Tuberkulosis dan Pencegahannya

Dokter memeriksa pasien TB. [Foto: www.msf.org.hk]

Tuberkulosis paru (TB) adalah penyakit yang sudah ada sejak lama. Penyakit menular tersebut menjadi penyakit yang cepat berkembang, apalagi setelah merebaknya penyakit HIV/AIDS.

Karena begitu cepatnya tingkat penularan, pada tahun 1992 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencanangkan sebagai Global Emergency. Menurut WHO sepertiga penduduk dunia ter-kena TB.

Di Indonesia, setiap tahun diketahui ada 250.000 kasus TB yang baru dan sekitar 140.000 kematian akibat TB. Dinyatakan juga penyakit ini sebagai pembunuh nomor satu di antara penyakit menular. Dan sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit penapasan akut.

Menurut dr Widhi Usansi, SpP, Spesialis Paru dan Pernafasan dari Siloam Hospitals Lippo Cikarang, penyakit tersebut bisa dibagi dua katagori. Ada TB yang menular dan ada yang tidak menular.

“TB yang berbahaya itu bila dahaknya mengandung kuman basil tahan asam (BTA) atau mycobacterium tuberculosis,” ungkapnya.

Orang seringkali ketakutan terjadinya penularan dari pernafasan. Padahal terjadinya penularan pada umumnya adalah dari percikan dahak yang mengandung kuman tadi. Jika diperiksa di laboratorium akan diketahui hasilnya apakah dahak tersebut mengandung kuman BTA atau tidak.

“Kalau tidak/negatif, berarti tipe ini tidak menular,” kata Widhi.

Penularan di udara itu terjadi bila kuman tadi beterbangan bersama percikan dahak saat penderita batuk. Dalam jarak sekitar satu meter, kuman itu bisa terhisap oleh pernafasan. Sebab itu, penderita TB sebaiknya selalu menutup mulutnya dengan tisu atau sapu tangan saat batuk.

Kuman yang berterbangan di udara itu akan segera mati dengan sinar matahari. Dalam suhu ruangan, kuman bisa bertahan hidup sekitar satu jam. Lalu dalam ruangan gelap dan lembab bisa bertahan sampai berbulan-bulan.

Ruangan gelap seperti ini banyak terdapat di pertambangan-pertambangan. Penularan dengan alat-alat makan bisa juga terjadi, kalau alat-alat makan tersebut tidak dicuci. Kalau dicuci, penularan bisa dicegah, sebab kuman akan mati bila terkena sabun cuci.

Gejala orang yang terkena TB adalah batuk tidak berhenti selama dua minggu lebih diiringi dengan demam ringan. Lalu berkeringat di malam hari tanpa melakukan kegiatan apa-apa.

Kehilangan selera makan dan merasa capek sepanjang hari. Berat badan menurun, sesak nafas, sakit dada dan bisa terjadi batuk darah. “Ini semua adalah gejala yang khas,” kata Widhi lagi.

Ada gejala yang tidak khas, dimana pasien diketahui mengidap TB lewat pemeriksaan medik (medical check up). Penderita tidak mengeluh dan tidak merasakan gejala tersebut. Tapi setelah dilakukan foto rontgen dada, terlihat bagian paru-parunya ada flek.

“Hal ini yang sering menimbulkan perdebatan antara dokter dengan pihak pasien. Banyak pasien saya yang protes, dia tidak merasakan apa-apa, tapi setelah didiagnosa kok ada flek paru,” katanya.

Lalu mengapa setelah mengidap TB tapi pasien tidak mengalami keluhan. Hal ini terjadi karena kumannya masih menyerang jaringan paru dan belum sampai menyerang jaringan napas yang lebih besar, sehingga kuman tersebut belum merangsang reflek batuk.

Untuk pengobatan penderita TB, menurut Widhi akan dilakukan setelah pasien menjalani beberapa pemeriksaan seperti foto rontgen dada, pemeriksaan laboratorium dan yang lainnya. Setelah itu dilakukan pengobatan dengan dosis awal selama dua bulan pertama.

Enam Bulan

Pada umumnya akan diberikan empat kombinasi obat. Pada tahap lanjutan dilakukan pengobatan minimal selama empat bulan dengan dua obat kombinasi. Bagi penderita yang tengah hamil, tetap diberi obat yang tidak kontra indikasi dengan kehamilan. Untuk yang menyusui diharapkan tetap menyusui bayinya, karena obat yang keluar dari air susu ibu itu prosentasenya kecil sekali, dibawah sepuluh persen.

Bagi penderita yang sakit berat atau BTA positif, menurut Widhi, biasanya si pasien dianjurkan untuk istirahat selama satu bulan. Ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi klinisnya, sambil menjalani pengobatan selama enam bulan.

“Pengobatan TB ini memang membutuhkan waktu yang panjang dan kedisiplinan pasien. Sebab minimal pengobatan saja sekitar enam bulan,” katanya.

Kalau pasien disiplin dan tekun, maka kuman BTA positif tadi bisa menjadi negatif. Kalau sudah begini, pasien diperbolehkan bekerja lagi seperti biasa. “Jadi jangan putus asa, TB bisa disembuhkan,” katanya mantap. [ARS/M-15]

Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player