bidadari Telah Pergi Pagi Ini</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2008/02/19/bidadari-telah-pergi-pagi-ini/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2008/02/19/bidadari-telah-pergi-pagi-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2008 04:28:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/2008/02/19/bidadari-telah-pergi-pagi-ini/</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kamu merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya. &#8220;Mas kita sudah tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah kamu merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya.<span id="more-2106"></span></p>
<p>&#8220;Mas kita sudah tidak bisa bersama, takdir sudah memisahkan kita, Kamu sudah memilih mas&#8221; masih terngiang suara itu, suara terakhir yang kau ucapkan untukku Tias. </p>
<p>Aku telah kehilangan dekapan lembut helai-helai sayap bidadari dengan  senyumnya begitu ranum selama ini. Bidadari bagiku Bukanlah cerita dongeng yang tentang wanita yang cantik yang dengan tulus, bukan hanya tokoh khayalan tentang wanita yang turun dari surga, bidadari adalah nyata dan bidadari adalah wanita lembut tetapi perkasa.</p>
<p>&#8220;Tyas, aku tidak mencintai dia&#8230;&#8221; ucapku menyakinkannya. &#8220;Mas Kamu tidak mencintai dia tapi kamu  telah menikahinya, dan semua pintu telah tertutup mas&#8221; Bidadari dengan linangan air mata berlari meninggalkanku</p>
<p>kaulah bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu.</p>
<p>Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk pepohonan dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya.</p>
<p>Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya cinta bidadari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan hembusan nafas rindu penuh warna dan aroma. nafas itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Musisi dengan syair penuh cinta. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya. </p>
<p>&#8220;Mas, kamu tahu lihat matahari itu, matahari yang akan kurindukan, dan tak akan pernah sama lagi&#8221; ketika kami menyusuri jembatan itu setiap harinya itulah ucapan tias yang selalu berngiang di kepalaku. begitu berat aku melupakan bayangan tias sesok wanita mungil dengan kacamata lucunya yang memberiku nuansa cinta yang selalu kuinginkan.</p>
<p>Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ara sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri atau pun Tuanku Putri yang molek. yang akan bersanding dengan pangeran tampan dengan akhir kisah yang selalu bahagia. seperti katak yang dikecup tuan putri lalu menjadi pangeran tampan dan berakhir dengan pernikahan.</p>
<p>Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara ruang-ruang kosong itu. Kusebut saja, ruang rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan kata di kumpulan sajak yang penuh makna dan Sastra bertahta ini tak ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan rasa dan cinta warna-warni hingga sajaku ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kata bermakna kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas.</p>
<p>Masih ingatkah kau bagaimana Nuansa cinta itu penuh getar dan kabar. Tiap jumpa dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar.</p>
<p>&#8220;Mas Aku rindu kamu, Sedang apa malam ini&#8230;. selalu rindukan aku ya&#8221; terngiang percakapan-percakapan malam kita.</p>
<p>Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas.</p>
<p>Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji.</p>
<p>Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari.</p>
<p>Sungguh, Bidadari telah pergi pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai benang sari di mahkota bunga.</p>
<p>Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah.</p>
<p>Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari.</p>
<p>&#8220;Akhhirnya kita ada, di akhir yang menyakitkan&#8230;&#8221;<br />
&#8220;ternyata kita Susah melangkah terlalu dalam&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aku tidak bisa, bathin Tersiksa..&#8221;</p>
<p>Penggalan Radio, mengalunkan lagi glen fredly, Kisah yang salah semakin menyilet, keperihan hati ini..ita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh.</p>
<p>Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap Bidadari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal takdir dan menyeruakkan bidadari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang bidadari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu.</p>
<p>Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka.</p>
<p>Andai Kita bangun esok pagi, perkenankan selalu Bidadari akan turun seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya cinta bidari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwa kita. Dan Bidadari pun telah kembali ke haribaan Surga yang indah, tak akan kembali turun ke bumi. (EA)</p>
<p>-Depok, 18  February 2008-</p>
<p>Teruntuk sahabatku, Fathur sabar ya&#8230; cerpen ini aku tulis dari kisah mas fathur</p>
<p>&#8211;<br />
Best Regard<br />
Erwin Arianto,SE</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2008/02/19/bidadari-telah-pergi-pagi-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terlalu Cinta</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2008/02/18/terlalu-cinta/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2008/02/18/terlalu-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 02:45:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/2008/02/18/terlalu-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Awal pertemuan ku dengannya ketika aku menghadiri pemakaman ibu dari sahabat karibku indah, ternyata dia adalah kenalan dari sahabat karibku. Namanya adalah Gede, dia adalah keturunan dari Bali, entah mengapa ada perasaan yang menjalar di tubuhku, perasaan yang aneh, dan menyulut rasa di hati ini. &#8220;Nama ku Gede&#8230;&#8221; dia mengulurkan tangannya pada saat itu. &#8220;astuti&#8230;&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal pertemuan ku dengannya ketika aku menghadiri pemakaman ibu dari sahabat karibku indah, ternyata dia adalah kenalan dari sahabat karibku. Namanya adalah Gede, dia adalah keturunan dari Bali, entah mengapa ada perasaan yang menjalar di tubuhku, perasaan yang aneh, dan menyulut rasa di hati ini.<span id="more-2103"></span></p>
<p>&#8220;Nama ku Gede&#8230;&#8221; dia mengulurkan tangannya pada saat itu. &#8220;astuti&#8230;&#8221; jawb ku menanggapi perkenalan kami saat itu. takdir membawa kami ke perkenalan yang lebih jauh, ternyata hubungan kami melangkah ke arah serius. sampai hati ini telah kuserahkan kepadanya. dan aku mengalami cinta matiku padanya.</p>
<p>&#8220;Mas kamu sudah beristri mas.. hubungan kita sekarang terlarang&#8221; aku coba mengingatkan gede, ketika aku mengetahui bahwa saat ini gede telah beristri. tetapi mengapa hati ini terus merasakan cinta kepadanya. dengan bujuk rayunya, dan buaian dari rasa asmara. aku pun tetap rela menjalankan hubungan ini.</p>
<p>Hingga suatu hari kami memutuskan untuk menikah &#8220;Astuti.. aku serius mencintai kamu, kita menikah astuti&#8221; ajak gede kepadaku. Entah setan dari mana yang membujuk ku untuk menerima permintaan gede. tapi pernikahan yang disyaratkan oleh gede adalah pernikahan Tersembunyi.</p>
<p>&#8220;Astuti, tolong pahami aku, biarkan kita menikah, tetapi aku tidak mau ada orang yang mengethui pernikahan ini&#8221; syarat dari gede kepadaku. &#8220;Iya mas, saya setuju dengan ini, tapi kamu harus berjanji terus mencintai saya hingga saya tua mas, biarkan aku menjadi istri kedua mu mas&#8221; jawabku, walau ku tahu itu adalah jawaban terbodoh yang aku berikan. </p>
<p>Kata orang aku adalah orang yang menarik, ramah, dan cantik, tetapi cintaku telah mentok kepada gede. aku sudah tidak bisa berpindah lagi kelain hati, walau aku tahu aku salah, aku telah mengintip cinta suami orang. tapi aku ihklas menjalani kisah ini. </p>
<p>6 bulan setelah perkenalan kami. &#8220;Saya terima nikah dan kawinnya Astuti binti Fulan, dengan mas kawin seperangakat alat sholat di bayar Tunai&#8221; gede mengucapkan ijab kabul dengan wali hakim ketika pernikahan ku dilaksanakan. dengan acara yang sangat sederhana dengan hanya di hadiri 7 orang, aku, gede, Penghulu, dan 3 orang saksi yang mengetahui pernikahan ini. </p>
<p>Awal pernikahan ini aku sangat bahagia, dan gede sangat menyintaiku, walau dengan keterbatasan yang dimilikinya gede selalu meluangkan banyak waktu kepadaku. dan aku berangkapan perkataaan sahabatku bahwa pernikahan ini sangat rentan adalah salah.</p>
<p>&#8220;Jika sampai ada satu orang yang tahu, kita sudahi sampai disini!&#8221; suara gede dengan lantang kepadaku. aku, hanya terdiam, dan kupandang mata gede suamiku. gerimis baru selesai. Ingin aku berdiri dan beranjak dari tempat itu. Meninggalkan gede sendiri. Dia tidak perduli apakah mereka harus bercerai detik itu atau tidak. aku heran melihat perubahan lelaki yang sangat aku cintai  itu. Siapa toh perempuan yang mau diperlakukan seperti dia. Perkawinanya diTersembunyikan, hanya karena alasan klise. Terlalu cinta itu. Membabi buta. </p>
<p>Inilah awal pertengkaran kami, setelah mengalami masa bulan madu selama 5 bulan pernikahan ini, sikap gede mulai berubah, semua janji-janji yang pernah diucakan semuanya berubah. terasa semua hanya buain dan gombal belaka.</p>
<p>Teringat kembali nasihat indah sahabat ku, &#8220;Astuti.. astuti pria di dunia ini tidak hanya gede. Cinta tidak harus membuatmu merendahkan diri. Apa yang diberikan gede padamu selama ini sampai kamu mau menjadi istri keduanya. Rumah? Mobil? Uang? Atau yang lainnya? Apa dia benar-benar mencintaimu? Nonsen! Cinta itu omongkosong. Hati selalu berubah. Sekarang dan besok bisa berbeda. Begitupun hati gede padamu. Sekarang dia bisa bilang mencintaimu sepenuh hati, apa buktinya? Dia hanya ingin bermain dengan kata-kata kosongnya. Dia akan menggunakanmu dengan segala cara untuk kepentingannya. Setelah kamu tidak berguna lagi. Dia akan melemparkanmu. Kamu akan semakin terpuruk dan sakit&#8221; dan kala itu aku bertengakar dengan Indah untuk mempertahankan pendapatku, dan cinta telah membutakan mata hatiku, dan perkataan gede itu telah membuka kembali mata hati ini.</p>
<p>Dan aku kembali mencoba menemui indah, &#8220;Indah, bisa kita bertemu besok, aku ada yang ingin aku ceritakan&#8221; aku mencoba menghubungi indah.&#8221;Oke, besok ya as..&#8221; indah mengakhiri percakapan telephon itu. Setelah melepas rindu dengan sahabat karib ku, indah menasihati ku panjang lebar &#8220;Tidak ada yang melindungimu. karena pernikahanmu tidak jelas. Kamu tidak bisa menuntut dia. Dia dengan gampang akan mengingkari semuanya. Itukah cinta? Lihatlah, apa yang dia lakukan padamu selama ini. Apa yang dia berikan padamu? Atas nama cinta jugakah?Dia ingin kamu mengerti dia. Selalu begitu kan? Tapi dia tidak pernah mengerti kamu. Sudahlah tinggalkan dia. Perempuan seperti dirimu bisa mendapatkan laki-laki mana pun. Jika dia memang tidak tahu diri. Akan terlihat sendiri.&#8221; Tapi lagi-lagi aku gemetar saat indah memberiku saran.</p>
