Lasik, Tua dan Muda Bebas Kacamata

By: enj

Erwin Pohe [Pembaruan/Mike Wangge]

Nurul Arifin [Istimewa]

Lasik it’s like a miracle (lasik merupakan sebuah keajaiban). Setelah 28 tahun bergantung pada kacamata, kini saya terbebas dari beban tersebut,” demikian komentar artis cantik yang juga politisi Partai Golkar, Nurul Arifin soal operasi lasik. Dia adalah salah satu dari ribuan pasien yang pernah menjalani operasi lasik hingga akhirnya melepas kacamata.

Tidak hanya Nurul Arifin yang relatif masih muda, bebas dari kacamata. Erwin Pohe yang sudah berumur 65 tahun pun, bisa bebas dari kacamata. Kini Sekretaris Jenderal Partai Pewarta Demokrasi Kasih Bangsa (PPDKB) itu bisa membaca tanpa kacamata setelah dilasik.

“Tadinya saya tidak percaya, saya bisa bebas dari kacamata. Soalnya, mata kanan saya plus 2, sedangkan mata kiri minus 2, apalagi saya sudah berumur, tetapi benar-benar ajaib, mata saya sekarang sudah normal dan bisa membaca tanpa kacamata,” tutur Erwin.

Operasi lasik ternyata memang bisa menolong para penderita rabun jauh dan dekat, bahkan penderita silindris. Lalu, apakah lasik itu?

Lasik adalah kombinasi bedah mata dengan laser. Lasik merupakan kepanjangan dari laser assisted in-situ keratomileusis yang merupakan prosedur untuk mengatasi miopia (rabun dekat) dan astigmat (silinder) melalui tindakan bedah refraksi yang menggunakan laser excimer yang akan menghentikan atau mengurangi secara signifikan ketergantungan terhadap kacamata atau lensa kontak.

Mata minus bisa tanpa kacamata lagi, sudah menjadi pengetahuan umum. Tetapi orang yang berusia 40 tahun ke atas yang mulai menderita rabun dekat atau dalam ilmu optometri disebut presbiopia, bisa membaca tanpa kacamata baca, mungkin belum banyak yang tahu.

Monovision adalah suatu cara untuk menanggulangi rabun dekat tanpa kacamata baca. Dengan cara ini, penderita rabun dekat yang biasanya sudah berumur 40 tahun atau lebih, dikoreksi mata dominannya untuk melihat jauh dengan baik, sedangkan matanya yang tidak dominan dikoreksi untuk dapat melihat lebih dekat atau membaca dengan baik.

Koreksi monovision bisa berupa pemakaian lensa kontak atau menjalani bedah refraktif dengan lasik. Jadi teknologi lasik, bukan hanya untuk mengoreksi mata minus atau miopia saja.

Teknik monovision mulai dikenal pada tahun 60-an dengan memakai lensa kontak. Pada mulanya teknik ini ditanggapi dengan skeptis, bahkan ditolak, karena dianggap bertentangan dengan kaidah penglihatan klasik. Keberhasilan teknik monovision, dimungkinkan oleh adanya proses penekanan atau mekanisme supresi antarmata.

Kinerjanya menunjukkan adanya sedikit penurunan tajam penglihatan dua mata, tetapi tidak mempengaruhi luas lapang penglihatan. Dengan kata lain, teknik monovision merupakan suatu kompromi antara kebutuhan melihat jauh dan melihat dekat.

Dengan koreksi monovision, Anda memang tidak perlu membawa kacamata ke mana-mana. Penglihatan jauh dan dekat, lumayan memuaskan, walaupun tidak prima. Penglihatan sempurna tidak mungkin dicapai dengan teknik ini.

Salah seorang pakar lasik adalah dr Raman R Saman SpM, SpKP, MBA, dokter spesialias mata di Laser Sight Centre Jakarta. Ia memiliki pengalaman panjang melakukan koreksi monovision dengan bedah refraktif lasik. Purnawirawan dan mantan Direktur Kesehatan TNU AU dan Direktur Kesehatan Departemen Pertahanan dengan pangkat terakhir Marsekal Pertama (Marsma) itu, belajar bedah Lasik di Australia 2002.

Raman yang ditemui Pembaruan di klinik Laser Sight Centre (LSC) Jl Wolter Monginsidi 32 Jakarta belum lama ini mengaku belajar dari Peter Steward, ahli bedah lasik yang terkenal. Buktinya, pasien yang telah berhasil menjalani operasi lasik tahun 2002 sudah mencapai 40.000 orang.

Setelah pulang dari Australia, Raman pun membuka praktik di klinik Laser Sight Centre untuk melayani bedah mata secara lasik.

11 Negara

Sejumlah tokoh dan artis terkenal sudah menjalani operasi lasik di klinik tersebut dengan hasil memuaskan. Dari kalangan artis misalnya, tercatat Nurul Arifin, Sonny Tulung, Elvy Sukaesih, Muchsin Alatas, Anwar Fuady, dan Minati Atmanagara, telah merasakan keajaiban operasi lasik.

Menurut Raman, sejak 2002, sudah tercatat lebih dari 2.000 orang menjalani operasi lasik di Indonesia. “Hal yang menggembirakan adalah mereka yang datang ke klinik kami tidak hanya dari dalam negeri (Indonesia), tetapi banyak dari luar negeri. Tercatat pasien datang dari 11 negara yang datang ke Indonesia, di antaranya dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Finlandia, Denmark, Swedia dan Austria,” tuturnya.

