“Eklampsia” Salah Satu Penyebab Kematian Ibu Hamil

Para ibu hamil sedang senam untuk kesehatan dirinya dan kandungannya. ISTIMEWA

Kehamilan merupakan peristiwa yang sangat diharapkan setiap pasangan suami istri. Meski sangat diharapkan, kehamilan juga kerap menimbulkan perasaan khawatir bagi pasangan suami istri karena kehamilan dapat mendatangkan masalah baik bagi sang ibu maupun bayi yang ada di dalam kandungan.

Kita telah mengetahui beberapa penyakit yang kerap muncul selama masa kehamilan. Dari sekian banyak penyakit tersebut, eklampsia atau biasa yang disebut keracunan hamil merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup sering dialami ibu hamil di Indonesia.

Eklampsia dapat menyebabkan kejang-kejang hingga koma pada ibu hamil. Kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi otak, ginjal, mata, hati, jantung, paru-paru dan sistem saraf. Kegagalan fungsi organ vital inilah yang dapat menyebabkan kematian.

Preeklampsia adalah penyakit yang merupakan gejala dari eklampsia. Biasanya muncul pada usia kehamilan setelah 7 bulan dan khususnya saat kehamilan anak pertama. Dokter kebidanan dan kandungan dari Siloam Hospitals Lippo Karawaci, dr. Dachrial Daud, mengatakan bahwa usia menjadi salah satu faktor penunjang terjadinya preeklampsia.

“Ibu hamil yang terlalu muda, di bawah 25 tahun, atau terlalu tua, di atas 35 tahun, berpotensi mengalami preeklampsia ini. Apalagi jika mereka mengidap penyakit tekanan darah tinggi, ginjal, dan diabetes,” katanya.

Melihat faktor-faktor yang menjadi pemicu tersebut, dr. Dachrial menegaskan bahwa preeklampsia dapat digolongkan sebagai penyakit misterius yang belum diketahui penyebabnya, disertai terjadinya penyempitan pembuluh darah di seluruh tubuh.

Meski demikian, tutur dia, penyakit tersebut diperkirakan terjadi karena kadar hormon HCG (Human Chorio Gonadotropin) atau biasa disebut hormon kehamilan yang terlalu tinggi.

Diungkapkan, ada beberapa ciri ibu hamil yang mengalami preeklampsia, yakni bengkak di bagian kaki, tangan dan wajah, mengalami tekanan darah yang cukup tinggi, serta ditemukannya kandungan protein di dalam urin. “Untuk gejala-gejala lainnya yang perlu diwaspadai antara lain pusing, berat badan naik secara drastis, gangguan pengelihatan dan nyeri lambung,” tambahnya.

Jika tidak segera diatasi, lanjut dia, ibu hamil akan mengalami kejang-kejang hingga kesadaran yang menurun atau biasa yang disebut koma. Kondisi ini, tuturnya, terjadi karena tekanan darah yang meningkat cukup tinggi dan ditambah gagalnya fungsi organ serta pecahnya pembuluh darah di bagian otak.

Akibat yang lebih parah, lanjut dr. Dachrial, beberapa organ tubuh seperti ginjal, mata, hati, jantung, paru- paru, dan sistem saraf akan berpotensi mengalami kegagalan fungsi. “Yang kita khawatirkan, janin yang berada di dalam kandungan akan mengalami gangguan pertumbuhan karena tidak mendapat asupan oksigen yang cukup akibat tidak lancarnya pengiriman darah dari plasenta,” ungkapnya.

Diakuinya, eklampsia yang dalam bahasa Yunani berarti halilintar ini merupakan penyakit yang unik dan paling ditakuti oleh dokter di bidang kebidanan dan kandungan. Disebut unik karena penyakit ini hanya muncul pada masa kehamilan, dan jika ditangani secara tanggap, pasien dapat sembuh total dan tidak berbekas sama sekali. Sebaliknya, penyakit tersebut dikatakan menakutkan karena gejala-gejalanya muncul secara tiba-tiba bak halilintar. “Apalagi penyebabnya hingga saat ini belum dapat dipastikan dan berpotensi menimbulkan kematian bagi ibu hamil,” tandasnya.

Untuk mengatasi eklampsia, dokter yang telah 15 tahun menjadi obstetrician-gynaecologist, biasanya akan memberikan obat anti kejang dan akan memantau tekanan darah, organ otak, ginjal, mata, hati, jantung, paru-paru dan sistem saraf dari pasien. “Organ-organ tubuh tersebut harus dipantau secara rutin karena dikhawatirkan dapat terjadi gangguan fungsi secara mendadak pada organ-organ tersebut,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, dokter juga harus segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi janin. Adanya gejala penurunan asupan oksigen, tuturnya, harus menjadi pertimbangan tersendiri bagi dokter dalam memutuskan tindakan medis yang akan dilakukan.

Pencegahan

Meski diakui belum diketahui apa penyebab pastinya, namun dr Dachrial menegaskan penyakit yang cukup mematikan tersebut dapat dicegah. Pencegahan, tuturnya, dapat dilakukan dengan melakukan kontrol antenatal. Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan tim medis profesional (baca: dokter atau bidan) selama masa kehamilan. “Idealnya, kontrol dilakukan sebulan sekali saat usia kandungan masih berada di bawah tujuh bulan. Setelah itu, kontrol dilakukan setiap dua minggu sekali,” jelasnya. [YAN/W-5]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × four =

Get Adobe Flash player