Membuang Gen-gen Jahat

Oleh Pouw Tjoen Tik

Protein, lemak, dan karbohidrat adalah bahan-bahan pokok dari sel-sel tubuh kita. Lemak dan karbohidrat setiap jasad adalah sama.

Sebaliknya, protein bukan saja unik untuk setiap jasad, bahkan unik pula untuk setiap organ. Fungsi dari suatu protein ditentukan oleh jenis dan urutan asam-asam amino yang membentuknya.

Aktor intelektual yang merekayasa pembentukan protein tersimpan dalam inti setiap sel dan disebut gen.

Berdasarkan hasil rekayasanya, gen dijuluki ‘baik’ bila membentuk protein yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup, dan ‘jahat’ bila membentuk protein yang menimbulkan berbagai penyakit.

Gen

Gen atau Deoxyribonucleic acid (DNA) terdiri atas molekul-molekul gula (deoxyribose), asam fosfat, dan basa nitrogen. Ada empat jenis basa nitrogen, yaitu Adenine (A), Cytosine (C), Guanine (G), dan Thymine (T).

Setiap tiga dari molekul-molekul DNA membentuk satuan tugas yang disebut codon. Gen yang merupakan untaian codon-codon, dipetakan berdasarkan urutan huruf-huruf pertama basa-basa nitrogennya.

Sebagai contoh, suatu gen dapat dipetakan sebagai AUG AAT TGT TA………………….UAG, dan sebagainya.

Basa nitrogen A pada benang yang satu mengikat basa nitrogen T dari benang lainnya, sedangkan basa nitrogen C mengikat basa nitrogen G benang lainnya. Akibat ikatan-ikatan tersebut, DNA berbentuk pilinan dari sepasang benang codon-codon dan disebut DNA berpilinan ganda (double stranded gene).

Gen-gen bekerja sebagai layaknya seorang dokter yang menulis resep.

Setiap codon merupakan abjad dari resep yang ditulis dan menentukan asam amino apa yang akan digunakan untuk membentuk protein bersangkutan.

Dalam inti ataupun cairan (plasma) sel terdapat struktur sejenis codon yang komponen-komponennya sedikit berbeda dari codon DNA. Perbedaannya terletak pada unsur gula dan basa nitrogen yang digunakan.

Struktur ini menggunakan gula ribose dan mengganti basa nitrogen Thymine (T) dengan basa nitrogen Uracyl (U). Codon-codon ini disebut codon-codon RNA.

‘Penulisan resep protein’ diawali dengan terurainya pilinan benang-benang DNA. Setiap codon dalam setiap benang DNA mengikat codon RNA sesuai pasangan basa nitrogennya.

RNA yang tersusun berdasar urutan codon-codon DNA, kemudian melepaskan diri dari DNA. Proses ini dalam ilmu genetika disebut proses ‘penulisan resep’ atau ‘transcription‘ dan ‘resep’ yang ditulis disebut ‘transcript‘.

RNA yang telah mengantongi transcript, kemudian meninggalkan inti sel dan memasuki cairan (plasma) sel untuk menyerahkan transcript tersebut kepada RNA lain yang nongkrong di atas struktur yang disebut Ribosome (RNA).

Ribosome dapat disamakan dengan sebuah apotek dan RNA dapat dianalogikan dengan seorang apoteker yang akan meramu protein berdasar resep (transcript) yang diterimanya.

Dalam cairan sel melayang codon-codon lain yang mengikat asam-asam amino tertentu. Codon-codon yang dikendarai oleh asam-asam amino ini, kemudian antre untuk melekatkan diri pada RNA.

Segera setelah suatu asam amino berdekatan dengan asam amino lainnya, enzim perekat polymerase, bereaksi sehingga terbentuklah untaian asam-asam amino dengan urutan tertentu yang kita sebut protein. Proses ini dalam ilmu genetika disebut ‘penterjemahan resep’ (translation).

Rumitnya pembuatan protein yang terjadi setiap detik dalam setiap sel tubuh kita ini menggambarkan kebesaran dan kedahsyatan salah satu dari jutaan tekno-biologi sang Khalik.

Membungkam Gen Jahat

Era perkembangan dunia kedokteran ditandai oleh rekayasa bio-molekuler. Salah satu rekayasa bio-molekuler yang kini sedang marak adalah teknik ‘pembungkaman gen’ (silencing DNA).

Rekayasa ini dimungkinkan, karena codon-codon dapat disintesis dalam laboratorium (codon-codon buatan).

Codoncodon buatan yang disuntikkan ke dalam inti sel, akan mengikat RNA dan membentuk pilinan-pilinan atau simpul-simpul pada benang RNA tersebut. Benang RNA yang bersimpul akan kehilangan fungsinya sebagai kurir untuk menyampaikan resep ke RNA. Dengan demikian, resep DNA terblokir atau DNA bersangkutan ‘terbungkam’.

Kendala utama dari pembungkaman gen adalah turut terblokirnya transcript gen-gen yang baik. Namun, otak-atik genetika yang terus bergulir ini memberi harapan cerah bagi penyembuhan berbagai kanker dan penyakit (termasuk AIDS, dan flu burung) pada masa-masa mendatang.

Penulis adalah alumnus Fakultas Kedokteran Unair, berdomisili di Austin, Texas, USA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × four =

Get Adobe Flash player