Kedatangan Imam Mahdi as

Pada zaman sekarang, banyak orang yang tidak percaya
dengan kedatangan Sayyidina al-Mahdî al-Muntazhar
(Juru Selamat yang Dinanti) di akhir zaman.
Bagaimanapun, Nabi saw telah memprediksi kemunculan
Sayyidina al-Mahdî, alayhi salam, dan menekankan
kepastian kedatangannya kepada para sahabat. Karena
ketidaktahuan mereka, sementara orang menegaskan bahwa
al-Mahdî adalah konsep kaum Syiah, dan bukan bagian
dari konsep keyakinan tradisional Suni ( Ahlus Sunnah
wal Jamaah )

Padahal, kedatangan al-Mahdî merupakan doktrin mapan
dalam tradisi Sunni dan Syiah, juga sebetulnya semua
manusia. Menurut teks-teks keagamaan yang ada, ia
adalah pemimpin masa depan bagi orang-orang beriman
dan orang-orang baik di seluruh bangsa di dunia.
Kedatangan al-Mahdî ditegaskan oleh banyak hadis
sahih. Jadi, kaum muslim tak perlu ragu apakah
al-Mahdî akan turun atau tidak, tetapi hendaklah
menanti dan bersiap-siap menyongsong kedatangannya.

Karena tidak memiliki pendidikan agama yang memadai,
banyak orang Islam dewasa ini yang tidak tahu banyak
atau tidak tahu sama sekali tentang Imam al-Mahdî as.
Ia orang yang memiliki kekuatan sangat besar, yang
muncul menjelang Hari Kiamat. Nabi Muhammad salallahu
alayhi wasalam berkata tentang Sayidina Mahdî alayhi
salam,” Kalau umur dunia ini hanya tinggal satu hari,
Allah akan memperpanjangnya hingga orang itu datang.
Ia berasal dari keluargaku, namanya seperti namaku
(Muhammad), dan nama ayahnya juga seperti nama ayahku
(‘Abd Allâh). Ia akan memenuhi dunia dengan kesetaraan
dan keadilan, yang sebelumnya dipenuhi dengan
ketidakadilan dan penindasan.”

Hadis sangat sahih sehingga Ibn Taymiyyah dan
al-Albânî sekalipun menerimanya. Nabi saw. bersabda
bahwa seandainya umur dunia tinggal sehari, Allah akan
memperpanjang nya untuk menunggu kedatangan Sayyidina
al-Mahdî. Imam Mahdî as datang untuk membasmi
kejahatan dan menebar kedamaian di seluruh dunia.
Orang-orang Islam dan Kristen akan mengetahui hal itu
dan bersiap-siap menyambut kembalinya Nabi Îsâ alayhi
salam ( Jesus Christ as), tetapi banyak orang Islam
yang tidak menyangka bahwa kedatangannya sudah dekat.
Orang-orang Yahudi sedang menantikan Juru Selamat,
orang-orang Kristen sedang menantikan Nabi ‘Îsâ as (
Jesus Christ ), sementara orang-orang Islam sedang
menantikan Imam Mahdî as dan Nabi ‘Îsâ as.

Semua agama menggambarkan mereka sebagai manusia
penyelamat dunia. Allah berfirman: Dan katakanlah,
“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.”
Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap. (Q 17:81). Mereka tidak akan menggunakan
senapan atau senjata, tetapi akan melancarkan gerakan
spiritual dan semua orang beriman akan mengikuti
mereka. Pada masa itu, orang-orang kafir akan
bersekutu dengan Dajal (Anti Christ) dan membentuk
pasukan setan. Sayyidina Al-Mahdî adalah seorang
khalifah bagi semua orang Islam.

Dewasa ini, banyak orang yang menyerukan pembentukan
kekhalifahan; Nabi Muhammad salallahu alayhi wasalam.
juga memperingatkan bahwa sebelum kedatangan al-Mahdî,
akan muncul 40 Nabi/ Khalifah palsu. Secara teoretis,
setiap orang yang menyerukan kekhalifahan memang
benar. Tetapi, kebanyakan tidak memahami makna
sebenarnya dari “kekhalifahan” dan memandangnya
sebagai gerakan politik atau “modernisasi” Islam.

