<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>&#124;Elitha-Eri Weblog&#124; &#187; Nice Article</title>
	<atom:link href="http://www.elitha-eri.net/category/artikel-menarik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.elitha-eri.net</link>
	<description>Blog of Elitha and Eri</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 22:44:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Malaikat Kecil</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2010/02/23/malaikat-kecil/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2010/02/23/malaikat-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 07:03:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=6060</guid>
		<description><![CDATA[Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, &#8220;Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.&#8221; Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Lala tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (curd rice). Lala anak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6061" title="gundul" src="http://www.elitha-eri.net/download/2010/02/gundul.jpg" alt="" width="118" height="131" />Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, &#8220;Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.&#8221;</p>
<p>Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Lala tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (curd rice). Lala anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibuku dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect” (menurunkan panas dalam).</p>
<p>Aku mengambil mangkok dan berkata, &#8220;Lala sayang, demi Papa, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti Mamamu akan teriak2 sama Papa.&#8221;</p>
<p>Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Lala mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “Papa, aku akan makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan aku habiskan, tapi ada yang aku mau minta&#8230;.” agak ragu2 sejenak “aku mau minta sesuatu sama Papa bila habis semua nasinya. Apakah Papa mau berjanji memenuhi permintaanku?”</p>
<p>Aku menjawab “Oh pasti, sayang.”</p>
<p>Lala tanya sekali lagi, “Betul nih Papa ?”</p>
<p>“Iya, pasti,&#8221; sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.</p>
<p>Lala juga mendesak Mamanya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Lala yang merengek sambil berkata tanpa emosi, &#8220;Janji,&#8221; kata istriku.</p>
<p>Aku sedikit khawatir dan berkata, “Lala jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal ya, karena Papa saat ini tidak punya uang.”</p>
<p>Lala menjawab, &#8220;Jangan khawatir, Lala tidak minta barang2 mahal kok.&#8221;</p>
<p>Kemudian Lala dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Lala untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.</p>
<p>Setelah Lala melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.</p>
<p>Ternyata Lala mau kepalanya digundulin (dibotakin) pada hari Minggu!!!</p>
<p>Istriku spontan berkata, &#8220;Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!&#8221;</p>
<p>Juga Mamaku menggerutu, &#8220;Jangan terjadi dalam keluarga kita. Dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.&#8221;</p>
<p>Aku coba membujuk, &#8220;Lala kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak.&#8221;</p>
<p>Tapi Lala tetap dengan pilihannya, &#8220;Tidak ada Papa, tak ada keinginan lain.&#8221; kata Lala.</p>
<p>Aku coba memohon kepada Lala, &#8220;Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.&#8221;</p>
<p>Lala dengan menangis berkata, &#8220;Papa sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan Papa sudah berjanji untuk memenuhi permintaanku. Kenapa Papa sekarang mau mengingkari sendiri? Bukankah Papa selalu mengajarkan, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi?&#8221;</p>
<p>Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, &#8220;Ok. Janji kita harus ditepati.&#8221;</p>
<p>Secara serentak istri dan ibuku berkata, &#8220;Apakah aku sudah gila?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; jawabku, &#8216;Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lala, permintaanmu akan kami penuhi.&#8221;</p>
<p>Dengan kepala botak, wajah Lala nampak bundar dan matanya besar dan bagus.</p>
<p>Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Lala botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.</p>
<p>Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, &#8220;Lala, tunggu saya.&#8221;</p>
<p>Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki-laki itu botak juga.</p>
<p>Aku berpikir mungkin &#8216;botak&#8217; adalah model jaman sekarang&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata,</p>
<p>“Anak anda, Lala benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Alex adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia.”</p>
<p>Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “Bulan lalu Alex tidak masuk sekolah, karena pengobatan kemo-terapi, kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman-temannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, minggu lalu Lala datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Lala mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Alex. Bapak dan istri bapak sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”</p>
