Hari Asyura

Hari Asyura (??????? ) adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh.

Hari ini menjadi terkenal karena bagi kalangan Syi’ah dan sebagian Sufi merupakan hari berkabungnya atas kesyahidan Husain bin Ali, cucu dari Nabi Islam Muhammad pada Pertempuran Karbala tahun 61 H (680). Akan tetapi, Sunni meyakini bahwa Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut untuk mengekspresikan kegembiraan kepada Tuhan karena kaum Yahudi sudah terbebas dari Fira’un (Exodus). Menurut tradisi Sunni, Muhammad berpuasa pada hari tersebut dan meminta orang-orang pula untuk berpuasa.

Syahidnya Husain bin Ali
Tanggal 10 Muharram 61 H atau tanggal 10 Oktober 680 merupakan hari pertempuran Karbala yang terjadi di Karbala, Iraq sekarang. Pertempuran ini terjadi antara pasukan Bani Hasyim yang dipimpin oleh Husain bin Ali beranggotakan sekitar 70-an orang melawan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Ibnu Ziyad, atas perintah Yazid bin Muawiyah, khalifah Umayyah saat itu.

Pada hari itu hampir semua pasukan Husain bin Ali, termasuk Husain-nya sendiri syahid terbunuh, kecuali pihak perempuan, serta anak Husain yang sakit bernama Ali bin Husain. Kemudian oleh Ibnu Ziyad mereka dibawa menghadap Khalifah di Damaskus, dan kemudian yang selamat dikembalikan ke Madinah.

Asyura bagi Muslim Sunni
Sebelum Islam, Hari Asyura sudah menjadi hari peringatan dimana beberapa orang Mekkah biasanya melakukan puasa. Ketika Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah, ia mengetahui bahwa Yahudi di daerah tersebut berpuasa pada hari Asyura – bisa jadi saat itu merupakan hari besar Yahudi Yom Kippur. Saat itu, Muhammad menyatakan bahwa Muslim dapat berpuasa pada hari-hari itu.

Asyura merupakan peringatan hal-hal di bawah ini dimana Muslim, khususnya Sunni percaya terjadi pada tanggal 10 Muharram:

1. Bebasnya Nabi Nuh dan ummatnya dari banjir besar.

2. Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrudz.

3. Kesembuhan Nabi Yakub dari kebutaan dan ia dibawa bertemua dengan Nabi Yusuf pada hari asyura.

4. Nabi Musa selamat dari pasukan Fir’aun dan tenggelamnya Fir’aun di laut merah.

5. Nabi Isa diangkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalibnya gagal.

Asyura sebagai titik awal Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Asyura’ adalah hari perlawanan terhadap kezaliman, penindasan, perampasan, kekejaman, kebiadaban, dan kekuasaan anti-kemanusiaan. Asyura’ juga merupakan perlawanan terhadap kebohongan, penipuan, manipulasi, distorsi, kemunafikan, ketundukan terhadap kezaliman, kenetralan dan kebisuan menghadapi kerusakan. Inilah hari pernyataan kasih sayang, pengorbanan manusia suci untuk sesama manusia, hari perayaan perikemanusiaan, hari menifestasi cinta.

Karena Asyura’ adalah upaya besar untuk mengembalikan Umat ke ajaran yang benar dan jalan yang lurus, maka sejarah menuntut pengorbanan manusia paling suci, paling benar, paling adil, paling jujur, paling mulia, paling luhur dan paling lurus seperti al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, Ahlul Bait Nabi dan para sahabat mereka untuk melawan kelompok yang paling busuk, paling zalim, paling pembohong dan paling menyimpang seperti Yazid, Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa’d, Syimr bin Dzil Jausyan.

