Sepenggal Kisah Tentang Anak

Seorang anak kecil berlari dengan tergesa-gesa menuju ibunya lalu berkata, “Bu, apa nama lubang yang ada di depan rumah kita?” Ibunya menjawab, “Ibu lagi sibuk masak. Pergilah ke ayahmu!” Anak itu pun berlari menuju ayahnya dan bertanya hal serupa, “Ayah, apa nama lubang di depan rumah kita?” Ayahnya menjawab, “Ayah sedang membaca koran. Pergilah ke kakakmu.” Kemudian anak itu berlari kearah kakaknya dan bertanya hal yang sama, “Kak, apa nama lubang yang ada di depan rumah kita?” Kakaknya menjawab, “Namanya Biir.” Anak itu pun lalu berkata, “Kak, cepatlah pergi ke lubang Biir itu. Adik kita jatuh ke dalamnya.”

============ ========= ========= ======

Cerita di atas saya kutip dari buku ”Tersenyumlah” tulisan Dr. ’Aidh Al-Qarni yang juga penulis buku best seller Laa Tahzan (Jangan Bersedih)”. Sebuah anekdot yang hanya akan menjadi gurauan belaka jika kita tidak memetik hikmah darinya. Dimana dalam cerita itu dikisahkan seorang anak kecil yang masih terbatas akalnya meminta sedikit perhatian dari orang tuanya untuk bertanya dan ingin menyampaikan berita dalam gayanya yang lugu. Kemudian dengan alasan sibuk, dia diacuhkan oleh orang tuanya. Dan ternyata sikap acuh itu berakibat sangat fatal. Karena berita yang ingin disampaikan si anak adalah berita penting yang menyangkut keselamatan jiwa salah satu anggota keluarga tersebut.

Kita tidak bisa menyalahkan si anak kecil mengapa tidak berkata langsung bahwa adiknya terjatuh ke dalam lubang. Tentu pola pikir dalam dunianya berbeda dengan pola pikir kita sebagai orang dewasa. Dan tentunya pula seorang anak kecil yang lugu belum memahami pola komunikasi yang efektif, dimana seharusnya orang tualah yang mengajarkannya. Tapi bagaimana mau mendidik, sedangkan untuk menjawab pertanyaan sederhana dari si anak dalam cerita tersebut saja orang tuanya acuh, merasa terganggu aktifitasnya.

Bukankah seharusnya orang dewasalah yang memahami dunia anak kecil? Sebagaimana kita diajarkan untuk “berbahasa” dengan “bahasa” orang yang sedang kita hadapi. Bukankah pula orang tua yang harus meluangkan waktu untuk mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada anaknya? Memiliki tanggung jawab mendidik dan mengasuh mereka? Bukan sekedar memberikan mainan, uang, atau segala fasilitas. Bukan pula dengan menyerahkan tanggung jawab kepada baby sitter, pembantu, atau sekolah.

Sebuah syair menyatakan:

“Bukanlah anak yatim itu adalah anak yang kedua orang tuanya telah selesai menanggung derita hidup (telah wafat) dan meninggalkannya sebagai anak yang merana. Tetapi anak yatim itu adalah yang mendapatkan seorang ibu yang menelantarkannya atau seorang ayah yang sibuk tidak menghiraukannya.”

Teladan kita Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pendidikan anak. Mengajarkan anak sejak masih kecil untuk mengenal Tuhannya. Membiasakan mereka melakukan ibadah shalat sejak sebelum masa aqil baligh, sebelum masa dimana pahala dan dosa mulai dicatat. Beliau juga memerintahkan orang tua untuk memberi bekal kemampuan survive sekaligus melatih ketangkasan, konsentrasi, kecermatan, dan kekuatan bagi si anak kelak dengan mengajarkan berkuda, memanah, dan berenang. Dan di saat yang sama Beliau pun mencontohkan dalam kehidupnya sikap kasih sayang terhadap anak.

Beliau SAW. sebagai seorang pemimpin spiritual umat yang juga sekaligus pemimpin negara tidak segan mengucapkan salam terlebih dulu kepada anak-anak kecil yang dijumpainya, menjenguk dan mendoakan anak-anak yang sakit, menghibur anak kecil yang binatang peliharaannya mati, melamakan sujud saat cucu-cucunya yang masih kecil bermain merangkul badannya ketika Beliau shalat, bermain menjadi tunggangan bagi cucu-cucunya, bermain angkat batu dengan anak-anak kecil, dan bercanda dengan mereka.

Imam Ahmad dengan sanad hasan meriwayatkan dari Abdullah bin Al-Harits r.a., ia berkata, ”Rasulullah SAW. membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan Kutsair ibnu Abbas r.a. kemudian beliau berkata, ‘Siapa yang lebih dulu sampai kepadaku, maka baginya ini dan ini (hadiah).’ Abdullah dan Harits berkata, ‘Maka anak-anak tersebut bersaing lari kepada Rasulullah SAW. sehingga ada yang terjatuh ke punggung, dada Beliau, Beliau merangkul dan memangku semuanya.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan, bahwa Abu Hurairah r.a. telah berkata:

“Rasulullah SAW telah menciumi Al-Hasan bin Ali. Ketika itu di sisi beliau duduk Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi. Al-Aqra’ berkata, ’Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satupun diantara mereka pernah aku cium.’ Maka Rasulullah SAW memandangnya dan bersabda, ’Man laa yarham, laa yurham’ ’Barangsiapa yang tidak mengasihi, (maka dia) tidak akan dikasihi’.”

23 Juli 2007

R. Widhiatma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.