<p>Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2010/02/23/malaikat-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah cinta seorang ibu</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/12/26/hadiah-cinta-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/12/26/hadiah-cinta-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 13:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5850</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Bisa saya melihat bayi saya?&#8221; pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5851" title="ibu &amp; anak" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/12/ibu-anak.jpg" alt="" width="333" height="500" />&#8220;Bisa saya melihat bayi saya?&#8221; pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!</p>
<p>Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.</p>
<p>Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, &#8220;Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh.</p>
<p>&#8220;Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, &#8220;Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?&#8221; Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.</p>
<p>Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. &#8220;Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,&#8221; kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.</p>
<p>Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, &#8220;Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,&#8221; kata sang ayah.</p>
<p>Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, &#8220;Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.&#8221;</p>
<p>Ayahnya menjawab, &#8220;Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.&#8221; Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, &#8220;Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.&#8221;</p>
<p>Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah&#8230;. bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. &#8220;Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,&#8221; bisik sang ayah. &#8220;Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?&#8221;</p>
<p>Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/12/26/hadiah-cinta-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Bodoh vs Pintar&#8221; ala Om Bob Sadino</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/11/04/bodoh-vs-pintar-ala-om-bob-sadino/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/11/04/bodoh-vs-pintar-ala-om-bob-sadino/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 01:24:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5642</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna. Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini. Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat. 1. Terlalu Banyak Ide - Orang “pintar” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5643" title="bob sadino" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/11/bob-sadino.jpg" alt="bob sadino" width="145" height="200" />Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna.</p>
<p>Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini.</p>
<p>Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>1. Terlalu Banyak Ide </strong>- Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya</p>
<p><strong>2. Miskin Keberanian untuk memulai</strong> &#8211; Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.<span id="more-5642"></span></p>
<p><strong>3. Telalu Pandai Menganalisis</strong> &#8211; Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.</p>
<p><strong>4. Ingin Cepat Sukses </strong>- Orang “Pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.</p>
<p><strong>5. Tidak Berani Mimpi Besar </strong>- Orang “Pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.</p>
<p><strong>6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi</strong> &#8211; Orang “Pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “Bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.</p>
<p><strong>7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai </strong>- Orang “Pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.</p>
<p><strong>8. Maunya Dikerjakan Sendiri &#8211; Orang “Pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”</strong>, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.</p>
<p><strong>9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan</strong> &#8211; Orang “Pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.</p>
<p><strong>10. Tidak Fokus &#8211; Orang “Pintar” sering menganggap remeh kata Fokus</strong>. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.</p>
<p><strong>11. Tidak Peduli Konsumen </strong>- Orang “Pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.</p>
<p><strong>12. Abaikan Kualitas </strong>-Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.</p>
<p><strong>13. Tidak Tuntas</strong> &#8211; Orang “Pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.</p>
<p><strong>14. Tidak Tahu Pioritas </strong>- Orang “Pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “Bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas</p>
<p><strong>15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas </strong>- Banyak orang “Bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “Pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,</p>
<p><strong>16. Menacampuradukan Keuangan</strong> &#8211; Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.</p>
<p><strong>17. Mudah Menyerah</strong> &#8211; Orang “Pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “Bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.</p>
<p><strong>18. Melupakan Tuhan</strong> &#8211; Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.</p>
<p><strong>19. Melupakan Keluarga</strong> &#8211; Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga</p>
<p><strong>20. Berperilaku Buruk</strong> &#8211; Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diats kakinya sendiri.</p>