Karbala adalah padang kesaksian, bumi perlawanan, tanah kesyahidan, dan panggung perwujudan cinta sesama melalui pengorbanan jiwa dan raga demi keadilan dan kebenaran. Di wilayah yang telah menampung ribuan tahun peradaban manusia itu, di tanah yang menjadi sumber kehidupan ratusan kerajaan dan imperium itu, di tempat yang menjadi saksi bagi penulisan pertama sejarah umat manusia itu, di kawasan dua sungai yang disebut dengan Mesopotamia itu, di sebelah sungai Eufrat yang telah mengalir selama ribuan tahun silam, di sanalah al-Husein putra Ali cucunda Nabi bangkit menyambut tugas dan menunaikan amanahnya untuk mengembalikan manusia kepada kebenaran, jalan lurus, keadilan, perikemanusiaan, kemuliaan dan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Asyura adalah perayaan nilai-nilai kesucian, pengorbanan, kemanusiaan, nilai-nilai Ilahi yang menjulang tinggi. Inilah hari kemenangan darah suci bersih atas pedang penindasan dan tombak kenistaan. Inilah hari pementasan keluhuran, keagungan dan kesempurnaan. Inilah hari yang takkan pernah berlalu dari hati manusia. Di hari Asyura, Waktu menjadi beku, tak sanggup beranjak menyaksikan antusiasme dan heroisme dalam bentuknya yang sedemikian sakral itu. Di Karbala, Ruang menjadi terlipat, Tanah tak berani bergerak menampung darah-darah suci Keluarga Nabi. Kullu yaumin ‘Asyura, wa kullu ardhin Karbala.

Abu Abdillah al-Husein telah melancarkan gerakan dan perlawanan yang sangat agung dan suci, yang tak lekang oleh panas, dan tak lapuk oleh hujan. Gerakan dan perlawanan Abu Abdillah Al-Husein mempunyai semua ciri-khas yang menjadikannya bersifat suci dan sakral, sehingga ia tak memiliki tandanginnya dalam sejarah manusia. Berikut ini saya sebutkan 3 dari sejumlah ciri-khas kesucian sebuah gerakan yaitu:

1. Ciri-khas pertama kesucian gerakan ialah sasaran dan tujuan akhirnya yang tidak personal, dan tidak menyangkut kepentingan2 masing-masing individu yang terlibat di dalam gerakan tersebut, tapi bersifat universal, mencakup seluruh umat manusia, berangkat dari dan demi kepentingan2 transendental. Imam Husein bergerak melawan kekuasasan manipulatif Yazid demi seluruh umat manusia, demi kebenaran, keadilan, tauhid dan kesempurnaan manusia, bukan untuk motif2 personal apalagi kepentingan2 kelompok.

Imam Husein mewakili jeritan hati nurani semua manusia. Itulah sebabnya Imam Husein dipuja dan dicintai oleh semua manusia. Itulah sebabnya Nabi berkata: “Husein dariku dan aku dari husein.” Perjuangan Imam Husein merupakan kelanjutan misi Kenabian Muhammad itu sendiri.

Kita juga dapat berkata, “Al-Husein adalah dari kita dan kita dari al-Husein.” Karena gerakan al-Husain 1368 tahun lampau memiliki tujuan yang meliputi kepentingan dan kemaslahatan kita dan semua umat manusia. Gerakan dan kebangkitan Imam Husein bertolak dari tujuan2 dan motif2 yang tidak hanya berhubungan dengan kepentingan2 diri sendiri, kepentingan2 keluarga dan sekelompok sahabatnya. Sebaliknya, dalam hubungan dengan diri, keluarga dan para sahabatnya, Imam Husein justru melakukan pengorbanan yang besar.

Kalau sekiranya Imam Husein memiliki kepentingan2 personal dalam gerakannya, tentu saja dia tidak akan memilih strategi, taktik dan setting seperti yang telah beliau pilih di Hari Asyura’. Mungkin, pertama-tama, beliau akan menjaring lebih banyak lagi pendukung, dengan berbagai kampanye keliling untuk memobilisasi massa. Mungkin beliau akan merencanakan kudeta dengan menjanjikan konsesi untuk orang2 Yazid. Mungkin Imam Husein akan menggunakan taktik makar, menginfiltrasi ke dalam struktur kekuasaan, menyusupkan kader2nya, lalu kemudian menggulingkannya dari dalam. Atau mungkin Imam Husein mula2 akan berpura2 berbaiat, tapi kemudian mengingkarnya setelah beliau membangun basis dukungan yang cukup luas untuk melancarkan aksi pemberontakan.

Tapi nyatanya Imam Husein tidak melakukan semua itu. Imam Husein menolak cara2 yang cenderung mengaburkan perbedaan antara Pihak Yang Benar dan pihak yang salah. Makar, infiltrasi, mobilisasi, kampanye propaganda, politik dagang sapi, dan sejenisnya dapat mengotori kesucian misi yang beliau emban. Cara2 seperti itu bahkan sama sekali bertentangan dengan misi dan tujuan utama Imam Husein.

