Bidadari Telah Pergi Pagi Ini

Pernahkah kamu merasakan sesuatu yang biasa hadir mengisi hari-harimu, tiba-tiba lenyap begitu saja. Hari-harimu pasti berubah jadi pucat pasi tanpa gairah. Saat kau hendak mengembalikan sesuatu yang hilang itu dengan sekuat daya, namun tak kunjung tergapai. Kau pasti jadi kecewa seraya menengadahkan tangan penuh harap lewat kalimat doa yang tak putus-putusnya.

“Mas kita sudah tidak bisa bersama, takdir sudah memisahkan kita, Kamu sudah memilih mas” masih terngiang suara itu, suara terakhir yang kau ucapkan untukku Tias.

Aku telah kehilangan dekapan lembut helai-helai sayap bidadari dengan senyumnya begitu ranum selama ini. Bidadari bagiku Bukanlah cerita dongeng yang tentang wanita yang cantik yang dengan tulus, bukan hanya tokoh khayalan tentang wanita yang turun dari surga, bidadari adalah nyata dan bidadari adalah wanita lembut tetapi perkasa.

“Tyas, aku tidak mencintai dia…” ucapku menyakinkannya. “Mas Kamu tidak mencintai dia tapi kamu telah menikahinya, dan semua pintu telah tertutup mas” Bidadari dengan linangan air mata berlari meninggalkanku

kaulah bidadariku. Berhari-hari kau merekat kasih hingga tak terkoyak oleh waktu, tiba-tiba kita harus berpencar di bawah langit menuju sudut-sudut yang kosong. Kekosongan itu kita bawa melewati jejalan kesedihan. Kita harus terpisah jauh menjalani kodrat diri yang termaktub di singgasana luhl mahfudz. Semula kita begitu dekat. Lantas terpisah jauh oleh lempengan waktu.

Kita mengisi halaman-halaman kosong kehidupan kita dengan denyut nadi. Sesudahnya, kita bertemu bagai angin mengecup pucuk-pucuk pepohonan dan berlalu begitu mudah. Dan kita pun bertemu lagi dengan perasaan yang asing hingga kita begitu sulit memahami siapa diri kita sebenarnya.

Di ruang kosong yang semula dipenuhi pernik cahaya cinta bidadari, kita bertatap muka penuh gairah. Di penjuru ruang kosong itu bergantungan hembusan nafas rindu penuh warna dan aroma. nafas itu bergesekan satu dengan lain mengalirkan irama-irama lembut Musisi dengan syair penuh cinta. Irama itu menyayat-nyayat hati kita hingga mengukir potongan sejarah baru. Bagaikan sepasang angsa putih yang menari-nari di bawah gemerlapan cahaya langit, sejarah itu terus ditulisi berkepanjangan. Lewat ratusan kitab, laksa aksara. Namun, setiap perjalanan pasti ada ujungnya. Setiap pelayaran ada pelabuhan singgahnya.

“Mas, kamu tahu lihat matahari itu, matahari yang akan kurindukan, dan tak akan pernah sama lagi” ketika kami menyusuri jembatan itu setiap harinya itulah ucapan tias yang selalu berngiang di kepalaku. begitu berat aku melupakan bayangan tias sesok wanita mungil dengan kacamata lucunya yang memberiku nuansa cinta yang selalu kuinginkan.

Andai sejarah boleh terus diperpanjang membawa mitos dan legendanya, maka dirimu boleh jadi termaktub pada pohon ara sejarah itu. Boleh jadi, kau akan tampil sebagai permaisuri atau pun Tuanku Putri yang molek. yang akan bersanding dengan pangeran tampan dengan akhir kisah yang selalu bahagia. seperti katak yang dikecup tuan putri lalu menjadi pangeran tampan dan berakhir dengan pernikahan.

Aku tiba-tiba jadi kehilangan sesuatu yang begitu akrab di antara ruang-ruang kosong itu. Kusebut saja, ruang rindu. Aku tak mungkin menuangkan tumpukan kata di kumpulan sajak yang penuh makna dan Sastra bertahta ini tak ini tak kunjung selesai. Masih diperlukan banyak sentuhan rasa dan cinta warna-warni hingga sajaku ini mendekati sempurna. Kita telah menggoreskan kata bermakna kosong itu sejak mula hingga waktu jeda yang tanpa batas.

Masih ingatkah kau bagaimana Nuansa cinta itu penuh getar dan kabar. Tiap jumpa dan tingkap dipenuhi ikrar kita. Dan bola lampu temaram memburaikan janji-janji. Sebuah percintaan agung sedang dipentaskan di bawah arahan sutradara semesta. Kau membilang percik air yang berjatuhan di danau kecil di sudut pekarangan jiwa dalam kecup dan harum mawar.

“Mas Aku rindu kamu, Sedang apa malam ini…. selalu rindukan aku ya” terngiang percakapan-percakapan malam kita.