<p>Sumber ; Bob Sadino</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/11/04/bodoh-vs-pintar-ala-om-bob-sadino/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Skenario</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/11/04/empat-skenario/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/11/04/empat-skenario/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 00:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5635</guid>
		<description><![CDATA[Skenario 1 Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangka n kaki. Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita. &#8220;Pak, handphone bapak barusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/11/handphone.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-5636" title="handphone" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/11/handphone-279x300.jpg" alt="handphone" width="279" height="300" /></a>Skenario 1</strong></p>
<p>Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.</p>
<p>Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong<br />
tersebut.</p>
<p>Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk<br />
menggoyang-goyangka n kaki.</p>
<p>Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.</p>
<p>Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada<br />
kita.</p>
<p>&#8220;Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,&#8221;</p>
<p>kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?</p>
<p>Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.<span id="more-5635"></span></p>
<p><strong>Skenario 2</strong></p>
<p>Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.</p>
<p>Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.</p>
<p>Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya<br />
kepada kita.</p>
<p>Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari<br />
handphone kita hilang.</p>
<p>Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita<br />
sambil berkata,</p>
<p>&#8220;Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.&#8221;</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?</p>
<p>Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.</p>
<p>Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima<br />
kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung<br />
memberikan handphone itu kepada kita).</p>
<p>Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.</p>
<p><strong>Skenario 3</strong></p>
<p>Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.</p>
<p>Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita<br />
menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun<br />
dari kereta.</p>
<p>Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada<br />
orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya<br />
kepada kita.</p>
<p>Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya<br />
kepada kita) menjawab telepon kita.</p>
<p>&#8220;Halo, selamat siang, Pak.</p>
<p>Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,&#8221; kita mencoba bicara<br />
kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone<br />
itu kembali kepada kita.</p>
<p>Orang yang menemukan handphone kita berkata,</p>
<p>&#8220;Oh, ini handphone bapak ya.</p>
<p>Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.</p>
<p>Biar bapak ambil di sana nanti ya.&#8221;</p>
<p>Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun<br />
berikut dan menemui &#8220;orang baik&#8221; tersebut.</p>
<p>Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.</p>
<p>Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?</p>
<p>Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya<br />
akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?</p>
<p>Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang<br />
yang menemukan handphone kita tersebut.</p>
<p><strong>Skenario 4</strong></p>
<p>Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.</p>
<p>Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari<br />
kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba<br />
menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.</p>
<p>Sampai akhirnya kita tiba di rumah.</p>
<p>Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :</p>
<p>&#8220;Bapak / Ibu yang budiman.</p>
<p>Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.</p>
<p>Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan<br />
handphone itu kepada saya.</p>
<p>Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. &#8221;</p>
<p>SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.</p>
<p>Kita sudah putus asa.</p>
<p>Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam<br />
handphone kita.</p>
<p>Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.</p>
<p>Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita<br />
menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone<br />
tersebut.</p>
<p>Bagaimana kira-kira perasaan kita?</p>
<p>Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan<br />
oleh orang itu.</p>
<p>Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.</p>
<p>Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?</p>
<p>Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan<br />
mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih<br />
berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).</p>
<p><strong>Moral</strong></p>
<p>Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?</p>
<p>Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada<br />
orang yang menemukannya.</p>
<p>Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.</p>
<p>Kita berikan dia ucapan terima kasih.</p>
<p>Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita<br />
turun dari kereta.</p>
<p>Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.</p>
<p>Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari<br />
kereta.</p>