Strategi Imam Husein adalah strategi melakukan penyempurnaan hujjah kebenaran dan menempatkan Yazid dan pengikutnya di keranjang sampah sejarah. Strategi Imam Husein adalah melakukan gerakan paling suci demi membongkar manipulasi dan distorsi Kekhalifahan Islam di tangan2 kotor Bani Umayah.

Bila Imam Husein memiliki tujuan2 personal dan kepentingan2 pribadi di balik gerakannya, tentu beliau tidak akan memboyong seluruh keluarga dekat dan sahabat yang paling beliau cintai dan beliau percayai. Bagi politisi yang mempunyai kepentingan2 pribadi, gerakan Imam Husein itu sama sekali tidak masuk akal.

Sebaliknya, pilihan tempat, waktu, rombongan yang beliau bawa dan slogan2 yang beliau lontarkan sepanjang perjalanan menunjukkan tiadanya tujuan2 dan kepentingan2 personal dalam gerakan tersebut. Dan inilah yang menjadikan gerakan Imam Husein sebagai gerakan sakral yang setiap akal dan hati manusia waras pasti tergerak untuk merenunginya dan terpanggil untuk mengagungkannya.

2. Ciri-khas kedua kesucian gerakan ialah visi dan pandangan jauh yang dibawanya. Untuk menjelaskan masalah ini, saya akan mengambil ilustrasi berikut ini: sekiranya ada sebuah masyarakat yang bodoh, tidak sadar, dan tidak paham apa2. Lalu muncul di tengah2 mereka seseorang yang memiliki visi dan pandangan jauh ke depan, yang mengerti penyakit2 masyarakat itu dan obat2 yang dapat menyembuhkan mereka. Di saat semua orang gagal mengerti dan melihat, seorang manusia yang bervisi dan berpandangan jauh itu bisa mengerti dan melihat dengan jelas dan tegas segala sesuatunya. Kemudian dia maju dan bangkit untuk melakukan sesuatu. Maka bisa jadi, jauh setelah gerakannya, barulah sebagian orang sadar dan menemukan alasan mengapa orang yang memiliki visi dan wawasan itu bangkit dan melawan. Mereka akan mengerti tujuan2 sakral di balik gerakannya.

Dengan kata lain, sebuah gerakan suci tidak hanya memiliki tujuan2 jangka pendek, tapi memiliki tujuan2 jangka panjang, yang jauh melampaui sekat2 ruang dan waktu yang serba sementara ini. Gerakan itu harus melampaui kalkulasi2 politik atau ekonomi jangka pendek. Ia harus merupakan gerakan lintas-waktu, lintas-sejarah, gerakan yang senantiasa relevan dengan keadaan manusia di semua tempat dan zaman.

Gerakan Imam Husein adalah jenis gerakan seperti ini. Kini kita tahu karakter dan kepribadian Yazid dan segenap akibat buruk dari kekuasaannya. Kini kita tahu perbuatan2 Muawiyah beserta segenap desain dan skema politik yang hendak dia gulirkan di negeri2 Islam. Akan tetapi, hampir 80% kaum Muslim di zaman itu tidak mengetahui fakta2 ini. Mereka tidak mengendus skenario besar yang telah lama dicanangkan oleh Muawiyah dan kaki-tangannya untuk menaikkan Yazid di tampuk kekuasaan dunia Islam, terutama karena tiadanya media massa seperti yang ada hari ini. Orang-orang di zaman itu berkomunikasi lewat media yang sangat terbatas, dengan tingkat penyebaran yang sangat rendah.

Dari 20% yang tahu skenario itu, kira2 10 % dari mereka tidak berani melawan jaringan kekuasaan Yazid. Mereka mengira bahwa semua perlawanan akan berakhir sia2, dan lebih memilih cara2 kompromistis. Kira2 10% lain dari Umat Islam sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi, seperti dalam kasus sebagian besar penduduk Madinah. Penduduk Madinah tidak memahami situasi yang terjadi. Mereka tidak mengetahui dengan persis karakter Yazid dan akibat2 kekuasaan orang seperti dia bagi kaum Muslim secara keseluruhan.

