Memadukan Resor dan Konservasi

Vila Bambu.

Taman Michael Resorts.

Udara cerah, langit biru, pepohonan hijau, udara segar, dan gemericik air menimbulkan suasana rileks saat mengelilingi kebun di sekitar Michael Resorts yang berlokasi di kawasan Gunung Salak Endah Bogor. Perjalanan sekitar 2,5 jam dari Jakarta bila tidak macet, dan

tanjakan tinggi untuk mencapai tempat

peristirahatan itu terasa terbayar saat menikmati pemandangan alam yang indah.

Bagi mereka yang kurang nyaman menggunakan mobil untuk mencapai lokasi, pengelola tempat beristirahat itu menyediakan helikopter dari Jakarta dengan tarif 1.000 dolar AS. Begitu menginjakkan kaki, udara sejuk dan bersih seolah-olah menyambut kehadiran para tamu yang akan menginap di peristirahatan itu. Mata para tamu juga dimanjakan dengan pemandangan serbahijau dan warna-warni tanaman dan bunga yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara.

Peristirahatan yang memiliki 13 vila itu menyimpan sekitar 2.000 tanaman, termasuk bunga yang menutupi tempat peristirahatan seluas 2,7 hektare itu. Dari luas itu, sekitar 30 persen dimanfaatkan untuk bangunan vila, yang terdiri atas Vila Kemuning, Vila Meni’i, Vila Bambu, Vila Damar, Vila Eboni, Vila Kayu Manis, Vila Tanjung, Vila Anggrek Bulan, Vila Pinus, Vila Okaria, Vila Cemara, Vila Kenari, dan Vila Puspa.

Praktis 70 persen dari areal peristirahatan diperuntukkan bagi berbagai tanaman, termasuk tanaman langka Indonesia yang sudah sulit dijumpai di Tanah Air. Misalnya mawar berwarna kuning yang kini justru berkembang di Belanda, sehingga kerap dijuluki mawar Holland.

Keunikan mawar itu terletak pada bunganya yang keriting. Memasuki musim berbunga pada setiap bulan Juni, satu pohon mawar bisa menghasilkan 80-90 persen kuntum bunga. Sayangnya, menurut pengelola Michael Resorts Susan Sumbayak, mawar jenis itu tidak ditemukan di Indonesia, kecuali di Cibodas.

Selain mawar kuning keriting, tanaman lain yang memenuhi kebun adalah buah merah dari Papua, damar, clavia, cemara arun dari Aceh, kantung semar dari Kalimantan, pohon sampur dari Papua, pohon kayu manis, melati gambir, berbagai jenis anggrek, sirih merah dari Kalimantan, mimosa, begonia, soka, dan berbagai tanaman lainnya. Pastinya, pencinta alam ataupun tanaman betah berada di lokasi peristirahatan itu.

Tetapi, jangan berharap Anda menemukan tanaman mahal semacam anthurium di tempat itu, karena memang pengelolanya bermaksud melestarikan tanaman asli Indonesia yang sudah langka atau sulit ditemukan di berbagai daerah. Susan menyebut melati gambir yang asli Jakarta, kini sulit ditemukan di Jakarta. Tanaman itu bisa dikembangbiakkan di sekitar vila.

foto-foto:sp/nancy nainggolanAir Pegunungan.

Curug Cigamea.

Ekspatriat

Lokasi resor di medan bergerak dan menurun, tidak menjadi penghalang bagi pengelola untuk mendirikan vila dan mengembangbiakkan berbagai tanaman. Susan yang berlatar belakang arsitek menjelaskan, untuk dapat dimanfaatkan, tanah dibuat tidak bergerak. Maklum saja, di lokasi yang menyerupai jurang jika kita berada di atas, memerlukan waktu satu tahun untuk membuat fondasi agar tanah tidak bergerak. Untuk mencapai bagian bawah dari lokasi peristirahatan yang berupa sungai menyambung ke sungai di hutan, pengelola membuat tangga dengan jarak cukup besar.

Sekali lagi, bagi pencinta alam, berkeliling kebun hingga mencapai sungai yang sekelilingnya ditanami bambu dan cocok untuk yoga itu, tentu tidak akan melelahkan naik turun tangga. Tetapi, bagi mereka yang tidak terbiasa akan terasa melelahkan. Untuk itu pula, di sekitar kebun pengelola menyediakan semacam saung dari papan untuk beristirahat. Selain itu, bila terasa haus, ada air yang berasal dari pegunungan yang bisa langsung diminum. Rasanya segar!

Michael Resorts berdiri 1,5 tahun lalu. Hobi pemilik resor terhadap tanaman dan sayang lingkunganlah yang mendasari pendirian dan pengembangannya. Bahkan, pemiliknya kini mengembangkan area untuk pertanian, yang dinamakan Michael Farm, di samping peristirahatan seluas tiga hektare yang akan ditanami berbagai tanaman buah asli Indonesia. Menurut Susan, ditargetkan tanaman Indonesia yang ada di luar negeri bisa dipulangkan ke Tanah Air. Contohnya, bunga kamelia yang kini tumbuh subur di Australia tetapi sudah tidak ditemukan di Indonesia.

“Untuk mendapatkan berbagai tanaman ini, saya keliling Indonesia dan ke luar negeri. Para tamu cenderung jatuh hati pada tanaman,” ujarnya.

Selain jatuh hati pada tanaman, para tamu juga jatuh hati pada pemandangan alam pegunungan. Maklum, resor tersebut berada di puncak Gunung Salak, sehingga jika kita mengarahkan pandangan akan tampak pemandangan sawah, gunung, lembah, taman, air terjun. Ada enam air terjun (curug) di sekitar resor, di antaranya yang sering dikunjungi adalah air terjun Cigamea. Pemandangan alam itu membuat pengelola resor juga menawarkan fasilitas outbound. Di tempat itu, Anda bisa merasakan flying fox menuju air terjun Cigamea, rafting, api unggun, paintball, jungle track. Di musim liburan sekolah seperti saat ini, pengelola resor menawarkan paket wisata alam, termasuk menanam padi di sawah.

Meski kental dengan alam Indonesia, mereka yang menginap di resor itu 80 persen di antaranya adalah ekspatriat. Menurut Susan, hal itu disebabkan belum banyak orang Indonesia yang benar-benar cinta lingkungan. Tarif vila yang tercantum di situs resor itu memperlihatkan angka 160-800 dolar AS per malam. Itu belum termasuk biaya transportasi menuju vila, dan biaya rumah sakit atau pengobatan bila Anda tiba-tiba sakit dan menghendaki dirawat di rumah sakit di Singapura seperti di Mount Elizabeth Hospital, Singapore General Hospital, Gleneagles Hospital, ataupun rumah sakit di Jakarta. [SP/Nancy Nainggolan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.