<p>Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.</p>
<p>Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu<br />
baru mengembalikannya kepada kita.</p>
<p>Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.</p>
<p>Ada sebuah hal yang aneh di sini.</p>
<p>Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling<br />
baik?</p>
<p>Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,<br />
bukan?</p>
<p>Dia adalah orang pada skenario pertama.</p>
<p>Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara<br />
empat orang di atas.</p>
<p>Manakah orang yang paling tidak baik?</p>
<p>Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu<br />
beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama<br />
itu.</p>
<p>Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.</p>
<p>Apa yang sebenarnya terjadi di sini?</p>
<p>Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi<br />
orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita<br />
berikan lebih sedikit.</p>
<p>OK, kenapa bisa begitu?</p>
<p>Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap<br />
skenario.</p>
<p>Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar<br />
handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.</p>
<p>Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu<br />
kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan<br />
kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.</p>
<p>Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama<br />
kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita<br />
kembali.</p>
<p>Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.</p>
<p>Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang<br />
menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.</p>
<p>Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone<br />
yang kita miliki.</p>
<p>Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?</p>
<p>Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,<br />
kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.</p>
<p>Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman<br />
kita.</p>
<p>Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.</p>
<p>Saat itulah, kita baru dapat  mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang<br />
tersebut.</p>
<p>Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?</p>
<p>Sebaiknya tidak.</p>
<p>Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih<br />
ada.</p>
<p>Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap<br />
dari diri kita.</p>
<p>Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.</p>
<p>Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.</p>
<p>Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.</p>
<p>Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.</p>
<p>Sumber: Internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/11/04/empat-skenario/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku Ayah&#8230;</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/09/15/maafkan-aku-ayah/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/09/15/maafkan-aku-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 06:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=5528</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami isteri &#8211; seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/09/anak-kecil.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-5529" title="anak kecil" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/09/anak-kecil-300x300.jpg" alt="anak kecil" width="300" height="300" /></a>Sepasang suami isteri &#8211; seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja.<br />
Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.</p>
<p>Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya&#8230; karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.</p>
<p>Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya.</p>
<p>Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.<span id="more-5528"></span></p>
<p>Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, &#8220;Kerjaan siapa ini !!!&#8221; &#8230;. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar.. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan &#8216; Saya tidak tahu..tuan.&#8221;<br />
&#8220;Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?&#8221; hardik si isteri lagi.</p>
<p>Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata &#8220;DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik &#8230; kan !&#8221; katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa..<br />
Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.</p>
<p>Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa&#8230; Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.</p>
<p>Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air.. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu..</p>
<p>Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.</p>
<p>Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya.<br />
&#8220;Oleskan obat saja!&#8221; jawab bapak si anak.</p>
<p>Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. &#8220;Dita demam, Bu&#8221;&#8230;jawab pembantunya ringkas. &#8220;Kasih minum panadol aja ,&#8221; jawab si ibu.</p>
<p>Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.</p>
<p>Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. &#8220;Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap&#8221; kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. &#8220;Tidak ada pilihan..&#8221; kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut&#8230;&#8221;Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah&#8221; kata dokter itu.</p>
<p>Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.</p>