Kekhalifahan tidak lain adalah bagi Sayyidina Imam
al-Mahdî as, yang merupakan salah satu keturunan Nabi
Muhammad salallahu alayhi wasalam dan mendapat
dukungan Allah swt. Ummu Salamah ra meriwayatkan bahwa
Nabi saw. bersabda: Al-Mahdî berasal dari keluargaku,
dari keturunan Fâthimah. ‘Alî ibn Abî Thâlib
meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Al-Mahdî
berasal dari ahlul bait. Allah akan mempersiapkannya
dalam satu malam. Ia akan datang dengan tiba-tiba pada
akhir zaman.

‘Abd Allâh ibn Mas‘ûd ra diriwayatkan pernah berkata,
“Suatu hari kami sedang bersama Rasulullah salallahu
alayhi wasalam, ketika beberapa pemuda dari Bani
Hasyim menghampiri beliau. Ketika beliau melihat
mereka, matanya basah dengan air mata, dan warna
matanya berubah. Aku katakan, ‘Kami terus menyaksikan
di wajahmu sesuatu yang tidak engkau sukai.’ Beliau
berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah ahlul bait, dan
Allah telah memilihkan bagi kami kehidupan akhirat.
Keluargaku akan tertimpa musibah besar, pengusiran dan
penyerangan, setelah kepergianku (wafatnya Nabi
Muhammad salallahu alayhi wasalam ). Hingga datang
sekelompok orang dari arah timur dengan membawa
bendera hitam. Mereka menuntut keadilan, tetapi tidak
ada yang menanggapinya. Kemudian mereka berperang dan
mereka akan menang.

Lalu tuntutan mereka dipenuhi. Tetapi, mereka tidak
mau menerimanya hingga hak itu diserahkan kepada
seorang laki-laki dari kalangan keluargaku yang akan
memenuhi dunia dengan keadilan, yang sebelumnya penuh
dengan kebatilan. Barang siapa hidup dalam situasi
seperti itu, maka hendaklah ia menemuinya meskipun
harus merangkak di dataran yang berselimut salju,
karena dialah al-Mahdî.”

Dalam hadis yang luar biasa ini, Nabi saw.
memprediksikan apa yang akan menimpa keluarga dan
keturunannya. Beliau dengan akurat meramalkan bahwa
ahlulbait akan menghadapi cobaan yang sangat hebat:
mereka akan dibantai, menghadapi kesulitan besar, dan
dikucilkan. Beliau memprediksi bahwa keluarganya akan
menjadi pelarian, bersembunyi karena orang-orang
hendak membunuh mereka. “Hingga dari arah timur,” dan
Nabi saw. menunjuk arah timur, “datang sekelompok
orang dengan membawa bendera hitam. Mereka akan
menuntut tindakan baik dan keadilan. Mereka tidak akan
ditanggapi.

Kemudian mereka berperang dan menang. Akhirnya
tuntutan mereka dipenuhi, namun saat itu mereka tidak
mau menerimanya.” Hadis lainnya mengisyaratkan bahwa
bendera hitam yang datang dari arah Khurasan menandai
kemunculan al-Mahdî. Khurasan saat ini berada di
wilayah Iran, dan beberapa ulama mengatakan bahwa
hadis ini mengandung arti bahwa ketika bendera hitam
itu muncul dari Asia Tengah, yaitu arah Khurasan,
al-Mahdî akan tak lama lagi muncul. Tsawbân
meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Jika kalian
bertemu dengannya, pergilah dan bergabunglah
dengannya, meskipun jika kalian harus merangkak di
atas salju, karena ia khalifah Allah, al-Mahdî alayhi
salam.

Hadis ini menunjukkan bahwa pengetahuan Nabi Muhammad
salallahu alayhi wasalam menjangkau hingga negeri
bercuaca dingin, negeri yang bersalju, yang tak
dikenal oleh orang-orang Arab pada waktu itu. Hadis
itu juga menunjukkan bahwa pesan Islam akan
mencapai daerah-daerah yang sangat jauh. Umm Salamah
meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Percekcokan
akan terjadi setelah wafatnya seorang khalifah.
Seorang laki-laki dari Madinah akan datang ke Mekah.
Beberapa orang Mekah akan mendatanginya dan membawanya
keluar dari kota Mekah secara paksa, kemudian mereka
mengemukakan sumpah setia di antara sudut Ka‘bah dan
Maqam Ibrahim. Sejumlah tentara kemudian dikirim dari
Syam untuk menghadapi mereka, tetapi tentara tersebut
akan disapu habis di gurun pasir antara Mekah dan
Madinah.

