Pertolongan DIA

Warna merah jingga mulai muncul di ufuk Timur. Aku beranjak dari dekapan selimut dan setengah berlari ke kamar mandi. Hampir saja aku tertinggal sholat Subuh. Mungkin terlalu lelah karena perjalanan kemarin. Atau karena perbedaan waktu antara di sini dengan di tanah air.

Kemarin, aku tiba di Sydney. Di bandara, Anton, sepupuku, menjemput dengan mobilnya, kemudian menuju Goald Coast. Gold Coast adalah sebuah kota pantai di negara bagian Queensland, Australia. Kota ini lebih cocok menjadi tempat berlibur daripada tempat untuk menuntut ilmu. Tapi entah mengapa, Papa berkeras mengirimku ke sini.

Aku tidak terlalu berminat untuk mengambil Master di bidang Hukum. Posisiku sudah cukup baik di pekerjaan, walau dengan mengandalkan ijazah S1. Dengan pendapatanku, aku sanggup untuk mencukupi seluruh kebutuhanku, tanpa ada lagi subsidi dari orang tua. Bahkan, aku sanggup untuk menafkahi seorang istri. Istri…..??? Ah….! Daripada kuliah lagi, sebenarnya aku lebih memilih untuk menikah. Aku sempat mengutarakan niat itu kepada Papa dan Mama.

“Rio, kamu itu laki-laki. Untuk apa kamu kawin cepat-cepat?” tukas Papa.
“Mumpung masih muda kamu ambil Master. Itu lebih pendting untuk masa depan kamu. Jaman sekarang nggak cukup ijazah sarjana. Nggak laku! Kita ini harus punya nilai lebih dibanding orang lain.”

“Kamu juga harus ingat Rio. Mbak-mbak kamu belum ada yang nikah. Apa kamu tega melangkahi Mbak Risa dan Mbak Rosi? Mama ikut menimpali.

“Memangnya kamu mau nikah sama siapa? Eh….kamu ini pacaran sama siapa sih? Papa kok nggak pernah lihat kamu gandeng perempuan? Cerita dong sama Papa Mama kalau sudah ada calon.”

“Calon? Enggg….belum ada Pa! Tapi niat yang sudah ada.”

“Ah kalau begitu nanti saja. Kalau kamu sudah jadi Master, pasti banyak yang ngejar-ngejar kamu.”

Aku terbahak mendengar gurauan Papa, sambil menggaruk-garuk kepalaku yang sebetulnya tidak gatal. Rasanya memang menikah belum menjadi kebutuhan yang mendesak.

Dan sekarang, aku berada di sini, mengikuti anjuran Papa. Papa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Anton diminta untuk memilihkan tempat tinggal yang nyaman. Terlalu nyaman bahkan. Aku menempati apartemen tipe studio di Focus Apartment. Apartemen yang cukup mewah. Gedungnya berbentuk bundar. Lokasinya strategis. berada di Esplanade Avenue, Central Surfers Paradise, yaitu jalan yang berbatasan langsung dengan wilayah pantai.

Ruanganku mempunyai jendela berkaca lebar. Dengan jelas keindahan laut terpampang di depan mata. Ombak bergulung-gulung dengan perlahan. Anak-anak kecil berlarian dan bermain pasir. Beberapa orang berenang. Sebagian lagi berjemur matahari. Matahari sudah tinggi sekarang. Aku bergegas mandi.
Tidak lama lagi Anton akan menjemputku. Rencananya kami akan ke kampus dan keliling kota.

Sudah dua minggu ini aku punya kebiasaan rutin. Menghabiskan waktu di pagi hari dengan memandangi laut. Awalnya memang begitu. Sejak kecil aku suka laut. Tapi, perhatianku kemudian beralih kepada gadis-gadis bule yang berenang dan berjemur di pantai. Pakaian mereka amat minim. Dengan teleskop kecil yang kubeli seminggu yang lalu di Dolphin Center, pusat pertokoan yang tak jauh dari apartemenku, pengamatanku jadi tampak lebih jelas.
Ah…pantai yang sangat indah, pikirku.

Lama-kelamaan, ada perasaan bersalah yang datang menyelinap. Kata-kata Zulfikar terngiang-ngiang di telingaku. Belum lama ini dia mengirim email.
Menanyakan kabar, plus nasehat yang mengingatkanku. Bagiku, Zul adalah guru sekaligus sahabat. Kami dekat semasa kuliah. Ia membimbingku dalam masalah agama dan yang mengenalkanku pada dunia anak Rohis. Sekarang Zul bekerja di perusahaan nasional dan membina Rohis di kantornya. “Hey Rio, hati-hati! Di sana jangan umbar pandangan. Jaga diri kamu baik-baik.” Aku tak akan lupa kata-kata Zul lewat telpon ketika hari keberangkatanku ke Australia. Aku pun menghentikan acara memandang laut di pagi hari.