<p>Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. &#8220;Ayah.. ibu&#8230; Dita tidak akan melakukannya lagi&#8230;. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi&#8230; Dita sayang ayah.. sayang ibu.&#8221;, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. &#8220;Dita juga sayang Mbok Narti..&#8221; katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.</p>
<p>&#8220;Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi!<br />
Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?&#8230; Bagaimana Dita mau bermain nanti?&#8230;. Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, &#8221; katanya berulang-ulang.<br />
Serasa hancur hati si ibumendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.</p>
<p>Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf&#8230;</p>
<p>Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi&#8230;, Namun&#8230;., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.</p>
<p><strong>Hikmahnya:</strong></p>
<blockquote><p>Pertama, KEMARAHAN adalah karena NAFSU dan ajakan SYAITHAN,PENYESALAN yang akan didapat kalau kita menurutinya.<br />
Maka janganlah sekali-kali mengambil keputusan dalam keadaan MARAH.</p>
<p>Dan biasakan kita untuk MEMAAFKAN orang lain&#8230;Hal ini dalam apapun, termasuk dalam hubungan suami istri, pemerintahan, politik dan sebagainya.</p>
<p>Yang kedua, janganlah terlalu MENCINTAI HARTA secara berlebihan, hal ini akan MEMBUTAKAN HATIi&#8230;<br />
&#8220;JADIKANLAH HARTA ITU DI DALAM GENGGAMAN TANGANMU, BUKAN DI DALAM HATIMU&#8221;..</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/09/15/maafkan-aku-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yaa Permennya lupa dimakan</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/05/13/yaa-permennya-lupa-dimakan/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/05/13/yaa-permennya-lupa-dimakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 03:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4964</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/05/permen-lolipop.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-4965" title="permen-lolipop" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/05/permen-lolipop.jpg" alt="permen-lolipop" width="205" height="219" /></a> Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.</p>
<p>Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.</p>
<p>Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil.<br />
Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.<span id="more-4964"></span></p>
<p>Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan &#8220;Selamat Jalan&#8221;. Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, &#8220;Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk?<br />
Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.&#8221;</p>
<p>Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, &#8220;Permennya saya lupa makan!&#8221;</p>
<p>Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.<br />
&#8220;Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu memanggil saya?&#8221; tanya Bob.</p>
<p>&#8220;Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!&#8221; Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. &#8220;Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama.&#8221; Bib menambahkan.</p>
<p>Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.</p>
<p>Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, &#8220;Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.&#8221; Ia pun berkata dalam hati, &#8220;Waktu tidak bisa diputar kembali.&#8221; Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.</p>
<p>Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.<br />
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.</p>
<p>Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, &#8220;Saya akan bahagia nanti&#8230; nanti pada waktu saya sudah menikah&#8230;<br />
nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri&#8230; nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya&#8230; nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya&#8230; nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar&#8230; &#8221;</p>
<p>Pemikiran &#8216;nanti&#8217; itu membuat kita bekerja sangat keras di saat &#8216;sekarang&#8217;.<br />
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa &#8216;nanti&#8217; bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa &#8216;nanti&#8217;<br />
bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa &#8216;nanti&#8217; bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat&#8230;<br />
target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu&#8230; tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.</p>
<p>Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.</p>
<p>Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.</p>
<p>Author: Unknown</p>
<p>&#8220;when life gives you 100 reasons to cry  show life that you have 1000 reasons to smile..<br />
Face your past without regret..<br />
Handle your present with confidence..<br />
Prepare for future without fear&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/05/13/yaa-permennya-lupa-dimakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikan Hiu</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/03/23/ikan-hiu/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/03/23/ikan-hiu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 04:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4624</guid>