Ketika orang-orang menyaksikan hal itu, abdâl dari
Syam dan orang-orang terbaik di Irak akan
mendatanginya dan menyatakan janji setia kepadanya di
antara sudut Ka‘bah dan Maqam Ibrahim. Kemudian datang
seorang laki-laki Quraysy yang pamannya berasal dari
suku Kalb. Ia mengirimkan pasukan untuk menghadapi
mereka. Mereka (al-Mahdî dan orang-orang beriman) akan
menghancurkan pasukan itu dan mengalahkannya, dan ia
akan membagikan pampasan perang di antara mereka. Ia
akan menegakkan dan melaksanakan sunah Nabi di antara
mereka. Islam akan tersebar ke seluruh dunia. Ia akan
hidup selama tujuh tahun bersama mereka. Kemudian ia
meninggal dan orang-orang Islam akan menyalatinya.”

Abû Sa‘îd al-Khudrî meriwayatkan bahwa Nabi saw.
bersabda: Pada akhir zaman akan muncul al-Mahdî. Allah
akan memberinya kekuatan atas langit dan hujan, dan
bumi akan mengeluarkan tumbuhannya. Ia akan
menyebarkan kekayaan sebanyak-banyaknya, binatang
ternak akan berkembang biak dengan pesat, dan umat
Islam akan bertambah banyak dan mulia. Ia akan hidup
selama tujuh atau delapan tahun …”

Pada saat itu, Allah akan membuka pintu langit,
mengubah gurun pasir menjadi laksana surga bagi
al-Mahdî dengan cara memperbanyak curah hujan. Dalam
hadis lain, Abû Hurayrah ra meriwayatkan bahwa Nabi
salallahu alayhi wasalam bersabda: Kiamat tidak akan
tiba hingga kekayaan sangat berlimpah di tengah-tengah
kalian, dan terus mengalir hingga seseorang yang
hendak mengeluarkan zakatnya kepada orang yang
membutuhkan tidak akan menemukan orang yang mau
menerimanya; dan hingga daratan Arab dipenuhi dengan
luapan sungai untuk kedua kalinya. Dengan kedatangan
Sayyidina al-Mahdî, Allah akan memberikan curahan
rahmat-Nya, baik berupa curah hujan yang tinggi atau
siraman rohani yang berlimpah.

Lalu, bumi akan mengeluarkan kemampuan maksimalnya
dalam menghasilkan tetumbuhan. Beberapa hadis
menjelaskan bahwa bumi akan menghasilkan semangka yang
sangat kokoh sehingga ia tak lagi berbuah di atas
tanah, tetapi menggantung di batang pohon. Imam
Al-Mahdî akan menyebarkan uang dalam jumlah yang
besar, dan hewan ternak akan berkembang biak dengan
pesat.

Saat-saat itu akan menjadi zaman keemasan, zaman
terbaik umat Islam. Ia akan hidup selama tujuh atau
delapan tahun, dan ketika ia meninggal dunia, Nabi
‘Îsâ alayhi salam akan menjadi imam untuk menyalati
jenazahnya. Ibn Katsîr berkata, “Saya pikir kemunculan
al-Mahdî akan terjadi sebelum ‘Îsâ ibn Maryam turun ke
bumi seperti yang ditunjukkan dalam hadis berikut.”
Nabi saw. berkata: Apa yang hendak kalian lakukan jika
‘Îsâ ibn Maryam datang dan al-Mahdî berada di
tengah-tengah kalian (sedang memimpin salat)?

One thought on “Kedatangan Imam Mahdi as

  • 23 December 2008 at 17:40
    Permalink

    IMAM MAHDI tak perlu ditunggu karena beliau sudah datang, itulah, Nabi Muhammad SAW, seorang rasul, penutup para nabi, pembawa ajaran Islam dan penerima wahyu, Al Quran (QS. 33:40). Begitu juga, tak perlu ditunggu Nabi Isa As. yang kabarnya akan ‘membabat’ palang salib dan membunuh ‘babi’, karena misi beliau sudah selesai dan tidak akan ‘berkunjung’ lagi ke dunia ini (QS. 2:134 dan 141).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − three =

Get Adobe Flash player