Kehidupan kampus menyenangkan. Aku mudah akrab dengan banyak orang. Ada beberapa gadis yang tampaknya mendekatiku. Dua bule dan satu Philiphine.
Salah satunya sering memaksa untuk mengantarku pulang. Dengan berbagai dalih, ada saja caraku untuk menolaknya.. Sayang, dari semua gadis yang kutemui, tidak ada satu pun yang menutup aurat. Gadis dari Indonesia, jangankan berjilbab, malah ada yang bercelana pendek ke kampus.

Jarak dari Focul Apartment ke Bond University cukup jauh. Setiap kuliah, Anton selalu menjemputku. Aku tak enak bergantung terus padanya. Aku lalu mencari apartemen yang lebih dekat dengan kampus. Yang bisa dicapai dengan bus atau berjalan kaki.

Tiga bulan kemudian aku pindah. Homestay ke sebuah rumah yang cantik di daerah Burleigh. Pemilik rumah adalah sepasang suami istri dengan dua orang anak. Yang tertua, laki-laki, sudah bekerja dan tinggal di Sydney. Anak perempuan mereka, Kathy, kebutulan juga kuliah di Bond University. Nuansa kekeluargaan lebih terasa di sini. Kami cepat sekali akrab. Rasanya aku betah. Kadang-kadang aku ikut membantu memotong rumput atau mengerjakan pekerjaan rumah.

Malam itu baru saja aku akan mulai belajar. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan muncul wajah Kathy di balik pintu. “Rio, I have to make a paper about Indonesian culture. Would you help me?”
Aku mengangguk. Lalu sepanjang malam aku berceloteh panjang lebar tentang budaya Indonesia sejauh yang aku tahu. Kathy memperhatikanku dengan seksama. Kadang-kadang ia menyela dengan pertanyaan.

Berada berdua saja di dalam kamar dengan Kathy membuatku merasa gerah.
Tubuhnya hanya dibalut kaos tanktop dan celana pendek, yang dua-duanya sama-sama ketat dan membentuk lekuk tubuh dengan jelas. Sebagai laki-laki normal, tentu saja ada reaksi melihat Kathy yang berpakaian sangat minim.
Apalagi jarak kami sangat dekat.

“Kathy, it’s late now. I am sleepy. We’ll discuss tomorrow,” kataku sambil bergerak ke arah pintu untuk mempersilahkannya keluar. Tiba-tiba Kathy mendekatkan tubuhnya padaku dan berkata, “Don’t you feel that I am in love with you? I love you since the fist time I saw you. Now, I wanna make love with you.”

Mendadak Kathy memelukku dengan erat dan tiba-tiba ia sudah berada di atas tubuhku. Cepat sekali gerakannya. Sejenak seluruh sistem saraf dan kontrol pada tubuhku jadi tidak berfungsi. “I know you want me too Rio,” desahnya lirih. Pikiranku kacau. Tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Siapa pula yang ingin menolak kalau keadaannya seperti ini.

Namun sebuah sinyal alarm masih sanggup berbunyi di pusat kalbu, menyuarakan tanda bahaya. Aku mengelak, melepaskan pelukannya. “Come on!”
Kathy berusaha meraihku. Masa bodoh apa yang dikatakannya. Aku tak perduli.
Aku merasa takut. Dengan cepat Kathy kuseret, kubuka pintu, dan kudorong ia keluar kamar. Pintu berdebam keras, lalu kukunci rapat-rapat.

Di balik pintu aku jatuh terduduk, bersimpuh. Tubuhku menggigil. Aku takut.
Takut sekali. Belum pernah aku merasa takut seperti ini. Takut pada diriku sendiri yang mungkin saja tak sanggup untuk menguasai diri. Takut kepada dosa besar yang tak pernah terbayangkan akan terjadi.

Aku terisak. Ini pertama kalinya menangis setelah dewasa. Aku bangkit.
Berwudhu dan sholat syukur. Bersyukur atas pertolongan Allah yang menghindarkanku dari jerat-jerat yang menjerumuskan. Kalau bukan Allah, lalu siapa lagi penolongku? Esoknya, tanpa pikir panjang, aku berkemas dan langsung angkat kaki dari rumah itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Adobe Flash player