Pilih Hidup Sehat, Hindari Makanan Cepat Saji

img. photobucket.com

Gaya hidup masyarakat di kota-kota besar pada era modern seperti ini, memang berubah. Hal ini dipengaruhi dengan masuknya berbagai makanan cepat saji yang kandungan lemak, protein, karbohidrat, dan lainnya berlebihan.

Makanan cepat saji tersebut dibuat agar orang menjadi kenyang dan kebutuhan kalori berikut vitamin dalam tubuhnya ter- penuhi. Oleh sebab itu, biasanya terbuat dari daging ayam dan sapi yang me- ngandung lemak tinggi, sehingga memang lezat untuk dikonsumsi.

Menurut dr Fiastuti Witjaksono, MS SpGK, Clinical Nutrition Specialist dari Siloam Semanggi Specialist Clinic, asupan makanan gaya hidup modern dapat berpengaruh buruk pada kesehatan tubuh.

Makanan cepat saji yang tersedia atau biasa disebut fastfood dan junkfood memiliki kandungan tinggi kalori, lemak, karbohidrat, gula, dan rendah serat.

Obesitas

Kalau terlalu sering menyantap makanan tinggi kalori, dapat mengakibatkan terjadinya obesitas. Ini bisa terlihat di negara-ne-gara maju di mana banyak terdapat makanan seperti itu, jumlah penderita obesitas di negara tersebut meningkat tajam.

Seperti diketahui, obesitas dapat menyebabkan gang-guan sendi akibat pembebanan berlebih. Bagi wanita, makanan cepat saji akan menjadi salah satu penyebab gangguan reproduksi.

Selain itu risiko terserang penyakit degeneratif seperti diabetes juga tinggi. Kandungan gula dalam makanan dan minuman fastfood umumnya tidak disadari, hingga asupan gula tidak terjaga dan mungkin dapat mengakibatkan seseorang mengidap diabetes.

Kadar gula yang tinggi dalam tubuh berasal dari berbagai makanan yang disantap. Minuman ringan yang banyak dijual me- ngandung kadar gula cukup tinggi.

Bila mengonsumsi minuman tersebut terlalu sering, maka tubuh akan mendapat masukan gula yang banyak. Belum lagi kadar gula yang berasal dari nasi, kentang, sayur, dan buah.

Konsumsi gula yang dianjurkan dalam satu hari adalah tiga sampai lima sendok makan, atau kurang dari 10 persen total kalori, termasuk gula dari semua makanan yang masuk, dengan memperhitungkan jumlah kalori total per hari.

Jika asupan gula pada tubuh terlalu banyak, dapat mempermudah terjadinya kegemukan dan obesitas. Lemak tubuh yang berlebih dapat mengganggu kerja insulin untuk memasukkan gula ke dalam sel sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula di dalam darah. Pada makanan cepat saji, kandungan lemak jenuhnya tinggi.

Apalagi kalau cara memasaknya menggunakan panas tinggi yang membuat lemak tersebut berubah. “Anjurannya, lemak jenuh bisa dikonsumsi kurang dari tujuh persen dari kalori,” ungkap Fiastuti.

Ketidakseimbangan lemak jenuh dapat meningkatkan kalori dan mengakibatkan peningkatan kadar kolesterol LDL. Pengaruh kandungan lemak yang tinggi dalam darah sangat membahayakan, karena dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya serangan jantung atau stroke.

Makanan yang sehat untuk dikonsumsi harus mengandung sayuran dan buah yang cukup, karena sayur dan buah mengandung serat yang tinggi. Serat akan membantu bakteri di usus untuk menghasilkan asam lemak rantai pendek yang menjadi makanan untuk sel usus.

Menurut Fiastuti, usus itu fungsinya bukan hanya sebagai pencerna makanan, melainkan juga sebagai alat penyaring mencegah masuknya bakteri dalam tubuh. Oleh sebab itu, kotoran yang berada di dalam usus memang harus dikeluarkan secara teratur.

Apabila pola makan kurang baik dan buang air tidak teratur, dapat memicu penyakit kanker usus. Jadi disarankan untuk menghindari mengonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak jenuh serta me- ngkonsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.

“Pilih makanan yang digoreng dengan minyak bersih atau makanan yang direbus dan dikukus, saran Fiastuti. [ARS/M-15]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.