Ibnu Sina atau Avicenna

By: enj

Nama aslinya adalah Abu Ali al-husain bin Abdullah bin hasan bin Ali bin Sina, di barat dikenal dengan nama Avicenna. Beliau dikenal sebagai ahli filosofi dan pengobatan, namun sebagian besar muslim hanya mengenalnya sebagai seorang ahli pengobatan.

Pemahamannya dalam bidang pengobatan sangat luas pengaruhnya hingga ke abad 17 di Eropa. Bahkan kaum barat mensejajarkan kemampuannya dengan Aritoteles dan memberinya gelar ‘Prince of Physician” atau Pangerannya para Dokter.. Sedangkan pengetahuannya di bidang filosofi lebih banyak dirasakan pengaruhnya di Iran hingga saat ini.

Ibnu sina dilahirkan tahun 980 di sebuah desa kecil bernama Afshanah dekat Bukhara. Bukhara adalah juga kota kelahiran perawi hadits Imam Bukhari (tahun 810). Kota ini sekarang dikenal dengan nama Uzbekistan. Bukhara, pada saat itu adalah salah satu pusat pengajaran Islam. Kota ini berada di bawah kekuasaan Dinasty Samaniyah Persia (Iran). Ibnu Sina pindah ke kota ini pada saat ia masih remaja belia. Ayahnya adalah seorang penganut mazhab Ismaili (mazhab terbesar kedua dalam Syi’ah).

Kecerdasan Ibnu sina sudah nampak saat ia masih kecil. pada umur 10 tahun ia sudah hafal al-qur’an, pada umur 14 tahun ia memiliki ilmu lebih luas daripada gurunya, dan pada umur 18 tahun ia sudah memahami bidang-bidang science termasuk bidang pengobatan yang membuatnya terkenal.

Kemampuannya dibidang pengobatan tidak diragukan, bahkan seorang pangeran Samaniyah pernah pula menjadi pasiennya. atas jasanya ini, pihak kekaisaran memberikan izin bagi ibnu sina untuk masuk perpustakaan kerajaan. Kesempatan ini tidak disia-siakannya. seperti memiliki otak komputer, ibnu sina mampu menelan semua pustaka dalam perpustakaan tersebut hanya dalam waktu 18 bulan.

Salah satu buku yang paling berkesan bagi beliau adalah karya Aristoteles; Metaphysics. Ibnu sina sangat penasaran dengan buku ini. ia bahkan membacanya hingga 40 kali tapi ia belum bisa memahaminya hingga ia mendapatkan pencerahan dari al-farabi.

Pada tahun 999, dinasty samaniyah ditaklukkan oleh dinasti Ghaznawids dari turki. dinasti baru ini kurang memberikan porsi pada keilmuan sehingga ibnu sina harus berpindah-pindah tempat tinggal. Dalam kehidupan seperti ini ia menjalani hidup dari hasil kemampuannya mengobati orang lain dan saat malam ia menuliskan karya-karyanya. Kota terakhir sebagai persinggahan beliau selama 14 tahun adalah Hamadan sebuah kota di bagian barat Iran. Beliau meninggal tahun 1037 pada umur 57 tahun.

Selama hidupnya Ibnu sina menghasil 270 buku, dimana 200 dari buku-buku ini masih ada sampai sekarang. 3 karya beliau yang sangat termashur adalah 2 dibidang filosofi yaitu al-shifa (healing/pengobatan) dan al-isharat wal tanbihat (directives and remarks), dan 1 dibidang pengobatan yaitu Qanun (canon). terjemahan buku al-shifa saat ini masih ada dipasaran dengan judul The propositional logic (1973) dengan harga 145 pounds atau sekitar 2.1 juta per buku.

Share!

2 Comments

  • nur aisyah:

    thanxx sbb bagi banyak informasi ttg ibnu sina kat blog ini!

    thanxx sgt2..

    😆 :mrgreen:

  • syahid:

    Thanks, ada satu pertanyaan, ibnu sina pun seorang syi’ah yah???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

User Online

Back to Top
Get Adobe Flash player