An Inconvenient Truth – Global Warming

WHAT IS GLOBAL WARMING? Carbon dioxide and other gases warm the surface of the planet naturally by trapping solar heat in the atmosphere. This is a good thing because it keeps our planet habitable. However, by burning fossil fuels such as coal, gas and oil and clearing forests we have dramatically increased the amount of carbon dioxide in the Earth’s atmosphere and temperatures are rising.

The vast majority of scientists agree that global warming is real, it’s already happening and that it is the result of our activities and not a natural occurrence. The evidence is overwhelming and undeniable.

We’re already seeing changes. Glaciers are melting, plants and animals are being forced from their habitat, and the number of severe storms and droughts is increasing.

Tahun 2040 : 2.000 pulau tenggelam

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu
masalah yang perlu kita risaukan. “Mana mungkin sih tindakan satu-dua
makhluk hidup di jagat semesta bisa mengganggu kondisi planet bumi yang
mahabesar ini?” barangkali begitulah Anda berpikir.

Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC)
memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat
mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu
merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 – 0,3 oC. Jika peningkatan suhu
itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang)
lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus
memanas, pada tahun
2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas
di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan
makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam
air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan
seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu
minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17 oC per tahun.
Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 oC per
tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti
satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di
Papua.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan
Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata,
permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi
terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta
(seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti :
Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya
kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es
yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan
laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat.
Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis
kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang
sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan
orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat
tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR),
menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi
gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang
dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah
untuk panas yang
terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa menyebar). Gas-gas ini
secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan lapisan ozon juga
memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan teratas atmosfer,
makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk ultraviolet)
memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini juga berubah
menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi gas rumah
kaca tadi.

Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah
kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas
alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun
membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga
masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan
clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses
pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi.
Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara
itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama.
Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim.
Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki
bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan,
dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus
bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak
orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari
separuh DKI Jakarta adalah
akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35% rusaknya hutan kota dan hutan
di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara Jakarta . Itu sebabnya,
kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia ,
melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi
Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari
kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman
atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari
sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan
Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa.
Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet
Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk
anak-anak kita nanti.

Cara-cara praktis dan sederhana `mendinginkan’ bumi :

1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan
standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak
mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan baker
fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya
agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur
suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24 oC).
5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.
8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang
memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.
9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).
10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say no to plastic.
Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau
Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka
turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 11 =

Get Adobe Flash player