<p>indah kembali memarahi ku &#8220;Aneh kamu as! gede bukan laki-laki yang istimewa. Dia pengecut dan suka sekali bersembunyi dalam kata-katanya. Tapi kenapa kamu begitu mencintainya. Sebagai perempuan kamu harus membaca buku tentang laki-laki.Agar Kamu paham tentang mereka, tidak ada apa-apanya dibandingkan makhluk bernama perempuan. bersyukurlah Kamu terlahir sebagai perempuan. Makhluk yang kadang di sikapi tidak adil oleh dunia ini. Tetapi harus tetap tegar dengan tugas-tugas yang diberikan Tuhan padakita. Dengan sebuah hadiah yang menurut orang-orang sangat istimewa. Surga ditelapak kaki kita&#8221; indah kembali mencoba menasihatiku, aku hanya terdiam dan berkata &#8220;betu, kamu tapi hati ku terlalu mencintainnya&#8221; sahutku dengan nada setengah putus asa.</p>
<p>&#8220;as..bersyukurlah kamu, jika Tuhan masih mengijinkanmu menerima rasa sakit. Kesakitan akan membukakan mata batin kita. Kesakitan adalah pupuk untuk membuat kita terus hidup dan menikmati warna dunia. Kenapa takut berada di tempat seperti itu. Yakinlah, jika gede benar-benar mencintaimu seperti yang sering dikatakannya. Dia akan memberikan tempat terhormat padamu. Seperti dia menghormati dirinya sendiri Dia akan menjaga kehormatanmu. Melebihi kehormatan dirinya sendiri. Dia akan melimpahimu dengan cinta dan kebahagiaan. Dia tidak akan melukaimu. Karena kalau dia melukaimu sama saja dia melukai dirinya sendiri. Bahkan dia akan menyediakan dirinya menjadi dirimu. Memberikan yang terbaik buatmu, seperti kamu memberikan yang terbaik untuknya.&#8221; indah kembali berkata dengan muka sedikit kecewa kedapaku</p>
<p>&#8220;Menangislah Ass, menangislah karena kamu tidak bisa bersikap tegar, Saat gede memutuskan meninggalkanmu. Mengakhiri semua permainan yang diawali dari kata-kata kosong. Bukan karena kamu takut kehilangan dia. Jangan sekali-kali berani merendahkan diri dan hatimu untuk merengek pada Pria itu. Angkat dagumu! Lihatlah kedepan. pria bukan segala-galanya. Rubahlah tujuan hidupmu, bukan mengabdi pada makluk yang bernama Pria. Ada banyak tujuan baik yang perlu kamu camkan dan sadarilah ass&#8230;. Yang berurusan dengan dirimu dan orang lain. Boleh mencintai asal tidak berlebihan. Silahkan membenci asal jangan keterlaluan. Karena hati selalu berubah. Hati bukan tebing kokoh yang memagari laut dari ombak dan deburnya. Bukan pula batu cadas. Hati begitu lunaknya. Dia bisa disentuh dengan kata-kata yang mendayu tetapi juga bisa disulut hingga terbakar dan berkobar&#8221; Indah kembali mnyambung perkataanya, sambil menyruput segelas Vanilallate kesukaannya</p>
<p>&#8220;Aku tidak bisa meninggalkan dia. Aku mencintainya&#8221; suara ku begitu lembut dan bergetar lirih. Seakan menyakinkan dirinya sendiri bahwa dia memang tidak berdaya. &#8220;Bodoh kamu as, aku tinggal dia&#8221; itulah kata-kata indah sebelum pergi dan berlalu meninggalkan aku sendiri terduduk di cafe Rendovouz tempat kami dulu biasa mampir.</p>
<p>Dan pertemuan ku dengan indah telah selesai, kembali ku kerumah kontrakanku, yang disewakan gede untukku, malam itu aku bersujud dan meminta pada rob ku, pada sang khalik yang berkuasa atas diriku &#8220;Ya Allah kuatkan diriku, berikan jawab mu atas kehendakmu itu, bantu aku ya allah&#8221; hanya liang tetes airmataku yang menemaniku malam itu.</p>
<p>Senja itu Gede datang, ku lihat dia pulang dari kantor, dengan senyum termanis kusambut suamiku, aku ingin membahagiakan dia, seperti keluarga seutuhnya&#8230; &#8220;mas mau kubuatkan teh atau kopi mas&#8221; sapa lembutku untuk menyenangkan hatinya. dan diapun hanya terdiam. ku coba membukakan sepatunya, aku ingin berbakti kepada suamiku, tapi entah kenapa dia hanya diam dan tidak bicara.</p>
<p>tiba-tiba &#8220;Aku tidak perduli. Kita cerai!&#8221; suara Gede memecah keheningan yang dari tadi telah tercipta diantara kami &#8220;Aku salah apa? kenapa?&#8221; aku bertanya dengan suara lemah. Akhirnya hubungan suami istri dalam perkawinan yang diTersembunyikan itu harus berakhir juga. Tidak lebih dari selentingan batu dilempar.</p>
<p>&#8220;Aku baru saja menerima Pertanyaan dari rekan dan bosku. Ternyata mereka sudah tahu kalau kita menikah. Kamu pasti yang membocorkan semuanya. Dasar perempuan! kenapa Kamu sih tidak bisa menyimpan Tersembunyi. Coba kamu bayangkan, kalau istriku sampai tahu. Apa yang terjadi padaku. Aku akan kehilangan segala-galanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak pernah bercerita pada teman kantormu. Apalagi soal kita. Karena aku tahu. Jika mereka tahu soal perkawinanku. Maka selesailah kita. Aku menyadari hal itu. Karena aku sangat mencintaimu mas. Maka aku menjaga mulutku. Jangan menuduhku dengan berkata seperti itu!&#8221; belaku atas pernyataan gede.</p>
<p>&#8220;Aku tidak percaya padamu! Dari dulupun aku tidak percaya padamu! Kamu selalu berbohong!&#8221; kata gede kepadaku.&#8221;Aku berbohong soal apa mas? tentang apa? tolong katakana padaku, hal apa saja yang menurutmu aku berbohong?&#8221; aku membela diri. &#8220;Tidak perlu diceritakan tapi aku yakin kamu berbohong dan aku tidak percaya lagi padamu!&#8221; gede tetap memaksakan sangkaannya kepadaku</p>
<p>&#8220;Baiklah, karena kamu sudah tidak percaya lagi padaku. Tidak ada gunanya kita teruskan perkawinan kita. Aku selama ini selalu mengalah padamu. Sebagai istri yang kamu Tersembunyikan, aku tahu diri dan berusaha belajar untuk tahu diri. Aku tidak pernah bisa bersamamu. Harus menunggu sebulan untuk bertemu. Tidak bisa mengganggumu saat kamu bersama keluargamu. Aku sudah menerima semuanya dan menjalaninya sebagaimana kehidupan normal perempuan-perempuan lain. Entah karena aku mencintaimu atau karena soal lain. Buatku tidak penting. Yang paling utama, meski kita berjauhan dan hanya waktu-waktu tertentu ketemu. Aku menempatkan komitmen kita ditempat yang paling tinggi. Selama aku menjadi istrimu, aku tidak pernah menuntut hal-hal yang tidak bisa kamu berikan. Aku bahkan selalu mensyukurinya. Tapi sekarang terserah padamu. Aku sudah capek. Aku seperti berhadapan dengan anak kecil yang tidak tahu diri. Kembalilah pada istrimu. Aku tidak tahu apa dia memerlukanmu atau tidak. Tapi aku yakin kamu memerlukan dia. Jadi berbaik-baiklah pada istrimu, kamu akan kehilangan asset berharga kalau dia sampai tahu soal kita. Jadilah anak yang baik dihadapannya!&#8221; ucapan itu dengan lancar menglir dari mulutku&#8230;</p>
<p>&#8220;Kata-katamu menyakitkan!&#8221; gede semakin marah, &#8220;Apa kamu kira kata-katamu melenakan! Sekarang aku jadi tahu dirimu. Tapi biarlah, aku akan mencatatkannya dalam hatiku. Baik dan burukmu.&#8221; aku kembali menimpali perkataan gede.</p>
<p>Dan akhirnya kami pun berpisah pernikahan Tersembunyi ini telah berakhir, &#8220;Begitulah seharusnya dirimu . Bersikaplah tegas pada laki-laki itu. Kamu tahu kenapa dia begitu ketakutan setelah menikahimu. Kamu harus kasihan padanya. Tidak semua laki-laki ditakdirkan mempunyai sifat pemberani. Mereka juga kadang pengecut. Jika dihadapkan pada dua pilihan. Mereka akan memilih yang paling menguntungkan dia. Jangan berharap atas nama cinta dia akan memilihmu. Hidup baginya adalah angka-angka yang harus dijumlahkan. Jika ada sisa lebih besar, dia pasti akan memilihmu. Kalau tidak ada sisa, bahlan dia merasa kamu telah membuat dia bangkrut, meski kamu punya kelebihanpun tak akan dia menetapkan hati padamu. Jadi jangan menyesal telah meninggalkan dia&#8221; indah menenangkan tangisku </p>
<p>&#8220;Tapi rasanya sakit. Aku tidak tahan. Rasanya mau mati saja. Aku kurang apa padanya. Aku memberikan seluruh hati dan diriku padanya. Bahkan jika harus mendada kesakitan pun bersamanya aku mau!&#8221; tuturku dengan badan yang terguncang di pelukan sahabatku itu.</p>
<p>Tanpa disangka keesokan harinya aku membaca berita di surat kabar kabar Gede telah di PHK dari kantor tempatnya ekerja karena dia melakukan korupsi besar-besaran. dan di jebloskan ke penjara, dan rumah tangga yang dibinanya berantakan, diapun bercerai dari istri dan anaknya.</p>
<p>Dan aku seketika tersungkur memuji Allah&#8230; Terimakasih tuhan telah kau tunjukan jalan yang terbaik atas ku.. terimakasih walau dengan cara yang perih kau jauhkan aku dari dia. dan indah yang berada di dekatku memandangku dengan sebuah senyuman.</p>
<p>&#8211;<br />
oleh Erwin Arianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2008/02/18/terlalu-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maaf Aku terlalu Mencintai MU</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2008/02/08/maaf-aku-terlalu-mencintai-mu/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2008/02/08/maaf-aku-terlalu-mencintai-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 04:07:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/2008/02/08/maaf-aku-terlalu-mencintai-mu/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum perkenalan dengannya Hidup ku sangat lah berjalan dengan baik, Aku Mempunyai keluarga, Sahabat, Karir, dan Cinta. Karena suatu pertemuan yang tidak sengaja dari sebuah Group milist dari internet. Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari hobi ku chat dalam dunia maya, layar monitorku berkedip bertanda ada obrolan masuk disana, dan Ninien memanggilaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum perkenalan dengannya Hidup ku sangat lah berjalan dengan baik, Aku Mempunyai keluarga, Sahabat, Karir, dan Cinta. Karena suatu pertemuan yang tidak sengaja dari  sebuah Group milist dari internet. </p>
<p>Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari hobi ku chat dalam dunia maya, layar monitorku berkedip bertanda ada obrolan masuk disana, dan Ninien memanggilaku untuk melakuakan chat, kami bercerita berbagi pengalaman dengannya. Ya Ninien adalah sebuah nama yang tidak sengaja mengubah semua kehidupanku.<br />
<span id="more-1995"></span><br />
&#8220;Namaku Ninien… aku merantau ke Jakarta untuk menggapai mimpiku&#8221; begitulah Ninien mengawali percakapannya dengan ku, dia ternyata perantau dari Semarang, sebuah kota yang tenang untuk menggapai Mimpi di Jakarta.</p>
<p>Setelah lama berbagi mimpi dan berbincang lama pada dunia maya, Ninien memberiku no Hp &#8220;ini nomer Hp ku 081575412345.., No Hp Kamu berapa&#8221; dia menayakan No Hp Ku, &#8220;Tenang nanti aku telp kamu, aku tidak punya HP&#8221; Elakku, karena aku tidak gampang percaya memberi no HP ke sembarang orang.</p>
<p>Setelah Ninien, memberi no hp, aku pun menelponnya dengan menggunakan telp kantor, dari obrolan kami, saya mendapatkan Ninien adalah seorang yang lembut dan penuh perhatian.</p>
<p>Dari pembicaraan telp kami pun sepakat untuk dapat berjumpa / kopi idarat di bilangan Otista, Ninien bekerja di suatu bumn di Jakarta. Saat ini adalah bulan puasa, kami berjanji untuk buka puasa bersama. </p>
<p>Awal pertemuan ini aku hanya berniat tahu sosok Ninien, karena aku telah memiliki kekasih Wulan. Dan waktunya tiba kami berjumpa di tempat yang dijanjikan</p>
