Ingin Tulang Kuat? Jangan Hindari Sinar Matahari

By: enj

KIRANYA tidak ada orang yang mau mengalami keropos tulang (osteoporosis). Memiliki tulang sehat dan kuat adalah suatu keinginan manusia. Di kawasan tropis yang berlimpah sinar matahari sepanjang tahun akan terjamin kecukupan paparan sinar ultraviolet beta matahari pada kulit. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini manusia cenderung menghindari sinar matahari karena tidak suka panas dan takut warna kulit menjadi lebih gelap.

Tabir surya pun dipakai untuk melindungi kulit dari terik matahari dan paparan sinar ultraviolet beta. Tidak hanya itu, kini banyak pekerja (pria dan wanita) yang bekerja di gedung-gedung bertingkat yang tertutup dilengkapi mesin pendingin udara serta kaca berlapis antipanas menyebabkan terhambatnya paparan sinar ultraviolet beta sinar matahari sepanjang hari. Tanpa disadari, gaya hidup semacam ini ternyata berisiko terkena osteopenia (penurunan kepadatan tulang) yang bila tidak dijaga akan menjadi osteoporosis.

Sebenarnya ada hal-hal di sekitar kita yang mudah dilakukan dan tidak memerlukan biaya untuk merealisasikan keinginan memiliki tulang kuat dan sehat. Misalnya, aktivitas fisik semacam mencuci pakaian yang diikuti dengan menjemur pakaian, membersihkan rumah dan pekarangannya, atau berada di luar rumah untuk terkena sinar matahari.

Tetapi, ada pula orang yang berolahraga di lapangan dengan memakai tabir surya, atau membungkus tubuhnya agar terhindar dari sinar matahari. Aktivitas fisik semacam ini tidak membawa dampak untuk mencegah keropos tulang. Apalagi bila seseorang mengaitkan sinar matahari dengan kejadian kanker kulit.

Namun, paparan sinar matahari di pagi hari (pukul 07.30 – 09.00) atau pada sore hari menjelang matahari tenggelam ( pukul 16.30 – 17.30) adalah saat paparan terbaik untuk sintesis hormon vitamin D dari kulit terutama untuk kulit orang tua. Boleh dikatakan pada saat inilah sinar matahari tidak merusak kulit.

Peran sinar matahari (dalam hal ini sinar ultraviolet beta) untuk pembentukan tulang telah diteliti oleh Prof Dr dr Ichramsjah A Rachman SpOG-KFER dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI). Penelitiannya yang berjudul “Paparan Sinar Ultraviolet Beta Terhadap Remodeling Tulang: Studi Eksperimen Pada Macaca fascicularis Yang Hipoestrogenik” pada tahun 1999 antara lain menyimpulkan bahwa paparan lampu fluoresens sinar ultraviolet beta selama enam bulan mempertahankan keseimbangan proses pembentukan tulang (kadar kalsitriol dan osteokalsin naik tetapi dalam batas normal) baik pada kadar estrogen normal, mulai rendah dan mulai sangat rendah. Serta, paparan lampu fluoresens sinar ultraviolet beta tidak mempengaruhi kadar kalsium baik pada kadar estrogen normal, estrogen mulai rendah dan estrogen mulai sangat rendah disebabkan ada mekanisme tubuh yang menormalkan kadar kalsium.

Penelitian dilakukan pada 120 monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) betina dengan umur 5-8 tahun yang dibagi atas tiga kelompok, yaitu kelompok estrogen normal (E0), kelompok estrogen mulai rendah (E1) dan kelompok estrogen mulai sangat rendah (E2). Kelompok E0 dan E1 dioperasi (laparatomi buka tutup) dan kelompok E2 dilakukan pengangkatan kedua ovarium. Setiap kelompok dibagi dua yang kemudian diberi perlakuan paparan sinar neon biasa selama 6 bulan dan paparan sinar ultraviolet beta selama empat jam sehari selama 6 bulan.

Empat Musim

Adapun yang melatarbelakangi penelitian itu adalah bahwa di kota-kota yang memiliki empat musim seperti Boston di Amerika Serikat, Edmonton di Kanada, paparan sinar ultraviolet beta matahari terbatas selama empat sampai enam bulan setahun. Sisanya, para wanita di kota-kota itu selama enam sampai delapan bulan kekurangan sinar ultraviolet beta matahari ke kulit sehingga pada usia pramenopause sudah bermasalah dengan osteopenia yang akan menjadi osteoporosis.

Karena keterbatasan paparan sinar matahari itulah maka Ichramsjah meneliti pengaruh paparan lampu fluoresens sinar ultraviolet beta terhadap proses pembentukan tulang tulang pada Macaca fascicularis yang hipoestrogenik sebagai pencegahan terjadinya keropos tulang dini.

Khusus pada wanita, secara fisiologi terjadi penurunan fungsi ovarium pada usia 40 tahun dan semakin rendah pada usia 50 tahun. Pada masa ini hormon estrogen secara normal turun yang membuat turunnya pembentukan tulang (formasi tulang) dan akhirnya meningkatkan resorpsi tulang (perusakan tulang) pada usia pascamenopause.

Adapun peran sinar matahari dalam pencegahan keropos tulang adalah sinar ultraviolet beta pada sinar matahari merangsang kulit membentuk vitamin D sebagai bahan dasar pembentukan hormon kalsitriol. Hormon estrogen dan kalsitriol mempunyai reseptor pada osteoblas (pembentuk tulang) yang dalam batas normal akan merangsang aktivitas osteoblas membentuk kolagen tipe I dan mineralisasi tulang untuk formasi tulang yang sempurna.

Dengan demikian, wanita usia reproduksi yang kurang mendapat paparan sinar ultraviolet beta matahari akan memiliki vitamin D yang rendah sehingga menurunkan kalsitriol dan akan berhadapan dengan masalah turunnya kepadatan tulang, osteopenia-osteoporosis di hari tuanya. Agar tulang kuat, cobalah tidak menghindari sinar matahari. (N-4)

Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

User Online

Back to Top
Get Adobe Flash player