Malaria Masih Mengancam

Perubahan iklim harus dipertimbangkan sebagai ancaman bagi kesehatan semua manusia di dunia ini. Tidak ada orang yang dapat menghindar dari dampak negatif perubahan iklim tersebut. Perubahan iklim merupakan masalah bersama yang harus dihadapi secara bersama-sama.

Dampak perubahan iklim memberikan pengaruh yang luas atau mendunia, karena menyebabkan terjadinya berbagai bencana alam, seperti banjir, tsunami, atau kekeringan, sehingga mempengaruhi ketersediaan pangan, keterbatasan pangan dan air bersih, serta kebutuhan sanitasi dasar yang menimbulkan masalah gizi dan rentan terhadap penyakit.

Dampak buruk, kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, di puncak acara Hari Kesehatan Dunia, Minggu (13/4), perubahan iklim menjadi kendala pencapaian sasaran pembangunan kesehatan yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

Menurutnya perubahan iklim yang telah dirasakan saat ini, seperti kurangnya curah hujan yang mengakibatkan kekeringan di beberapa wilayah Indonesia, perlu ditangani secara bersama.

Dampak perubahan iklim secara global, sangat mengkhawatirkan, khususnya di daerah tropis seperti Indonesia. Berbagai penyakit mulai demam, diare hingga malaria bermunculan lagi, bahkan malaria mengganas dengan peningkatan kasus yang signifikan.

Tiga Kali Lipat

Mardiyah dari Yayasan Pelangi Indonesia di Jakarta, Selasa (8/4) mengatakan, yayasannya mencatat kasus malaria di Jawa dan Bali naik dari 18 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 1998, menjadi 48 kasus per 100.000 penduduk pada tahun 2000. Kenaikan ini hampir 3 kali lipat. Sementara itu, di luar Jawa dan Bali, terjadi peningkatan kasus sebesar 60 persen dari tahun 1998-2000. Kasus terbanyak ada di NTT, yaitu 16.290 kasus per 100.000 penduduk.

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, diperkirakan 15 juta penduduk Indonesia menderita malaria dan 30.000 di antaranya meninggal dunia.

“Jika kita tak berupaya menghambat terjadinya perubahan iklim, kasus malaria di Indonesia akan naik dari 2.705 kasus pada tahun 1989, menjadi 3.246 kasus pada 2070. Sementara itu, kasus demam berdarah naik 4 kali lipat, dari 6 kasus menjadi 26 kasus per 100.000 penduduk, pada periode yang sama,” tukas Mardiyah.

Saat ini, lanjutnya, 2,6 miliar manusia di seluruh dunia akan terkena dampak langsung perubahan iklim. Mereka adalah kaum miskin dengan biaya hidup kurang dari US$ 2 (Rp 18.000) per hari yang terancam kekurangan gizi, kelangkaan air, ancaman lingkungan dan kehilangan nafkah.

Dalam laporan Human Development 2007/2008 yang dikeluarkan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) disebutkan pemanasan global akan membuat sistem kehidupan yang telah dibangun hancur perlahan-lahan.

Pemanasan global akan membuat hancur sistem pertanian akibat kemarau, peningkatan suhu dan curah hujan.

Akibatnya, 600 juta manusia akan menghadapi kekurangan gizi. Daerah kering di Afrika sub Sahara, akan mengalami penurunan produktivitas lahan sampai 26 persen pada 2060.

Sebanyak 1,8 miliar manusia akan menghadapi kesulitan air menjelang 2080.

Sementara itu, wilayah luas di Asia Selatan dan Tiongkok Utara akan menghadapi krisis lingkungan akibat mencairnya gletser dan berubahnya pola curah hujan.

Selain itu, sebanyak 332 juta manusia dari wilayah pesisir dan ketinggian rendah akan bermigrasi. Lebih dari 70 juta orang Bangladesh, 22 juta orang Vietnam, dan 6 juta orang Mesir akan menjadi korban banjir. Dan 400 juta orang lainnya akan menghadapi risiko malaria akibat perubahan iklim.

Ulah Manusia

Publikasi yang dirilis oleh WHO terkait dengan peringatan Hari Kesehatan Dunia 2008 menyebutkan, terdapat perbedaan antara perubahan iklim pada masa lampau dengan yang terjadi dewasa ini.

Jika perubahan yang terjadi pada masa lampau berlangsung secara alamiah, yang terjadi akhir-akhir ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

“Flu, batuk mulai dirasakan banyak orang akibat lembapnya udara. Lebih memprihatinkan lagi malaria dan demam berdarah pun semakin meningkat,” ujar Komisi Kesehatan Lingkungan WHO, Richard Burnet dalam rilisnya menyambut Hari Kesehatan Dunia di Jakarta, Selasa.

Dikatakan, penyakit lain pun mulai bermunculan pascaperubahan iklim, dari diare, demam berdarah, hingga malaria. Di beberapa rumah sakit, pasien demam berdarah, anak-anak sampai orang dewasa terpaksa dirawat di selasar, saking melimpahnya jumlah pasien.

Penelitian yang dilakukan World Wide Fund for Nature (WWF) menunjukkan, 33 persen habitat di muka bumi memiliki risiko tinggi bakal punah, bahkan beberapa tanaman dan spesies hewan telah punah. Beruang kutub misalnya, sangat terancam punah jika permukaan es Samudera Artik terus mencair secara drastis.

Tidak bisa dipungkiri perubahan iklim di Indonesia meningkatkan frekuensi penyakit tropis, seperti malaria dan demam berdarah. Naiknya suhu udara akan menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek. [RRS/E-5]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player