Baru setelah peristiwa Asyura dan pembantaian keluarga Imam Husein bin Ali di Karbala, mereka terkesiap dan bertanya2, mengapa Imam Husein berserta segenap keluarga dan sahabatnya harus dibantai secara begitu sadis. Perlahan-lahan tapi pasti, peristiwa pembantaian cucu Nabi itu menimbulkan dampak yang dahsyat. Akhirnya, hegemoni Yazid yang tampak sedemikian kokoh di tengah-tengah apatisme masyarakat yang tertidur lelap itupun ikut terguncang. Yazid yang tidak secerdik ayahnya, Muawiyah, dan yang lebih mengandalkan insting kebinatangannya yang sangat buas, tidak mengerti bahwa peristiwa Karbala akan memupuskan semua cita-cita leluhurnya untuk mengangkangi simbol2 Islam demi melanggengkan kekuasaan Dinasti Umayah.

Oleh sebab itu, beberapa waktu setelah peristiwa Karbala, penduduk Madinah bersepakat mengirimkan delegasi ke Suriah yang terdiri atas sejumlah tokoh terpandang dan dipimpin oleh seorang bernama ‘Abd Allah bin Hanzalah, yang kelak dikenal dengan gelar “Ghasil al-Mala’ikah” atau “orang dimandikan oleh malaikat”. Setelah tinggal beberapa hari di Suriah, delegasi penduduk Madinah ini terhenyak memandang kenyataan2 yang ada. Saat kembali ke Madinah, dan ditanya tentang apa yang mereka saksikan, mereka sampai berkata: “Apa yang dapat kami ungkapkan kepada kalian ialah saat kami berada di Damaskus, kami selalu takut jangan2 akan terjadi hujan batu (sebagai bentuk kutukan Allah atas kita semua).” Lantas mereka berkata bahwa mereka telah melihat seorang khalifah yang meminum khamar di depan umum, berjudi, suka bermain2 dengan anjing dan monyet serta melakukan inses (hubungan seksual) dengan salah satu anggota keluarganya sendiri.

Abd Allah bin Hanzalah memiliki 8 putra. Dia berkata kepada segenap warga Madinah, “Entah kalian akan bangkit melawan ataupun tidak, aku akan bangkit melawan biarpun aku harus melakukannya sendirian dengan putra2ku.” Dia melaksanakan ikrarnya, dan terjadilah perlawanan terhadap pasukan Yazid yang hendak menyerang Madinah. Akhirnya Abd Allah bin Hanzalah dan beberapa putranya gugur sebagai syuhada. Tapi, kematian Abd Allah bin Hanzalah menyulut kemarahan lebih besar pada penduduk Madinah terhadap Yazid. Sejak itu, jaringan kekuasaan Yazid terkikis dengan cepat, dan tak sanggup lagi menghadapi perlawanan sporadis hampir di setiap titik wilayah Islam.

Salah satu tujuan al-Husein melakukan perlawanan di Karbala ialah untuk menggagalkan bergulirnya rencana jahat Dinasti Umayah untuk mempergunakan simbol2 Islam dan sentimen2 kesukuan dalam menguasai Umat Muhammad. Bagi al-Husein, kekuasaan Yazid, bila bertahan lebih lagi, akan berakibat pada lenyapnya Islam secara total dari kesadaran kolektif Umat. Al-Husein pernah menyatakan: ‘Katakan selamat tinggal pada Islam bilamana umat tertimpa penguasa semacam Yazid.’ Tujuan ini tampaknya dengan cepat dapat diraih oleh Imam Husein. Dan dalam konteks inilah ‘Darah telah mengalahkan pedang,’ (Ghalaba ad-dam ‘ala as-sayf).

3. Ciri-khas kesucian gerakan yang ketiga adalah kemampuannya untuk menguak dalih2 palsu yang melegitimasi sebuah tirani. Sejak periode kekuasaan Muawiyah di Suriah, Bani Umayah mencoba mendalangi sebuah distorsi besar di tengah-tengah Umat Muslim untuk mencoreng citra Keluarga Nabi. Sasaran utama mereka adalah supaya legitimasi dan kredibilitas Ali bin Abi Thalib yang tak tersaingi itu pelan-pelah akan hilang. Mereka mencoba mem-frame Imam Ali sebagai aktor intelektual di balik kematian Usman. Lalu mereka menelikung kemenangan pihak Imam Ali di Perang Shiffin dengan tipuan tahkim, yang akhirnya berujung dengan keluarnya kelompok Khawarij atas kepemimpinan Imam Ali, hingga akhirnya Imam Ali terbunuh di Mihrab Masjid Kufah.