		<description><![CDATA[Orang Jepang sangat menyukai ikan segar. Akan tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan Jepang. Untuk menambah ikan hasil tangkapan, mereka berlayar Iebih jauh dengan kapal Iebih besar. Semakin jauh nelayan pergi semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke daratan. Sampai di daratan ikan hasil tangkapan sudah tidak segar lagi dan orang Jepang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/ikan-hiu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4625" title="ikan-hiu" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/ikan-hiu-300x266.jpg" alt="ikan-hiu" width="300" height="266" /></a>Orang Jepang sangat menyukai ikan segar. Akan tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan Jepang. Untuk menambah ikan hasil tangkapan, mereka berlayar Iebih jauh dengan kapal Iebih besar.<br />
Semakin jauh nelayan pergi semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke daratan. Sampai di daratan ikan hasil tangkapan sudah tidak segar lagi dan orang Jepang tidak menyukai rasanya.<br />
Untuk mengatasi hal in perusahaan perikanan Jepang memasang frezer dikapal mereka. Dengan frezer, ikan hasil tangkapan Iangsung dibekukan. Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan antara ikan segar dan ikan yang sudah dibekukan, dan mereka tidak menyukai ikan beku.<br />
Perusahaan perikanan Jepang membuat terobosan, mereka memasang tangki-tangki penyimpan ikan. Begitu ikan ditangkap, mereka Iangsung memasukkannya ke dalam tangki penyimpanan. Yang terjadi adalah tangki tidak mencukupi untuk <span id="more-4624"></span>menampung ikan, sehingga ikan tangkapan berdempetan, dan saling bertabrakan, sebagian ikan mati dan sebagian lainnya tetap hidup meskipun dalam kondisi kelelahan &amp; lemas. Orang Jepang masih dapat merasakan perbedaan antara ikan segar dan ikan yang disimpan di dalam tangki. Ikan yang disimpan didalam tangki kehilangan rasa segarnya, Orang Jepang tidak menyukai rasanya, Orang Jepang menghendaki ikan yang benar-benar segar.</p>
<p>Jika Anda menjadi Konsultan bagi industri perikanan, apa yang akan Anda rekomendasikan agar ikan tetap segar?</p>
<p>Untuk menjaga ikan tetap segar, ikan tetap disimpan di dalam tangki. Kemudian memasukkan seekor ikan Hiu kecil kedalam tangki Memang ikan Hiu akan memakan sedikit ikan segar, tetapi ikan-ikan menjadi tertantang untuk tetap berlari dan bergerak menghindar dari ancaman Hiu kecil. Ikan akan tetap segar sampai mereka kembali ke daratan.</p>
<p><strong><em>RENUNGAN:</em></strong><br />
Orang akan berkembang, hanya dalam kondisi Iingkungan yang menantang (L. R. Hubbard). Jangan menghindari tantangan, melompatlah kedalamnya dan taklukkanlah. Nikmatilah permainannya. Jangan pernah menyerah.<br />
Masukkanlah seekor ikan hiu di tangki Anda dan lihat seberapa jauh Anda dapat melakukan sesuatu dan mencapainya. Ciptakan kesuksesan dengan sumber daya, keahlian dan kemampuan yang Anda miliki untuk membuat perubahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/03/23/ikan-hiu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan tentang Kesuksesan</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/03/17/renungan-tentang-kesuksesan/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/03/17/renungan-tentang-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 02:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4545</guid>
		<description><![CDATA[Sukses itu sederhana, sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya, sukses itu tidak serumit / serahasia. seperti kata Kiyosaki atau tokoh terkenal lainnya, sukses itu tidak perlu dikejar, SUKSES adalah DIRI PRIBADI ! karena kesuksesan terbesar ada pada diri pribadi&#8230; Bagaimana kita tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1 ovum, itu adalah kesuksesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/success.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4546" title="success" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/success-300x247.jpg" alt="success" width="300" height="247" /></a>Sukses itu sederhana,<br />
sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya,<br />
sukses itu tidak serumit / serahasia. seperti kata Kiyosaki atau tokoh terkenal lainnya,<br />
sukses itu tidak perlu dikejar,<br />
SUKSES adalah DIRI PRIBADI !<br />
karena kesuksesan terbesar ada pada diri pribadi&#8230;</p>
<p>Bagaimana kita tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1 ovum,<br />
itu adalah kesuksesan pertama !</p>
<p>Bagaimana kita bisa lahir dengan memiki kelengkapan anggota tubuh,<br />
itulah kesuksesan kedua&#8230;</p>
<p>Ketika kita mampu ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1, sementara disisi lain pada setiap menitnya ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP,<span id="more-4545"></span><br />
itulah kesuksesan  ketiga&#8230;</p>
<p>Ketika kita bisa bekerja di sebuah institusi, sementara ada 46 juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan keempat&#8230;</p>
<p>Ketika kita masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada 3 juta orang mati kelaparan setiap bulannya, itulah kesuksesan yang kelima&#8230;</p>
<p>Sukses terjadi setiap hari,<br />
Namun seringkali tidak disadari&#8230;. ..</p>
<p>Pernah menonton film Click! yg dibintangi Adam Sandler ?,<br />
&#8220;Family comes first&#8221;, begitu kata2 terakhir sang tokoh kepada anaknya sebelum<br />
dia meninggal&#8230;<br />
Saking sibuknya sang tokoh mengejar kesuksesan, ia bahkan tidak sempat meluangkan waktu untuk anak &amp; istrinya&#8230;.<br />
Ia tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri,<br />
keluarga nya pun berantakan,<br />
istrinya yang cantik menceraikannya,<br />
anaknya jadi ngga kenal siapa ayahnya&#8230;</p>
<p>Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris<br />
dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit dan sukar didapatkan.. ..<br />