<p>Saat tiba di tempat janjian, sepulang kerja &#8220;Ninien ya&#8221; Tanya ku kepadanya karena kala itu aku banyak orang dan ada tidak ada orang yang mirip dengan foto yang diberikannya &#8220;Iya.. kamu Ridwan ya&#8221; dia bertanya balik kepadaku… dan mengaskan bahwa itu adalah aku.</p>
<p>&#8220;Kamu jatuh ya dari sepeda motormu…&#8221; Ninien mengawali perbincangan kami berbuka puasa bersama..&#8221; &#8221; iya nih tidak apa-apa Cuma lecet sedikit saja&#8221; kataku menjelaskan kepada Ninien. &#8220;Makanya cari pendamping dong, biar ada yang merawatnya&#8221; Ninien penuh perhatian dengan senyum yang lembut begitu mengguyur hati ini. Dan setelah selesai aku mengantarkan Ninien ke tempat kosnya. Dan tanpa sadar ku kecup kening Ninien. Dia pun memasang muka yang bingung.</p>
<p>&#8220;mas ini maksudnya apa…?&#8221; Ninien mengungkapkan kebingunganya itu. Akupun tidak berkata dan hanya tersenyum, setelah itu aku pun kembali pulang karena malam telah larut. Dan Semenjak itu kami sering berjanji berjumpa kembali, kami bagaikan dua orang kekakasih yang sempurna, walau terdapat bom waktu yang akan meledak, karena terdapat cinta segi empat dalam percintaan kami, dimana Ninien telah memiliki seorang kekasih di semarang bernama Heru, dan aku telah memliki kekasih pula yang telah aku lamar dan kami telah berjanji untuk menikah 3 bulan lagi, sebuah waktu yang singkat.</p>
<p>waktu malam takbiran, aku main ke tempat kos Ninien, &#8220;mas anterin aku belanja di Atrium senen ya&#8221; dan akupun pergi ke atrium senin untuk berbelanja keperluan hari rayanya, ternyata Ninien adalah wanita yang tanguh, dia dapat mengendari motorrku yang bisa di bilang adalah motor laki-laki. Dalam perjalanannya dia berkata &#8220;mas seandainya hubungan kita normal seperti banyak percintaan pada umumnya aku bahagia mas, tapi kita menjalani percintaan yang luar biasa, dan kamu telah memiliki Wulan disamping mu&#8221;  dengan tangis air mata  dia mengungkap kan itu. Dia telah tahu aku telah punya kekasih bernama wulan. </p>
<p>Kami juga suka melakukan hal-hal yang unik, karena itu begitu menyenagkan buat kami, seperti kami makan Ice Cream dari restoran A&#038;W sambil berjalanan di mall, Ninien berlari sambil memeluku di jembatan itu, dimana banyak orang yang melihat, Setiap pagi hari aku ke tempat kos Ninien, Ninien selalu membuat kan teh dan aku mengantarkanya berangkat ke halte dan di halte sebelum berangkat aku sering mencium kening Ninien, sehingga banyak orang yang melihatya… hahaha… begitu indah saat itu….</p>
<p>Aku dan Wulan telah menetapkan pernikahan kami, kurang lebih waktu dari pernikahan itu tinggal 3 bulan lagi. Hati ku pun semakin kacau, di satu sisi aku semakin mencintai Ninien, dan disisi lain keluarga ku, telah melamarkan aku dengan Wulan.</p>
<p>Aku menikmati setiap hari yang berlalu, dgn keberadaan ninien, semua hidupku penuh dengan warna baru, dimana aku mendapat suatu aroma baru dalam kehidupan ku, aroma ceria, penuh kejutan, seperti cinta anak remaja, berbeda dengan aroma cinta yang diberikan wulan untukku, dimana wulan selalu menuntuku untuk jadi dewasa, dimana itu bukan aku yang sebenarnya.</p>
<p>&#8220;Mas, Besok kita nonton di Kalibata yuk&#8221; ninin mengajaku untuk menonton film terbaru saat itu, &#8220;iya tapi kamu tunggu di bioskop ya, aku pulang antarkan wulan dulu&#8221; dengan wajah penuh senyum dan ikhlas dia menunggu di bioskop kalibata, untuk waktu yang cukup larut karena aku harus pulang mengantarkan wulan terlebih dahulu.</p>
<p>Setiap hari sepulang kerja aku ke kantor ninien, hanya untuk waktu 30 menit, Tiba-tiba Hp ku berdering, pertanda wulan telah menunggu ku di kantornya &#8220;Bang, ada dimana, kok lama banget&#8221; wulan menanyakan keadaanku, &#8220;iya aku sedikit lagi sampai di kantor kamu, tunggu ya&#8221; aku menjelaskan kepada wulan. Tapi setelah aku selesai telphone ninien berada di sampingku &#8220;sudah waktunya kamu pulang ya mas, aku engga mau kamu pulang mas&#8221; kata ninien merajuk. Dilemma dihati diantara dua cinta. &#8220;Maaf sayang, aku pulang dulu, aku mau jadi tukang ojek dulu, nanti malam aku kesini lagi ya&#8221; jelasku kepada nienien. Dan ninein tertunduk layu , sambil berlinang air mata.</p>
<p>&#8220;Oh tuhan aku menjalani dua cinta, aku mencintai ninien, tapi aku telah bertunangan dengan wulan, apa yang bisa aku lakukan..?, tanggal pernikahan kami telah ditetapkan, gedung telah dipesan, tapi hatikku telah beralih kepada ninien&#8221; itulah pertanyaan dalam diriku setiap hari, dan aku pun tersungkur bersujud kepada Allah mempertanyaakaan kedaan hati ini.</p>
<p>&#8220;mas liburan 4 hari aku mau pulang kesemarang, kamu mau aku bawain apa&#8221; ninien berkata kepadaku &#8220;apa saja, lumpia, atau bandeng lunak juga boleh&#8221; aku menjawab sekenanya. &#8220;mas kalau aku disemarang, tolong jangan telp aku siang ya, telp aku jam 9 keatas&#8221; dia memintaku, &#8220;kenapa nin&#8221; Tanya ku kepadanya. &#8220;Aku sedang bersama Heru, mungkin&#8221; katanya , &#8220;Heru orangnya cemburuan mas&#8221; dia kembali menjelaskan kepadaku. &#8220;Oke&#8221; sahutku lagi &#8220;Gila, dia disana dengan kekasihnya Heru, dan Aku disini dengan wulan, kisah cinta macam apa ini&#8221; Tanya ku kepada diriku sendiri.</p>
<p>Mengapa aku suka ninien adalah karena dia satu profesi dengan ku, dia seorang Akuntan sama seperti aku, sifatnya yang lembut, dan penurut  berbeda  dengan wulan yang selalu tegas, dan sedikit angkuh. &#8220;Oh tuhan apa yang akan terjadi nanti selalu&#8221; sebuah perntanyaan yang tidak pernah terjawab, dan rasa cintaku kepada ninien semakin bertambah, aku semakin mencintai dia.</p>
<p>&#8221; Mas Ridwan .. ada rencana nikah kapan&#8221; Tanya seorang kenalan dalam chat ku dengan seorang sahabat Mas Andik seorang kenalan ku dalam chat di dunia maya. &#8220;Mungkin Bulan Juni mas, tepatnya tanggal 5 juni&#8221; balasku kepada mas ridwan. &#8220;Mas, kamu kapan nikah bulan juni ya mas&#8221; Tanya ninien kepada ku, &#8220;Kata siapa&#8221; kataku mengelak, &#8220;aku baca log dari chat kamu mas&#8221; ninien mendesakku. </p>
<p>Ninien senang bernyanyi, dia menyanyikan lagu Naff, &#8220;akhirnya ku menemukan mu saat hati ini …. Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku… dan biarkan diri ku mencintaimu hingga akhir hidupku&#8221; sebuah sair yang memilukan hatiku… ninien sangat menyukai Musik Jazz, Pernah suatu hari ketika suatu hari aku menonton Jazz Goes To Campus di UI,ketika itu Motor ku sedang mogok dan kutitipkan dirumah wulan. Dan aku sedang ke bengkel cuci steam motor untuk mencuci motor wulan. &#8220;mas temenin aku menonton JGTC ya&#8221; pinta ninien, &#8220;wah motor ku sedang mogok nien&#8221;, &#8220;ayo dong mas, please…&#8221; pinta ninien kembali. &#8220;oke deh, tapi 30 menit lagi aku sampai Ui, tapi sampai jam 12.00 ya,a ku haru ske tempat wulan&#8221;, &#8220;ya mas sampai jam 13.30 ya&#8221; pinta ninien, &#8220;oke deh&#8221;.</p>
<p>Dan aku sampai di UI, ternyata ninien bersama fauzan, sahabatnya, &#8220;Mas tolong anterin Mas fauzan ya&#8221;, &#8220;iya sayang&#8221;, setelah mengantar fauzan kembali ku jemput ninien, &#8220;Mas aku bawa motornya, aku mau coba motor matik dan mau tau UI mas&#8221; dan kami pun berkeliling UI, setelah itu aku menonton JGTC, &#8220;Nin, aku pulang dulu ya, aku harus ambil motor di rumah wulan, nanti malam aku kerumah kos kamu ya, kita nonton di Kalibata, ada film Bagus&#8221;, &#8220;gila kamu mas, pagi sama wulan, siang sama aku, sore sama wulan, malam sama aku..&#8221; ninien menyindirku, dan aku hanya tersenyum. </p>
<p>&#8220;Bang lama banget, abis dari mana..?&#8221; wulan menanyakan prihal aku lama datang kembali kerumahnya. &#8220;Habis ke tempat dodi, jawabku&#8221; oh. Dan waktu telah menjelang maghrib &#8220;Aku pulang dulu ya cinta&#8221; kataku ke wulan. Wulan hanya mengangguk, dan setelah itu aku pacu motorku ke bilangan otista untuk menemui ninien. Ninien sedang mendapat telp dari Heru,&#8221; mas Kamu diam dulu, heru sedang bicara ya&#8221; kata ninien kepada ku. &#8220;Dan kami melaju ke kalibata Mall, untuk menonton bioskop. Di sana kami tidak menonton film dengan penuh, karena kami menikmati pertemuan kami, dan kami bermemadu kasih di dalam gedung bioskop. Film pun usai. &#8220;Mas Ayo pulang, nanti aku di kunciin sama ibu kos&#8217; katanya. Ternyata benar dia di kunciin oleh ibu kosnya, dan dia menelphone sahabatnya  satu kos irna untuk membukakan pintu. Sebelum pulang, sempat ku kecup bibir ninien, begitu lembut dan membuatku menitikan air mata, karena menjalankan kisah ini. </p>
<p>&#8220;Nien, aku besok tugas ke Tarakan 1 minggu, ucapku&#8221; ketika kami bertelphone, kami setiap hari selalu bertelphone, kerana menggunakan promosi sebuah selular CDMA, dan &#8220;kok bisa kebetulan aku harus tugas ke Makasar, untuk audit cabang sana&#8221; ya sudah 1 minggu ini kita tidak bertemu dulu ya nien&#8221; kata ku kepadanya. &#8220;mas waktu mu sudah dekatya, dan kita harus berpisah, kita selesaikan setalh kita pulang mas&#8221; katanya kepadaku.</p>
<p>&#8220;Ninien aku dah sampai di juata airport&#8221;, kataku kepada ninien, disini hanya sebuah pulau kecil nien, kataku bercerita kepadanya. &#8220;Aku baru aja landing di Sam Ratu Langi, mas&#8221; ninien bercerita kepada ku, &#8220;Makasar adalah kota yang belum pernah aku datangi, aku hanya pernah singgah disana sebelum aku tiba melanjutkan ke manado, atau daerah kalimantan nien&#8221; Disini Bagus mas, suasana yang nyaman, aku nginap di pinggir pantai losari, pemandangan yang indah&#8221;</p>
<p>beberapa waktu ninien tidak bisa aku hubungi, aku telp tidak pernah diangakat.seminggu telah terlwatkan, kami telah kembali ke Jakarta, dan kami kembali bertemu Dia menyapa ku lewat senyumnya, senyum kerinduan yang akan memudar. Tak ada yang dapat memulai membuka kata antara kami. Seakan terkunci dengan rasa rindu yang kurasa belasan hari. Aku merasakan segala hangatnya menyatu dalam jiwaku seakan tak ingin mengakhiri ini dengan tangis. Dia sama sekali tak melihat perubahan raut wajahku. Dalam hembusan nafas, aku masih berdo&#8217;a. &#8220;ya Allah jangan ada air mata disini.&#8221;</p>
<p>Sedikit terkejut ketika ia mulai membuka pembicaraan. &#8220;Mas, aku kangen banget sama kamu&#8221; Katanya lirih Dia bilang dia merindukan aku, aku tau dia tak membohongiku. Tatapan matanya.. aku paham bahasa matanya. Aku tak punya nyali untuk terus menatapnya, aku hanya tersenyum. Dan beralih tak lagi memandangnya. Ada rindu dimatanya rindu untukku. </p>
<p>&#8220;kita pergi kerumah tanteku ya nien, di daerah pondok gede&#8221; aku dan ninien sepakat untuk bolos kerja, hanya untuk bertemu, dan kupacu sepeda motor ku kerumah tante ku dibilangan lubang buaya, pondok gede, aku dititipkan kunci untuk menjaga rumah kosong tersebut. Setelah berbincang seadanya, kami pun terbawa suasana, kami memadu kasih bagai suami istri, dan pikiran kami, tubuh kami bersatu tanpa batas yang menghalangi dan tanpa sehelai benangpun membungkus tubuh kami. &#8220;mas kita sudah melewati batas mas&#8221; iya sayang, kalau terjadi sesuatu aku mau bertanggung jawab. Kataku.</p>