Imam Ali pernah mengungkapkan kepribadian Muawiyah dalam ucapan berikut: “Demi Allah, sesungguhnya Muawiyah tidaklah lebih cerdik daripadaku. Tapi ia berhati culas dan tidak segan2 berlaku keji. Sekiranya bukan karena aku membenci kecurangan, niscaya aku akan menjadi orang yang paling cerdik (memainkan kecurangan). Namun, setiap kecurangan pasti membawa pada kekejian, dan setiap kekejian pasti membawa pada kekufuran.”

Pada tahap berikutnya, Muawiyah mencurangi Imam al-Hasan dengan sebuah perjanjian damai yang dipaksakan. Ia juga berhasil memanipulir simbol2 keagamaan demi menggelindingkan ambisi kekuasaan. Dan inilah letak masalah besar yang mesti dihadapi dengan sebuah perlawanan dramatis dan kolosal yang untuk sekali dan selamanya bisa membedakan dengan jelas mana pihak yang benar dan mana pihak yang batil.

Gerakan Imam Husein, dengan segenap detailnya yang dramatis, kolosal dan tragis itu sungguh telah berhasil menjungkirbalikkan manipulasi simbol2 keagamaan pihak Bani Umayah. Bukan hanya itu! Imam Husein bahkan berhasil menunjukkan kepada umat Muslim pada khususnya, dan umat manusia pada umumnya, bahwa ilusi Bani Umayah untuk mempermainkan sentimen2 masyarakat, dengan menampilkan kekejaman, teror dan intimidasi di satu sisi serta sogokan dan politik uang di sisi lain, sesungguhnya tidak akan bisa mengalahkan suara kebenaran dan keadilan. Imam Husein telah membuktikan dengan segenap aksinya bahwa kekuasaan yang bertopang pada kebatilan yang sangat cerdik memanipulasi simbol2 agama, mempermainkan sentimen2 kesukuan, menghadirkan teror dan ketakutan, mengumbar ilusi2 kosong tentang kesejahteraan dan kemakmuran, tidak mungkin bertahan menghadapi darah2 suci yang berkorban demi kebenaran dan keadilan.

Demikianlah, Imam Husein berhasil melahirkan dan menghidupkan sebuah budaya kemenangan darah atas pedang, kemanangan nilai2 atas ilusi dan fantasi, kemenangan pengorbanan dan keluhuran atas kekejaman dan kebengisan, kememangan kekuatan logika atas logika kekuatan.

Sejak gerakan Asyura’, di tengah2 Umat Islam muncul keberanian untuk tidak tunduk pada penguasa zalim, sekalipun penguasa itu menggunakan kedok agama. Sejak peristiwa Asyura’, sebagaimana termaktub dalam karya-karya ahli sejarah Islam kontemporer telah bangkit ratusan intifadhah (perlawanan terhadap penguasa yang zalim).

Arus deras perlawanan terhadap kezaliman penguasa yang mencoba bersembunyi di balik simbol2 Islam, terus terjadi, hingga seribu tiga ratus empat puluh (1340) tahun setelah peristiwa Asyura, Imam Khomeini bangkit melakukan perlawanan serupa. Dalam ceramah2nya semasa bergejolaknya Revolusi, Imam Khomeini sering menyatakan bahwa Revolusi Islam Iran adalah hasil dari tradisi dan budaya Asyura.

Memang tidak bisa dibayangkan bagaimana seorang tokoh tua yang cukup aneh untuk ukuran zaman modern ini, bisa menggulingkan rezim yang berkuasa dengan tangan besi, dana berlimpah, legitimasi dari elit ulama yang korup dan dukungan jaringan kapitalis dan imperialis global.

Salah satu warna gerakan Asyura ialah perlawanannya terhadap hegemoni kekuasaan Amerika Serikat yang berhasil memanipulasi simbol2 kebebasan, kemajuan, dan demokrasi untuk kepentingan2 politik bejat mereka. Dalam kurun waktu yang panjang, Amerika Serikat berhasil menipu pikiran sebagian besar umat Islam, khususnya penduduk di Kawasan Timur Tengah, dengan dalih2 kemajuan, kesejahteraan, pembangunan, kebebasan dan peradaban di satu sisi, dan dalih2 teror, pertikaian antar kelompok, konflik perbatasan dan pemberontakan kelompok radikal di sisi lain. Persis seperti Bani Umayah yang mempermainkan simbol2 agama di satu sisi dan kekejaman di sisi lain, AS sekarang ini juga mempermainkan simbol2 bernama demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan, kemajuan dan kesejahteraan di satu sisi; terorisme, konflik sektarian, kediktatoran Saddam, ancaman Syiah, bahaya Bin Laden dan al-Qaidah di sisi lain untuk terus menghegemoni negeri2 Muslim yang kaya ini.

