Layanan “Broadband” Optimal untuk Semua

SP/Ruht Semiono

Seorang teknisi bersama pewarta foto merancang layanan jaringan nirkabel (Wifi) internet untuk peliputan mantan Presiden Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kebutuhan untuk menggunakan internet bagi masyarakat Indonesia dewasa ini semakin meningkat. Internet, selain digunakan sebagai sarana untuk memperoleh informasi, juga digunakan untuk berbagai tujuan lain seperti transaksi bisnis, edukasi, hiburan, bahkan juga untuk bersosialisasi. Dengan semakin menyatunya kehidupan masyarakat Indonesia dengan internet, semakin dibutuhkan layanan broadband yang optimal.

Menyadari kebutuhan masyarakat Indonesia akan layanan broadband yang optimal, MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia) bekerja sama dengan Nokia Siemens Networks mengadakan The 1st Indonesian Broadband Summit. Acara tersebut menampilkan pemikiran-pemikiran terkini dalam layanan broadband selain dari sisi teknologi dan layanan untuk menunjukkan pentingnya penetrasi broadband di Indonesia.

Dengan dihadiri pembicara-pembicara ahli telekomunikasi dari dalam dan luar negeri yang memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang broadband, The 1st Indonesian Broadband Summit diharapkan dapat memberikan solusi implementasi terbaik yang bisa dilakukan di Indonesia sehingga internet bisa diakses oleh seluruh rakyat Indonesia.

Chairman of MASTEL, Giri Suseno mengungkapkan bahwa era informasi telah hadir di Indonesia. Tanpa adanya sarana yang memadai, maka informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak akan sampai ke tangan mereka.

“Indonesia memerlukan delivery system (broadband) dengan harga yang terjangkau. Selain memiliki kecepatan download yang tinggi dan kapasitas yang besar, broadband juga harus memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dan dapat diakses dengan mudah di mana saja oleh siapa saja,” papar Giri.

Giri juga menambahkan bahwa pelanggan internet yang tercatat (registered internet subscriber) di Indonesia memang hanya 2,5 juta orang saja. Namun, pengguna internet yang tidak tercatat jumlahnya, jauh lebih besar dari angka tersebut. Misalnya saja, jelas Giri, para pengguna jasa warnet yang semakin hari semakin meningkat jumlahnya. Dengan demikian, kebutuhan akan broadband yang optimal memanglah suatu hal yang nyata di Indonesia.

Hal ini juga diakui oleh President Director PT Nokia Siemens Networks, Arjun Trivedi.

“Dalam kesempatan ini, diharapkan dapat ditemukan cara untuk memperluas jangkauan broadband di Indonesia. Sampai saat ini, perkembangan masih terpusat di pulau Jawa. Padahal, berdasarkan pengalaman di negara lain, ketersediaan broadband berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut,” ungkap Arjun.

Arjun juga menjelaskan bahwa setiap kenaikan 10 persen dalam mobile penetration, akan ada peningkatan 0,6 kali dalam GDP multiplier. Sedangkan setiap kenaikan 10 persen dalam internet penetration, akan terjadi peningkatan GDP multiplier sebesar 1,25 kali.

Arjun menambahkan bahwa pengembangan broadband di Indonesia juga sesuai dengan visi yang dimiliki oleh Nokia Siemens Network, yaitu dunia terhubungkan melalui internet. Dengan adanya komunikasi yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dunia, diharapkan 5 miliar orang akan terhubungkan oleh internet pada tahun 2015. Untuk saat ini, Nokia Siemens Network juga telah mengembangkan Wireless Village, sehingga masyarakat di pedesaan juga menjadi sadar akan kebutuhan akan informasi.

The 1st Indonesian Broadband Summit ternyata juga mendapatkan perhatian pemerintah. Dalam acara tersebut, Menkominfo Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa transformasi sosial juga dapat terwujud melalui jaringan konektivitas yang mudah diakses.

“ICT mampu menjadi penggerak transformasi sosial dalam masyarakat. Dari masyarakat yang tidak sadar dirinya tidak mengerti suatu permasalahan (ignorant society) menjadi masyarakat yang sadar bahwa dirinya tidak mengerti (aware society). Dari masyarakat yang sadar dirinya tidak mengerti dapat berkembang menjadi masyarakat yang sadar dan mengerti akan sesuatu persoalan (professional society), dan pada akhirnya menjadi masyarakat yang bijak (mastery society) yang dapat mengatasi permasalahan yang ada,” jelas Nuh.

Menkominfo juga menambahkan bahwa setelah broadband telah dikembangkan dan memiliki kecepatan dan volume yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, persoalan tidak berhenti sampai di situ. Harus dipikirkan pembuatan konten-konten lokal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. [SRA/N-5]

Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player