<p>Selepas dari rumah tante ku, aku mampir ke Tamini Square, kami menikmati makan disuatu restoran fast food, dan aku katakana &#8220;aku mencintai mu nien, dengan segala hatiku dan akan ku jaga sampai mati&#8221;, &#8220;tapi kamu 2 minggu lagi akan menikah mas, dengan wulan&#8221; ninien menjawab, &#8220;Dan ketika ijab-kabul telah terucap maka aku tidak dapat mencintai mu lagi mas&#8221; ninin kembali berlinang air mata menjelaskan kepadaku. &#8220;Nien, biarkan takdir ini berjalan dahulu, biarkan aku menikah dengan wulan dahulu, bila sudah waktunya, aku akan menikahi kamu nien&#8221; aku mencoba menjelaskan kepada ninien.</p>
<p>Semakin dekat pernikahan, hatiku semakin kacau, dan ninien semakin menjauh dari ku, tetapi hati ini tidak bisa dipungkiri, aku telah mencintai ninien dengan segenap aku, apa lagi kami telah melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan.</p>
<p>4 hari sebelum pernikahan ku,  aku menemui kembali ninien, nien, aku tau kok, hari ini akan jadi hari penentuan tentang hubungan kamu dan aku kan?&#8221; Kataku dengan halus dan terus memegang erat tangan nya.</p>
<p>        &#8220;Iya, mas. Kita udah sama-sama janji sepulangnya kita dari tugas juta kita bakal nyelesain masalah kita.&#8221; Jawabku tanpa menatapnya. Entahlah aku tak punya nyali tuk sekedar menatapnya.</p>
<p>   &#8220;nien, kita kabur saja, kita kawin lari saja&#8221; kata ku mengajaknya, &#8220;mas maaf aku tidak bisa, nanti kehidupan kita gimana&#8221; tanyanya. &#8220;kita mulai dari nol, kalaupun harus meninggalkan kehidupan ku kini aku rela kok, walau harus jadi Pemulung aku mau, asal hidup bersama kamu&#8221;</p>
<p>&#8220;Nien, aku tidak tau harus ngomong apalagi ke Kamu. karena takdir aku ninggalin kamu, ngga ada yang bisa gantiin kamu dalam hati aku nien. Harusnya aku yang bilang kalo Aku yang cuma bisanya nyakitin hati kamu setiap saat, yang cuma bisa ngasih mimpi buruk dalam setiap tidur kamu, yang cuma bisa nyiptain tangisan dimata kamu yang penuh cinta. Aku yakin kamu bisa jauh bahagia tanpa aku.&#8221; Ucapnku dengan mata sedikit memerah. Da kuberikan kaos biru yang kupakai untuk dia. Dan kuantar dia ke kantornya dengan kecup perpisahan. Yang ternyata itu adalah pertemuan terakhirku denganya. namun aku tak ingin merasakannya lagi karena bagiku hari ini akan menjadi penentuan segala arah dalam langkah ku yang dulu sempat aku habiskan bersamnya.</p>
<p>Dan takdir tidak bisa terelakan, aku menikah dengan wulan, dengan pesta yang cukup meriah, dengan tamu yang cukup bayak, tetapi hati ini menangis. Setelah itu aku tidak pernah bisa menghubungi ninien kembali.</p>
<p>Tapi aku tetap tidak putus asa, aku mencoba mendatanginya  ke kantornya menjauh, dan dia bersama seorang lelaku lain bernama Ramlan, &#8220;mas kamu sudah nikah, kamu bukan mas ku yang dulu aku cintai lagi&#8221; ninien berkata lirih kepaku. Kehidupan ku dengan wulan berjalan dengan sangta sempurna, tapi hati ini terus tertuju kepada ninien. Pikiran ini hidup ini kosong tanpa dia, aku terlalu mencintai dia, dan selalu terpikir apakah hidup ini dipilih atau memilih.</p>
<p>&#8220;Turut berduka cita ya, mba wulan&#8221; tetanggaku menyalami wulan yang berlinang air mata,  disamping wulan terdapat sesok mayat yang telah di bungkus dengan kain kafan,  dan kulihat jasad ku sudah di kafankan.</p>
<p>Entah siapa yang memberi tahu ninien, dia datang ke pemakaman ku, &#8220;mas kenapa kamu seperti ini, kenapa mengakhiri hidup mu penuh teragis mas, aku tau kamu mencintaiku, aku tau mas, aku juga mencintai mu&#8221; dan kulihat ninien menangis dengan tersedu. &#8220;aku juga selalu mencintaimu nien, kan kujaga cinta ini walau jasadku telah tiada dan hati ini selalu untuk mu seorang bidadariku&#8221; tetapi nienin tidak dapat mendengarku lagi. Dan malaikat mautlah yang kini meminta pertanggung jawaban tindakan ku ini. &#8220;Tapi ini kulakukan karena Aku terlalu mencintaimu nien.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cinta itu indah, tetapi terkadang menyakitkan&#8221;</p>
<p>Cerita ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, pristiwa, adalah tidak disengaja, jika terdapat saran, dan kritik dapat di kirim via email ke Erwinarianto@gmail.com</p>
<p> By: Erwin Arianto</p>
<p>= Depok 8 February 2008 =</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2008/02/08/maaf-aku-terlalu-mencintai-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku Sobat</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2008/02/07/maafkan-aku-sobat/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2008/02/07/maafkan-aku-sobat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 04:04:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/2008/02/07/maafkan-aku-sobat/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Wisnu, besok anterin aku cari motor ya&#8221; ucap Frans kepada ku, &#8221; oke besok aku anter deh&#8221; kataku kepada wisnu, wisnu adalah sahabat karibku di kantor. Aku adalah staff personalia pada suatu kantor di bilangan cikarang. Wisnu dan aku adalah karib pada kantor tersebut, kebetulan rumah kakakku dekat dengan rumah wisnu, dan akupun sering bermain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Wisnu, besok anterin aku cari motor ya&#8221; ucap Frans kepada ku, &#8221; oke besok  aku anter deh&#8221; kataku kepada wisnu, wisnu adalah sahabat karibku di kantor. Aku  adalah staff personalia pada suatu kantor di bilangan cikarang. Wisnu dan aku  adalah karib pada kantor tersebut, kebetulan rumah kakakku dekat dengan rumah  wisnu, dan akupun sering bermain bareng dengan wisnu. Akupun berjanji untuk  menmabantunya mencari motor.<span id="more-1994"></span> Frans pun mengumpulkan Koran poskota untuk menacarikan motor, kami  berkeliling di bilangan pondok gede, condet. Tetapi kami tidak mendapatkan motor  yang dimaksud oleh Frans. &#8220;Nu besok anterin ke bilangan cibubur ya aku dapet  informasi motor dari milis nih, aku mau follow-up&#8221; Frans mendesakku untuk  mengantarkan mencari motor laki-laki. &#8220;oke besok gue anterin&#8221; Dan kami  mengunjungi tempat motor tersebut, akhirnya terjadi kesepakatan kami pun membeli  motor.<br />
&#8220;frans, tuh cewek siapa&#8221; Tanya wisnu kepada ku, &#8220;itu adalah yuni, calon  anak baru untuk bagian exim yang gantiin maya&#8221; kataku, &#8220;cantik juga, pinter lo  milihnya&#8217; kata wisnu kepadaku &#8221; iya donk.. frans&#8221; ktaaku. &#8220;Wisnu gimana kabar  ika, baik-baik saja kan&#8221; kataku menanyakan kabar kekasih wisnu. &#8220;Ya gitu deh¡Ä  baik-baik aja&#8221; kataku kepada wisnu.<br />
&#8220;sekarang cewek lo siapa frans &#8221; wisnu berkata kepada ku, &#8220;ada deh..anak  perusahaan Samsung&#8221; kataku menjelaskan kepada wisnu. &#8221; lo mah ganti-ganti pacar  terus.. kapan kawin.. usia lo kan dah 28 cepetan kawin entar keburu engga laku  loh&#8221; kata wisnu kepadaku lagi. &#8220;Kawin belum ada modal, mau modalin lo&#8221; aku  menjawab pertanyaan wisnu.<br />
&#8220;frans gue dapet no telp si yuni&#8221; kata wisnu kepada ku, &#8220;gila lo.. anak  baru lo mau pacarin juga..&#8221; kataku kepada wisnu , sepertinya sahabat karibku itu  menyai anak baru tersebut dan kelihatannya dia jatuh cinta berat kepada yuni.<br />
&#8220;lo kayaknya naksir berat si yuni ya&#8221; Tanya ku kepada wisnu, &#8220;Iya baru  gue liat nih si wisnu begitu jatuh cinta&#8221; si atmojo salah satu teman kumpul kami  di gank pantry. &#8220;ah engga¡Ä&#8221; wisnu mengelak, &#8216; kalau lo suka gue anterin ke  rumahnya, gue tau rumahnya deket dengan gue, di tambun&#8221; kata afrizal. &#8220;tau lo  ingit ika udah ngapain sich anak kayak gitu aja&#8221; kataku kepada frans.<br />
Dari hari kehari kuperhatikan wisnu makin tergila-gila terhadap Yuni  anak baru bagian exim, kebetulan lokasi duduk wisnu berhadapan dengan yuni,  kusering memergoki wisnu sering mencuri pandang kepada Yuni. Aku pun semakin  yakin kepada wisnu telah terlanjur menyukai yuni.<br />
&#8220;frans bantuin gue dong.. gue jatuh hati banget sama yuni, gue dah coba  telp dia, gue dah usaha tapi engga ada hasilnya&#8221; kata wahyu kepadaku. &#8221; engga ah  gue engga ikut campur&#8221; kataku menghindar<br />
tapi hari demi hari aku sering melihat wisnu bengong begitu  memperhatikan yuni menatap kosong kehadapan yuni. Kasihan juga si wisnu kataku.  Apa ya yang harus aku lakukan agar sahabat ku dapat mencintai atau melupakan  yuni.<br />
&#8221; Mas, aku main ke tempat kos ya&#8221; Uli kekasihku memberi kabar akan main  ketempatku ketika pulang kos, ya aku sangat menyayangi uli, selain cantik,  cerdas anaknya dan juga mandiri, itulah tipe ku. Kami sudah pacaran 1 tahun. Dan  kami pun sudah saling percaya dan burasaha mengenal.<br />
Tanpa sepengetahuan sahabatku wisnu dan kekasihku uli aku berniat  membantu wisnu untuk dapat mengenal dengan yuni, aku pun mendapat ide aku akan  menembak yuni, untuk membantu teman ku agar bisa mendapatkan yuni, karena wisnu  telah memohon kepadaku untuk membantunya mendapatkan yuni.<br />
&#8220;Yun besok kita ketemuan di MM bekasi ya, pulang kerja&#8221; aku berujar  kepada yuni &#8220;ada apa frans¡Ä &#8221; Tanya yuni kepada ku. &#8220;ada yang akan aku omongin&#8221;  kata ku kepada yuni. Dan kami pun makan di MM dan berbincang sekenangan, dan aku  pancing kenapa yuni menolak frans, dia memberi alas an akan focus kerja dulu.  Dan akupun semakin penasaran maka aku tembak yuni &#8221; aku suka kamu, mau kamu jadi  pacar ku&#8221; tanyaku kepada yuni. &#8220;engga ah aku mau focus kerja&#8221; ktanya kekeh. Dan  karena hari sudah malam aku mengantar dia pulang di bilangan tambun. Orang  tuanya begitu ramah, begitulah awal penilaian ku, kepada orang tuanya yang  mengajaku berbicara panjang lebar.<br />
Bebrapa minggu aku makin penasaran untuk mengungkapkan cintaku kepada yuni,  dan kali ini dia meyetujui bahwa kami bisa mennjadi sepadang kekasih. Aku pun  berkata dalam hati &#8220;tidak konsisten kamu yuni, kemarin bilang mau kerja,  sekarang kamu trima aku&#8221; tetapi baru 2 hari kami jadian dia menelphone ku dan  berkata &#8220;Frans yang kemarin tidak jadi, kita putus aja&#8221;   aku pun mengutuk dan  mengumpat aku merasa di permainkan olehnya.<br />
&#8220;Fran gue nginep tempat kos lo ya&#8221; wisnu berkata kepadaku , &#8220;aku mau  main kerumah yuni kamu anterin aku ya&#8221; dia menyambung perkataanya lagi. &#8220;ya udah  tapi bilang yuni dulu ya&#8221; aku dengan bingung mengijinkan, akupun bingung  ternyata dia mau mengajak kerumah yuni, apa aku harus bercerita kepada wisnu  kejadian itu ya.<br />