Kini kita paham bahwa Amerika Serikat dan semua sekutunya berdiri di atas kekuasaan yang menampilkan momok kekejaman dan kebrutalan untuk menakut-nakuti orang2 tertindas agar mereka tak berani melawan di satu sisi, dan menampilkan janji2, iming2 kesejahteraan dan kemajuan agar kita terus tidur terlelap dalam buaian konyol di sisi lain.

Demokrasi itu hanyalah dalih sekelompok kapitalis untuk menguasai mayoritas orang yang apolitik—untuk tidak menyebut bodoh—dengan uang haram hasil rampokan dari negeri2 korup yang memiliki sumber daya alam yang kaya. Dan karena negeri2 korup di kawasan yang kaya minyak itu mau tak mau harus bertopang di atas kekuatan besar yang lebih korup dan lebih brutal, maka Amerika Serikat dan Israel mendapatkan legitimasi keberadaannya di kawasan tersebut.

Dan semakin kita tahu bahwa kemajuan yang mereka gembar-gemborkan itu tak lain adalah upaya menjadikan manusia semakin bergantung pada materi, pada benda2, pada alat2, pada produk2 teknologi yang dari hulu sampai hilirnya telah mereka monopoli terlebih dahulu, agar kita terus bergantung pada mereka. Dan ketika ada negara yang berusaha keluar dari ketundukan semacam itu dengan meneliti dan mempelajari teknologi yang paling canggih dan paling efisien di bidang enerji, untuk memanfaatkan teknologi nuklir bagi kepentingan pembangkit listrik dan kebutuhan2 industri kedokteran dan sebagainya, negara itu akan dikecam, diblokade, diancam, diteror, di-pressure dari segala penjuru dan dengan semua cara.

Kemajuan yang mereka iming-imingkan pada kita itu tak lain daripada konsumtivisme yang justru mematikan dan membunuh kesadaran manusia. Di dalam kemajuan semacam itu, subjek manusia menjadi sangat lemah, sementara angan2, iming2, fantasi dan ilusi menguasai segala-galanya.

Manakala semua potensi dipakai untuk memburu ilusi yang disodorkan dan dijejalkan itu, maka subjek manusia akan kehilangan rasionya. Fenomena tak lagi dapat dirajut menjadi gubahan yang bermakna. Gelombang kebingungan, skeptisisme, sinisisme, dan relativisme pun akan silih berganti menerpa sukma.

Jiwa yang tak berdaya itu pun lantas menghabisi sisa2 hati nuraninya sendiri, untuk bisa keluar dari siksaan kemelut batinnya, dan menenggelamkan diri lebih jeluk di lautan apatisme, pasifisme, fatalisme, absurdisme dan nihilisme.

Kini kita tahu, bahwa manusia yang sehat tidak butuh pada alat2 bantu. Sebaliknya, manusia yang cacat dan lemahlah yang membutuhkan alat2 bantu, yang demi motif2 pemasaran, mereka mengubah nama alat2 bantu itu dengan sebutan gagah produk-produk teknologi canggih. Demi menyebarnya alat2 bantu itu, manusia sebagai subjek yang multi potensi harus dibuat cacat, dipasung, dijejali beragam ilus bahwa tanpa alat2 itu, ia belum bisa disebut sebagai manusia yang maju dan sejahtera. Dan hal ini bisa kita buktikan dengan melihat Indeks Pembangunan yang meletakkan televisi sebagai komponen ukuran, tapi tidak memasukkan buku sebagai komponen. Padahal membaca jauh lebih baik dan lebih cerdas daripada menonton.

Kini kita tahu bahwa kebebasan yang mereka bangga2kan itu adalah kebebasan untuk mencemooh Nabi yang kita muliakan, agama yang kita anut. Mereka bebas mengekspresikan kritik tajam, bahkan cemooh karikatural yang merendahkan martabat, terhadap agama kita dan junjungan Nabi kita, tapi kita, di sisi lain, tidak bebas untuk sekadar meragukan kebenaran peristiwa semacam Holocoust yang mereka sakralkan.

