Seekor gorila dewasa berjalan mencari makanan. Gorila menjadi maskot dari Pusat Primata Schmutzer di Kebun Binatang Ragunan, Jakata.

ANTARA/str-RIZKI NASUTION

Para pengunjung memberi makan seekor zarafah pada saat rekreasi di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta.

Bila menyebut Ragunan kita pasti langsung teringat dengan lokasi Taman Margasatwa Ragunan (TMR), di JL RM Harsono No 1, Ragunan, Jakarta Selatan. Kapan terakhir kali Anda ke sana ? Jangan-jangan malah belum pernah sama sekali. Sayang kalau begitu. Sebab ada banyak hal menarik yang dapat Anda lihat dan pelajari di kebun binatang tersebut.

T erpaan udara sejuk dan bunyi riuh suara hewan langsung menyambut kedatangan pengunjung di pintu gerbang utama. Suara riuh kendaraan langsung lenyap ditelan rindangnya pohon dan riuhnya suara burung. Padahal, gerbang itu hanya 20 meter dari halte TransJakarta jurusan Dukuh Atas-Ragunan yang ramai.

Dengan membeli tiket seharga Rp 4.000 ditambah asuransi Rp 400, pengunjung dapat berkeliling lokasi sampai lelah.

Menurut Ahmad (40) seorang petugas di pintu masuk Selasa (8/4), suasana akan berbeda di akhir pekan atau hari libur lainnya. Menurut H Mardjuki Sainin, Kepala Sub Bagian Promosi dan Pameran dari Taman Marga Satwa pemda DKI Jakarta di hari-hari tersebut pengunjung bisa meningkat hingga 500 persen. Tercatat sepanjang tahun 2007 pengunjung TMR mencapai 3,5 juta orang.

Pengunjung akan mendapatkan peta yang menunjukkan 53 lokasi wisata. TMR memiliki luas 140 hektare dengan penghuni 295 spesies dan 4.040 spesimen. Coba Anda bandingkan dengan Singapore Zoo di Singapura yang hanya seluas 28 hektare dan cuma punya 216 spesies atau Zoo Negara di Kuala Lumpur Malaysia yang seluas 110 hektare dengan 459 spesies mamalia, burung, reptil, amfibi, dan ikan.

Di TMR juga terdapat kereta yang bisa membawa keliling pengunjung dengan harga karcis Rp 3.000 per orang untuk sekali putar arena. Sayang, tidak banyak yang bisa dilihat dari atas kereta. Hanya sepintas terlihat macan, orang utan, gorila, dan gajah. Padahal, Ragunan juga adalah tempat penangkaran lebih dari 260 jenis satwa, termasuk satwa langka dan terancam punah baik dari Indonesia maupun dari belahan dunia lain. Ada singa, macan putih, macan tutul, jerapah, buaya, kuda nil, komodo, beruang madu, banteng, unta, zebra, kangguru, hingga babirusa. Selain itu, TMR juga adalah daerah resapan air dengan enam danau besar serta hutan wisata. Namun areal ini tidak dilalui oleh kereta tersebut.

Beberapa atraksi hewan-hewan sayangnya hanya dapat dinikmati di hari Minggu atau hari libur. Seperti kuda tunggang, gajah tunggang, onta tunggang, serta kegiatan memberi makan harimau, gajah, komodo, kuda nil. Padahal pada hari-hari itu, suasana seperti di alam liar pasti kalah dengan keramaian yang ada.

Sepasang harimau sumatera.

Pusat Primata

Di dalam TMR terdapat Pusat Primata Schmutzer yang terletak di tengah-tengah areal. Ini merupakan pusat primata terbesar di Asia Tenggara dan termasuk salah satu pusat primata terbesar di dunia. Pusat Primata Schmutzer merupakan salah satu habitat buatan untuk beberapa binatang primata seperti gorilla, simpanse, orang utan dan beberapa jenis primata lainnya.

Sedikit berbeda dengan area di dalam TMR, Pusat Primata Schmutzer memiliki bioskop dengan kapasitas 83 kursi yang menyimpan lebih dari 50 judul film tentang primata, perpustakaan dengan lebih dari 500 judul buku tentang primata, gua edukasi anak, arena pendidikan edukasi serta tempat rekreasi alami lengkap dengan rumah pohon. Lokasi ini juga lebih ketat dari area TMR lainnya. Tidak boleh membawa makanan atau minuman di dalam areal dan dilarang memberi makanan kepada binatang.

Yang menjadi atraksi utama dalam Schmutzer adalah keberadaan jembatan observasi yang dibangun melintang di atas area kawasan peruntukan gorila. Jembatan ini berfungsi sebagai alur utama perjalanan pengunjung selepas melewati area masuk utama yang terlindungi atap kanopi. Dari atas jembatan Anda dapat mengamati gorilla sewaktu bermain atau beraktivitas. Selain jembatan tersebut, hal lain yang menarik adalah fasilitas berupa gua atau terowongan buatan yang panjangnya 250 meter di mana kita bisa masuk dan bertualang di dalamnya.

Secara keseluruhan sebagai sarana rekresasi keluarga, TMR sangat ideal. Hanya saja, kurangnya fasilitas umum yang memberikan kenyamanan yang membuat pamor TMR turun. Misalnya saat berjalan-jalan dengan keluarga tiba-tiba turun hujan, tidak ada tempat atau ruangan untuk berlindung. Kandang-kandang hewan juga sangat memprihatinkan, terkesan kotor dan kurang terawat (kecuali di Pusat Primata Schmutzer). Jeruji-jeruji besi misalnya, sudah keropos dan sangat terbuka sehingga pengunjung dapat menyodorkan atau melemparkan makanan pada satwa-satwa itu.

Masih ada langkah-langkah lain. Yang pasti TMR harus memiliki tenaga SDM yang andal, mempunyai keuletan untuk menjual TMR, mempromosikan KBR, dan mempunyai kreativitas untuk melebarkan sayap TMR. Jika ini terlaksana bukan tidak mungkin TMR akan menjadi salah satu primadona pariwisata karena Indonesia merupakan salah satu negara terkaya faunanya di seluruh dunia. [SP/Stevy Widia]