Bahkan, tubuh kita terguyuri embun yang terbang menembus kisi-kisi tingkap hingga tubuh kita jadi dingin. Malam-malam penuh mimpi dan keceriaan bagaikan sepasang angsa yang mengibas-ngibaskan bulu-bulu beningnya. Kau redupkan cahaya lampu di tiap penjuru hingga sejarah dapat dituliskan secara khidmat dan penuh makna. Kau menatap langit-langit kamar sambil membisikkan untaian puisi yang kau tulis dengan desah napasmu. Kita merecup semua getar irama percintaan itu tiada batas.

Ah, tak cukup kata memberi makna, katamu. Dan isyarat sepasang angsa yang saling menggosokkan paruh-paruhnya. Bagaikan peladang kita pun sudah pula bertanam dan menebar benih. Kelak, katamu, akan ada buah yang bakal dipetik sebagai kebulatan hati yang begitu mudah terjadi tanpa paksa dan janji.

Dan kita pun terus saja bertanam agar daun-daun yang bertumbuh kelak dapat menangkap fotosintesa matahari. Di tiap helai daun itu bermunculan nama kita sebagai sebuah keabadian. Andai matahari tak terbit lagi saat pagi merona, kita masih menyimpan sedikit cahaya di helai-helai daun yang berguncang dihembus angin sepanjang hari.

Sungguh, Bidadari telah pergi pagi ini. Bagai aku kehilangan dirimu yang berhari-hari menangkap cahaya hingga memekarkan kelopak bunga di jiwa. Percintaan ini penuh wangi dan warna. Penuh hijau daun dan kupu-kupu yang menyemai benang sari di mahkota bunga.

Begitulah saat kau berada jauh kembali ke garis hidupmu, aku begitu ternganga sebab cahaya tak ada. Memang, tak pernah matahari tak terbit memeluk bumi. Tapi, bagi kita, kala berada jauh, keadaan begitu gelap dan sunyi tiba-tiba. Kita merasa begitu kehilangan. Kita merasa ada yang terenggut tanpa sengaja. Serasa ada yang tercerabut dari akar yang semula menghunjam jauh di tanah.

Kita bagaikan orang tak punya pilihan saat berada di persimpangan tak bertanda. Syukurlah, kita tak pernah kehilangan arah tempat bertuju di perjalanan berikutnya. Hidup ini penuh gurindam dan bidal Melayu yang memagari ruang dan langkah kita menuju titik terjauh yang harus dilompati. Kata-kata yang berdesakan di bait puisi dan lirik lagu menebar wangi hari-hari.

“Akhhirnya kita ada, di akhir yang menyakitkan…”
“ternyata kita Susah melangkah terlalu dalam…”
“Aku tidak bisa, bathin Tersiksa..”

Penggalan Radio, mengalunkan lagi glen fredly, Kisah yang salah semakin menyilet, keperihan hati ini..ita akan tahu akan makna sesuatu ketika ia telah berlalu. Apalagi berada jauh yang tak tersentuh.

Apa perasaanmu kini? Kau telan kesendirian itu di kejauhan sambil berharap Bidadari akan bercahaya segera menerangi kisi-kisi hati yang tersaput luka rindu kita. Andai kita bisa menolak gumpal takdir dan menyeruakkan bidadari kembali, begitulah takdir yang hendak kita bentangkan di kitab sejarah sepanjang masa. Tapi, kita akan cepat lelah. Menyeruakkan awan untuk menyembulkan garang bidadari bukanlah hal yang mudah. Kita butuh sejuta tangan dan cakar untuk menaklukkan segenap awan dan matahari itu.

Garis panjang waktu itu mendedahkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit diraba. Banyak ancaman yang siap mengepung kita hingga merobek tabir setia. Ya, kesetiaan tak kasat-mata. Hanya ada di bilik hati. Ingin aku menjenguk bilik hatimu setiap saat, tapi tak bisa. Pintu hati itu tak setiap waktu bisa terbuka.

Andai Kita bangun esok pagi, perkenankan selalu Bidadari akan turun seperti janji yang diucapkannya pada semesta. Di helai cahaya cinta bidari itu selalu ada kehangatan yang meresap di keping-keping jiwa kita. Dan Bidadari pun telah kembali ke haribaan Surga yang indah, tak akan kembali turun ke bumi. (EA)

-Depok, 18 February 2008-

Teruntuk sahabatku, Fathur sabar ya… cerpen ini aku tulis dari kisah mas fathur


Best Regard
Erwin Arianto,SE

One thought on “Bidadari Telah Pergi Pagi Ini

  • 1 March 2011 at 09:49
    Permalink

    Saat pertama ku buka mata untuk melihat dunia, ku melihat se sosok wajah yang elok,dan dia menatapku, Ku tak mampu berpaling dari pandangan matanya itu,, Setelah lama kita kenal, rasa itu mulai muncul. Rasa Cinta yang amat dalm kepadanya,, Sering ku berharap untuk menjadi pendamping dalam hidupnya, dan menjadi yang halal umtuk dia kecup. Namun Takdir berkata lain, dia pergi meninngalkanku, aku tak lagi mendengar suaranya, akupun tak lagi melihat raut wajahnya yang elok,,, yang kini tersisa hanya ratapan Rindu yang slu hadir dalam tiap kesepian ku,,,, Sungguh aku merindukannya,,, đŸ˜¥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + nineteen =

Get Adobe Flash player