Sukses tidak melulu soal harta&#8230;</p>
<p>Sukses adalah bagaimana mampu menghargai diri sendiri sebagaimana menghargai orang lain Sukses adalah mencintai &amp; bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang disukai kapan saja dan di mana saja dengan cara yang benar dan dapat diterima oleh lingkungan &#8230;<br />
Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan,<br />
sukses adalah mampu menikmati &amp; bersyukur atas setiap detik<br />
kehidupan, entah masa gembira ataupun masa-masa lainnya dan setelah itu<br />
bersiap lagi menghadapi episode baru kehidupan lebih lanjut &#8230; Sukses sejati adalah hidup benar di jalanNYA tanpa merendahkan ciptaanNYA yang lain</p>
<p>Pernahkah menyadari?<br />
Kita sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang<br />
Uang hanyalah alat tukar,<br />
Yang kita beli sebenarnya adalah WAKTU kita &#8230;.<br />
Contoh mungkin kita harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15<br />
tahun atau beli mobil selama 3 tahun.<br />
Kita hanya membarter waktu ! untuk mendapatkan uang &#8230;..</p>
<p>Aset terbesar kita bukanlah harta tapi diri sendiri&#8230;,<br />
Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dibanding yang kurang..<br />
Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bisa dibayar 200 juta<br />
Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods &amp; Michael Jordan sebesar 200 juta dollar, hanya untuk memakai produknya.<br />
Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya,<br />
tapi karena produk tsb dipakai oleh siapa&#8230;<br />
Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan,<br />
bisa terjual 80 juta dollar,<br />
sedangkan bola basket bekas dengan merk sama,<br />
bila kita jual harganya justru malah turun&#8230;</p>
<p>Hidup ini seperti mengejar fatamorgana,<br />
Semakin dikejar..semakin menyisakan sedikit waktu untuk kita bisa berbagi dengan orang-orang tercinta disekitar kita.<br />
Bisakah kita menjawab suatu pertanyaan : kapan akan dipanggil menghadapNya ?<br />
Kalau tidak bisa dan tidak tahu jawabnya&#8230;. .., maka sudah masanya meluangkan waktu untuk sungkem dan memanjakan orangtua yg begitu mencintai kita,<br />
untuk memeluk hangat pasangan kita,<br />
untuk mengatakan &#8220;I love you&#8221; kepada org2 yang kita cintai:<br />
Lakukanlah selagi punya waktu,<br />
selagi masih sempat&#8230;.,<br />
Enjoy Ur Life,<br />
LIFE is so SHORT&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/03/17/renungan-tentang-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senyumlah</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/03/10/senyumlah/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/03/10/senyumlah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 02:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4491</guid>
		<description><![CDATA[Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup. Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/smile.png"><img class="alignleft size-full wp-image-4492" title="smile" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/smile.png" alt="smile" width="180" height="180" /></a>Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.</p>
<p>Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.</p>
<p>Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama &#8220;Smiling..&#8221; Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.<span id="more-4491"></span></p>
<p>Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald&#8217;s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.</p>
<p>Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.</p>
<p>Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu &#8220;bau badan kotor&#8221; yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.</p>
<p>Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang &#8220;tersenyum&#8221; ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima &#8216;kehadirannya&#8217; di tempat itu.</p>
<p>Ia menyapa &#8220;Good day!&#8221; sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya &#8216;tugas&#8217; yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.</p>
<p>Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah &#8220;penolong&#8221;nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.</p>
<p>Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan &#8220;Kopi saja, satu cangkir Nona.&#8221; Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.</p>
<p>Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka&#8230;</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua &#8216;tindakan&#8217; saya.</p>
<p>Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.</p>
<p>Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap &#8220;makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.&#8221;</p>
<p>Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata &#8220;Terima kasih banyak, nyonya.&#8221;</p>
<p>Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata &#8220;Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.&#8221;</p>
<p>Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.</p>
<p>Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata &#8220;Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan &#8216;keteduhan&#8217; bagi diriku dan anak2ku!&#8221;</p>
<p>Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena &#8216;bisikanNYA&#8217; lah kami telah mampu memanfaatkan &#8216;kesempatan&#8217; untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.</p>
<p>Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin &#8216;berjabat tangan&#8217; dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap &#8220;Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.&#8221;</p>