&#8220;ayo fran udah maghrib nih kita kerumah yuni&#8221; wisnu menarik aku ,  &#8220;tunggu aku mau cerita sebentar&#8221; aku berujar, dan aku pun menceritakan semua  bahwa aku pernah menembak yuni. Tetapi wisnu hanya tertawa mendengarnya dan  berkata&#8221;ha.ha.ha.ha.<wbr></wbr>. gila loh. Dibelakang gue gebetan gue lo embat juga,  syukurin lo diputusin&#8221; , &#8221; iya niatnya mau Bantu lo, tapi gue diputusin  seumur-umur gue baru pertama diputusin cewek, kesel nih&#8221; Malam itu kami pun  tetap bermain ke rumah yuni, pulang dari sana wisnu marah-marah   karena di  cuekin si yuni. Besoknya&#8221;fran lo nikahin aja tuh si yuni&#8221; katanya ngeledekin  aku, &#8220;engga ah bukan tipe gue, lagian aku dah punya uli, lebih cantik mirip  agnes monika&#8221; ktaku membela diri.<br />
4 bulan berlalu, wisnu pun sudah melupakan yuni, dan aku dengar dia akan  menikah dengan ika kekasihnya. Tanpa ada firasat apapun tiba-tiba yuni menelfon  ku &#8220;fran besok anterin aku ke taman bunga cibubur ya&#8221; &#8221; iya dating aja&#8221; kataku.  Yuni pun kuajak kerumah kakakku, disana ada ibuku, dan tiba-tiba ibu berkata  kepadaku &#8221; Nak yuni, kalau mau menikah dengan fran harus bisa masak, dia suka  makan lo&#8221; seakan aku tidak percaya ibu berkata seperti itu, aku pun hanya diam,  ketika yuni sudah mau pulang tiba-tiba ibu berkata &#8220;nak yuni tolong sampaikan ke  orang tuamu ibu sekeluarga akan main ke rumah nak yuni 1 minggu lagi Ya&#8221; akupun  tak bisa berkata apa-apa.<br />
Minggu yang tak kuharapkan datang, dan aku pun mengajak ibu ku, karena ayahku  telah meninggal ketika aku berusia 3 tahun, tapi karena aku sedang bingung, ibu  kuajak muter-muter karena kesasar. &#8220;kamu gimana sih fran, udah pernah kesini  belm, masa sama calon istri tidak tau alamatnya&#8221; perasaan ku pun semakin  gelisah.</p>
<p>Ketika sampai di rumah yuni, ayahnya sedang kondangan, dan  keluargaku didiamkan di teras rumah yuni selama 30 menit. Dan yang aku tidak  sangka ibu nya yuni hanya memakai baju daster yang agak robek. Seperti tidak  menghargai keluarga ku, kulihat ibu mulai kesal dengan hal ini. Dan ketika  ayahnya yuni datang baru kami diajak bicara, tetapi kejadian menyedihkan terjadi  kedua orang tuanya bertengkar, dan masuk kedalam, kembali keluar, dan bertengkar  kembali. Dan setelah itu ternya ibuku melamarkan yuni untuk ku. Dan duniaku  kiamat. Bagaimana dengan uli kekasihku.<br />
Sepulang dari rumah yuni aku pun berdebat dengan ibu, mengapa mendadak,  urusan nikah adalah seumur hidup. Dan aku bilang aku sudah punya calon sendiri.  Tetapi ibu semakin marah, sudah berkali-kali aku di jodohkan dan berkali-kali  aku menolaknya, dan dia ingin melihat anak terakhirnya menikah sebelum dia  meninggal. Semenjak itu aku semakin sering melamun.<br />
&#8220;uli, kita harus putus &#8221; aku memutuskan uli, &#8220;Kenapa mas&#8221; uli marah &#8220;kenapa  tiba-tiba apa salah ku&#8221; Tanya uli kepadaku &#8220;kita engga cocok uli&#8221; kataku  berdalih, dalam hatiku aku menangis dan aku berteriak dan ingin berkata uli aku  masih sayang kamu¡Ä aku ingin menikah dengan kamu¡Ä. Maaf uli¡Ä. Aku harus  meninggalkan mu. Dan aku pun meninggalkan uli denga muka tertunduk tidak bisa  menatapya karena aku terlalu menyayanginya.<br />
Tiba-tiba yuni mengundurkan diri dari kantor ku, dan di kantor pun  merebak gossip aku akan menikah dengan yuni. &#8220;fran bener kamu mau nikah dengan  yuni&#8221; Tanya wisnu kepadaku. Aku hanya tersenyum dan berkata &#8220;ah itu gossip&#8221; aku  pun pusing kembali, aku merebut seorang di sayangi sahabat karibku.<br />
Tiap malam aku berdoa, &#8220;tuhan kalau ini jalanmu aku ihklas, Bantu aku  menyakini sahabat karibku, wisnu, dan uli kekasihku, beri aku kekuatan, aku  hanya ingin berbakti kepada ibuku&#8221; aku pun berdoa dan sholat tahajud.<br />
Tiba-tiba sebuah tinju melayang kearahku, iya itu adalah tinju wisnu  yang memukul wajahku &#8220;penghianat kamu frans, kenapa kamu menghianati aku,  sahabat kamu, sudah banyak kita berbagi suka-duka aku sudah anggap kamu  saudaraku&#8221; aku pun meminta maaf kepada wisnu, semenjak itu aku semakin renggang  kepada wisnu.<br />
Dan tibalah hari pernikahanku, banyak tamu yang datang, dan uli entah  siapa yang memberi tahu dia datang &#8220;selamat frans, inikah pilihan hati kamu&#8221; dia  berkata di depan yuni dengan senyum sinis. Dan wisnu pun tidak datang ke  pernikahan aku.<br />
akupun kehilangan sahabat karib ku, tetapi inilah pengorbanan ku untuk  ibuku. Maafkan aku wisnu, uli¡Ä inilah takdir tuhan, suatu saat aku akan  menjelaskan kepada kalian. Tapi aku tidak menyesali pernikahanku. Aku tidak  pernah pacaran sama sekali dengan yuni. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Di satu  sisi aku beruntung semua proses pernikahan ku begitu lancer, satu pihak aku  menyakiti sahabatku dan kekasih hatiku. Wisnu kamu tetap seorang sahabat ku¡Ä  dan uli aku begitu sayang padamu. Maafkan ku sahabat dan kekasihku.<br />
&#8220;jodoh ditangan tuhan manusia hanya bisa berusaha, tetapi tuhanlah yang  menentukan&#8221;<br />
Cerpen ini adalah fiktif belaka, jika terdapat kesamaan nama tokoh dan  pristiwa adalah suatu kebetulan.<br />
Depok 15 September 2007 21:53<br />
Erwin Arianto</p>
<p><br clear="all" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2008/02/07/maafkan-aku-sobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Nyata: Kisah Taubat Sang Jagoan</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2007/12/27/kisah-nyata-kisah-taubat-sang-jagoan/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2007/12/27/kisah-nyata-kisah-taubat-sang-jagoan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 08:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/2007/12/27/kisah-nyata-kisah-taubat-sang-jagoan/</guid>
		<description><![CDATA[Awal 1993 Aku lega, urusanku dengan pihak kepolisian tidak berlanjut lebih panjang lagi. Hal itu karena masalah tawuran di sekolah kami bisa diselesaikan dengan damai. Inilah pertama kalinya aku berurusan dengan polisi. Seorang siswa kelas 3 SMP, yang masih mengenakan celana pendek ketika sekolah, tapi sudah berani ikut tawuran. Masalahnya? Ah, aku sendiri lupa. Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Awal 1993</strong><br />
Aku lega, urusanku dengan pihak kepolisian tidak berlanjut lebih panjang lagi. Hal itu karena masalah tawuran di sekolah kami bisa diselesaikan dengan damai. Inilah pertama kalinya aku berurusan dengan polisi. Seorang siswa kelas 3 SMP, yang masih mengenakan celana pendek ketika sekolah, tapi sudah berani ikut tawuran. Masalahnya? Ah, aku sendiri lupa. Yang pasti, justru ada rasa bangga di hatiku. Orang tuaku tidak boleh tahu hal ini. Surat panggilan untuk mereka sudah kubuang jauh-jauh tadi.</p>
<p>Ah, aku tak peduli. Toh selama ini mereka tidak pernah memperhatikanku, sibuk dengan urusannya sendiri. Keluargaku memang bukan golongan jet set, meski demikian kebutuhan materiku lebih dari tercukupi. Tapi aku heran, kenapa aku jarang berkomunikasi dengan mereka? Hingga sebesar ini, aku belum juga bisa mengaji dan shalat. Tidak ada yang mengajariku tentang agama, apalagi keluargaku sendiri masih awam. Tapi, siapa peduli?<span id="more-1273"></span></p>
<p><strong>Tahun 1994</strong><br />
Sekarang aku sudah duduk di SMA favorit di kotaku. Tapi kebandelanku bukannya berkurang, justru semakin bertambah. Aku sudah lupa, berapa kali aku terlibat perkelahian dengan alasan yang tidak jelas, bolos sekolah, dan merokok.</p>
<p>Hingga suatu hari aku bertemu dengan seorang teman, yang mengajariku untuk berguru pada orang “pintar”. Kuterima tawaran itu dengan senang hati. Satu hal yang harus kupantang atas anjuran “kyai” agar berhasil yakni aku harus menjahui “molimo”. Maka senakal-nakalnya aku, tidak pernah sampai mabuk, bahkan pacaran pun aku tidak pernah, demi menjalani perintah itu.<br />
Sekarang jimat jadi andalanku. Agar penampilanku tambah “gagah”, sering aku mengenakan anting di hidung atau di alis. Meski demikian, aku tetap saja memiliki katakutan di sisi hatiku yang dalam. Aku takut jika tiba-tiba ada orang yang menusukku dari belakang, atau tanpa sepengetahuanku menyerang dengan senjata tajam.</p>
<p>Dengan “prestasiku” itu, hampir setiap “pekerja jalanan” mengenalku. Aku mengenal sopir angkot, kernet, tukang ojek, tukang becak, dan orang-orang terminal, karena memang di situ aku bergaul. Ya… di rumah aku jadi anak manis karena memang sikapku yang kalem, tapi diluar aku bisa bertindak seenaknya. Meski demikian, aku merasa ada sesuatu yang masih ingin kumiliki, entah apa itu.</p>
<p>Hari ini pertama kalinya aku melihat ibuku menangis, hanya karena aku pamit mau ke jogja dan tinggal agak lama di sana. Dan untuk pertama kalinya pula aku menyadari, ternyata selama ini orang tuaku sangat memperhatikanku. Aku telah salah menilai. Rasanya aku ingin minta maaf pada ibuku. Tapi jiwa remajaku melarangnya.</p>
<p>Berhari-hari aku merenungi peristiwa itu. Ada keinginan untuk memperbaiki diri. Tapi bagaimana caranya?</p>
<p><strong>Akhir 1995</strong><br />
Aku sudah kelas 3 SMA. Meski demikian, tidak terlintas sama sekali dalam benakku apa yang akan kulakukan setelah lulus. Ketika teman-teman yang lain sibuk belajar, aku lebih suka nongkrong dengan teman-temanku.</p>
<p>Hingga suatu malam, saat aku nongkrong seperti biasa, aku mendengar ada suara pengajian dari radio. Suaranya cukup keras, hingga bisa terdengar dengan jelas. Awalnya aku tidak menggubris suara itu, namun tiba-tiba,”….Allah tidak akan mengampuni bosa syirik….” mubaligh tersebut mengutip suatu ayat Al-Quran. Aku sendiri tidak tahu apa kelanjutannya, tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa takut mendengar ayat tadi.</p>
<p>Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh suara tadi. Dan entah kenapa, aku seperti mendengar suara itu berulang-ulang,”….Allah tidak akan mengampuni dosa syirik…” Bukankah apa yang kulakukan selama ini adalah kesyirikan (seperti guru agama pernah menerangkan kepadaku)? Ya, aku telah bergelut dengan jimat, tenaga dalam, dan tetek bengeknya yang semuanya adalah syirik. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lantas buat apa aku hidup jika jelas-jelas dosaku tidak diampuni oleh-Nya?</p>
<p>Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, sebandel-bandelnya kau ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk menemui seorang kyai. Aku melihat jam, sudah jam 12 malam, tapi aku tidak peduli, aku harus segera menemukan jawaban.</p>
<p>Kunaiki motorku dengan seorang teman, menuju rumah seorang kyai yang cukup ternama. Di sana aku mendapatkan penjelasan panjang lebar. Tapi aku merasa tidak puas dengan jawaban yang ku dapat. Esoknya kuajak temanku untuk menemui ustadz yang lain. Beberapa orang sudah kutanya, dari beberapa toloh organisasi Islam, maupun tokoh agama yang kuanggap mampu. Tapi dari semua jawaban yang mereka berikan tidak ada yang memuaskanku. Mereka mengatakan bahwa apa yang kulakukan hanyalah perantara atau wasilah, jadi tidak termasuk syirik. Namun entah kenapa, hatiku menolak jawaban itu.</p>
<p><strong>Awal 1996</strong><br />