Raman menuturkan umumnya pasien dari luar negeri mengaku tahu ada klinik operasi lasik di Indonesia melalui internet. Karena itu, kata Raman, sangat membanggakan, jika orang asing berobat ke Indonesia, khususnya dalam hal bedah mata secara lasik.

Suami dari Dra Hj Retno Asih itu menjelaskan, lasik terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah membuat sayatan sangat halus setebal kertas koran (tebal 180 mikron, lebar 8,5 mm), pada permukaan kornea yang disebut flap (seperti lidah) menggunakan mesin mikrokeratome, lalu membuka/mengangkat flap kornea tersebut.

Tahap kedua adalah memberi (menembak) sinar laser excimer pada luka kornea, kemudian flap ditutupkan kembali pada luka kornea tanpa jahitan. Walaupun mata bergerak ketika operasi berlangsung, dijamin sinar laser excimer akan selalu tepat mengenai bidikan, karena dikendalikan kamera dengan komputer dan sistem eye tracker.

Teknik bedah lasik standar dapat mengurangi (menghilangkan) miopia sampai dengan derajat minus 11 menjadi nol dioptri dan dapat pula menghilangkan hipermetropi sampai derajat plus 4 dioptri. Bahkan, stigmat sampai derajat silinder 6 dioptri.

Syarat seseorang dapat dibedah lasik adalah tidak memakai lensa kontak minimum dua minggu, tidak menderita penyakit mata dan kencing manis. Di samping itu, seseorang tidak sedang hamil, berumur lebih dari 20 tahun, memiliki tebal kornea cukup yang diketahui dari hasil pemeriksaan khusus orbscan (minimum 490 mikron) dan kelainan refraksi telah stabil serta tidak bertambah (ukuran kacamata sekarang sama dengan tahun lalu).

Hasil bedah lasik standar, kata Raman, sangat menggembirakan dan memuaskan. Di samping itu, pasien juga merasa aman, tidak sakit, tanpa jahitan, tanpa darah, tanpa suntikan, tanpa jaringan parut kornea (haze), penyembuhan hanya sehari, dan biasanya tidak kambuh.

Terbukti Aman

“Survei membuktikan lasik itu tidak sakit,” demikian komentar artis/pemandu kuis, Sonny Tulung, seperti dituturkan kembali dr Raman.

Penderita presbiopi (usia lanjut di atas 40 tahun) dengan bedah lasik, sengaja dibuat menjadi monovision. Cara atau kondisi yang sedang dipopulerkan adalah membuat mata dengan kelainan refraksi apa pun dibuat menjadi minus nol, sedangkan mata nondominan menjadi sekitar minus 1,20 dioptri.

Dengan kondisi ini, seseorang tanpa kacamata dapat melihat jarak jauh dengan jelas menggunakan (secara otomatis) mata yang dominan dan apabila membaca, memakai mata yang nondominan.

Untuk menentukan mata mana yang dominan, selain dengan foropter, dipastikan dengan meminta pasien memandang wajah pemeriksa melalui lubang (lingkaran) kecil yang dibentuk oleh kedua ibu jari dan jari telunjuk dari kedua tangannya sendiri. Mata pasien yang terlihat oleh pemeriksa melalui lubang tersebut adalah mata yang dominan.

Dalam seleksi penderita presbiopia, yang akan menjalani koreksi monovision, perlu diperhatikan profesi mereka (pilot, pengacara, montir), kegemaran mereka, olahraga yang ditekuni, serta kebutuhannya akan penglihatan dekat yang cermat (pelukis, arsitek dan lain-lain).

Setelah itu, dijelaskan rangkaian pemeriksaaan khusus yang akan dijalani, jalannya operasi lasik, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama dan setelah operasi, antara lain diperlukan waktu 2-4 minggu untuk penyesuaian diri dari kondisi semula (miopia atau hipermetropia pada kedua mata atau salah satu mata), lalu setelah bedah lasik menjadi kondisi monovision (satu mata emetropi dan lainnya miopia ringan).

Pada umumnya pasien monovision merasa puas, terutama yang menderita miopia tinggi sebelum bedah lasik. Sedangkan penderita dengan hipermetropia pada kedua matanya, ternyata selama 2-3 minggu masih mengeluh penglihatan jauhnya terasa belum jelas.

Menurut dr Raman, sampai sekarang, belum ada pasien monovision yang meminta mata nondominannya dikoreksi menjadi normal. Hanya tiga penyandang monovision yang memerlukan kacamata untuk mengemudikan mobil di malam hari. Berdasarkan penelitiannya, dr Raman menilai monovision via bedah mata refraktif lasik merupakan pilihan yang tepat bagi pasien presbiopia yang berumur lebih dari 40 tahun.

Tentu ini suatu keajaiban Tuhan yang memberikan pengetahuan tentang teknologi bedah mata yang canggih kepada para dokter bertangan dingin. Buktinya, yang muda dan tua sampai berusia 65 tahun sekalipun, bisa bebas dari kacamata atau mem-baca tanpa kacamata. Mau coba? [Pembaruan/Marselius Rombe Baan]

Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

User Online

Back to Top
Get Adobe Flash player