<p>Saya hanya bisa berucap &#8220;terimakasih&#8221; sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada &#8216;magnit&#8217; yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 &#8216;tindakan&#8217; yang tidak pernah terpikir oleh saya.</p>
<p>Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa &#8216;kasih sayang&#8217; Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!</p>
<p>Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan &#8216;cerita&#8217; ini di tangan saya. Saya menyerahkan &#8216;paper&#8217; saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, &#8220;Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?&#8221; dengan senang hati saya mengiyakan.</p>
<p>Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya.. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.</p>
<p>Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya. &#8220;Tersenyumlah dengan &#8216;HATImu&#8217;, dan kau akan mengetahui betapa &#8216;dahsyat&#8217; dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.&#8221;</p>
<p>Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah &#8216;menggunakan&#8217; diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald&#8217;s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: &#8220;PENERIMAAN TANPA SYARAT.&#8221;</p>
<p>Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!</p>
<p>Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada &#8216;malaikat&#8217; yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.</p>
<p>Sumber: Internet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/03/10/senyumlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keberuntungan</title>
		<link>http://www.elitha-eri.net/2009/03/05/keberuntungan/</link>
		<comments>http://www.elitha-eri.net/2009/03/05/keberuntungan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 03:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nice Article]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.elitha-eri.net/?p=4483</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/lucky-money.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4484" title="lucky-money" src="http://www.elitha-eri.net/download/2009/03/lucky-money-300x176.jpg" alt="lucky-money" width="300" height="176" /></a>Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.<br />
Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan <span id="more-4483"></span>orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.<br />
Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?<br />
Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi &#8220;berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini&#8221;. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: &#8220;berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!&#8221; Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.</p>
<p>Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya &#8220;scientific&#8221; ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:<br />
<strong>1. Sikap terhadap peluang.</strong><br />
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?<br />
Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.<br />
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: &#8220;Mr. Buffet!&#8221; Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.<br />
<strong>2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.</strong><br />
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan &#8220;hati nurani&#8221; (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari &#8220;gut feeling&#8221;. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.<br />
Banyak teman saya yang bertanya, &#8220;mendengarkan intuisi&#8221; itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.<br />
Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.<br />
Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:<br />
- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. &#8220;Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali&#8221;, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.<br />
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.<br />
<strong>3. Selalu berharap kebaikan akan datang.</strong><br />
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.<br />
<strong>4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.</strong><br />
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: &#8220;wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu&#8221;. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: &#8220;untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit&#8221;. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus.<br />
Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.<br />
<strong>Sekolah Keberuntungan.</strong><br />
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School .<br />
Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat &#8220;Luck Diary&#8221;, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.<br />
Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.<br />
Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip &#8220;law of attraction&#8221;, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.<br />
Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk termans semua.<br />
Siap mulai menjadi si Untung?<br />
Kesempatan kali ini bisa jadi adalah salah satu keberuntungan anda di hari ini…, silahkan klick link ini untuk detil keberuntungan anda hari ini : &#8220;Keberuntungan Saya Hari Ini&#8221;<br />
Semoga Hari anda selalu syarat dengan keberuntungan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.elitha-eri.net/2009/03/05/keberuntungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