Aku memutuskan untuk mencari sendiri jawabannya. Sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan, untuk mencari buku-buku agama. Aku membaca seperti orang yang kehausan kemudian menemukan tetesan-tetesan air. Semua buku yang ada dari tipis sampai yang tebal kulalap habis, jika belum selesai aku sangat penasaran. Aku mulai mendekati teman-teman ROHIS, kupinjam buku-buku mereka. Sekarang aku makin benyak bergadang, tapi bukan untuk nongkrong seperti dulu, melainkan membaca buku yang sudah kupinjam sebelumnya. Aku sendiri heran, kekuatan dari mana yang mampu mendorongku begitu semangatnya untuk menekuni buku demi buku tiap harinya? Tentunya semua atas kehendak-Nya.</p>
<p>Kebiasaanku mulai kutinggalkan, teman-teman gengku juga mulai kujauhi, dan aku mulai jadi pendiam. Banyak yang heran melihat perubahanku yang sedrastis itu.</p>
<p>Aku mulai menjalankan shalat. Meski awalnya agak kaku, tapi kubulatkan tekadku untuk menjaga kewajibanku ini. Subhanallah, aku yang dulu merasa malu jika ketahuan shalat, karena akan menurunkan “wibawaku”, sekarang harus belajar dari nol tentang bacaan shalat. Aku juga mulai bertekad belajar mengaji, maka kutemui seorang ustadz di kampungku untuk belajar. Dan, hanya karena pertolongan dari Allah, aku sudah mampu membaca Al-Quran hanya dalam waktu seminggu. Allahu Akbar!</p>
<p>Dari membaca pula aku tahu bahwa merokok haram hukumnya. Maka tanpa menunggu waktu lagi, segera kutinggalkan rokok. Aku benar-benar mendapat pertolongan dari Allah, hingga mampu melakukan semua itu. Dari sebuah buku aku juga tahu, bahwa pakaian bagi laki-laki tidak boleh melebihi mata maki, dan sunnah memanjangkan jenggot. Maka sejak saat itu, aku mulai mengubah penampilanku.</p>
<p><strong>September 1996</strong><br />
Sekarang aku mahasiswa sebuah PTS di Solo. Tempat yang pertama kucari adalah perpustakaan. Aku memang sudah “keranjingan” membaca buku-buku agama. Dan alhamdulillah, di sini referensinya lebih lengkap. Maka, aku mulai berkutat dengan buku-buku tebal, demi pencarian kebenaran yang kucari selama ini.</p>
<p>Hingga, aku membaca sebuah kitab tafsir. Dan alhamdulillah, aku menemukan ayat yang kucari-cari selama ini.” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisa’:48)</p>
<p>Dari tafsirnya aku tahu, bahwa masih ada kesempatan bertaubat bagi orang-orang yang melakukan dosa syirik selama dia masih bisa bertaubat kepada Allah. MasyaAllah, indahnya! Aku menangis, dan bersujud syukur atas karunia ini. Kini semangatku bertambah besar, jika Allah masih membuka pintu taubat, maka apalagi yang kutunggu?</p>
<p>Hingga suatu hari, aku lewat di masjid dekat kosku. Di sana aku melihat sekumpulan orang yang berpenampilan sama dengan penampilanku sedang mengikuti pengajian. Maka tanpa ragu lagi, aku masuk masjid dan ikut mendengarkan. Meski awalnya masih malu karena belum ada yang kukenal, tapi aku merasa tertarik dengan penyampaian ustadz tersebut. Subhanallah, baru kali ini aku mendengar penyampaian materi dengan ilmu dan hujjah yang mantap, tidak dibuat-buat.</p>
<p>Maka aku selalu mengikuti setiap taklim yang ada di masjid tersebut. Aku juga mulai kenal dengan baik ikhwan-ikhwan di sana. Ya, inilah yang kucari-cari selama ini. Pemahaman Islam sesuai dengan salafusshalih. Dan aku mulai mantap di atas manhaj salaf ini. Hingga aku menutuskan untuk tinggal di masjid, meskipun kosku belum genap 3 bulan kutempati. Aku ingin lingkungan yang lebih baik dan kondusif untuk belajar tentang din. Dengan dorongan dari ikhwan-ikhwan serta ustadz aku berhasil “membuang” ilmu tenaga dalamku.<br />
Sekarang aku merasakan nikmatnya thalabul ‘ilmi. Tahun 1997, untuk menambah pengetahuanku aku ikut kursus bahasa Arab yang diselenggarakan sebuah pondok dan menjadi mustami’ di tadribud du’at.</p>
<p><strong>Februari 2007</strong><br />
Kini aku telah berkeluarga, dengan seorang istri dan 2 anak. Jika kuingat-ingat kilasan 11 tahun yang lalu, semakin besar syukurku kepada Allah. Allah telah memberikan hidayah-Nya kepadaku, dan Dia-lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia.</p>
<p>Dan Alhamdulillah, meskipun dengan usaha yang berat, keluargaku sudah bisa menerima prinsip dan keyakinanku. Meski demikian, aku sadar tugasku belum selesai. Aku masih memilki kewajiban mendidik keluargaku, berdakwah kepada orangtuaku, mendakwahi keluarga istriku, dan masyarakat sekitar. Sebuah tugas yang tidak ringan. Tapi aku yakin dengan pertolongan Allah. Ya Allah, mudahkanlah! (al faqir ilallah, Ibnu Abdurrahman)</p>
<p>Majalah Nikah, Rubrik Kisah Nyata, hal. 54. Vol.6 (2) Mei 2007; dikutip ulang oleh maramis setiawan &#8211; Mei 15th, 2007 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2007/12/27/kisah-nyata-kisah-taubat-sang-jagoan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersinarlah Matahariku</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2007/11/05/bersinarlah-matahariku/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2007/11/05/bersinarlah-matahariku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Nov 2007 03:54:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enj/index.php/2007/11/05/bersinarlah-matahariku/</guid>
		<description><![CDATA[by: Riza Faisal Sini, Pak! Sini..,? kuminta suamiku duduk mendekat agar kami tidak ketetesan air hujan. Petang ini, kami sedang berada di terminal kampung Rambutan. Sebuah terminal yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Terminal yang bisa dibilang begitu ?? kumuh!! Tapi dibalik semua itu harus diakui bahwa ratusan keluarga menggantungkan hidupnya di sana. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by: Riza Faisal</p>
<p>Sini, Pak! Sini..,? kuminta suamiku duduk mendekat agar kami tidak ketetesan air hujan. Petang ini, kami sedang berada di terminal kampung Rambutan. Sebuah terminal yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita. Terminal yang bisa dibilang begitu ?? kumuh!! Tapi dibalik semua itu harus diakui bahwa ratusan keluarga menggantungkan hidupnya di sana. <span id="more-988"></span></p>
<p>Kunikmati sesendok demi sesendok lontong kari dihadapanku. Kulihat suamiku pun demikian, sangat menikmati tahu campur kesukaannya. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada pemandangan unik didepanku. Si Ibu penjual tahu campur sedang tidur mengeloni anaknya, bocah laki-laki berumur lebih kurang 3 tahunan. Seringkali tetesan air hujan jatuh tepat di dahinya. Si ibu yang begitu cepat tertidur pulas, tak tahu kalau air hujan nakal itu telah mengganggu buah hatinya.</p>
<p>Aku langsung teringat pada Karim, putra kami. Dalam keadaan seperti itu si Ibu masih tetap dapat mendampingi putranya, sementara aku? ?Sekarang dia sedang apa ya, Pak?? tanyaku mengejutkan suamiku. ?Siapa? Karim?? tebak suamiku yakin. ?Kenapa, Ibu ingat dia? Sabar, ya Bu. Dia pasti juga ingat Ibu,? hiburnya, membuatku tak bisa menahan air mata. ?Pak, Ibu kangen dia,? ujarku lirih. Untuk pertama kalinya kutinggal anakku sendiri di Bandung, hanya ditemani pengasuhnya. Kami harus datang ke kota metropolitan ini, demi karirku. Dan suamiku rela cuti, hanya untuk mengantarku. ?Tidak baik Ibu pergi sendiri, walaupun untuk urusan kerja. Biarlah besok Bapak antar. Bapak masih punya jatah cuti, kok!? kata-kata suamiku tadi malam masih terngiang-ngiang di telingaku. Allah?terangilah selalu hati hamba-Mu ini agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Agar keegosian hati tidak menjebak hamba.</p>
<p>Kembali kulihat ibu dan anak yang sekarang masih tertidur pulas. Hujan sudah mulai reda. Kami berniat segera pulang. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. ?Sudah, Pak,?kataku pada Bapak yang menunggu kaki lima ini, mungkin suami si Ibu. ?Maaakk! Udah tuh!? teriakannya mengagetkan si Ibu. Cepat-cepat Si Ibu bangun dan mengatakan harga dua piring dan dua gelas yang telah kami habiskan. Si kecil pun ikut terbangun. Sambil duduk dia balik memainkan air hujan yang menggenang di dekatnya. Dasar anak-anak. Sepertinya mereka tidak peduli dan bahkan tidak pernah menuntut kehidupan yang lebih baik dari yang sedang mereka jalani. Apapun yang terjadi pada mereka? bagaimana pun kondisi mereka? mereka akan selalu menikmatinya. Setelah kubayar jumlah yang disebutkan, kami pun beranjak pergi.</p>
<p>Setengah berlari, kami menuju tempat bus antar propinsi dan berebut dengan penumpang lainnya. Bus Patas AC ini tak enghilangkan penat yang kami rasakan. Belum lagi rasa bersalah yang memenuhi dadaku. Sengaja atau tidak aku telah memaksa suamiku meninggalkan tumpukan tugas kantornya. Juga telah menelantarkan anakku?membiarkannya semalam bersama orang lain. Tanpa suara lantunan ayat suci dan dendangan sholawatku yang biasa mengantar tidurnya. ?Maafkan Ibu, Pak,? ucapku sambil bersandar di pundak suamiku disambut dengan elusan tangannya di punggung tanganku. Selanjutnya, kubaca Al Fatihah dan kukirim khusus buat buah hatiku?sekedar mengurangi rasa bersalah ini.</p>
<p>Kami tiba di rumah pukul satu tepat. Karim sudah pulas?sendirian. Wajah tanpa dosanya membuat air mataku kembali deras mengalir. Maafkan Ibu, Sayang. Kucium dahi bocahku. Besok, Insya Allah tepat sebelas bulan usianya. Dan sampai hari ini aku masih tetap sibuk, bukan mengurusnya tapi mengurus pekerjaanku, mengejar karirku. Allahu robbi.<br />
?Selamat, Mbak Fati. Saya dengar presentasi Mbak kemarin sukses!? sambut Ine, teman seruanganku membuatku terkejut. ?Maaf, Ne. Saya terlambat. Si Adek (panggilanku untuk Karim) tidurnya pulas. Baru bangun jam tujuh tadi, jadi Saya menunggunya. Maklum, kemarin kan tidak ketemu seharian. Saya kangen, eui!? kataku sambil tersenyum. ?Pak Bos sepertinya paham kok, Mbak. Barusan, rekanan kita yang di Jakarta telpon pada beliau dan mengatakan bahwa presentasi Mbak membuat mereka tertarik. Hasilnya, order dalam jumlah besar dan dalam waktu dekat!!? kata Ine berapi-api. ?Pesan Direktur, begitu sampai Mbak diharap segera menghadap. Sepertinya Beliau ingin menyampaikan selamat secara langsung pada Mbak,? lanjutnya.</p>
<p>Sekarang, sudah tiga bulan sejak peristiwa itu. Aku masih berkutat dengan pekerjaanku yang dinilai cukup sukses oleh tim manajemen. Kemarin, Direktur memanggilku. Aku dipromosikan untuk sebuah jabatan baru. Imbalan yang ditawarkan cukup memikat. Bahkan kalau boleh jujur, jauh lebih tinggi dari gaji suamiku. Sebuah tawaran yang sempat membuatku bimbang. Dan aku minta waktu dua hari untuk memikirkannya. ?Terima saja, Fati. Dengan gaji sebesar itu, impian kalian akan segera terwujud. Rumah.. bahkan mobil mewah!! Putramu akan menjadi anak orang kaya. Segala yang dimintanya dapat kalian penuhi dengan segera. Kalian bisa pergi berlibur, bahkan ke luar negeri!! Dan yang pasti, kamu juga dapat membantu suamimu meringankan bebannya. Ayo, Fati. Kesempatan tidak datang dua kali. Ambil kesempatan ini atau kalian tetap akan seperti sekarang?? ?Jangan Nurul. Uang belum tentu menjamin kebahagiaan. Bisa jadi kamu akan semakin sering menelantarkan keluargamu. Membiarkan mereka tanpa  kehadiranmu. Dan putramu hanya akan terpenuhi kebutuhan materinya saja. Sementara, kasih sayang seorang Ibu yang dia butuhkan sulit kamu penuhi. Kamu mungkin hanya bisa membelikan tanpa pernah mengetahui kapan dia memakainya. Yang paling menyedihkan adalah jika kemudian dia menjadi lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dengan ibunya.? Batinku mulai berperang. Ya Allah, Bantu hamba memutuskan yang terbaik. Berilah hamba petunjuk dan hidayah-Mu, Robbi.</p>
