Kateterisasi Jantung

Oleh Pouw Tjoen Tik

Sejarah kedokteran telah mencatat sederetan nama-nama yang telah mempertaruhkan nyawanya demi kemanusiaan dan kemajuan ilmu kedokteran. Di antaranya adalah dokter bedah Werner Formann (Jerman) yang memasukkan sendiri kateter ke dalam jantungnya melalui pembuluh darah lengan (1929). Kenekatannya tersebut menuai kritik keras yang berujung dengan pemecatan dari rumah sakit tempat ia bekerja.

Lebih dari seperempat abad kemudian, baru dunia kedokteran mengakui jasanya melalui penganugerahan hadiah Nobel di bidang ilmu faal (1956). Pengabdiannya kepada ilmu kedokteran tidaklah sia-sia, karena era baru dalam penegakan diagnosis dan penanggulangan berbagai penyakit jantung yang menyelamatkan jutaan jiwa terbuka sudah.

Teknik dan Indikasi

Katerisasi jantung adalah tindakan medik yang menyusupkan kateter ke dalam serambi/bilik dan pembuluh-pembuluh darah jantung. Tindakan medik ini dilakukan tanpa pembiusan karena keluhan pasien diperlukan untuk mengantisipasi komplikasi selama katerisasi.

Dokter ahli jantung bidang katerisasi membuat irisan sepanjang setengah sentimeter pada pangkal paha (lekukan lengan atau leher) yang sebelumnya telah dimati rasa setempat. Ke dalam pembuluh darah balik (untuk jantung kanan) atau pembuluh nadi (untuk jantung kiri), disusupkan suatu trocar (jarum berlubang yang pangkalnya bercabang tiga).

Setelah trocar dipastikan berada dalam pembuluh darah, ke dalamnya diselundupkan kawat pemandu berujung bulat (guidewire) dan trocar ditarik keluar. Pipa tumpul dari logam (cannula atau sheath) kemudian dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk menggantikan guidewire.

Dengan bantuan fluoroscopy (sinar-X), kateter dari plastik lentur berdiameter dua milimeter (untuk pasien dewasa) diselundupkan ke dalam sheath menuju ke jantung. Trocar yang baru kemudian dipasang pada pangkal kateter yang berada di luar tubuh. Setelah ujung kateter mencapai sasaran yang dibidik, ke dalamnya disuntikkan cairan kontras sinar-X (X-ray dye).

Pengambilan gambar dengan sinar-X harus dilakukan secepat mungkin, karena dye dalam hitungan menit akan dikeluarkan tubuh melalui ginjal. Tindakan medik ini tidak menimbulkan rasa nyeri dan bila ditangani oleh dokter yang berpengalaman hanya memerlukan waktu dua hingga tiga jam (termasuk persiapan).

Katerisasi jantung merupakan pemeriksaan baku untuk menentukan derajat penyempitan/penyumbatan arteri koroner jantung. Arteri koroner jantung adalah pembuluh darah nadi yang memasok oksigen dan nutrisi otot-otot jantung.

Di samping itu, dengan mempelajari kondisi otot-otot, katup-katup dan tekanan dalam bilik/serambi jantung, dapat ditentukan tingkat efisiensi pemompaan darah (hemodynamic). Katerisasi jantung bukan saja untuk menegakkan diagnosis, melainkan juga digunakan sebagai sarana untuk mengoreksi penyempitan/penyumbatan pembuluh darah koroner.

Koreksi yang dikenal dengan sebutan angioplasty atau percutaneous coronary interventions (PCIs) ini dilakukan dengan memasukkan kateter yang ujungnya diberi balon. Setelah ujung kateter mencapai bagian koroner yang menyempit, balon ditiup selama beberapa detik atau menit.

Kontraindikasi dan Risiko

Katerisasi jantung dilakukan terutama pada pasien dengan penyakit-penyakit jantung yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, kontraindikasinya bersifat relatif. Katerisasi ditetapkan berdasar pertimbangan antara kegawatan penyakit jantung/kondisi kesehatan si pasien dan besar risiko katerisasi.

Kontraindikasi relatif, antaranya: tekanan darah yang tak terkendali dengan obat-obatan, gangguan akut aliran darah otak (acute stroke), anemi berat, perdarahan akut saluran pencernaan, alergi terhadap dye, gagal ginjal akut, gagal jantung di mana pasien tidak mungkin tidur telentang, serta gangguan proses pembekuan darah yang berat. Namun, sebagian besar kondisi-kondisi tersebut dapat diatasi sebelum katerisasi dilakukan.

Seperti pada tindakan pembedahan, risiko katerisasi antaranya: perdarahan, infeksi, gagal jantung, gangguan irama, dan frekuensi denyutan jantung (arrythmia), gagal ginjal, dan penyumbatan pembuluh darah otak (stroke). Risiko makin bertambah pada mereka yang berusia enam puluh ke atas, pengidap gagal ginjal, gagal jantung, stroke atau kencing manis. Namun statistik menunjukkan: komplikasi berat kurang dari satu persen dan kematian akibat katerisasi hanya sekitar 0.08 persen.

Pada masa mendatang Electro Beam Computed Tomography (EBCT) diperkirakan akan menggeser katerisasi jantung. Berbeda dengan Computed Tomography (CT) di mana tabung pemancar elektron diputar mengelilingi pasien, maka pada EBCT elektron diputar secara elektronik dalam tabung anoda tungsten. Gerakan elektron yang jauh lebih cepat ini menghasilkan gambar sinar-X yang lebih banyak dan sangat tepat untuk memotret organ yang selalu bergerak seperti jantung dengan pembuluh-pembuluh darahnya.

Penulis adalah alumnus Fakultas Kedokteran Unair, berdomisili di Austin, Texas, USA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − 5 =

Get Adobe Flash player