Itulah sebagian kecil dari buah segar Asyura, dalam perspektif perlawanan Umat terhadap hegemoni Barat di era modern ini. Inilah budaya yang selama-lamanya akan mengilhami umat manusia, sekalipun hanya sebagian kecil mereka, untuk bangkit melawan pembodohan dan penindasan. Inilah budaya yang, karena kemurniannya yang luarbiasa, berhasil membangunkan orang yang sedang tidur panjang di dalam ngarai yang terdalam sekalipun.

Saya akan kembali mengutip ayat pembuka di atas: ‘Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan pada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.’

Dalam ayat 112 surah al-An’am ini, kita menemukan pelajaran penting tentang adanya setan-setan dari jenis jin dan manusia yang senantiasa muncul di tengah2 manusia untuk menyebarkan gagasan2 menarik, wacana2 menawan, teori2 memukau, perkataan2 indah, ungkapan2 manis, iming2 dan janji2 dusta, semuanya tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk menipu dan memperdaya pikiran manusia. Kelompok manusia yang lemah akan segera hanyut dalam perkataan2 indah tersebut. Dengan mudah mereka akan bergerak mencari dan mengejar iming2 dan janji2 dusta dari setan2 jenis jin dan manusia tersebut.

Akan tetapi, manusia2 yang mengenal budaya Asyura’ dan mempelajari teladan gerakan kemanusiaan seperti Imam Husein, tidak akan percaya begitu saja. Dia akan berpikir dengan kritis, merenungi semuanya dengan jernih, membedakan mana yang benar dan mana yang palsu.

Sesungguhnya Asyura al-Husein adalah upaya untuk memerdekan ruh dan tubuh manusia dari segala tipu-daya semacam itu. Asyura berhasil menampilkan gerakan yang benar2 bersih dan suci dari segala noda, terutama sekali bila kita melihat pada rincian ucapan Imam Husein sebelum, di saat2, dan setelah Asyura’. Asyura’ adalah potret perjuangan manusia suci, dalam sebuah gerakan suci, bersama rombongan suci, untuk tujuan2 suci di tengah2 samudera kebodohan, kekejian, kedurhakaan, keculasan, penipuan, kekotoran yang pekat dan gelap-gulita.

Pilihan kita sekarang adalah melakukan perenungan mendalam, mengisi hari2 kita dengan refleksi, sambil mewaspadai segala tipuan yang mungkin sudah menjerat kita. Karena sesungguhnya musuh terbesar manusia, yakni iblis atau setan, pada hakikatnya adalah waham dan fantasi besar. Selama kita belum bisa lepas dari waham dan fantasi besar itu, selama itu pula kita akan berjalan mundur dari garis-lurus kemanusiaan. Manusia adalah makhluk rasional dan realistis. Bila dia tertawan oleh waham dan fantasi, maka dia akan membuang rasio dan mengabaikan realitas. Dia akan bergerak memusuhi perkemanusiaan; dia akan menghancurkan kecintaan pada kebenaran, keadilan, kemerdekaan, kebebasan, kesederhaan, dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya; dia akan menipu dirinya dan orang2 di sekitarnya; dia akan menjadi simbol kesesatan; dan pada puncaknya dia akan menjadi setan dan iblis dalam raut muka dan tubuh manusia.

Manusia yang demikian ini telah benar-benar menjelma menjadi musuh kemanusiaan. Dia bukan hanya akan memusuhi satu, dua, atau beberapa manusia, tapi dia akan memusuhi dan memerangi seluruh manusia. Mengapa demikian? Karena waham dan fantasinya tidak akan terpuaskan bila masih ada satu manusia yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Inilah barangkali makna simbolis penciptaan iblis dari api, dan manusia dari tanah. Tanah adalah wadah pertumbuhan, sedangkan api adalah daya untuk membakar tanaman kering yang tumbuh liar di tanah.

Dan nilai dasar positif yang bisa kita petik dari artikel ini adalah bahwasanya kita harus senantiasa fokus, kukuh, tegar, sabar, dan yakin Allah akan selalu ada disisi kita dalam menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Tugas ini memang teramat berat dan penuh cobaan karena musuh-musuh Allah pasti takkan tinggal diam untuk menggagalkan tugas mulia ini. Semoga Allah selalu menguatkan Iman dan KeIslaman kita, Amin.

Dikutip dari: Jawad Amuli, Tsaurah al-‘Isyq al-Ilahi, (Ummul Quro, Qom, 1422H), hal. 424.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 9 =

Get Adobe Flash player