<p>Tak terasa hari ini adalah deadline dimana aku harus memberikan jawaban pada Direkturku. Pagi ini seperti biasa kami berangkat berdua. Karim melambaikan tangannya saat kami tinggal tadi. Oh, matahariku. Bersinarlah terus Sayang?Ibu ingin selalu melihat sinarmu dalam setiap helaan nafas Ibu.</p>
<p>Karim, sini Nak. Ibu bacakan ceritanya. Karim mau cerita yang mana?? ?Ni?.,?katanya sambil menunjuk salah satu cerita dari buku serial Anak Muslim: kisah sebuah tong sampah. Mulailah aku bercerita lengkap dengan mimik wajah yang sangat disukainya. Bahkan kadang dia menirukan caraku bercerita saat menceritakan kembali kisah tersebut ke teman bermainnya. Allah..Subhannallah. Senyumku mengembang, senyum yang tak pernah kurasakan ketika aku masih sibuk dengan pekerjaanku enam bulan yang lalu.</p>
<p>Memang, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Sebuah keputusan yang disesalkan banyak pihak terutama di tempat aku bekerja. Namun sekaligus sangat menggembirakan keluargaku. ?Alhamdulillah, Bapak bangga pada Ibu. Saat di puncak karir, Ibu rela melepaskannya demi keluarga. Bapak memang tidak salah memilih pendamping hidup dan Ibu dari anak-anak kita. Alhamdulillah,? kata-kata suamiku masih cukup melekat dibenakku saat aku ungkapkan keputusanku, pada malam sebelum aku menghadap direkturku. ?Iya Pak. Ibu iri pada Ibu pedagang kaki lima di terminal kampung rambutan waktu itu, yang bisa terus bersama putranya. Sementara Ibu hanya bisa memberikan materi untuk Karim. Padahal kita berdua sangat paham bahwa waktu bersama orang tua adalah saat yang penting bagi perkembangan anak kita,? sahutku waktu itu. Alhamdulillah, sekarang aku di rumah. Menunggu suamiku pulang dari kerjanya sambil menjaga butik kecil yang kurintis enam bulan lalu. Sementara Karim terlelap setelah mendengar  ceritaku. Subhannallah..Alhamdulillah, Ya Allah. Kau tunjukkan pada hamba jalan ini, gumamku sambil berjalan menuju tempat tidur bocah kecilku. (Awal Maret-03)</p>
<p>Sumber: dudung.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2007/11/05/bersinarlah-matahariku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Airmata di Lebaran</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2007/10/15/airmata-di-lebaran/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2007/10/15/airmata-di-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 05:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/2007/10/15/airmata-di-lebaran/</guid>
		<description><![CDATA[Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadi sore semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orang dengan pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salah satu jalan di Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengan kepala ditutupi kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka. Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p> Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadi sore<br />
 semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orang dengan<br />
 pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salah satu jalan di<br />
 Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengan kepala ditutupi<br />
 kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka.                                  </p>
<p> Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak berangkat dari rumah.<br />
 Sebagian lainnya berpakaian kebaya sambil menjinjing mukena dan sajadah.<br />
 Anak-anak tidak lupa dibawa serta.                                                       </p>
<p> Meskipun sebagian besar jamaah berjalan kaki, namun tidak sedikit diantara<br />
 mereka yang datang ke masjid itu berkendaraan, baik sepeda motor maupun<br />
 mobil.<br />
 Kebanyakan mobil-mobil yang datang dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga.<br />
 Perasaan gembira tampak jelas pada wajah-wajah mereka yang penuh senyum.<br />
 Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam,<br />
 setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan. <span id="more-1227"></span>                          </p>
<p> Suara takbir semakin menggema. Jamaah semakin padat memenuhi ruangan masjid<br />
 yang luas itu. Sebagian mulai tampak membanjiri teras masjid karena bagian<br />
 dalam masjid sudah penuh. Sebentar saja, teras pun penuh terisi jamaah.<br />
 Beberapa anak kecil memanfaatkan kesempatan itu untuk menawarkan koran bekas<br />
 kepada jamaah yang baru datang. Di Jakarta, apa pun bisa dijual, tak peduli<br />
 di hari raya seperti ini.                                                                </p>
<p> Bukan hanya anak-anak penjaja koran bekas saja yang sedikit &#8220;mengganggu<br />
 pemandangan&#8221;(tm) pagi itu. Beberapa pengemis pun tampak berjejer di depan<br />
 gerbang masjid menyambut para jamaah dengan menyodorkan baskom plastik.<br />
 Beberapa diantara mereka menggendong bayi yang masih mungil.                             </p>
<p> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;                                            </p>
<p> Seorang anak laki-laki dengan wajah kusut dan pakaian yang masih kotor<br />
 terlihat berdiri di depan gerbang. Sebut saja namanya Husein. Usianya<br />
 sekitar tujuh tahun. Ragu-ragu ia memasuki gerbang masjid.                               </p>
<p> Ia tahu kalau hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, sehingga ia ingin masuk<br />
 ke dalam masjid untuk ikut merayakannya dengan sholat Id. Akan tetapi ia<br />
 juga sadar kalau keadaan dirinya yang kusut dan tak terurus itu bisa menjadi<br />
 pusat perhatian jamaah lain yang berpakaian rapi.                                        </p>
<p> Husein memang mematung di depan gerbang. Beberapa rombongan jamaah yang<br />
 hendak masuk ke masjid menyadarkan dirinya untuk segera menyingkir dan<br />
 memberi jalan kepada mereka. Anak itu segera menepi. Diurungkan niatnya<br />
 untuk masuk ke gerbang masjid.                                                           </p>
<p> Kini ia sandarkan tubuhnya di pagar besi yang mengelilingi masjid. Dari<br />
 pagar itu ia bisa melihat bagaimana ramainya suasana halaman masjid oleh<br />
 para jamaah dengan pakaian baru aneka warna. Anak-anak seusianya tampak<br />
 duduk bersila di samping orang tua mereka dengan baju baru, kain sarung baru<br />
 dan peci yang juga baru. Kontras sekali dengan dirinya yang lusuh oleh debu<br />
 dan pakaian yang kotor.                                                                  </p>
<p> Terbayang dalam ingatannya ketika tahun-tahun lalu ia masih bisa menikmati<br />
 suasana lebaran yang penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya.<br />
 Pagi-pagi, ia sudah dibangunkan oleh tangan lembut ibunya. Terdengar suara<br />
 takbir dari masjid dekat rumahnya. Kue-kue dan ketupat tersaji di meja<br />
 makan. Ia dan anak-anak seusianya tidak lupa ikut orang tua mereka sholat di<br />
 masjid atau tanah lapang.Tawa canda tampak dari mereka setiap kali bertemu.<br />
 Mereka seolah saling memperlihatkan baju baru yang mereka pakai.                         </p>
<p> Tapi itu dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih berada di sisinya.<br />
 Sebab beberapa bulan selepas kenangan manis itu, kedua orang tuanya harus<br />
 bercerai.<br />
 Sebagai seorang anak kecil, ia tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya<br />
 harus bercerai, sehingga ia harus menjadi korban dari sikap egoisme kedua<br />
 orang tuanya.                                                                            </p>
<p> Beberapa bulan kemudian , ia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya ,<br />
 meski tidak tahu lagi kemana ayahnya pergi. Tetapi lewat tiga bulan dari<br />
 perceraian kedua orang tuanya, ibunya terpaksa kawin lagi dengan lelaki<br />
 lain. Parahnya, lelaki itu juga membawa ibunya pergi ke Jakarta. Konon, ayah<br />
 tirinya itu punya pekerjaan di Jakarta meskipun hanya sebagai pekerja kasar.             </p>
<p> Husein sendiri dititipkan kepada neneknya dari pihak ibu. Maklumlah sejak<br />
 menikah, ayah dan ibunya memang menumpang di rumah neneknya itu. Karena<br />
 itu, Husein sudah dekat dengan sang nenek meskipun tetap saja ia merasakan<br />
 kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau saja ia besar, ia ingin<br />
 sekali meninggalkan neneknya dan pergi ke Jakarta untuk menyusul kedua orang<br />
 tuanya.                                                                                  </p>
<p> Sebenarnya, neneknya sendiri tidak memiliki penghasilan yang memadai. Di<br />
 usianya yang sudah uzur, ia terpaksa menghidupi dirinya dan cucunya dengan<br />
 kerja serabutan. Kadang ia masih ikut menjadi kuli di sawah atau kerja apa<br />
 saja yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dirinya bersama cucunya. Husein<br />
 sendiri kerap kali membantu neneknya. Ibunya yang konon ikut suaminya ke<br />
 Jakarta tidak kunjung kabar beritanya. Jangankan mengirimkan uang untuk<br />
 mereka, mengirimkan kabar saja tidak pernah.                                             </p>
<p> Sampai akhirnya derita yang harus ditanggung Husein mencapai puncaknya<br />
 ketika minggu lalu sang nenek pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya.<br />
 Neneknya meninggal dunia setelah dua hari menderita sakit. Para tetangga<br />
 berusaha mencari alamat ibunya untuk mengabari perihal kematian neneknya<br />
 itu. Tetapi tak satu pun yang tahu dimana alamat ibu Husein berada.<br />
 Akhirnya jenazah sang nenek terpaksa dimakamkan tanpa kehadiran anak<br />
 perempuan satu-satunya itu.                                                              </p>
<p> Selepas neneknya meninggal, beberapa saudara jauh dari neneknya mencoba<br />
 merayu Husein agar mau tinggal di rumah mereka. Akan tetapi Husein tampaknya<br />
 tidak bisa<br />
 menerima kebaikan hati mereka. Mungkin ia merasa kurang mengenal mereka.<br />
 Maklumlah mereka memang saudara jauh yang jarang datang ke rumah neneknya.               </p>
<p> Akhirnya, satu hari setelah kematian neneknya, Husein nekad pergi<br />
 meninggalkan kampung halamannya. Dengan bekal seadanya, ia pergi ke Jakarta<br />
 untuk mencari ibunya. Ia sendiri tidak pernah membayangkan seperti apa<br />
 sesungguhnya kota Jakarta. Ia memang pernah melihatnya, tetapi hanya lewat<br />
 sinetron di televisi.                                                                    </p>
<p> Husein pergi ke Jakarta dengan menumpang beberapa kendaraan. Dari kampungnya<br />
 di sebuah desa di Jawa Barat, ia menumpang mobil bak terbuka yang kembali ke<br />
 kota Kabupaten setelah mengantarkan barang-barang dagangan seorang pemilik<br />
 toko.                                                                                    </p>
