Mengenal Kafein Pada Minuman Bersoda

By: enj

Kafein dikenal sebagai trimethylxantine dengan rumus kimia C8H10N4O2 dan termasuk jenis alkaloida. Nama lengkap kafein adalah 3,7-dihydrotrimethyl-1H-purine-2,6-dione. Bentuk alami kafein adalah kristal putih, prisma heksagonal, dan berbobot molekul 194,19 dalton. Kafein memiliki titik leleh 238oC dan mengalami sublimasi pada suhu 178oC (Karch, 2002).

Kafein terdapat secara alami pada biji kopi, biji coklat, daun teh, serta cola nuts. Metabolisme kafein di dalam tubuh akan menghasilkan theophylline (1,3-dimethylxanthine) dan theobromine (3,7-dimethylxanthine), yang kemudian akan diekskresikan ke luar tubuh dalam bentuk paraxanthine (60 %), theobromine (20 %), dan theophylline (14 %).
Kafein sebagai zat stimulan tingkat sedang (mild srimulant) memang seringkali dituding sebagai penyebab kecanduan. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Kafein hanya dapat menimbulkan kecanduan jika dikonsumsi dalam jumlah yang sangat banyak dan rutin. Namun kecanduan kafein berbeda dengan kecanduan obat psikotropika, karena gejalanya akan hilang hanya dalam satu dua hari setelah konsumsi (Moore, 2001).
Peranan Kafein
Sejak dahulu kala, kafein telah dikenal sebagai zat stimulan yang populer. Kafein sering digunakan dalam dunia kedokteran sebagai perangsang kerja jantung dan peningkat produksi urin. Kafein dosis rendah juga dapat berperan sebagai pembangkit stamina dan penghilang rasa lelah. Kegunaan di bidang kedokteran lainya adalah pengobatan sakit kepala dan migrain (EUFIC, 2006).
Di beberapa negara maju, kafein digunakan untuk mengatasi asma dan batu ginjal, walaupun belum didukung penuh oleh penelitian ilmiah. Kafein bahkan digunakan dalam bahan penyusun obat-obatan. Sebagian besar obat flu mengandung kafein yang bertujuan untuk mengatasi rasa kantuk yang ditimbulkan oleh bahan-bahan lainnya. Hal tersebut dilakukan karena kafein memiliki sifat antisoporific yang dapat mengatasi sergapan rasa kantuk (Lewin, 1998).
Minuman Bersoda
Kadar kafein per 240 ml untuk berbagai jenis minuman adalah: coca cola 23 mg, kopi 65 – 120 mg, energy drinks 70 – 85 mg, teh 20 – 90 mg, coklat 5 – 35 mg dan susu coklat 1 – 15 mg. Bagi yang tidak menghendaki kafein, dapat memilih minuman bersoda yang tidak mengandung kafein (caffeine free). Informasi tersebut dapat dibaca pada label kemasan produk. Oleh karena itu, biasakan membaca label sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk.
Pada minuman bersoda, perasaan menyenangkan (enjoyment) dan menyegarkan (refreshment), bukan hanya berasal dari unsur kafein, tetapi merupakan perpaduan antara kafein dengan komponen lainnya (seperti gas CO2, gula/pemanis dan flavor). Oleh karena itu anggapan bahwa konsumsi minuman bersoda dapat menimbulkan kecanduan akibat kadar kafeinnya, tidak berdasar sama sekali.
Konsumsi Bijak, Kafein Jinak
Sebagai konsumen minuman bersoda, kita harus jeli dalam mengamati kandungan kafein dalam minuman tersebut. Jika kadar kafein dalam sekaleng minuman bersoda (240 ml) sekitar 23 mg, maka kita dapat mengonsumsi minuman tersebut sebanyak 6 – 7 kaleng, tanpa perlu khawatir terhadap efek kafeinnya. Apabila kita berhasil mengatur berapa jumlah yang layak untuk dikonsumsi, maka kita akan mendapatkan hasil yang maksimal dengan kondisi kesehatan tubuh yang terjaga. Kita tidak perlu takut dan menjauhi minuman bersoda hanya karena alasan kafein, yang sesungguhnya kadarnya sangat rendah.
Salah satu minuman bersoda yang mengandung kafein adalah cola, yang lebih populer dengan sebutan coke, yaitu minuman yang berbahan dasar cola nuts berpadu dengan coca leaves. Minuman cola ini berasal dari cola nuts yang secara tradisional digunakan oleh bangsa Indian Bolivia sebagai zat stimulan alami (kafein). Daun coca sendiri berasal dari famili Erythroxylaceae, biasanya didapat dari spesies Erythroxylum coca. Bangsa Amerika dulu sering mengunyah daun tersebut karena dipercaya dapat menyegarkan tubuh.
Kafein yang terdapat dalam minuman cola secara alami berperan sebagai stimulan dengan efek yang sama dengan kafein dalam minuman penyegar lainnya. Akan tetapi karena terkandung dalam jumlah sedikit, maka efeknya dapat dirasakan enak, tanpa membuat ketagihan. Beberapa jenis coke malah ada yang tidak berkafein sama sekali, sebagai suatu pilihan bagi yang menghendakinya.

Sumber: Kompas, Jakarta, 18 Desember 2007

Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

User Online

Back to Top
Get Adobe Flash player