<p> Beruntung sang sopir mau mengantarkannya sampai ke terminal. Dari terminal<br />
 ia menumpang bus jurusan Jakarta dengan gratis karena kebaikan sang<br />
 kondektur yang kasihan melihat Husein. Apalagi, seminggu menjelang Idul<br />
 Fitri seperti ini, bus yang ditumpanginya justru kosong jika menuju Jakarta.             </p>
<p> Sampai di Kampung Rambutan, Husein langsung bertanya ke sana kemari<br />
 menanyakan orang-orang yang ditemuinya.<br />
 Ia mengira mencari orang di Jakarta sama mudahnya seperti mencari orang di<br />
 kampungnya. Ternyata, semua orang yang ditanyainya malah memarahi<br />
 kebodohannya yang mencari orang tuanya tanpa kejelasan alamat sedikit pun.               </p>
<p> Husein tidak mau menyerah. Ia merasa sudah terlanjur sampai di Jakarta.<br />
 Pantang baginya kembali ke kampung halamannya. Apalagi ia merasa sudah tidak<br />
 ada lagi saudaranya di kampung halamannya. Untuk apa kembali lagi? Sementara<br />
 di ibukota ini, ia masih memiliki peluang untuk menemukan ibunya, meskipun<br />
 ia tidak tahu sampai kapan cita-citanya itu bisa terwujud.                               </p>
<p> Untuk mengganjal perutnya, ia berusaha mengamen dari satu bus ke bus lainnya<br />
 tanpa menggunakan alat musik apa pun. Ia mengamen hanya bermodalkan suara<br />
 dan tepuk tangannya saja. Jika malam menjelang, ia mencari tempat tidur di<br />
 pinggir-pinggir toko atau terminal. Beruntung ia belum pernah dijahili oleh<br />
 para preman.<br />
 Dan pada hari kelima kedatangannya di Jakarta, Idul Fitri pun tiba.                      </p>
<p> Suara orang ramai keluar dari masjid menyadarkan lamunan Husein. Anak-anak<br />
 seusianya berlarian dengan baju baru. Sebagian lainnya bergandengan tangan<br />
 dengan ibu bapaknya. Tiba-tiba Husein kembali teringat ibu bapaknya. Wajah<br />
 neneknya juga berkelebat di benaknya. Tanpa disadari, setetes air hangat<br />
 terbit di sudut kelopak matanya. Ia benar-benar merindukan orang-orang yang<br />
 dicintainya itu.                                                                         </p>
<p> Ternyata, tanpa ia sadari, sepasang suami isteri yang mobilnya harus antri<br />
 keluar dari gerbang masjid, memperhatikan tingkah lakunya. Mereka trenyuh<br />
 menyaksikan seorang anak yang berwajah polos dengan penampilan kusut tampak<br />
 melamun menerawang denga air mata yang tak mampu ditahan. Mereka tidak bisa<br />
 membayangkan bagaimana jika nasib serupa menimpa anak-anak mereka, meskipun<br />
 sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai seorang anak.                               </p>
<p> Suasana gerbang masjid yang semrawut membuat mobil pasangan yang sudah tujuh<br />
 tahun belum dikaruniai anak ini tidak bisa bergerak. Entah apa yang<br />
 menggerakkan hati wanita itu, ketika tiba-tiba ia membuka pintu mobil.<br />
 Sejenak ia menatap wajah suaminya. Mata sang suami tampak memberi isyarat<br />
 kalau ia menyetujui tindakan isterinya.                                                  </p>
<p> Sang isteri bergegas menghampiri Husein yang hendak bersiap pergi<br />
 meninggalkan tempat itu. Sedikit gugup dan agak kesulitan untuk memulai<br />
 menyapa Husein, perempuan yang sudah lama merindukan hadirnya seorang anak<br />
 dalam rumah tangganya itu, akhirnya memberanikan diri menuruti naluri rasa<br />
 sayangnya menyapa Husein.                                                                </p>
<p> &#8220;Ibumu dimana?&#8221; tanya perempuan itu. Husein terkejut bukan kepalang. Ia<br />
 tidak mengira kalau perempuan itu ternyata menyapanya. Padahal, ia belum<br />
 sempat menyeka<br />
 air matanya.                                                                             </p>
<p> Husein tidak mampu menjawab pertanyaan lembut itu. Ia seolah menemukan<br />
 kelembutan seorang ibu yang begitu lama dirindukannya. Ia hanya mampu<br />
 menggeleng karena air matanya semakin deras mengucur di pipi.                            </p>
<p> &#8220;Dimana ibumu?&#8221; tanya wanita itu lagi.                                                   </p>
<p> Husein berusaha keras melawan perasaannya, tetapi ia tidak mampu.<br />
 Berkali-kali ia mencoba mengusap air matanya, tetapi air bening itu seolah<br />
 tumpah begitu saja, tak mampu dibendungnya.                                              </p>
<p> Perempuan itu tampaknya semakin penasaran sekaligus merasa kasihan kepada<br />
 Husein. Ia segera membungkuk, lalu duduk berjongkok agar bisa lebih dekat<br />
 lagi dengan anak malang itu. Diberanikan dirinya untuk menyentuh kepala<br />
 Husein. Lalu ia mengusapnya perlahan-lahan.                                              </p>
<p> &#8220;Siapa namamu?&#8221; tanya wanita itu sambil menatap wajah Husein. Wanita itu<br />
 melihat kepolosan di mata anak itu, juga duka yang begitu dalam. Tampaknya<br />
 ia bisa membaca kepedihan dan duka Husein.                                               </p>
<p> Mendapat perlakuan penuh kasih seperti itu, Husein semakin haru. Ia tidak<br />
 habis pikir. Betapa tidak, hampir satu minggu ia menjelajah ibukota mencari<br />
 ibunya, tetapi tak ada satu orang pun yang bersikap baik padanya, apalagi<br />
 menunjukkan perhatian yang begitu besar seperti wanita ini.                              </p>
<p> Sambil mengusap air matanya, ia mencoba memandang wanita itu. Wanita itu<br />
 masih memandangnya dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Aneh, tiba-tiba<br />
 perasaan haru yang besar merayap di hati Husein. Ia seolah merasakan kembali<br />
 tatapan dan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya. Tanpa<br />
 sadar, ia memeluk wanita itu, seolah memeluk ibunya sendiri yang begitu lama<br />
 tidak pernah mendekapnya. Air mata pun semakin deras mengalir dari pipinya<br />
 membasahi busana Muslimah wanita itu.                                                    </p>
<p> Wanita itu segera menyambutnya. Ia mengelus punggung anak malang itu. Tanpa<br />
 terasa, air matanya ikut menitik dan jatuh di pipinya. Ia bisa merasakan<br />
 kesedihan dan kerinduan seorang anak yang mendambakan kehangatan orang<br />
 tuanya. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan dipegangnya pundak Husein dengan<br />
 lembut.                                                                                  </p>
<p> &#8220;Kamu tinggal dimana?&#8221; tanya wanita itu penuh harap.<br />
 Matanya benar-benar menyelidik, berharap Husein segera menjawabnya.                      </p>
<p> , saya tidak punya rumah di sini. Saya mencari ibu. Katanya ibu ke<br />
 Jakarta,&#8221;jawab Husein.<br />
 &#8220;Dimana tinggalnya?&#8221; tanya wanita itu lagi.                                              </p>
<p> Husein menggeleng, tetapi kemudia ia berucap, &#8220;Sudah hampir setahun ibu<br />
 pergi. Saya tidak tahu kemana. Kata nenek, ibu dibawa bapak tiri saya ke<br />
 Jakarta. Jadi saya pergi ke Jakarta. &#8220;Dimana nenekmu?&#8221; tanya wanita itu.                 </p>
<p> &#8220;Nenek meninggal satu minggu yang lalu di kampung. Saya, saya tinggal<br />
 sendiri. Bapak sudah lama pergi. Bapak kawin lagi. Saya tidak tahu dimana,&#8221;<br />
 cerita Husein.                                                                           </p>
<p> Mendengar pengakuan polos Husein, wanita itu semakin terharu. Naluri<br />
 keibuannya yang lembut membuatnya tak mampu menahan tetesan air bening yang<br />
 perlahan merambat di pipinya. Suaminya yang sejak tadi menunggu di mobil<br />
 yang sudah menepi, akhirnya turun juga. Ia bisa melihat keharuan di mata<br />
 isterinya, didekatinya isterinya sambil berjongkok memandang Husein.                     </p>
<p> &#8220;Maukah kamu menganggap saya ibumu?&#8221; tanya wanita itu.<br />
 Husein tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandang sebentar<br />
 sepasang suami isteri yang menatapnya penuh haru dan kasih. Ia membayangkan,<br />
 betapa bahagianya jika dua orang di depannya itu adalah ayah dan ibunya, dua<br />
 orang yang begitu dirindukannya.                                                         </p>
<p> &#8220;Maukah engkau tinggal bersama kami? Anggaplah kami orang tuamu,&#8221; ujar<br />
 wanita itu dengan suara sedikit bergetar. Husein semakin terharu. Perlahan<br />
 ia tegakkan<br />
 kepalanya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk. Mata polosnya menatap<br />
 sepasang suami isteri di depannya dengan penuh tanya.                                    </p>
<p> &#8220;Ikutlah dengan kami,&#8221; tiba-tiba suami perempuan itu ikut bicara. Ia<br />
 memegang bahu Husein. Lagi-lagi Husein tidak mampu menahan harunya. Ia<br />
 rebahkan wajahnya di<br />
 bahu lelaki itu. Air matanya belum juga reda. Isteri lelaki itu kembali<br />
 mengusap kepala Husein.<br />
 Jangan takut, Nak. Meskipun orang tuamu belum engkau temukan, kami bersedia<br />
 menjadi pengganti mereka. Jadilah anak angkat kami,&#8221; bujuk isterinya lagi.               </p>
<p> Suami wanita itu mengangkat kepala Husein dan kembali memandangnya dengan<br />
 penuh rasa sayang. Sorot matanya menunjukkan betapa ia benar-benar ingin<br />
 mengajak Husein menjadi bagian dari keluarganya.                                         </p>
<p> &#8220;Ikutlah dengan kami. Jadilah anak angkat kami,&#8221; ucap lelaki itu sambil<br />
 memegang tangan kanan Husein. Isterinya pun segera berdiri dan memegang<br />
 tangan kiri Husein.<br />
 Tanpa bisa menolak lagi, Husein pun mengikuti kedua pasangan suami isteri<br />
 itu menuju mobil mereka. Begitu mobil dibuka, Husein berhenti sebentar. Ia<br />
 ragu-ragu.<br />
 &#8220;Tak apa. Masuklah! Anggaplah kami orang tuamu!&#8221; ujar si suami. Setelah<br />
 Husein masuk, mobil pun segera pergi diikuti tatapan jamaah lain yang tampak<br />
 keheranan.                                                                               </p>
<p> Sejak saat itu, Husein tinggal di rumah pasangan suami isteri tadi. Ia<br />
 dianggap anak oleh mereka. Tapi, Husein tetap tidak menyerah. Ia terus<br />
 berusaha menemukan kedua orang tuanya meskipun sampai hari ini, setelah satu<br />
 tahun kedatangannya di ibukota, usahanya tetap sia-sia.                                  </p>
<p> Husein hanyalah salah satu contoh dari anak-anak yatim yang masih beruntung<br />
 karena masih ada orang yang mau mengasihinya. Masih banyak anak-anak kita<br />
 yang berkeliaran di jalan-jalan tanpa seorang pun yang peduli apalagi<br />
 melindungi dan mengasihi mereka. Semoga di hari yang fitri nanti kita bisa<br />
 berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung, terutama anak-anak<br />
 yatim di sekitar kita.                                                                   </p>
<p> Amiin.                                                                                   </p>
<p> Hidayah, Intisari Islam)            </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2007/10/15/airmata-di-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
